BABAK 62
Musim dingin lima tahun kemudian, sore hari.
Makoto menyusuri sepanjang jalan yang kini sudah berhiaskan pernak-pernik natal. Kemudian Makoto berhenti. Ditatapnya langit di mana serpihan salju berjatuhan. Betapa terkejutnya ia saat mendapati sosok yang ia kenal berdiri di hadapannya. Keduanya pun tersenyum.
. . .
Beberapa menit kemudian.
Ureshii Cafe.
Makoto & Yume : (tersenyum) Apa kabar?
Yume : Ups! Kau duluan.
Makoto : Tidak, tidak. Kau saja yang duluan.
Yume : Baiklah. Makoto, apa kabar?
Makoto : Sangat baik. Kau sendiri apa kabar?
Yume : Lebih dari sekedar baik. I'm great!
Makoto : Senang mendengarnya.
Makoto melihat penampilan Yume yang begitu berubah, lebih stylish.
Makoto : Kau sudah menjadi designer yang hebat. Selamat.
Yume : Belum, tapi aku akan menjadi designer yang hebat. Suatu saat nanti, pasti. Jadi, tahan dulu ucapan selamatmu.
Makoto : Semangat yang bagus. Aku suka.
Yume : Kau menyukaiku? Wow!
Makoto : (tersenyum) Tentu. Mau bukti?
Makoto mengangkat kameranya, siap membidik.
Yume : Tunggu, tunggu. Kalau ingin menjadikanku modelmu, kau harus membayarku dengan harga mahal. Aku tidak terima bayaran murah.
KLIK!
Yume : (sadar) Hei! Sudah kubilang--
Makoto : (tertawa nakal)
Yume : Oke, kali ini gratis. Tapi tidak ada lain kali.
Yume : (dalam hati) Seperti deja vu.
Makoto : Aku pasti akan memotretmu. Boleh?
Yume : Boleh saja, tapi ingat, aku hanya menerima bayaran mahal.
Makoto : Itu hal mudah. Jadi, setuju ya?
Yume : (mengangguk) Deal.
Makoto dan Yume saling berjabat tangan.
Tiba-tiba Makoto berdiri.
GREK!
Yume : (kaget) Ada apa?
Makoto kembali duduk. Yume merasa ada yang aneh dengan Makoto. Sama seperti dulu.
Makoto : O--oh, tak apa. Tak ada apa-apa.
Yume : (dalam hati) Bohong.
Mata Makoto tampak masih mencari-cari di sudut yang sama.
Yume : (tersenyum) Pergilah.
Makoto : Apa?
Yume : Kubilang pergilah.
Makoto : Tapi--
Yume : Pergilah. Aku tak apa.
Makoto : (tersenyum) Terima kasih.
Makoto keluar kafe, meninggalkan Yume. Yume menghapus air matanya
Yume : Benar-benar deja vu.
Wednesday, June 30, 2010
Mereka
BABAK 61
Keesokkan harinya.
Rumah Nanami, pagi hari, seminggu sebelum pernikahan Remi.
Remi menggeliat di atas tempat tidur dan beranjak ke dapur untuk membuat sarapan.
Saat Remi hendak membuat roti, ia melihat sepucuk surat di atas meja. Dibacanya surat itu.
Nanami : (suara Nanami membaca surat itu)
. . .
Remi : (menangis) Kau tau, kepergianmu bukanlah bahagiaku, melainkan kesedihan bagiku.
Remi memeluk surat itu dan menangis.
. . .
Pagi yang sama.
Yume, Irumi, dan Naoko sepakat untuk lari pagi bersama.
Tiba-tiba Yume berhenti dan berbalik. Semua kejadian selama ini terlintas di benaknya.
Naoko : Yume-chan, ada apa?
Yume : (menggeleng) Tidak. Tidak apa-apa.
Kemudian Yume kembali melangkah lagi dengan senyum.
. . .
Pagi yang sama.
Makoto bangun lalu beranjak ke lantai bawah. Tanpa sengaja, ia melihat satu hal yang tidak biasa : Ayahnya membuatkan sarapan. Diam-diam ia mendekatinya.
Makoto : Perlu bantuan?
Yuki : (kaget) . . .
Tanpa menunggu jawaban Sang Ayah, Makoto segera membantunya.
. . .
Pagi yang sama.
Stasiun kereta api.
Nanami menangis. Dari kejauhan terlihat kereta api mendekat.
Nanami : (menghapus air mata) Jangan bersedih, Nanami. Petualanganmu baru saja dimulai.
Nanami masuk ke dalam kereta.
Nanami : (melihat keluar kereta)
Sekali lagi air mata Nanami jatuh. Kali ini ia biarkan air matanya menderas.
Keesokkan harinya.
Rumah Nanami, pagi hari, seminggu sebelum pernikahan Remi.
Remi menggeliat di atas tempat tidur dan beranjak ke dapur untuk membuat sarapan.
