Monday, January 24, 2011

Kegundahan Pengawal


kening itu mengerut
memang ia sedang berpikir
sangat keras
pengawal bukan pengawal itu

dan ia dikejutkan
oleh kedatangan Sang Putri
dan dinding pun tetap membisu
"ada yang kau pikirkan?"
penasaran Sang Putri bertanya
"tak ada."

mendengar jawabannya, Sang Putri tersenyum
"baiklah, aku tak akan bertanya lagi. itu hakmu."
jawaban Sang Putri membuat pengawal bukan pengawal terdiam
terlebih kala melihat wajah Sang Putri
yang menatap lurus ke depan
guratan di wajah itu memperlihatkan kekuatan
sekaligus rapuh

pengawal bukan pengawal tersenyum
ya, itu pun sudah cukup
setidaknya ia ada
di sini
di sisi Sang Putri

Sunday, January 23, 2011

Ke Mana Perginya Orang itu?

BABAK 28

Sore hari. Kelas Matahari di TK Himawari.
Kelas Matahari tampak ramai akan anak-anak yang berlarian ke sana-sini. Kelas itu dihias sedemikian rupa sehingga menyerupai hutan belantara.

Akane : (takjub) Lucunya~
Haruka : Sudah kuduga kau akan bereaksi seperti itu.
Akane : Sangat menggemaskan dan lucu. Terutama jerapah mungil itu. Lalu singa kecil itu juga, gajah itu juga lucu. Oh tidak, semuanya saaaangat lucu! Bolehkah kubawa pulang mereka semua?
Haruka : Kalau masalah itu kau tanyakan sendiri pada orangtua mereka.
Akane : (tertawa kecil) Aku ingin membawa mereka pulang. Semuanya akan kubawa pulang.
Haruka : (tersenyum)

Akane langsung membaur bersama anak-anak berkostum hewan tersebut dan bermain bersama. Sedang Haruka tampak sedang mencari seseorang.

Haruka : Ke mana perginya orang itu?

***

Waktu yang sama.
Takeru berlari mengejar seorang lelaki berumur 30-an. Lelaki itu berlari sangat cepat sampai-sampai Takeru sulit mengejarnya. Namun, akhirnya Takeru berhasil menerjang dan membuat lelaki itu jatuh terjerembab. Ia tahan ruang gerak lelaki itu lalu dipukulnya dengan membabi buta. Perlawanan yang diberikan lelaki itu tampak sia-sia belaka karena Takeru terlihat sangat cekatan dalam bertindak.
Takeru menghentikan pukulannya. Wajah lelaki itu bersimbah darah yang juga menodai bajunya. Lelaki itu pun tak sadarkan diri.

***
Kelas Matahari, TK Himawari.
Di antara hingar-bingar teriakan anak-anak yang sedang bermain, Haruka mendekati salah satu guru berambut pendek ikal, Bu Suzuki Maeda.

Haruka : Maaf, Bu, lelaki berkaus oblong yang tadi pagi membantu menghias ruangan pergi ke mana?
Suzuki : Oh, tadi sebelum Sasaki-san datang, dia pergi. Katanya ada urusan.
Haruka : Sepertinya urusan yang sangat penting. Ah, terima kasih.

Haruka kembali membaur bersama anak-anak lain.

***

Takeru begitu berat melangkahkan kakinya. Bercak darah yang membekas di bajunya ditutupi oleh jaket. Mata Takeru kosong. Ia sempat menabrak beberapa orang dan didiamkannya. Ia tetap berjalan dalam keadaan seperti itu.

TK Himawari diliputi kemeriahan pesta yang diadakan Takeru. Akane dan Haruka sangat senang bermain dengan murid-murid Kelas Matahari. Mereka tampak bersuka cita dan tertawa bersama.

PS : scene saat Takeru berjalan dan suasana di TK Himawari ditampulkan secara bergantian masing-masing 3x. Urutannya scene Takeru, lalu scene TK Himawari. Terakhir, akan ditutup dengan scene berikut.

***

Kamar pribadi Takeru.
Gelap dan hanya ada satu lampu di sudut ruangan. Lampu itu mengarah pada sebuah kanvas besar yang dipenuhi oleh goresan warna merah di bagian sudut kiri atas.
Takeru berjalan mendekati kanvas itu. Tangan kanan dan kirinya memegang sehelai baju: bajunya sendiri dan baju korbannya. Ditorehkannya kedua baju itu di atas kanvas. Seketika itu juga bercak darah sudah berpindah di kanvas itu.

