Friday, January 29, 2010

하늘 (Sky)


 내 여동생의 사진
(the sky that has taken by my sist)

Sora (2009년1월16일)

(2009년1월23일)

(2009년1월23일)


나의 사진
(the sky that has taken by myself)

(2009년1월17일)

Wednesday, January 27, 2010

"Terima Kasih"

BABAK 18

Kamar Makoto, malam hari.
Sejak pulang dari pameran, Makoto terus duduk melamun.

Makoto : (mengacak-acak rambut) Aarrgh...! Kenapa dia selalu ada?! Dan kenapa aku selalu mengejarnya?! Kenapa?!!
. . .
Makoto : Apa begitu besar kesalahanku sampai dia terus menghantui ke mana pun aku pergi? Oh, atau mungkin dia jadi dendam padaku, masih marah dengan apa yang sudah kulakukan padanya? Ya, pasti begitu.

. . .

(flashback)

Dua tahun yang lalu.
Satu minggu sebelum ujian kelulusan.
Suasana kelas sudah sepi, senja hari.

Makoto : (bergumam) Dia pasti sudah tau. Yah, aku tau akan berakhir seperti ini.

Tak lama kemudian, Nanami datang.
Ia berjalan perlahan lalu berhenti cukup jauh dari Makoto.

Nanami : (menatap Makoto datar)
Makoto : (tersenyum) Ada apa kau memanggilku ke sini?

Makoto berjalan mendekat sementara Nanami melangkah mundur,
membuat langkah Makoto terhenti.

Makoto : (mengangkat kedua tangan) Ok, aku tidak akan mendekat. Sekarang bicaralah.
Nanami : . . .

Nanami tetap menatap Makoto tajam, lalu melunak dan berakhir dengan senyuman.

Nanami : (menangis) Terima kasih. Terima kasih banyak. (membungkuk dalam)
Makoto : (kaget)
Nanami : (berdiri tegak) Terima kasih banyak.

Nanami berlalu meninggalkan Makoto.

. . .

Kamar Makoto.

Makoto : Kenapa waktu itu kau berkata terima kasih?

우리 아빠 (My Father)

setiap detik waktu berlalu,
aku semakin melupakanmu

bukan itu yang kuinginkan

setiap detik waktu berlalu,
aku semakin mengingatmu

itulah yang kuinginkan





Monday, January 25, 2010

Lagi-lagi Seperti Itu

BABAK 17

Rumah Nanami.
Nanami yang hendak masuk rumah, tiba-tiba berhenti saat mendengar misuh-misuh para tetangga.

Tetangga 1 : Apa benar tetangga baru kita itu seorang wanita bayaran?
Tetangga 2 : Apa maksudmu?
Tetangga 1 : Aku dengar, dia bekerja di kelab malam.
Tetangga 3 : Aku juga pernah melihatnya berangkat sore hari lalu pulang dini hari.
Tetangga 2 : Jangan-jangan yang kau bilang itu benar.
Tetangga 1 : Tentu saja. Bekerja di kelab malam seperti itu, apa lagi pekerjaannya selain wanita bayaran.

BRAK!!

Dengan sengaja, Nanami menendang tong sampah di sampingnya.
Para tetangga yang sedang bergosip pun kaget.

Tetangga 1, 2, dan 3 : (melihat Nanami)
Nanami : (menatap tajam)
Tetangga 1, 2, dan 3 : (buru-buru pergi)
Nanami : (menghela napas berat)

Nanami masuk rumah lalu berjalan perlahan menuju ruang keluarga.
Di sana, Remi Uemura sedang menghitung uang bulanan keluarga.

Remi : (tersenyum) Nana-chan, kau sudah pulang. Selamat datang!
Nanami : (menatap sebentar lalu melengos)
Remi : (menghampiri Nanami) Nana-chan, ada apa? Wajahmu pucat. Kau tidak enak badan?

Nanami hanya bisa menatap Remi tanpa menjawab.
Kemudian Nanami memberikan belanjaan pada Remi dan berlalu ke kamar.

Remi : Haah... Lagi-lagi seperti itu. Setidaknya kau kan bisa mengatakan, "Aku pulang."

이 슬픔 (This Sadness)


akan kujadikan kesedihan ini menjadi kekuatan
untukku bebas dari keterpurukan



Saturday, January 23, 2010

Ingat, Pastikan Ia Terluka

BABAK 16

Hari Minggu
Pameran lukisan Takeru Yuuji, siang hari.
Makoto dan Yume mengelilingi ruangan, melihat-lihat lukisan.

