Monday, April 19, 2010

Yume?

BABAK 40

Minggu yang cerah, pagi hari.
Makoto sedang menonton bersama Aoi saat bel berbunyi.
Ia segera beranjak untuk membuka pintu.

Makoto : (bingung) Yume?

Sunday, April 18, 2010

Kelinci



Kelinci pun bisa menggigit

Mau Apa Lagi Kalian?!

BABAK 39

Hari dan waktu yang sama.
Makoto berpikir ada yang aneh dengan kondisi Nanami. Akhirnya Makoto memutuskan untuk mengikutinya sampai rumah. Begitu sampai, Makoto segera bersembunyi. Ia melihat Nanami sepertinya sedang adu mulut dengan ibu-ibu. Karena tempatnya sembunyi agak dekat, Makoto bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas.

Nanami : (nada menantang) Mau apa lagi kalian?!
Tetangga 1 : Kami ingin kalian segera keluar dari sini!
Nanami : Ibu kira saya betah tinggal di sini? Sama sekali tidak!
Tetangga 2 : Baguslah kalau kau sudah tidak betah. Cepat keluar! Lebih cepat lebih baik.
Tetangga 3 : Benar, dan dengan senang hati, kami akan membantu mengemas barang-barangmu.

Makoto melihat ketiga ibu itu memaksa masuk ke rumah Nanami, namun Nanami segera menghadang mereka.

Nanami : Ibu tidak berhak melakukan semua ini!
Tetangga 1, 2, 3 : (tertawa)
Tetangga 2 : Tentu saja kami punya hak. Kalian hanyalah orang baru yang akan memberikan pengaruh buruk pada lingkungan di sini. Lihat saja ibumu itu yang seorang perempuan nakal. Perempuan panggilan.
Nanami : (hendak menampar tapi tidak jadi)
Tetangga 1, 2, 3 : (ketakutan)
Tetangga 1 : Ingat, kalian harus secepatnya pergi atau kami yang akan bertindak.

Makoto melihat ketiga ibu itu pergi. Nanami terduduk lalu menangis.
 

Mau Ke Mana Dia?

BABAK 38

Hari yang sama.
Saat pulang sekolah, tak jauh dari lemari penukaran sepatu.

Naoko : Apa-apaan dia itu!
Irumi : Siapa? Oscar?
Naoko : (terkejut) Bahkan kau pun memanggilnya seperti itu? Ingat Rumi, dia Kouki Habara, bukan Oscar! Itu karena dia saja yang berlaga mengubah namanya seperti nama orang Barat.
Irumi : Ya ya, maksudku dia. Memang dia berulah apa lagi?
Naoko : Kali ini lebih parah! Dia nyaris memelukku dari belakang! Hiii...
Irumi : Sudah kubilang bukan, dia menyukaimu.
Naoko :(memasang tampang aneh seolah itu adalah hal mustahil)

Tiba-tiba Naoko menangkap sosok seseorang yang dikenalnya.

Naoko : Hei, Rumi-chan, bukankah itu Mako-kun?
Irumi : Benar, itu Makoto.
Naoko : Mau ke mana dia?
Irumi : Tentu saja mau pulang.
Naoko : Mau pulang? (melanjutkan dalam hati) Tapi kenapa dia belok ke kiri? Bukankah arah rumahnya ke kanan? Ah, mungkin dia mau mampir ke suatu tempat.

Perasaan itu Membebaniku

BABAK 37

Hari berikutnya.
Di sekolah, saat istirahat siang.
Tanpa sengaja, Makoto bertemu Nanami di koridor.
Begitu sadar, keduanya terhenti.

Makoto : (tersenyum) Hai.
Nanami : . . .
Makoto : Apakah kau baik-baik sa--

Kata-kata Makoto terhenti tatkala Nanami kembali melangkahkan kakinya, melewati Makoto begitu saja tanpa menghiraukannya. Nanami sama sekali tidak melihat ke arah Makoto.

Makoto : (geram) Tunggu! Aku hanya ingin tau keadaannmu, apa tidak boleh? Aku hanya--mengkhawatirkanmu.