Thursday, January 06, 2011

Akira III

BABAK 27

Menjelang siang. Rumah Haruka.

Haruka : Aku pulang. Sepi sekali. Bukankah Akane ada di rumah? Akane... Akane, di mana kau?

Haruka mencari ke pelosok rumah, namun tak ada Akane di mana pun.

Haruka : (mengangkat bahu)

Haruka membuka kulkas lalu menenggak botol minumannya sampai setengah. Tiba-tiba ia mendengar suara dari kamar Akane.

Haruka : Suara itu... Akane, kau di rumah ternyata.

Haruka melangkahkan kakinya menuju lantai atas, tepatnya kamar Akane. Di sana, tampak Akane duduk memeluk lutut di atas tempat tidur dengan tatapan kosong.

Haruka : (kaget) Akane, kau kenapa?
Akane : . . .
Haruka : (mengguncang2 tubuh Akane) Akane, jawab aku, kau kenapa?!
Akane : (diam sejenak) Paman Ryou. Tadi aku bertemu dengan Paman Ryou.
Haruka : Paman...Ryou?

***

(flashback)
Beberapa jam yang lalu. Rumah Ryou Miyazawa.
Akane dan Ryou duduk berhadapan di ruang tamu.

Ryou : Kau benar-benar Akane kan? Akane Miyazawa?
Akane : Un. Paman, apa kabar?

Ryou segera duduk di sebelah Akane dan memeluknya.

Ryou : Ternyata kau benar-benar Akane. Sudah sejak lama aku ingin memelukmu seperti ini, kau tau?
Akane : (tersenyum) Aku juga tak menyangka akan bertemu paman di sini.
Ryou : Oh ya, kau sejak kapan ada di sini? Bukankah kau tinggal di Sapporo bersama ayahmu?
Akane : Kira-kira beberapa minggu yang lalu. Aku menjadi guru di sini, paman.
Ryou : Menjadi guru? Itu cita-citamu sejak dulu, bukan? Kuucapkan selamat.
Akane : Terima kasih. Ng... Paman tinggal sendiri di sini?
Ryou : Tidak. Aku di sini bersama bibimu yang cerewet itu...
Akane : (tertawa kecil)
Ryou : ...dan adikmu.

Seketika itu juga, senyuman Akane lenyap.

Akane : Ap--- maksud paman?
Ryou : Adikmu, Akira, juga tinggal di sini.
Akane : A--kira tinggal di--sini? Bagaimana bisa? Ibu...bagaimana dengan ibu? Ibu baik-baik saja kan?
Ryou : (menerawang) Banyak sekali hal yang terjadi, Akane.
Akane : Apa yang terjadi, paman? Tolong ceritakan padaku.
Ryou : (khawatir) Sepertinya kondisimu sedang tidak memungkinkan. Jadi, lebih baik kita bicarakan ini lain waktu saat kondisimu sudah membaik.
Akane : (tergugu)
***

(waktu kini)
Kamar Akane.

Haruka : Akira ada di sini?
Akane : Ya, di sini, di Tokyo.
Haruka : Bukankah itu berita bagus untukmu?
Akane : Bagiku, itu mimpi buruk. Aku tak tahu lagi harus bagaimana.
Haruka : Temui dia. Itu salah satu tujuanmu ke sini kan?
Akane : Tidak bisa, Haru. Aku--belum siap. Lebih baik aku tak jadi ke Tokyo saja.
Haruka : Percuma menyesali apa yang sudah terjadi. Mungkin sekarang ini kau belum siap, tapi nanti waktu akan mempertemukan kalian.
Akane : Aku tak mau saat itu tiba.
Haruka : Ya sudah, daripada mengurung diri seperti ini, lebih baik kau ikut aku saja.
Akane : Tidak, terima kasih. Meliput berita denganmu tak ada bedanya dengan pergi seorang diri.
Haruka : Kali ini beda. Aku mau mengajakmu ke tempat yang kau sukai. Bagaimana?
Akane : . . .

Paman?

BABAK 26

Waktu yang sama.
Karena hari ini tidak mengajar, Akane menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di sekitar rumah Haruka. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya dan sebisa mungkin menikmati pemandangan di sekelilingnya.