Makoto : Maaf, mungkin kau bosan kuajak ke sini.
Yume : Oh, tidak apa-apa. Sungguh. Meskipun aku tidak begitu mengerti tentang lukisan, tapi aku suka.
Makoto : Syukurlah. Kukira kau akan bosan.
Yume : Tentu saja tidak, (melanjutkan dalam hati) sepanjang aku bersama denganmu.
Makoto : (menunjuk lukisan di depannya) Bagaimana menurutmu?
Yume : Apa?
Makoto : Lukisan ini.
Yume : (menatap lama) Mmm... Lukisan ini bagus.
Makoto : Hanya itu?
Yume : Memang apa lagi yang harus diucapkan seseorang yang tak mengerti lukisan seperti aku ini?
Makoto : Ahaha...benar juga. Aku pun sebenarnya tidak begitu mengerti lukisan. Hanya saja, saat melihat lukisan ini, aku jadi memahami perasaan si pelukis.
Yume : Memahami...perasaan si pelukis?
Makoto : Lukisan ini, misalnya. Sepertinya si pelukis sangat ingin bertemu dengan orang yang dicintai. Dan garis ini menunjukkan batas antara perasaan egois si pelukis dengan kenyataan. Singkat kata, si pelukis sedang dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit ; antara ingin bertemu teman-temannya atau kenyataan yang ada.
Yume : Dari mana kau tau hal itu?
Makoto : Entahlah. Itu menurutku.
Yume : Kalau lukisan yang itu? (menunjuk lukisan makhluk menyeramkan)
Makoto : Hmm... Mungkin makhluk itu menggambarkan diri pelukis sendiri. Dia merasa telah berbuat jahat pada seseorang dan menganggap dirinya sama jahatnya dengan makhluk itu. Atau bisa juga, dia pernah melihat makhluk itu lalu merealisasikannya dalam sebuah lukisan.
Yume : Aku setuju dengan kemungkinan pertama. Tapi coba kau lihat! Makhluk itu tertawa sambil menangis. Bisa saja makhluk itu berbuat jahat, namun di dalam hati sebenarnya ia tidak mau. Sebenarnya ada rasa terpaksa dalam dirinya saat berbuat jahat. Siapa tau.
Makoto : (mengacak-acak rambut Yume) Wah, wah, sepertinya temanku yang satu ini sudah mulai pintar menganalisis lukisan.
Yume : (terdiam sejenak) O--oh! Tentu saja. Yume. (dalam hati) Teman, katanya. 

Tiba-tiba Makoto berhenti di satu lukisan.
Agak lama ia menatap lukisan itu.

Yume : (membaca judul lukisan) Darah.

Yume ikut menatap lukisan itu, tapi ia tak mendapatkan gambar apapun.
Hanya gradiasi warna merah darah yang ada di sana.

Yume : Apa maksudnya ini? Aku tak mengerti.
Makoto : (menyentuh lukisan)

. . .

(flashback)

Dua tahun yang lalu.
Belakang gedung olahraga, sore hari.

Makoto : (menyerahkan uang) Sisanya akan kuberikan setelah pekerjaan kalian selesai.
Berandal 1 : . . .
Makoto : Ingat, pastikan ia terluka.
Berandal 2 : Beres, bos. Serahkan pada kami. (menyikut temannya) Ayo!

Kedua berandal itu pun pergi.

Makoto : (tersenyum sinis)

. . .

Pameran lukisan Takeru Yuuji.
Bola mata Makoto membesar dan ia mulai gelisah.

. . .

(flashback)
 
Dua tahun yang lalu.
Hari berikutnya.
Koridor kelas 3-5, istirahat siang.

Nami : (bisik-bisik) Aku dengar, Nanami tidak masuk karena dipukul habis-habisan.

Makoto, yang sedang keluar kelas, menghentikan langkahnya.
 
Keiko : Dipukul siapa?
Sachi : Tunggu, tunggu. Maksudmu, Nanami yang mana?

Makoto jalan kembali dengan perlahan.
 
Nami : Tentu saja Nanami Uemura, siapa lagi? Kejadiannya kemarin, setelah pulang sekolah.
Sachi : Bagaimana kejadiaanya bisa seperti itu?
Nami : Saat pulang sekolah, tiba-tiba dia dihadang dua orang berandalan. Mereka meminta uang Nanami dengan paksa. Karena Nanami tidak mau memberikannya, berandalan itu memukulnya.
Sachi : Kasihan sekali.
Keiko : Menurutku ini aneh. Karena tidak mau memberikan uang, masa harus memukul segala.
Nami : (mengangkat bahu) Entahlah.
Makoto : (tersenyum senang)

. . .

Pameran lukisan Takeru Yuuji.
Makoto terlihat frustasi. Keringat dingin mulai keluar.

Makoto : (meremas rambut) Argh...!
Yume : Ma-- Makoto, ada apa? Kau sakit?
Makoto : Aaaargh...
Yume : (khawatir) Makoto... Kepalamu, pasti kepalamu sakit ya. Sebentar-sebentar.

Dengan terburu-buru, Yume mengaduk-aduk isi tas.
Namun, ia tak menemukan obat yang ia cari.

Yume : Aduh, bagaimana ini? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit, ya?
Makoto : Aaargh...! Tidak, tidak usah. Aku hanya--argh!--perlu istirahat sejenak.
Yume : Kita pulang saja ya.
Makoto : (menarik napas dalam-dalam) Haah... Oke, sekarang aku sudah tidak apa-apa. Ayo, kita lanjutkan.
Yume : Apakah kau yakin?
Makoto : Um.

Makoto dan Yume melanjutkan melihat-lihat lukisan.
Tiba-tiba Makoto melihat cewek yang tempo hari juga dilihatnya.
Kali ini ia membawa barang belanjaan yang tidak begitu banyak.

Makoto : Ah!
Yume : Makoto?
Makoto : Maaf, aku keluar sebentar.

Sekali lagi Makoto meninggalkan Yume,
membuat tanda tanya besar untuknya.