Kata-kata Makoto membuat Nanami terhenti.

Nanami : (dingin) Kau tidak usah repot-repot. Aku tidak butuh perasaan itu. 

Makoto semakin geram dan memaksa Nanami berbalik menghadapnya.

Makoto : Aku bukan mengasihanimu. Aku MEMANG mengkhawatirkanmu. Dan kau tak berhak melarangku karena itu bukanlah suatu kesalahan.
Nanami : Kau tau, perasaan itu membebaniku. Kau tidak perlu repot-repot mengkhawatirkanku. Itu hanya akan membuang-buang waktumu saja.
Nanami : (melihat cengkraman Makoto) Bisakah kau melepaskan tanganku?
Makoto : (melepaskan)

Nanami meninggalkan Makoto. Makoto terus memandangnya sampai Nanami menghilang di ujung koridor. Tanpa Makoto tau, Nanami menangis. Cepat-cepat dihapusnya air mata itu.
 

Saturday, April 17, 2010

Dia Baik-baik Saja Kan?

BABAK 36

Malam hari.
Kamar Makoto.
Makoto sedang memikirkan pertemuannya dengan Nanami setelah sekian lama ia tidak melihatnya.
Tanpa sadar, senyum tersungging di bibirnya.

Makoto : (menghela napas, lalu tersenyum) Aku ingin melihatnya lagi. Aku mohon.

Tiba-tiba Makoto teringat dengan wajah pucat Nanami serta lingkaran matanya yang menghitam.

Makoto : (khawatir) Apa yang terjadi sebenarnya? Dia baik-baik saja kan?

Meskipun berkata seperti itu, rasa khawatir tidak meninggalkan diri Makoto.

. . .

Waktu yang sama.
Kamar Yume.
Tampak Yume sedang berbaring menatap langit-langit kamar.

. . .

Waktu yang sama.
Kamar Nanami.
Nanami berbaring sambil menutup matanya dengan lengan kanannya, menangis dalam diam.
  

Berakhir dengan Lebam di Pipi

BABAK 35

Hari yang sama.
Yume menelusuri sepanjang jalan. Hari sudah agak gelap. Terlintas di benaknya saat ia bertemu dengan Kanae Iwasaki beberapa hari yang lalu.

. . .

Ureshii Cafe

Kanae : Kurasa sejak saat itu, ada yang aneh menimpa diri Uemura.
Yume : Sesuatu yang aneh? Maksudmu?
Kanae : Aku juga tak begitu mengerti, tapi sejak berteman dengan Hayashibara, Uemura seperti mendapatkan kemalangan beruntun. Dia sering dikerjai anak-anak lain. Uangnya pun sering diambil paksa dan biasanya berakhir dengan lebam di pipi atau tangannya. Tidak ada yang membelanya saat itu karena Uemura memang seorang penyendiri.
Yume : . . .
Kanae : Meskipun dalam keadaan seperti itu, Hayashibara tetap berada di samping Uemura. Selalu menemaninya menghadapi musibah itu.
Yume : Bagaimana dengan Makoto sendiri? Apa dia tak apa-apa selalu berada di dekat Uemura? Apakah dia juga ikut dikerjai?
Kanae : Tidak, Hayashibara baik-baik saja. Tidak ada seorangpun yang mengerjai dirinya. Ah! Ada hal aneh lain lagi yang kuingat.
Yume : Apa?
Kanae : Semakin akrab dengan Hayashibara, musibah yang dialami Uemura semakin parah. Pernah suatu hari, Uemura datang ke sekolah dengan dengan luka memar hampir di sekujur tubuhnya. Sepanjang hari itu, ia tidak bicara pada siapapun, termasuk Makoto.

. . .

Sepanjang perjalanan pulang. Langkah Yume terhenti sejenak.

Yume : (dalam hati) Apakah ini semua berhubungan dengan kedekatan Makoto terhadap Uemura? Uemura mengalami itu semua disebabkan oleh cewek-cewek yang menyukai Makoto saat itu?