Saat Remi hendak membuat roti, ia melihat sepucuk surat di atas meja. Dibacanya surat itu.
Nanami : (suara Nanami membaca surat itu)
. . .
Remi : (menangis) Kau tau, kepergianmu bukanlah bahagiaku, melainkan kesedihan bagiku.
Remi memeluk surat itu dan menangis.
. . .
Pagi yang sama.
Yume, Irumi, dan Naoko sepakat untuk lari pagi bersama.
Tiba-tiba Yume berhenti dan berbalik. Semua kejadian selama ini terlintas di benaknya.
Naoko : Yume-chan, ada apa?
Yume : (menggeleng) Tidak. Tidak apa-apa.
Kemudian Yume kembali melangkah lagi dengan senyum.
. . .
Pagi yang sama.
Makoto bangun lalu beranjak ke lantai bawah. Tanpa sengaja, ia melihat satu hal yang tidak biasa : Ayahnya membuatkan sarapan. Diam-diam ia mendekatinya.
Makoto : Perlu bantuan?
Yuki : (kaget) . . .
Tanpa menunggu jawaban Sang Ayah, Makoto segera membantunya.
. . .
Pagi yang sama.
Stasiun kereta api.
Nanami menangis. Dari kejauhan terlihat kereta api mendekat.
Nanami : (menghapus air mata) Jangan bersedih, Nanami. Petualanganmu baru saja dimulai.
Nanami masuk ke dalam kereta.
Nanami : (melihat keluar kereta)
Sekali lagi air mata Nanami jatuh. Kali ini ia biarkan air matanya menderas.
Tuesday, June 29, 2010
Surat untuk Ibu
ibuku seorang yang ceroboh
ibuku tidak terlalu bisa
mengerjakan pekerjaan rumah
ibuku seorang yang cerewet
tapi,
ibuku sangat perhatian
ibuku menyayangi anaknya
meskipun bukan sebenarnya anaknya
ibuku merawatnya
ya, merawatku
menciumiku
bahkan menyayangiku
ibuku selalu mengatakan,
"selamat datang."
meski aku tak mengatakan,
"aku pulang."
saat itulah aku merasa
aku tak sendiri lagi
dan aku sangat mensyukuri hal itu
ibu... ibu... ibu...
aku sangat menyayangimu
aku memang bukan anakmu
tapi aku amat sangat sayang padamu
ibu... ibu... ibu...
aku pergi bukan karena benci
pun bukan karena aku tak menyayangimu
aku pergi untukmu,
untuk bahagiamu
ibu... ibu... ibu...
kumohon jangan menangis
kumohon jangan mencariku
ingatlah aku di hatimu
suatu saat, aku pasti kembali
jadi, jangan lupakan aku
kumohon
dan maaf
aku belum bisa menjadi anak yang baik
maafkan aku
dan terima kasih
(2010년6월26일)
This poem's related to Nanami and Makoto's story
Thursday, June 24, 2010
Kau Sudah Tahu
BABAK 60
Hari yang sama.
Beranda kamar Nanami, malam hari.
Nanami berdiri memandangi bintang di langit.
Nanami : (tersenyum) Indahnya... Kapan ya aku bisa melihat kalian lagi?
. . .
Nanami : Pururu?
Tiba-tiba Pururu muncul di samping Nanami.
Pururu : Selamat siaaang!
Nanami : (melirik) Ini sudah malam.
Pururu : Bagiku ini siang. Aku sangat menyukai malam.
Nanami : (tersenyum) Kau aneh.
. . .
Pururu : Jadi, kapan kau pergi?
Nanami : Secepatnya. Mungkin seminggu atau tiga hari sebelum pernikahan Remi-san. Menurutmu, mana yang paling baik?
Pururu : Kau...benar-benar harus pergi ya?
Nanami : Ya. Baik aku ataupun Remi-san memiliki kehidupan masing-masing. Aku tidak mau mengganggu kehidupannya lagi, begitu pun sebaliknya.
Pururu : Mungkin kau harus menggantinya dengan kata membebani. Itu kan maksudmu?
Nanami : Yah, kau memang sangat mengenalku...okaasan.
Pururu : (tersenyum keibuan) Kau sudah tahu...
Nanami : Sejak lama.
Nanami memejamkan mata, membukanya, menghirup udara sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya.
Nanami : Ini adalah keputusanku. Aku yakin inilah yang terbaik. Bukankah begitu?
Pururu : (mengangguk)
. . .
Pururu : (merentangkan tangan) Sepertinya sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal.
Nanami : (sedih) Ya, terima kasih untuk segalanya, okaasan.
Pururu : (menatap Nanami)
Nanami : Kenapa menatapku seperti itu?
Pururu : Bolehkah aku...memelukmu?
Nanami mengangguk dan tersenyum.
Hari yang sama.
Beranda kamar Nanami, malam hari.
Nanami berdiri memandangi bintang di langit.