Friday, January 22, 2010

Maaf Untuknya

maaf ya,
aku memarahimu
aku melakukannya
karena aku menyayangimu
aku harap kau mengerti
maukah kau?

maaf juga,
aku kurang memperhatikanmu
aku mengacuhkanmu
tak peduli padamu
tak mau bermain denganmu
bisakah kau?

dan saat itu datang
kau celaka
aku takut
kau berhasil membuatku sedih

tapi terima kasih ya
celaka itu membuatku sadar
aku sayang padamu
kau dengar?
aku sayang padamu
sangat sayang
apakah kau dengar?

syukurlah
kau tidak apa-apa
semoga kau cepat sembuh
dan
mengajakku bermain lagi
dengan tawa itu,
sekali lagi


untukmu yang kusayang

Thursday, January 21, 2010

Tidak Semudah Itu

tidak semudah itu mengatakan
teman selamanya

pernahkah kau merasa
bukan seperti dirimu
saat kau bersama temanmu?
seolah kau orang lain
yang bahkan menyakitinya pun
bukan hal sulit untukmu

ataukah kau pernah mengkhianatinya
dengan mengikuti keinginan egoismu
dan memilih menutup hatimu?
tak peduli hal itu bisa membuat
persahabatan hancur sekalipun

atau mungkin
kau hendak menusuknya?
sudahkah?
kau buat hatinya hancur
kau tidak dapat mengembalikannya
seperti semula
tidak semudah itu

lalu apa selanjutnya?
membohonginya?
tidak mempercayainya?
menghapusnya dari hidupmu?

"Pernahkah aku?"

Sekali lagi aku katakan,
tidak semudah itu mengatakan
teman selamanya

apakah kau mengerti sekarang?


(2009년1월20일)


Puisi ini dibuat saat teman-temanku sedang gloomy.
Puisi ini kudedikasikan untuk mereka.
Semangat, teman!
Tersenyumlah untukku
seperti aku tersenyum untukmu.

Bahagiaku

apa kau tau arti bahagia?

satu keluarga berkumpul jadi satu
canda tawa, suka duka
tidak ada pertengkaran atau dendam
mereka tahu satu sama lain
mengerti satu sama lain
membuat mereka satu
itulah bahagia

tempat bersandar
senyumnya adalah senyumku
sedihnya adalah sedihku
dukungannya menguatkanku
kata-katanya meringankanku
dialah teman
dan itulah bahagia

merekalah senyumku
merekalah tangisku
merekalah kekuatanku

mereka
adalah
bahagiaku

Tuesday, January 19, 2010

Aku Ingin Mengajakmu Menonton Film

BABAK 15

Depan rumah Yume.
Setelah selesai belajar bersama, malam hari.

Yume : Terima kasih ya, sudah datang. Mengenai latihannya, maaf.
Naoko : Sudahlah, tidak apa-apa. Masih ada hari esok kan?
Irumi : Terlalu santai juga tidak baik.
Naoko : (menggaruk-garuk kepala) Hehehe...
Yume : Dasar Nao.
Irumi : (menatap Yume)
Yume : Ada apa, Rumi? Ada yang aneh dengan wajahku?
Irumi : Yume.. Kalau mengenai Makoto, sikapmu jadi lembut. Tidak seperti Yume yang grasak-grusuk, tapi Yume yang tenang. Yume yang... benar-benar cewek. Bukan begitu, Nao?
Naoko : Benar sekali. Haah, aku juga ingin seperti itu. Aku ingin cepat-cepat jatuh cinta dan punya pacar.
Irumi : Ya ya, semoga keinginanmu itu dikabulkan. Aku jadi penasaran, cowok seperti apa ya yang jatuh hati pada Nao?
Naoko : Cowok baik yang menerimaku apa adanya. Ah, dan setia, tentunya. Aku akan membuktikannya padamu!
Irumi : Ya ya ya...
Naoko : Jawab 'ya'-nya cukup sekali saja, seolah-olah kau meremehkanku. Lihat saja, nanti akan aku buktikan!
Irumi : Terserah, lakukan semaumu.
Yume : Hahahaha... Sudah, sudah. Kapan kalian pulang kalau bertengkar terus? Ini sudah malam, nanti orangtua kalian khawatir.
Naoko : Benar juga. Bisa-bisa nanti aku dimarahi ayahku karena pulang terlambat!
Irumi : Kalau begitu, kami pulang dulu ya. Jaa ne.
Naoko : Bye bye!
Yume : (melambaikan tangan) Hati-hati di jalan!

Yume menunggu Irumi dan Naoko pergi.
Setelah itu, ia masuk rumah dan mendapati handphone-nya berkedip-kedip.

