BABAK 16
Hari Minggu
Pameran lukisan Takeru Yuuji, siang hari.
Makoto dan Yume mengelilingi ruangan, melihat-lihat lukisan.
Makoto : Maaf, mungkin kau bosan kuajak ke sini.
Yume : Oh, tidak apa-apa. Sungguh. Meskipun aku tidak begitu mengerti tentang lukisan, tapi aku suka.
Makoto : Syukurlah. Kukira kau akan bosan.
Yume : Tentu saja tidak, (melanjutkan dalam hati)
sepanjang aku bersama denganmu.
Makoto : (menunjuk lukisan di depannya) Bagaimana menurutmu?
Yume : Apa?
Makoto : Lukisan ini.
Yume : (menatap lama) Mmm... Lukisan ini bagus.
Makoto : Hanya itu?
Yume : Memang apa lagi yang harus diucapkan seseorang yang tak mengerti lukisan seperti aku ini?
Makoto : Ahaha...benar juga. Aku pun sebenarnya tidak begitu mengerti lukisan. Hanya saja, saat melihat lukisan ini, aku jadi memahami perasaan si pelukis.
Yume : Memahami...perasaan si pelukis?
Makoto : Lukisan ini, misalnya. Sepertinya si pelukis sangat ingin bertemu dengan orang yang dicintai. Dan garis ini menunjukkan batas antara perasaan egois si pelukis dengan kenyataan. Singkat kata, si pelukis sedang dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit ; antara ingin bertemu teman-temannya atau kenyataan yang ada.
Yume : Dari mana kau tau hal itu?
Makoto : Entahlah. Itu menurutku.
Yume : Kalau lukisan yang itu? (menunjuk lukisan makhluk menyeramkan)
Makoto : Hmm... Mungkin makhluk itu menggambarkan diri pelukis sendiri. Dia merasa telah berbuat jahat pada seseorang dan menganggap dirinya sama jahatnya dengan makhluk itu. Atau bisa juga, dia pernah melihat makhluk itu lalu merealisasikannya dalam sebuah lukisan.
Yume : Aku setuju dengan kemungkinan pertama. Tapi coba kau lihat! Makhluk itu tertawa sambil menangis. Bisa saja makhluk itu berbuat jahat, namun di dalam hati sebenarnya ia tidak mau. Sebenarnya ada rasa terpaksa dalam dirinya saat berbuat jahat. Siapa tau.
Makoto : (mengacak-acak rambut Yume) Wah, wah, sepertinya temanku yang satu ini sudah mulai pintar menganalisis lukisan.
Yume : (terdiam sejenak) O--oh! Tentu saja. Yume. (dalam hati)
Teman, katanya.
Tiba-tiba Makoto berhenti di satu lukisan.
Agak lama ia menatap lukisan itu.
Yume : (membaca judul lukisan) Darah.
Yume ikut menatap lukisan itu, tapi ia tak mendapatkan gambar apapun.
Hanya gradiasi warna merah darah yang ada di sana.
Yume : Apa maksudnya ini? Aku tak mengerti.
Makoto : (menyentuh lukisan)
. . .
(
flashback)
Dua tahun yang lalu.
Belakang gedung olahraga, sore hari.
Makoto : (menyerahkan uang) Sisanya akan kuberikan setelah pekerjaan kalian selesai.
Berandal 1 : . . .
Makoto : Ingat, pastikan ia terluka.
Berandal 2 : Beres, bos. Serahkan pada kami. (menyikut temannya) Ayo!
Kedua berandal itu pun pergi.
Makoto : (tersenyum sinis)
. . .
Pameran lukisan Takeru Yuuji.
Bola mata Makoto membesar dan ia mulai gelisah.
. . .
(
flashback)
Dua tahun yang lalu.
Hari berikutnya.
Koridor kelas 3-5, istirahat siang.
Nami : (bisik-bisik) Aku dengar, Nanami tidak masuk karena dipukul habis-habisan.
Makoto, yang sedang keluar kelas, menghentikan langkahnya.
Keiko : Dipukul siapa?
Sachi : Tunggu, tunggu. Maksudmu, Nanami yang mana?
Makoto jalan kembali dengan perlahan.
Nami : Tentu saja Nanami Uemura, siapa lagi? Kejadiannya kemarin, setelah pulang sekolah.
Sachi : Bagaimana kejadiaanya bisa seperti itu?
Nami : Saat pulang sekolah, tiba-tiba dia dihadang dua orang berandalan. Mereka meminta uang Nanami dengan paksa. Karena Nanami tidak mau memberikannya, berandalan itu memukulnya.
Sachi : Kasihan sekali.
Keiko : Menurutku ini aneh. Karena tidak mau memberikan uang, masa harus memukul segala.
Nami : (mengangkat bahu) Entahlah.
Makoto : (tersenyum senang)
. . .
Pameran lukisan Takeru Yuuji.
Makoto terlihat frustasi. Keringat dingin mulai keluar.
Makoto : (meremas rambut) Argh...!
Yume : Ma-- Makoto, ada apa? Kau sakit?
Makoto : Aaaargh...
Yume : (khawatir) Makoto... Kepalamu, pasti kepalamu sakit ya. Sebentar-sebentar.
Dengan terburu-buru, Yume mengaduk-aduk isi tas.
Namun, ia tak menemukan obat yang ia cari.
Yume : Aduh, bagaimana ini? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit, ya?
Makoto : Aaargh...! Tidak, tidak usah. Aku hanya--argh!--perlu istirahat sejenak.
Yume : Kita pulang saja ya.
Makoto : (menarik napas dalam-dalam) Haah... Oke, sekarang aku sudah tidak apa-apa. Ayo, kita lanjutkan.
Yume : Apakah kau yakin?
Makoto : Um.
Makoto dan Yume melanjutkan melihat-lihat lukisan.
Tiba-tiba Makoto melihat cewek yang tempo hari juga dilihatnya.
Kali ini ia membawa barang belanjaan yang tidak begitu banyak.
Makoto : Ah!
Yume : Makoto?
Makoto : Maaf, aku keluar sebentar.
Sekali lagi Makoto meninggalkan Yume,
membuat tanda tanya besar untuknya.