Akane : Haah... betapa beruntungnya aku dapat melihat pemandangan indah di kota besar seperti ini.

Akane terus berjalan sampai menjauhi rumah Haruka. Begitu sadar, ia sudah berada di tempat yang tak diketahuinya.

Akane : Di mana ini?

Ia melihat sekeliling. Tempat ini benar-benar asing baginya.

Akane : Aduuh...bagaimana ini. Ah! Ponsel! Lho? Arrgh...aku lupa, ponselku masih ada di tas! Akane bodoh, bodoh! Ugh...

Akane melihat sekelilingnya, mencari seseorang. Namun, tak ada siapa pun di sana.

Akane : Siapa pun, tolonglah aku...

Tiba-tiba,
 
Suara berat : Maaf, ada yang bisa saya bantu?
Akane : (dalam hati) Akhirnya....
Akane : (berbalik ke belakang) Begini, Pak, saya mau tanya. Ini daerah ma--  Paman?
Suara berat : (kaget) Akane?

Suara berat yang terdengar di belakang Akane tak lain adalah Ryou Miyazawa.

Wednesday, January 05, 2011

Apa Tujuanmu?

BABAK 25 

TK Himawari. 08.30 pagi.
Haruka berjalan lesu menuju kelas Matahari.

Haruka : (menggumam) Sepertinya tadi aku sangat keterlaluan pada Akane.
. . .
Haruka : Saat pulang nanti, aku akan memberikan es krim cokelat kesukaannya dan meminta maaf atas sikap acuhku tadi pagi. Ya, ide yang saaangat bagus!

Haruka tiba di kelas matahari. Tak ada siapapun di sana.

Haruka : Baru aku saja yang datang? Ckckck…

Haruka memperhatikan seisi ruangan. Ada 20 meja dan kursi kecil masih tertata rapi di sana. Haruka membuka pintu kaca agar cahaya matahari pagi dapat masuk. Ia hirup udara sedalam-dalamnya lalu ia hembuskan perlahan.

Haruka : Yosh! Ayo, mulai bekerja!!

Haruka mengambil kursi2 kecil satu per satu lalu ditumpuk lima-lima dan diletakkan di pinggir ruangan. Setelah itu, ia mengumpulkan mejanya. Saat ia menumpuk dua meja terakhir, datang seseorang.

Takeru : Semua ini mau diletakkan di mana?
Haruka : (tersentak kaget) Ternyata kau. Muncul tiba-tiba seperti itu, membuatku kaget saja.
Takeru : Jadi, ini diletakkan di mana?
Haruka : Kelas sakura.

Takeru keluar membawa tumpukan kursi dan meja ke ruang kelas sakura.

Haruka : Orang macam apa dia? Bahkan ucapan selamat pagi pun tak keluar dari mulutnya.
Takeru : Ada lagi yang perlu dipindahkan?
Haruka : (kaget) Waa!! Bisa tidak sih kau muncul secara normal?!!
Takeru : . . .
Haruka : Lebih baik sekarang kita menghias kelas ini. Jadi, kau mau memakai konsep apa?
Takeru : (menatap bingung)
Haruka : Meskipun ini bukan acara formal, tetap saja butuh konsep kan? Jadi...?
Takeru : Menurutmu bagaimana bagusnya?
Haruka : (dalam hati) Kenapa malah balik bertanya?
Takeru menatap Haruka, menunggu jawaban darinya.

Haruka : (menghela napas) Tolong kau tiup balon-balon di kardus itu. Kau ikat lima-lima lalu kau tempel di tengah langit-langit atas.
Takeru : Roger.
Haruka : (menghela napas berat)
Takeru : Maaf ya, kau harus membantuku seperti ini.
Haruka : (menggumam pelan) Terpaksa.
Takeru : Apa?
Haruka : (senyum terpaksa) O--Ooh tidak. Tak apa, senang bisa membantu.

Mereka mengerjakan masing-masing pekerjaannya dalam diam. Sampai Haruka menanyakan hal yang membuatnya penasaran sejak lama.

Haruka : Apa tujuanmu mengadakan pesta kecil ini?
Takeru : . . .
Haruka : (wajah serius) Apa tujuanmu?
. . .
Takeru : Hmpf! Hahaha....
Haruka : Kenapa kau malah tertawa, heh?
Takeru : Wajahmu itu, coba kau lihat wajahmu. Sangat lucu. Hahahaha...