Yume : (melihat layar handphone) Makoto? Moshi-moshi.
Makoto : Yume?
Yume : Iya, ini aku. Ada apa?
Makoto : Maaf kalau aku mengganggumu. Aku tau tidak sopan menelpon malam-malam, tapi aku ingin meminta maaf atas kejadian tempo hari.
Yume : Oh, tidak apa-apa kok. Tenang saja.
Makoto : Terima kasih. Aah, leganya...
Yume : Mmm... Waktu itu, siapa yang kau lihat? Teman lamamu?
Makoto : (diam sejenak) Dibilang teman juga bukan teman. Tapi kami memang "berteman".
Yume : (mengernyit) . . .
Makoto : Aku pasti membuatmu bingung, tapi memang begitulah kenyataannya.
Yume : Aku benar-benar tidak mengerti.
Makoto : Yah, tidak bisa kujelaskan sekarang. Mungkin suatu saat bila waktunya sudah tepat.
Yume : Aku akan menanti saat itu tiba.
Makoto : Itu terserah padamu. Ingatkan aku kalau-kalau nanti aku lupa.
Yume : Pasti.
Makoto : Oh ya, untuk mengganti yang kemarin, aku ingin mengajakmu menonton film, bagaimana? Bersediakah Anda untuk menemani pemuda tampan ini?
Yume : Phuf! Pemuda tampan? Pemuda tampan yang mana ya?
Makoto : Hahaha... Jadi, jawabannya?
Yume : Oke!
Makoto : Jawaban yang bagus.
Yume : (tersenyum)

Monday, January 18, 2010

Aku Tidak Melihat Namanya...

BABAK 14

Hari Sabtu.
Rumah Yume, siang hari.
Irumi Takahara dan Naoko Fukuda sedang belajar bersama di sana.

Irumi : Sudah selesai belum?
Naoko : Belum, sebentar lagi. How do you... How do you think... ng...
Irumi : ...about that movie?
Naoko : Oh, how do you think about that movie? Selanjutnya, it sounds great,... it sounds-- Argh!
Irumi : It sounds great, let's watch it then!
Naoko : It sounds... great, let's w--watch it th--then. Aku benar kan?
Irumi : (mengangguk) Ayo, kita mulai! Yume.
Yume : I have 3 tickets for the next saturday. Would you like to come with me?
Irumi : That's a good idea! Count me in.
Yume : How about you, Nao?
Naoko : W--what kind of... What kind of ticket...
Irumi : (gerak bibir) ...anyway.
Naoko : Ah. What kind of ticket any--way?
Yume : (datar) Movie ticket, and you know what? It's Sherlock Holmes movie.
Irumi & Naoko : (menatap Yume)
Yume : Apa? Ada yang salah?
Irumi : Tidak ada yang salah. Ayo, lanjutkan.
Naoko : How do you...think, ng... How do you...
Irumi : Cukup. Latihan kita berhenti sampai di sini.
Naoko : Hah?
Irumi : Ya, seperti yang kubilang, latihan cukup sampai di sini. Kalian kurang konsentrasi. Kalau kalian begitu terus, latihan drama kita tidak akan selesai.
Yume : Maaf, Rumi. Kita ulangi sekali lagi ya.
Naoko : (mengagguk)
Irumi : Tidak. Aku tidak tau entah kalian sedang ada masalah atau apa. Sekarang lebih baik kalian mengistirahatkan pikiran supaya bisa lebih konsentrasi di latihan berikutnya.
Naoko : (menggenggam tangan Irumi) Rumi, kau memang teman yang pengertian. Aku suka padamu!
Irumi : Iya, aku tau itu kok. Tapi maaf ya, Nao, aku ini masih cewek normal.
Naoko : Hehehe...
. . .
Irumi : Jadi, ada masalah apa, Yume?
Naoko : Iya, ada masalah apa? Sepertinya tadi kau kurang fokus dan sering melamun. Kalau aku sih memang dasarnya lemah dalam menghafal. (mengetuk kepalanya pelan)
Yume : Makoto.
Irumi : Sudah kuduga. Ada apa dengan pacarmu itu?
Yume : Rumi, dia bukan pacar--
Naoko : (menyela) Calon pacar.
Irumi : Perumpamaan yang bagus. Aku suka.
Yume : (merengut)
Irumi & Naoko : Jadi?
Yume : Akhir-akhir ini, aku merasa dia sangat aneh. Sikapnya jadi beda. Entahlah, aku merasa dia semakin jauh.
Naoko : Itu hanya perasaanmu saja.
Yume : Tidak, ini benar. Makoto seperti... menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh diketahui siapapun.
Irumi : Termasuk kau?
Yume : (mengangguk)
Naoko : Mengapa tidak kau tanyakan langsung padanya? Biar jelas.
Irumi : (memukul kepala Naoko) Dasar bodoh! Kalau nanti Makoto berpikir Yume adalah cewek yang mau tau urusan orang, bagaimana?
Naoko : Oh iya, benar juga kau, Rumi. Lalu apa yang harus kita lakukan? Diam saja dan terus menebak-nebak alasan sikap Makoto yang aneh itu?
Yume : Aku juga bingung.
Naoko : Haah... Bagiku, sikap Makoto memang aneh, dari dulu sampai sekarang. Bukan, dulu bahkan lebih aneh. Dia memang tipe anak berandalan, tapi bukan termasuk murid yang bodoh juga. Suatu hari, saat aku ingin melihat kelulusan kakakku, aku tidak melihat namanya di pengumuman kelulusan...
Yume : Tunggu, tunggu. Sepertinya ada yang aneh. Makoto. Dia bukan satu angkatan denganmu?
Naoko : Ya, dia satu tahun di atasku. Kakak kelasku.
Yume & Irumi : (kaget)
Irumi : Kau yakin dia kakak kelasmu?
Naoko : Tentu saja. Makoto adalah satu-satunya murid yang selalu membuat masalah. Tapi meskipun begitu, cewek-cewek sangat menyukainya.
Yume & Irumi : . . .
Naoko : Peristiwa itu sempat membuat semua murid heran sekaligus kaget. Beberapa hari setelah itu, beredar gosip. (mendekatkan diri ke arah Yume dan Irumi) Makoto sengaja tidak meluluskan diri.
Irumi : Maksudmu?
Naoko : Ya, dia memang sengaja tidak mau lulus. Dia tidak mengikuti ujian kelulusan. Karena bolos atau sakit, aku tidak tau.
Yume : (terlihat kaget) Aku baru tau hal itu.
Irumi : Mengapa dia berbuat seperti itu?
Naoko : (mengangkat bahu, cuek)
Yume : (menatap langit dengan tatapan kosong)