Nanami : (tersenyum) Indahnya... Kapan ya aku bisa melihat kalian lagi?
. . .
Nanami : Pururu?
Tiba-tiba Pururu muncul di samping Nanami.
Pururu : Selamat siaaang!
Nanami : (melirik) Ini sudah malam.
Pururu : Bagiku ini siang. Aku sangat menyukai malam.
Nanami : (tersenyum) Kau aneh.
. . .
Pururu : Jadi, kapan kau pergi?
Nanami : Secepatnya. Mungkin seminggu atau tiga hari sebelum pernikahan Remi-san. Menurutmu, mana yang paling baik?
Pururu : Kau...benar-benar harus pergi ya?
Nanami : Ya. Baik aku ataupun Remi-san memiliki kehidupan masing-masing. Aku tidak mau mengganggu kehidupannya lagi, begitu pun sebaliknya.
Pururu : Mungkin kau harus menggantinya dengan kata membebani. Itu kan maksudmu?
Nanami : Yah, kau memang sangat mengenalku...okaasan.
Pururu : (tersenyum keibuan) Kau sudah tahu...
Nanami : Sejak lama.
Nanami memejamkan mata, membukanya, menghirup udara sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya.
Nanami : Ini adalah keputusanku. Aku yakin inilah yang terbaik. Bukankah begitu?
Pururu : (mengangguk)
. . .
Pururu : (merentangkan tangan) Sepertinya sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal.
Nanami : (sedih) Ya, terima kasih untuk segalanya, okaasan.
Pururu : (menatap Nanami)
Nanami : Kenapa menatapku seperti itu?
Pururu : Bolehkah aku...memelukmu?
Nanami mengangguk dan tersenyum.
Wednesday, June 23, 2010
EEH?!!
BABAK 59
Dua minggu kemudian.
Rumah baru Nanami, sore hari.
Nanami baru saja pulang belanja.
Nanami : (masuk rumah) Aku pulang.
Remi yang sedang menonton televisi melongok sebentar.
Remi : (terkejut) . . .
Nanami : Ada apa?
Remi : (tersenyum) O--oh, tidak. Selamat datang.
Nanami mengambil air dingin lalu meminumnya.
Nanami : Aaah, segarnya... Okaasan, belanjaan kuletakkan di dapur beserta uang kembaliannya. Aku mau ke kamar untuk istirahat.
Remi : Ya, selamat istira--EEH?!!
Sekali lagi Remi dibuat terkejut sekaligus senang dengan perubahan sikap Nanami.
Remi tersenyum.
Dua minggu kemudian.
Rumah baru Nanami, sore hari.
Nanami baru saja pulang belanja.
Nanami : (masuk rumah) Aku pulang.
Remi yang sedang menonton televisi melongok sebentar.
Remi : (terkejut) . . .
Nanami : Ada apa?
Remi : (tersenyum) O--oh, tidak. Selamat datang.
Nanami mengambil air dingin lalu meminumnya.
Nanami : Aaah, segarnya... Okaasan, belanjaan kuletakkan di dapur beserta uang kembaliannya. Aku mau ke kamar untuk istirahat.
Remi : Ya, selamat istira--EEH?!!
Sekali lagi Remi dibuat terkejut sekaligus senang dengan perubahan sikap Nanami.
Remi tersenyum.
Tuesday, June 22, 2010
Dia Menolaknya?!
BABAK 58
Hari yang sama.
Makoto berjalan sendirian. Tanpa sadar, kakinya melangkah ke taman lalu duduk di ayunan.
Makoto : (menghela napas) Akhirnya selesai juga. Lega rasanya.
. . .
Makoto : (menatap langit) Nanami Uemura. Entah sejak kapan nama itu selalu terdengar di telingaku. Ada di mana dia sekarang?
. . .
Makoto : Ah! Yume.
Makoto mengambil ponselnya dari saku dan segera menelfon Yume.
Makoto : Yume? Ah, ini aku Makoto.... Aku baik-baik saja. Kau sendiri apa kabar?.... Aku, aku ada di suatu tempat. Ya, suatu tempat.... Begini, ada satu hal yang ingin kutanyakan.... Boleh kuminta alamat Nanami?.... Apa maksudmu dengan tidak tau? Kau yang membantunya mencarikan tempat tinggal bukan?.... Dia menolaknya?!.... O--oh, kalau begitu, terima kasih ya. (menutup ponsel)
Makoto : (khawatir) Nanami, di mana kau sekarang?
Hari yang sama.
Makoto berjalan sendirian. Tanpa sadar, kakinya melangkah ke taman lalu duduk di ayunan.
Makoto : (menghela napas) Akhirnya selesai juga. Lega rasanya.
. . .
Makoto : (menatap langit) Nanami Uemura. Entah sejak kapan nama itu selalu terdengar di telingaku. Ada di mana dia sekarang?
. . .
Makoto : Ah! Yume.