Haruka hanya menatap Takeru datar.

Haruka : Kau laki-laki teraneh yang pernah kutemui.
Takeru : Kuanggap itu sebagai pujian.

Keduanya kembali melanjutkan kegiatan masing-masing.
  

Akira II

BABAK 24 

Minggu pagi. Ruang makan di rumah Haruka.
Akane baru saja keluar kamar dan mendapati Haruka sedang mekahap setangkup roti.

Akane : Pagi.
Haruka : Selamat pagi, tuan puteri.
Akane : (meringis)

Akane menghirup susu coklat panas yang sudah tersedia.

Akane : (mengangkat mug) Thanks.
Haruka : Your welcome.
Akane : Ngomong2, Haru-chan, kau masih ingat dengan Akira Yamada yang pernah kuceritakan? Sepertinya dia sudah tahu kalau selama ini aku terus menatapnya dan dia menatapku balik. Jangankan sehari-dua hari, tapi ini hampir setiap hari! Aku takut, jangan2 dia mengira aku ini stalker. Atau dia mengira aku ini guru genit yang menyukai muridnya sendiri? Aaarrgh… kalau dia berani berpikiran seperti itu, akan kumarahi langsung di depan mukanya! Huh!

Haruka tampak sibuk mengecek ulang barang bawaannya. Ia sudah selesai sarapan dan siap berangkat.

Akane : Aku baru sadar, tumben kau sudah rapi. Mau ke mana?
Haruka : Ada sedikit urusan. Biasalah.
Akane : Memotret dan mencari berita. Ya, ya, harusnya tak perlu kutanya lagi. Urusanmu kan tak jauh-jauh dari dunia jurnalistik.
Haruka : (tersenyum) Mungkin nanti aku agak terlambat pulangnya.
Akane : Ya, aku mengerti. Ki o tsukete ne*.


* Hati-hati di jalan ya

Akira

BABAK 23 

Beberapa hari kemudian.
Koridor kelas 2. Pagi hari.
Akane berjalan menyusuri koridor kelas 2. Tiba-tiba matanya menangkap sosok seseorang di depannya.

Akane : (dalam hati) Akira.

Akane terus menatapnya. Seketika itu juga, sebuah kerinduan muncul. Ia sangat ingin memeluk sosok yang berjalan di depannya ini.

Akane : (menggumam pelan) Akira.

Sadar dirinya dipanggil, Akira menatap balik perempuan di depannya. Keduanya saling melihat. Lama. Mata mereka berbicara antara kerinduan dan perasaan asing.
Pertahanan Akane hancur. Ia membuang muka dan kembali meneruskan langkahnya. Sedangkan Akira berbalik menatap punggung Akane sampai tak  terlihat lagi.

* * *

Hari berikutnya.
Saat pulang sekolah. Sore hari.
Akane setengah berlari menuju pintu gerbang. Saking terburu-burunya, ia sampai tak melihat orang yang berjalan di depannya.

BRUK!

Akane : (membungkuk) Ah! Maafkan aku. Maaf–
Akane : (dalam hati) Akira.
Akira : Oh, tak apa.

Akira menatap Akane seolah ingin menanyakan sesuatu. Akane mengalihkan pandangannya lalu pergi.

***

Hal itu berlaku sampai beberapa hari ke depan, bahkan sampai hari ini. Akane berjalan menuju perpustakaan dengan diiringi tatapan Akira. Akane terpaksa berpura-pura menutup matanya dengan buku seolah melindungi mata dari sinar matahari. Ia pun mempercepat langkahnya.

Sunday, January 02, 2011

어쩔 수가 없다

seandainya aku bisa berkata
aku ada di sini
apakah kau akan melihatku
bahkan aku tak sampai hati mengucapnya
aku takut merusaknya
dan aku takut bayangkannya
tapi aku ada di sini
dan kau tak mengindahkannya
hal itu membuatku sakit
kau tahu itu

aku tak memberimu tanda
dan kau semakin terlalu
tolong berhentilah
aku ingin kau melihatku
aku ingin kau mengindahkanku
kau mengerti itu

tak mengerti pun tak apa
aku tak mau memaksamu
tak sadar pun aku mengerti
jadi ku hanya bisa berkata ini
apa boleh buat