Tuesday, January 12, 2010

Hanya Sebuah Kata

jika aku penjahat,
aku akan menjadi
penjahat yang paling kejam

jika aku pemakai,
aku adalah pemakai
yang tidak akan pernah sembuh

jika aku seorang yang gagal,
aku akan bunuh diri

jika aku seorang pembangkang,
tak satu hari pun
aku tidak membuat onar

jika aku seorang preman,
hidupku terlunta di jalanan

jika aku seorang pembunuh,
itu akan menjadi jalan hidupku
sampai mati

jika semua itu adalah aku,
bagaimana dengan orangtuaku?

ini bukanlah doa
juga bukan keinginanku
ini hanya sebuah kata
jika

Menertawakan Apa Kau?

BABAK 13
(flashback)

Ruang guru, setelah pelajaran selesai.

Inoue-sensei : Jadi, siapa yang mau menjelaskan?
. . .
Inoue-sensei : Tidak ada? Oh. Sepertinya kau mau menjelaskan sesuatu, Uemura.
Nanami : (diam sejenak) ---cuma.
Inoue-sensei : Apa?
Nanami : Saya bilang percuma.
Inoue-sensei : Tidak ada yang percuma. Ceritakanlah.
Rika : (menyeringai)
Inoue-sensei : Kalau kau tidak mau cerita juga, terpaksa saya akan memberimu hukuman karena sudah mengganggu pelajaran saya.
Nanami : (beranjak pergi) Terserah.
Inoue-sensei : Hei, mau ke mana kau? Saya belum selesai bicara!
Rika : (tersenyum penuh kemenangan)

Nanami berjalan keluar kantor guru.
Di sana ia mendapati seseorang bersandar di samping pintu, Makoto.

Makoto : "Percuma. Kalaupun aku mengatakan hal yang sesungguhnya, tidak akan ada yang percaya." (melirik Nanami) Itu kan isi hatimu?
Nanami : (menatap kesal)
Makoto : "Siapa sih aku ini. Teman saja aku tak punya. Tidak ada yang peduli dengan keberadaanku. Aku mati pun mungkin tidak ada yang tau."
Nanami : . . .
Makoto : Sepertinya mati tanpa ada orang yang tau tidak jelek juga. Aku akan mencobanya suatu saat.
Nanami : Apa maumu?
Makoto : Mauku? Tidak ada.
Nanami : Berhenti menggangguku, membuatku ingin muntah.

Makoto mengangkat tangan tanda menyerah dan membiarkan Nanami pergi.
Bersamaan dengan itu, Rika keluar dari kantor guru.

Makoto : Hmpfh... ahahahahahaha.....
Rika : (menatap aneh) Menertawakan apa kau?
Makoto : Oh, tidak, tidak. Bukan apa-apa. Hahahahaha....
Rika : (bergidik)
Inoue-sensei : Hayashibara, masuklah!
Makoto : Hai, hai . . .

Tidak Usah Membahasnya Lagi, Ok!

BABAK 12

Koi Park, sore menjelang malam.

Nanami : Haah, capeknya... Pururu?
Pururu : (mengangkat tangan kanan) Hadir! Hehehe...
Nanami : Fiuf, untung tadi tidak terlambat ya.
Pururu : Ya, Remi sangat membutuhkan dompet itu. Kalau tidak, ia harus pulang dengan berjalan kaki nanti.
Nanami : Dan Remi sangat benci berjalan kaki. Dia takut betisnya membesar. Hahaha...dasar Remi.
Pururu : Hei, biarpun begitu, dia tetap ibumu.
Nanami : Aku tau.

. . .

Pururu : Aku melihatnya.
Nanami : Apa?
Pururu : Makoto. Aku melihatnya.
Nanami : . . .
Pururu : Tadi dia melihatmu dan ingin mengejarmu. Tapi tidak jadi karena kau sudah menghilang.
Nanami : . . . oh.
Pururu : Oh? Hanya itu reaksimu?
Nanami : Memangnya aku harus bereaksi seperti apa?
Pururu : Entahlah. Kaget atau... senang, mungkin?
Nanami : (kesal) Tsk! Tidak usah membahasnya lagi, ok!
Pururu : (menunduk) Maaf.
Nanami : Kita pulang.