Makoto mengambil ponselnya dari saku dan segera menelfon Yume.
Makoto : Yume? Ah, ini aku Makoto.... Aku baik-baik saja. Kau sendiri apa kabar?.... Aku, aku ada di suatu tempat. Ya, suatu tempat.... Begini, ada satu hal yang ingin kutanyakan.... Boleh kuminta alamat Nanami?.... Apa maksudmu dengan tidak tau? Kau yang membantunya mencarikan tempat tinggal bukan?.... Dia menolaknya?!.... O--oh, kalau begitu, terima kasih ya. (menutup ponsel)
Makoto : (khawatir) Nanami, di mana kau sekarang?
Jangan Mengganggunya Lagi
BABAK 57
(flashback)
Sembilan hari kemudian.
Kamar Makoto, malam hari.
Hape Makoto berbunyi. Ada mail masuk.
Makoto : (mengecek hape)
"Ketemu! Di tempat biasa, pukul 4. -Takeru-"
. . .
Keesokkan harinya.
Sebuah bangunan tua, waktu yang dijanjikan.
Makoto menunggu di tempat yang agak gelap. Tiba-tiba, datang seseorang dari pintu masuk.
Takeru : Yo!
. . .
Takeru : Ini orang yang kau cari.
Takeru menarik paksa seseorang untuk masuk ke dalam gedung.
Rika : (berusaha melepaskan diri) Lepaskan! Aww, sakit! Hei, kau mendengarku tidak? Kubilang lepaskan!
Makoto : (mendesis) Rika Kawamura.
Rika : Hei, siapa di sana?
Makoto : Sebaiknya kau tidak perlu melihatku sekarang.
Takeru : Saran yang bagus.
Rika : Siapa kau? Keluar!
Rika melirik Takeru, meminta dilepaskan tangannya. Takeru menurut.
Makoto : Baiklah, jika itu memang permintaanmu. Tapi kuingatkan sekali lagi, kau akan menyesal melihatku.
Makoto berjalan menghampiri Rika. Cahaya semakin memperjelas seluruh tubuhnya.
Rika : (kaget) Ma--Makoto?!
Makoto : (memegang tangan Rika erat) Lebih baik kau jauhi Nanami Uemura. Jangan mengganggunya lagi!
Rika : Apa maksudmu? aku tak mengerti.
Makoto : Kutekankan sekali lagi, JANGAN MENGGANGGU NANAMI UEMURA. Kalau tidak, kau langsung berhadapan denganku.
Rika : (dalam hati) Mata itu...
Rika melihat mata Makoto sangat menakutkan. Akhirnya ia mengangguk lalu pergi.
Takeru : Tadi itu sangat menakutkan, kau tahu?
Makoto : (tersenyum) Begitukah?
(flashback)
Sembilan hari kemudian.
Kamar Makoto, malam hari.
Hape Makoto berbunyi. Ada mail masuk.
Makoto : (mengecek hape)
"Ketemu! Di tempat biasa, pukul 4. -Takeru-"
. . .
Keesokkan harinya.
Sebuah bangunan tua, waktu yang dijanjikan.
Makoto menunggu di tempat yang agak gelap. Tiba-tiba, datang seseorang dari pintu masuk.
Takeru : Yo!
. . .
Takeru : Ini orang yang kau cari.
Takeru menarik paksa seseorang untuk masuk ke dalam gedung.
Rika : (berusaha melepaskan diri) Lepaskan! Aww, sakit! Hei, kau mendengarku tidak? Kubilang lepaskan!
Makoto : (mendesis) Rika Kawamura.
Rika : Hei, siapa di sana?
Makoto : Sebaiknya kau tidak perlu melihatku sekarang.
Takeru : Saran yang bagus.
Rika : Siapa kau? Keluar!
Rika melirik Takeru, meminta dilepaskan tangannya. Takeru menurut.
Makoto : Baiklah, jika itu memang permintaanmu. Tapi kuingatkan sekali lagi, kau akan menyesal melihatku.
Makoto berjalan menghampiri Rika. Cahaya semakin memperjelas seluruh tubuhnya.
Rika : (kaget) Ma--Makoto?!
Makoto : (memegang tangan Rika erat) Lebih baik kau jauhi Nanami Uemura. Jangan mengganggunya lagi!
Rika : Apa maksudmu? aku tak mengerti.
Makoto : Kutekankan sekali lagi, JANGAN MENGGANGGU NANAMI UEMURA. Kalau tidak, kau langsung berhadapan denganku.
Rika : (dalam hati) Mata itu...
Rika melihat mata Makoto sangat menakutkan. Akhirnya ia mengangguk lalu pergi.
Takeru : Tadi itu sangat menakutkan, kau tahu?
Makoto : (tersenyum) Begitukah?