Alis Yume mengerut.

Yume : (dalam hati) Atau penyebabnya lebih parah dari yang kubayangkan? Bagaimana hal itu bisa menimpa Uemura? 
. . .
Yume : (menggaruk-garuk kepala) Aah... semakin dipikirkan, semakin membuat kepalaku pusing.

Kemudian Yume kembali melangkahkan kakinya menuju rumah.

Saturday, April 10, 2010

Jangan Dekati Aku

BABAK 34

Saat pulang sekolah.
Makoto menunggu Nanami di dekat gerbang sekolah.
Tak lama, Nanami muncul. Setelah melihat Makoto, ia tetap berjalan seolah tak ada siapapun di sana.

Makoto : Aku senang.

Langkah Nanami terhenti tepat di depan Makoto.

Makoto : Akhirnya kau datang. Aku senang.
Nanami : . . .
Makoto : Kemarin apakah kau sakit?

. . .

Nanami : Apa pedulimu?

Makoto mencoba menyentuh kening Nanami dan langsung ditepis.

Makoto : (kaget)
Nanami : Aku tak butuh perhatianmu!
Makoto : Aku hanya...
Nanami : Jauhi aku, jangan dekati aku!

Saat Nanami berpaling ke arah Makoto, Makoto melihat wajah Nanami begitu pucat dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. Nanami segera berlalu sebelum Makoto menahannya.

Betapa Senangnya

BABAK 33

Hari berikutnya.
Sebelum bel masuk, sekali lagi Makoto datang ke kelas Nanami.
Betapa kaget sekaligus senangnya ia menemukan Nanami di kelas itu.

Makoto : (tersenyum)

Dari kejauhan, Yume melihat Makoto tersenyum. Dilihatnya melalui jendela, ada sosok Nanami di sana. Yume hanya bisa menatap datar.

Friday, April 09, 2010

Langit Senja


Cuap2 :
"Sebagai pengganti lanjutan cerita Nanami-Makoto,
mungkin aku akan menampilkan foto-foto langit
atau gambar lain yang kuambil sendiri.
Di antara 2 foto di atas,
kira-kira mana yang paling bagus?
Adikku memilih foto pertama.
Memang jika dilihat dari dekat,
foto kedua terlihat nge-blur.
But, so far so good (menghibur diri).
Oh ya, lanjutan cerita Nanami-Makoto
mungkin gak bisa diketik dalam waktu dekat.
Bukan karena masalah ide. Ide sudah ada,
tapi waktunya yang gak ada. Lagi banyak tugas,
mianhae (maaf)."

Sunday, April 04, 2010

Aku Tanpa Mereka


lazimnya,
jika seorang anak kecil ditanya,
"seperti apa ayah dan ibumu?"
dengan senyum terkembang
dan sinar mata yang cerah
serta semangat yang menggebu
dan nada penuh kebanggaan
dia menceritakan
perihal keduanya

"ayahku seorang pilot
setiap hari ia pulang
membawa sesuatu untukku"
"ayahku seorang dokter
ia sudah menyembuhkan
banyak pasien
di rumah sakit"
"ayahku bekerja di kantor pos
ia pasti akan mengantarkan surat
sampai tujuan"

"ibuku penjahit
baju buatannya sangat bagus"
"ibuku seorang penjual
ia selalu melayani orang lain
dengan senyum"
"ibuku orang yang paling baik
aku paling suka
senyum ibuku"

andaikan aku seperti mereka

Kota Tua







Cuap2 :
"Sebenernya kemarin itu emang cuma
observasi belaka. Jadi, kita perlu bukti berupa foto.
Biar feel-nya dapet, begitulah alasannya.
Demi our big project,
kita rela panas-panasan (T.T) sampe sore.
Kita berharap, semoga proyek itu berjalan lancar
sampai akhir. Dari sekian banyak foto,
tiga foto inilah yang menurutku
paling oke. Itupun sebenernya asal aja ngambilnya.
Hehehe..."

(2010년4월2일)