Monday, January 11, 2010

Aku Butuh Mereka

musik mengalun
membuatku lupa
membuat ingatan itu hilang
meski hanya sebentar
aku sangat mensyukurinya

kuikuti alunan lagu
cepat, melambat,
dan kembali cepat
kakiku menghentak-hentak
semua hal buruk benar-benar hilang
sekali lagi aku bersyukur

aku butuh mereka
ketenangan
penyegaran pikiran

haah . . .
leganya
itulah pikirku sekarang

Makoto, Ada Apa?

BABAK 11

Ureshii Cafe

Makoto : Karena mood-ku sedang bagus, hari ini aku yang akan mentraktirmu.
Yume : Tentu saja harus begitu kan. Hehehe...
Pelayan : Maaf, Anda sudah siap memesan?
Makoto : Ya. Kau mau memesan apa?
Yume : Mmm... banana split.
Pelayan : Es krimnya stroberi, coklat, atau vanila?
Yume : Aku ingin mencoba semuanya. Bagaimana kalau variasi? Stroberi, coklat, dan vanila jadi satu, bisa kan?
Makoto : Hmpfh...
Pelayan : (terdiam sejenak) Oh, bisa, bisa.
Makoto : Kalau begitu, banana split dengan es krim -hmpfh!- variasinya 2 ya.
Pelayan : Baik, ada pesanan lain?
Makoto : Untuk sementara itu dulu.
Pelayan : Baik, ditunggu kurang lebih 10 menit. Terima kasih.
Makoto : Terima kasih kembali.

. . .

Yume : Hei, apa maksudmu dengan 'untuk sementara'?
Makoto : Yah, mengingat porsi makanmu yang -ehem- cukup besar, siapa tau nanti mau memesan yang lain.
Yume : Ooh, jadi maksudmu aku ini cewek rakus, begitu?
Makoto : Bukan rakus, tapi cewek dengan porsi makan yang besar. Sebesar ini. (kedua tangan membuat lingkaran sebesar yang ia bisa)
Yume : (berpura-pura takjub) Sebesar itukah?
Makoto : Ya, kira-kira begitu.
Yume : Itu artinya setelah banana split, akan ada pesanan kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam...
Makoto : (panik) Hei, hei, kau mau membuatku bangkrut?
Yume : Hmpfh... wajahmu, lihat wajahmu itu! Hahahaha...wajah panikmu itu--- hahahaha....

Tak lama kemudian,

Pelayan : (tersenyum) Ini pesanannya. Selamat menikmati.
Yume : Waah... sepertinya enak. Itadakimasu.
. . .
Yume : Dingin!
Makoto : Hahaha... Tentu saja dingin. Ini kan es krim.
Yume : Mmm.. Yummy!
Makoto : (tersenyum)

Sambil menikmati es krim, Makoto menatap ke luar jendela.
Dia tampak menikmati suasana di luar sana.
Tiba-tiba, dia melihat seorang cewek yang sangat dikenalnya.
Cewek itu sedang berlari terburu-buru lalu tanpa sengaja menabrak orang lain.

GREK!

Makoto : (berdiri)
Yume : Makoto, ada apa?

Tanpa mengindahkan kata-kata Yume, Makoto segera keluar dari kafe.

Aah, Pasti Menunggu Hayashibara

BABAK 10

Keesokan harinya.
Kelas 2-3, menjelang sore hari.
Bel berbunyi nyaring.

Kanagawa-sensei : Pelajaran cukup sampai di sini. Ada pertanyaan?
. . .
Kanagawa-sensei: Baiklah. Oh, jangan lupa mengisi kertas yang saya berikan. Pikirkan baik-baik kalian mau melanjutkan ke universitas mana setelah kalian lulus nanti. Berikan pada saya besok.
Murid : (serempak) Hai..
Kanagawa-sensei : Selamat siang.
Murid : Selamat jalan, sensei.

Di bibir pintu, terlihat Yume sedang mengintip ke dalam kelas.

Kanagawa-sensei : Katou, sedang apa di sini? Aah, pasti menunggu Hayashibara. (mengepalkan tangan) Gambatte!
Yume : (tersenyum) Terima kasih, sensei. Hati-hati di jalan. (membungkuk)

. . .

Makoto : Yume? Sudah lama?
Yume : (menggeleng)
Makoto : Yuk!

Sunday, January 10, 2010

My Fave Pict

Hei, look at the boy!
He said, "Then let's break up." with smile.
Geez, what an irony!
 
Tsubaki Hibino - Tsubaki Kyouta
Kyou Koi wo Hajimemasu

Luka di Tempat yang Sama

Kami sama-sama mempunyai luka
di tempat yang sama
Itu bukan dendam,
melainkan luka
yang takkan pernah hilang

Kami memang sudah memaafkan,
melupakan,
dan mengabaikan
Tapi tetap saja luka itu ada
Seiring waktu berjalan pun
luka itu akan selalu membekas

Apa itu masalah?
Itu toh hanyalah sebuah luka

Aku menggeleng kuat
Kau salah
Bagimu,
mungkin ini hanya luka biasa
Luka kecil yang kami lebih-lebihkan
Luka kecil yang kami besar-besarkan
Kalian salah

Luka ini mengingatkan kami
akan peristiwa masa lalu
yang sangat ingin kami lupakan
tapi tetap ada di otak kami
Sebuah memori
yang akan kami bawa sampai mati

Dan jika suatu saat
kata-kata itu keluar,
tamatlah kami
Itulah akhir
Kami takkan bisa berjalan
sebelum ia
menarik kata-kata itu
kembali

It's All For Eternity

aku menanti keabadian
yang tak kunjung datang
aku menginginkan keabadian
yang tak kunjung kudapatkan

Rika Kawamura!