Monday, June 21, 2010
Bodoh
tidakkah kau bodoh?
bodoh karena tanganmu
bodoh karena kakimu
bodoh karena hatimu
bodoh karena otakmu
bodoh karena . . .
dirimu
Melepaskan Makoto
BABAK 56
Hari yang sama
Kamar Yume, sore hari.
Irumi dan Naoko sedang berkunjung ke rumah Yume.
Naoko : Akhirnya... besok hari Minggu. Rumi-chan, Yume-chan, ayo, kita pergi jalan-jalan!
Irumi : (menggumam) Kenapa dia terlihat senang sekali?
Yume : Dasar Nao...
Naoko : Jadi, bagaimana kalau kita pergi ke villa ayahku? Tempatnya saaangat indah. Letaknya ada di sekitar pedesaan yang dekat dengan pantai. Tapi hanya sehari pasti tidak akan puas. Ah! Kita akan menginap satu hari di sana, bagaimana?
Yume : Hari Senin bukankah kita harus sekolah?
Naoko : (melirik Irumi dan Yume)
Irumi : Ya, ya, aku sangat mengerti.
Irumi & Naoko : Bolos!
Lalu mereka tertawa bersama.
Naoko : Ah! Aku baru ingat. Bagaimana hubunganmu dengan Makoto?
Irumi : (menatap tajam ke arah Naoko)
Naoko : (ketakutan) Ma--maaf.
Yume : Tak apa, Nao. Hmm...sepertinya, ini saatnya aku melepaskan Makoto. Eh, kalau dibilang melepaskan, kesannya Makoto sudah menjadi milikku saja. Padahal memulainya saja belum, hahaha... (tertawa hambar)
Irumi & Naoko : (menatap sedih)
Yume : Pada akhirnya, aku memang tidak bisa masuk di antara mereka.
Yume menangis. Irumi dan Naoko pun memeluk Yume untuk menenangkannya.
Hari yang sama
Kamar Yume, sore hari.
Irumi dan Naoko sedang berkunjung ke rumah Yume.
Naoko : Akhirnya... besok hari Minggu. Rumi-chan, Yume-chan, ayo, kita pergi jalan-jalan!
Irumi : (menggumam) Kenapa dia terlihat senang sekali?
Yume : Dasar Nao...
Naoko : Jadi, bagaimana kalau kita pergi ke villa ayahku? Tempatnya saaangat indah. Letaknya ada di sekitar pedesaan yang dekat dengan pantai. Tapi hanya sehari pasti tidak akan puas. Ah! Kita akan menginap satu hari di sana, bagaimana?
Yume : Hari Senin bukankah kita harus sekolah?
Naoko : (melirik Irumi dan Yume)
Irumi : Ya, ya, aku sangat mengerti.
Irumi & Naoko : Bolos!
Lalu mereka tertawa bersama.
Naoko : Ah! Aku baru ingat. Bagaimana hubunganmu dengan Makoto?
Irumi : (menatap tajam ke arah Naoko)
Naoko : (ketakutan) Ma--maaf.
Yume : Tak apa, Nao. Hmm...sepertinya, ini saatnya aku melepaskan Makoto. Eh, kalau dibilang melepaskan, kesannya Makoto sudah menjadi milikku saja. Padahal memulainya saja belum, hahaha... (tertawa hambar)
Irumi & Naoko : (menatap sedih)
Yume : Pada akhirnya, aku memang tidak bisa masuk di antara mereka.
Yume menangis. Irumi dan Naoko pun memeluk Yume untuk menenangkannya.
Friday, June 18, 2010
Aku Ingin Kau...
BABAK 55
Keesokan harinya.
Lapangan kosong, siang hari.
Tampak Makoto berdiri bersandar pada tiang listrik. Tiba-tiba bahunya ditepuk seseorang. Takeru Yuuji.
Takeru : Lama menunggu?
Makoto : Tidak juga. Apa kabar, Yuuji-san?
Takeru : (merentangkan tangannya) Seperti yang kau lihat, aku sangat baik. Ah, satu hal lagi, panggil aku Takeru. Yuuji-san sepertinya agak...
Makoto : (memotong) ...formal dan kesannya aku tua sekali. Padahal aku baru dua puluh tiga.
Takeru : (tersenyum) Kau sudah hafal rupanya. Baguslah.
Makoto : Oke, langsung saja, aku ingin kau...
Terjadi pembicaraan serius antara Makoto dan Takeru Yuuji yang menghasilkan sebuah kesepakatan.
Takeru : Jadi, aku harus menemukan pelakunya? Orang yang menempelkan foto itu?
Makoto : Ya, secepatnya. Kalau kau berhasil, aku akan mengabulkan satu permintaanmu.
Takeru : (melirik) Tumben. Biasanya kau akan berkata begini, "Bayarannya akan kukirim ke rekeningmu." Tak peduli meskipun aku menolaknya setengah mati, kau tetap mengirimkannya.
Makoto : (tersenyum hambar) Begitu. Ternyata dulu aku orang yang seperti itu ya.
Takeru : Hei, hei, hei, ada apa ini, Makoto?
Makoto : Entahlah. Aku hanya merasa aku harus berubah.
. . .
Takeru : (tersenyum) Glad to hear that, big boy!
Keesokan harinya.
Lapangan kosong, siang hari.
Tampak Makoto berdiri bersandar pada tiang listrik. Tiba-tiba bahunya ditepuk seseorang. Takeru Yuuji.
Takeru : Lama menunggu?
Makoto : Tidak juga. Apa kabar, Yuuji-san?
Takeru : (merentangkan tangannya) Seperti yang kau lihat, aku sangat baik. Ah, satu hal lagi, panggil aku Takeru. Yuuji-san sepertinya agak...
Makoto : (memotong) ...formal dan kesannya aku tua sekali. Padahal aku baru dua puluh tiga.
Takeru : (tersenyum) Kau sudah hafal rupanya. Baguslah.
Makoto : Oke, langsung saja, aku ingin kau...
Terjadi pembicaraan serius antara Makoto dan Takeru Yuuji yang menghasilkan sebuah kesepakatan.
Takeru : Jadi, aku harus menemukan pelakunya? Orang yang menempelkan foto itu?
Makoto : Ya, secepatnya. Kalau kau berhasil, aku akan mengabulkan satu permintaanmu.
Takeru : (melirik) Tumben. Biasanya kau akan berkata begini, "Bayarannya akan kukirim ke rekeningmu." Tak peduli meskipun aku menolaknya setengah mati, kau tetap mengirimkannya.
Makoto : (tersenyum hambar) Begitu. Ternyata dulu aku orang yang seperti itu ya.
Takeru : Hei, hei, hei, ada apa ini, Makoto?
Makoto : Entahlah. Aku hanya merasa aku harus berubah.
. . .
Takeru : (tersenyum) Glad to hear that, big boy!
Monday, June 14, 2010
Kau Tahu Kenapa?
menyesakkan
kau tahu kenapa?
kehampaan ini mengurungku
kebuntuan ini menyiksaku
tak dapat kulakukan apapun
yang kuingin hanya berdiam
tak ada ucap
tak ada kata
tak ada suara
dan alangkah tak wajarnya
jika aku melulu seperti ini
aku tak suka
bahkan benci
mengapa kau tak datang
wahai yang kupinta?
aku sangat membutuhkanmu
ya, aku pun tahu
ini berlebihan
amat berlebihan
kau tahu kenapa?
aku membutuhkannya
sangat
lantas, apa yang kuperlukan lagi?
tolong
jangan sampai membutakan
aku tak mau itu
aku tak ingin itu
tak perlu ku bersusah-payah
lepaskan saja
dan luapkanlah
tanpa berpikir apapun
sampai kau dapat membuatnya sempurna
Saturday, June 05, 2010
Simple Question
이 생활에는
네가 원하는 게 무엇인가?
(Apa yang kau inginkan dalam hidup ini?)
-Novel Feel by Wulan Guritno & Adilla Dimitri-
Pengakuan Makoto
BABAK 54
Kamar Makoto, malam hari.
Tampak Makoto sedang tiduran sambil merenung.
Makoto : Andaikan saat itu Aoi tidak mengingatkanku . . .
. . .
(flashback)
Tiga tahun yang lalu, tiga hari sebelum kelulusan, malam hari.
Aoi menghampiri Makoto yang sedang bersantai di ruang keluarga.
Aoi : Kelulusan kedua, eh? Sungguh menggelikan.
Makoto : (melirik tajam)
Aoi : Katakan padaku alasannya.
Makoto : Alasan?
Aoi : Masih mau berpura-pura tak tahu? Makoto Hayashibara, lebih baik kau persiapkan jawaban terbaikmu karena aku akan memaksamu sekarang.
. . .
Makoto : Tinggalkan aku sendiri.
Aoi : Sudah kuduga kau akan seperti ini. So, shall we begin, my dearest brother?
Makoto bangkit, hendak tidur di kamarnya. Aoi segera menahan Makoto dan membuatnya duduk kembali.
Aoi : Duduk! Kita belum selesai bicara.
Makoto : Oke, oke, aku akan duduk. Jadi, apa yang ingin kau ketahui, adikku yang manis?
Aoi : Satu tahun yang lalu, kenapa kau melakukan itu? Maksudku, kau sengaja tidak meluluskan diri. Aku ingat betapa marahnya otousan saat itu.
Makoto : Aku akan memberitahumu, tapi tolong jangan memotong ucapanku.
. . .
Waktu kini, kamar Makoto.
Sambil menutup mata dengan lengannya, Makoto menjawab.
Makoto : Aku adalah orang yang paling ingin membuatnya sakit dan terluka. Alasannya mudah saja : aku tidak suka melihatnya bahagia. Setiap ada masalah, dia selalu tenang. Dia sendiri, tapi selalu tersenyum. Dia tak peduli keadaan sekitar, tapi terlihat bahagia. Membuatku muak dan ingin menghancurkan semua itu. Bahkan aku rela mengorbankan satu tahun SMP-ku demi menghancurkannya.