BABAK 9
(flashback)

Tiga tahun yang lalu.
Koridor kelas 3, setelah istirahat siang.
Nanami berlari cepat.
Napasnya menggebu dengan tangan mengepal.

BRAK!
Nanami : (suara lantang) Rika Kawamura!

Setelah menemukan orang yang dicari,
Nanami segera mendatangi tempat duduknya.

PLAK!
Nanami : Apa yang sudah kau lakukan, hah?!
. . .
Nanami : Kenapa diam?! Ayo, jawab!!
Rika : Apa maksudmu? Aku tak mengerti.

PLAK!
Nanami : (menjambak) Tidak usah berlagak bodoh! Kau tau apa yang kau lakukan!! Cabut foto-foto itu!! Atau aku akan...

Nanami sudah bersiap menampar untuk ketiga kalinya,
namun ditahan oleh Inoue-sensei.

Inoue-sensei : ...akan apa? Kau bukan dari kelas ini kan? Jadi, silakan keluar!
Nanami : (menyentak tangannya) Lepas! Saya ke sini ada urusan sama dia, bukan sama sensei. Tolong jangan ikut campur!
Inoue-sensei : Tentu saja ini menjadi urusan saya karena kau sudah mengganggu pelajaran saya. Sekarang lebih baik, kau keluar sebelum kesabaran saya habis!
Nanami : Oh, jadi sensei mengancam saya? Sensei tidak akan bilang seperti itu kalau tau apa yang sudah dia perbuat!
Inoue-sensei : (dalam hati) Anak ini...

Tiba-tiba, pintu terbuka.
Makoto Hayashibara masuk kelas dengan tenangnya.

Inoue-sensei : (dalam hati) Belum lagi anak yang satu ini.
Inoue-sensei : (menghela napas berat) Dari mana saja kau? Kelas sudah dimulai sejak 30 menit yang lalu.
Makoto : (melengos ke tempat duduknya lalu tidur) . . .

Keadaan semakin memburuk seiring dengan kemarahan Inoue-sensei yang semakin memuncak.

Inoue-sensei : Makoto Hayashibara, Rika Kawamura, dan kau (menunjuk Nanami) setelah kelas selesai, ikut saya ke kantor!
Inoue-sensei : (melihat Nanami) Kau, tolong keluar dari kelas ini sekarang juga! Atau kau mau keadaan menjadi lebih parah?!

Nanami akhirnya menyerah lalu keluar kelas.

Inoue-sensei : Kita lanjutkan pelajaran.

Friday, January 08, 2010

Kejadian Waktu Itu . . .

BABAK 8

Di halte bus.
Cuaca semakin dingin.
Tampak Nanami sedang mengusap-usap tangan sambil meniupnya.

Nanami : Fuuh... dinginnya...! (merapatkan sweater)

Lima menit berlalu.
Tiba-tiba . . .

Makoto : Nana?
Nanami : (mendongak)
Makoto : Ternyata benar dugaanku.
Nanami & Makoto : Sedang apa kau di sini?
Nanami & Makoto : Hmpfh... ahahaha....
. . .
Nanami : Aku sedang menunggu bus.
Makoto : (terlihat kaget) Sendirian? Malam-malam begini?
Nanami : (mengangkat bahu) Begitulah. Kau sendiri?
Makoto : Aku juga mau menunggu bus. (duduk di sebelah Nanami)
Nanami : Ng... habis dari mana? Ah-- itupun kalau aku boleh tau.
Makoto : Menemani adikku, Aoi. Dia ingin aku membantunya memilih kado yang cocok untuk pacarnya.
Nanami : Ooo... Ternyata kau tau juga selera perempuan. Hmm...
Makoto : (bingung) Maksudmu?
Nanami : Lho, pacar adikmu perempuan kan?
Makoto : Hahaha...adikku itu perempuan, Nana. Kau lupa ya?
Nanami : O--oh. Hahaha...ya, ya, aku ingat. Maaf, maaf.
Makoto : Hmpfh... Kalau kau?
Nanami : Membeli beberapa barang di toko 24 jam. (menunjukkan kantong belanjaan)
Makoto : Wah, banyak juga ya. Membawa barang sebanyak itu, apa tidak apa-apa?
Nanami : Sudah biasa. Aku ini kan cewek kuat. (memamerkan otot tangan yang sebenarnya tak ada)
Makoto : Ya ya, Nanami Uemura, Si Cewek Kuat. Aku jadi ingat. Dulu waktu SMP, ada anak kelas dua yang bikin onar dan membuat keributan. Anak itu memukul dan menjambak kakak kelasnya entah karena alasan apa.
Nanami : (menunduk)
Makoto : Ah, maaf, bukannya aku mau mengungkit masa lalumu. Maksudku, waktu itu aku merasa pasti kau punya alasan melakukan hal itu.
Nanami : . . .
Makoto : Entah mengapa aku merasa yakin, kau bukan orang yang seperti itu.
Nanami : (menatap tak percaya)
Makoto : Buktinya, lihat, sekarang aku berteman denganmu. Yah, meskipun ada beberapa kejadian.
Nanami : (dalam hati) Berteman, katanya?
Makoto : Nana, mengenai kejadian waktu---

Bus tiba.