. . .
(flashback)
Aoi : (dahi mengerut) Dia? Dia siapa?
Makoto : Dia... Nanami Uemura.
Aoi : (kaget) Dia temanmu, Makoto!
Makoto : Hei, jaga ucapanmu! Aku kakakmu!
Aoi : Kakak? Orang seperti itu masih bisa disebut kakak?!!
Makoto : (terkejut)
Aoi : Aku tidak habis pikir kenapa kau bisa sebodoh itu. Melihat keadaan sekitar hanya dari sudut pandangmu saja. Pernahkah kau melihat dari sudut pandang seorang Nanami Uemura? Aku rasa tidak.
Makoto : Semua itu kulakukan karena aku tidak suka sikapnya yang tenang dan selalu tersenyum. Dia seolah menertawakanku.
Aoi : Bagaimana kau tahu dia menertawakanmu? Lain soal jika memang dia tahu keadaanmu yang sebenarnya. Keadaan kita.
. . .
Aoi : Memangnya dia tahu saat itu kita sedang tertimpa musibah? Okaasan-otousan bercerai, okaasan terpaksa pergi meninggalkan kita, okaasan kecelakaan lalu meninggal. (teriak) Apakah dia tahu semua itu?!!
Makoto : Aku benci melihatnya tersenyum!
Aoi : Haah...kau memang keras kepala.
. . .
Aoi : Ah, begini saja. Bayangkan dia itu okaasan.
Makoto : (tertawa meledek) Kau bercanda. Dia tidak mirip sama se--
Aoi : Tapi mereka sama-sama perempuan kan. Lalu apa bedanya?
Makoto : (berpikir)
Aoi : Nanami Uemura adalah okaasan. Kalau kau menyakitinya, sama saja kau menyakiti okaasan. Mudah kan?
Makoto : Tsk! Perumpamaan yang aneh. Bahkan mereka tidak mirip satu bagian pun!
Makoto beranjak ke kamar.
. . .
Waktu kini.
Dilihatnya foto Nanako Hayashibara yang terletak di meja belajarnya lalu mendekatinya.
Makoto : Okaasan, aku harus membantunya. Melindunginya. Bisakah aku?
. . .
Makoto : Aku harus melakukan sesuatu.
Kamar Makoto, malam hari.
Tampak Makoto sedang tiduran sambil merenung.
Makoto : Andaikan saat itu Aoi tidak mengingatkanku . . .
. . .
(flashback)
Tiga tahun yang lalu, tiga hari sebelum kelulusan, malam hari.
Aoi menghampiri Makoto yang sedang bersantai di ruang keluarga.
Aoi : Kelulusan kedua, eh? Sungguh menggelikan.
Makoto : (melirik tajam)
Aoi : Katakan padaku alasannya.
Makoto : Alasan?
Aoi : Masih mau berpura-pura tak tahu? Makoto Hayashibara, lebih baik kau persiapkan jawaban terbaikmu karena aku akan memaksamu sekarang.
. . .
Makoto : Tinggalkan aku sendiri.
Aoi : Sudah kuduga kau akan seperti ini. So, shall we begin, my dearest brother?
Makoto bangkit, hendak tidur di kamarnya. Aoi segera menahan Makoto dan membuatnya duduk kembali.
Aoi : Duduk! Kita belum selesai bicara.
Makoto : Oke, oke, aku akan duduk. Jadi, apa yang ingin kau ketahui, adikku yang manis?
Aoi : Satu tahun yang lalu, kenapa kau melakukan itu? Maksudku, kau sengaja tidak meluluskan diri. Aku ingat betapa marahnya otousan saat itu.
Makoto : Aku akan memberitahumu, tapi tolong jangan memotong ucapanku.
. . .
Waktu kini, kamar Makoto.
Sambil menutup mata dengan lengannya, Makoto menjawab.
Makoto : Aku adalah orang yang paling ingin membuatnya sakit dan terluka. Alasannya mudah saja : aku tidak suka melihatnya bahagia. Setiap ada masalah, dia selalu tenang. Dia sendiri, tapi selalu tersenyum. Dia tak peduli keadaan sekitar, tapi terlihat bahagia. Membuatku muak dan ingin menghancurkan semua itu. Bahkan aku rela mengorbankan satu tahun SMP-ku demi menghancurkannya.
. . .
(flashback)
Aoi : (dahi mengerut) Dia? Dia siapa?
Makoto : Dia... Nanami Uemura.
Aoi : (kaget) Dia temanmu, Makoto!
Makoto : Hei, jaga ucapanmu! Aku kakakmu!
Aoi : Kakak? Orang seperti itu masih bisa disebut kakak?!!