Nanami : Akhirnya busnya datang. Aku duluan. (membungkuk)
Makoto : (menghela napas berat)

Terima Kasih

BABAK 7

(masih) hari yang sama.
Toko 24 jam, malam hari.

Nanami : (melihat catatan belanja) Mmm, sepertinya sudah semua.

Nanami berjalan menuju kasir.
Setelah kasir menghitung jumlah yang harus dibayar Nanami,

Mbak kasir : Semuanya jadi 8.600 yen.
Nanami : (menyerahkan uang 10.000 yen) Ini uangnya.
Mbak kasir : (tersenyum) Kembaliannya 1.400 yen ya. Terima kasih. Silakan datang kembali.
Nanami : Terima kasih.

사랑해 죽겠다

mungkin mereka pikir aku gila
sebegitu besarnya rasa sayangku
sebegitu seringnya aku membelamu
sebegitu parahnya aku menyukaimu

sampai aku berpikir,
jangan-jangan
aku hanya terobsesi padamu
atau aku mengagumimu
atau menggilaimu

tidak, bukan seperti itu
mereka benar,
aku memang gila
gila karena menyukaimu
sampai aku sulit melepasmu

tolong
jangan tinggalkan aku
aku mohon padamu
kalau perlu,
aku rela bersimpuh di depanmu
menghibamu
aku rela
jadi tolong,
jangan tinggalkan aku

Tuesday, January 05, 2010

Janji?

BABAK 6

Hari yang sama.
Di depan kantor guru.

Makoto : (tersenyum puas)
Yume : (duduk di sebelah Makoto) Sepertinya kau terlihat senang. Pasti berita bagus. Cepat katakan padaku!
Makoto : Kanagawa-sensei bilang kalau aku bisa mempertahankan nilaiku, aku bisa masuk universitas K. Kau tau kan betapa aku sangat menginginkan masuk universitas itu?
Yume : (mengangguk) Selamat ya! Aku ikut senang. Bagaimana kalau kita rayakan?
Makoto : (menangkupkan tangan) Maaf, setelah ini aku ada sedikit urusan. Maaf sekali ya.
Yume : Oh, tak apa. Bagaimana kalau lain kali? Mmm... besok?
Makoto : Besok.
Yume : Janji?
Makoto : Um. Jaa...

Dia yang Menangis

Dia yang menangis

Sambil mengelus lembut seekor kucing,
dia berkata,
"Maaf,
aku tak bisa menepati janjiku."

Sebuah janji yang tak bisa ditepati
Aku ingin tahu,
apa janji itu

Dia melanjutkan,
"Aku memang bodoh,
menjanjikan sesuatu
yang tidak bisa kupenuhi."

Bodoh
Dia menyebut dirinya
bodoh
Aku tak merasa begitu
Dia terlihat seperti
gadis yang cerdas,
menurutku

Selama beberapa saat,
gadis itu terdiam
Merenung, kurasa
Apa yang dia renungkan?

Dia menangis . . . lagi
"Mou ii yo. Maaf ya,
aku janji
ini terakhir kali aku menangis."

Kata-katanya itu
membuat tanda tanya besar
di kepalaku

dan dia pun berlalu

Bolehkah Aku?

Waktu yang kubutuhkan tak lagi banyak
Karenanya,
aku bebas berbuat sesuka hatiku
Tak peduli
orang mau marah, sedih, atau gembira
Akan kulakukan
apapun
agar hatiku senang dan puas

Inilah caraku menikmati hidup
kala waktu sudah tak lagi ada
Kalau sudah begitu,
bolehkah manusia (aku) bersikap egois?
Sekali untuk seumur hidupku
Bolehkah aku?

Oh,
toh ini memang waktuku
Untuk apa aku bertanya lagi?

Hahaha . . .
lucu, sangat lucu
Ya, tertawalah
Tertawakan orang lain
Tertawakan dirimu sendiri
Tertawalah
Silakan kau tertawa

Semua Tak Ada

Tak ada yang bisa kupikirkan
Tak ada yang bisa kuingat
Tak ada yang bisa kulakukan
Tak ada yang bisa kutulis
Semua kosong
Menguap
Adakah satu cara
untuk membuatnya kembali?

Duk duk duk duk

Duk     duk     duk     duk
Aku tak tahu
Duk     duk     duk     duk
bagaimana harus bersikap
Duk     duk     duk     duk
di depan mereka
Duk     duk     duk     duk
Di mana?
Duk     duk     duk     duk
Aku butuh topengku
Duk     duk     duk     duk
Di mana topengku?
Duk     duk     duk     duk
Aku ingin memakainya
Duk     duk     duk     duk
sekarang
Duk     duk     duk     duk
Itulah penyelamatku
Duk     duk     duk     duk
Di mana?
Duk     duk     duk     duk
Aku butuh dia
Duk     duk     duk     duk
Tunjukkanlah
Duk     duk     duk     duk
di mana topeng itu?
Duk     duk     duk     duk
Di mana?


(2009년1월2일)