Makoto : (terkejut)
Aoi : Aku tidak habis pikir kenapa kau bisa sebodoh itu. Melihat keadaan sekitar hanya dari sudut pandangmu saja. Pernahkah kau melihat dari sudut pandang seorang Nanami Uemura? Aku rasa tidak.
Makoto : Semua itu kulakukan karena aku tidak suka sikapnya yang tenang dan selalu tersenyum. Dia seolah menertawakanku.
Aoi : Bagaimana kau tahu dia menertawakanmu? Lain soal jika memang dia tahu keadaanmu yang sebenarnya. Keadaan kita.
. . .
Aoi : Memangnya dia tahu saat itu kita sedang tertimpa musibah? Okaasan-otousan bercerai, okaasan terpaksa pergi meninggalkan kita, okaasan kecelakaan lalu meninggal. (teriak) Apakah dia tahu semua itu?!!
Makoto : Aku benci melihatnya tersenyum!
Aoi : Haah...kau memang keras kepala.
. . .
Aoi : Ah, begini saja. Bayangkan dia itu okaasan.
Makoto : (tertawa meledek) Kau bercanda. Dia tidak mirip sama se--
Aoi : Tapi mereka sama-sama perempuan kan. Lalu apa bedanya?
Makoto : (berpikir)
Aoi : Nanami Uemura adalah okaasan. Kalau kau menyakitinya, sama saja kau menyakiti okaasan. Mudah kan?
Makoto : Tsk! Perumpamaan yang aneh. Bahkan mereka tidak mirip satu bagian pun!
Makoto beranjak ke kamar.
. . .
Waktu kini.
Dilihatnya foto Nanako Hayashibara yang terletak di meja belajarnya lalu mendekatinya.
Makoto : Okaasan, aku harus membantunya. Melindunginya. Bisakah aku?
. . .
Makoto : Aku harus melakukan sesuatu.
Thursday, June 03, 2010
Aku Mohon
BABAK 53
Hari berikutnya.
Sebuah taman, pagi hari.
Dari jauh terlihat Yume berlari mendekati Makoto yang berdiri di samping ayunan.
Yume : Maaf, kau pasti sudah lama menunggu.
Makoto : Tidak. Aku baru saja datang. Maaf, memanggilmu sepagi ini.
Yume : (tersenyum) Tak apa. Kebetulan, aku juga bisa berolahraga kan?
. . .
Yume : Ah! Ada apa kau memanggilku ke sini?
Makoto : (menepuk bangku ayunan) Duduklah.
Yume : (bingung lalu duduk)
Makoto : (mendorong ayunan perlahan) Sepertinya aku berhutang satu cerita padamu.
Yume : Ya. Ceritakanlah.
. . .
Makoto : Dulu aku adalah teman Nanami sekaligus orang yang paling menginginkan senyuman Nanami hilang.
Yume : (kaget)
Sambil terus mendorong ayunan, Makoto meneruskan ceritanya sampai akhir.
Makoto : (sedih) Aku...orang yang sangat jahat bukan?
Yume : (menahan tangis)
Makoto : Seperti itulah aku, dulu. Sekarang berbeda. Aku ingin melindunginya. Aku ingin membantunya.
Yume : (sesenggukan) Kau mau tahu pendapatku? Kalau dengan begitu kau pikir bisa menebus kesalahanmu dulu, aku rasa Nana-chan tidak akan mau menerima bantuan ataupun perlindungan darimu.
Makoto : Aku melakukannya bukan untuk menebus kesalahanku dulu, melainkan karena aku INGIN.
Yume : (menangis) Kalau begitu, tunggu apa lagi? Cepat bantu dia! Lindungi dia!
Makoto : Dia tidak akan mau menerimanya.
Yume : (menatap Makoto) Kenapa?
Makoto : Karena baginya, aku tetap aku yang dulu.
Yume : Dari mana kau tahu? Memangnya kau yang memutuskan apa yang ada di pikirannya?
Makoto tersenyum. Dia memegang kepala Nanami dan mengahadapkan kembali ke depan.
Makoto : Karena itulah, aku butuh bantuanmu. Tolong bantu dia menemukan tempat tinggal baru. Aku mohon...
Yume yang ingin menatap Makoto ditahan oleh Makoto.
Yume : Mako--
Makoto : Tolong jangan melihatku sekarang.
Makoto menangis.
Hari berikutnya.
Sebuah taman, pagi hari.
Dari jauh terlihat Yume berlari mendekati Makoto yang berdiri di samping ayunan.
Yume : Maaf, kau pasti sudah lama menunggu.
Makoto : Tidak. Aku baru saja datang. Maaf, memanggilmu sepagi ini.
Yume : (tersenyum) Tak apa. Kebetulan, aku juga bisa berolahraga kan?
. . .
Yume : Ah! Ada apa kau memanggilku ke sini?
Makoto : (menepuk bangku ayunan) Duduklah.
Yume : (bingung lalu duduk)
Makoto : (mendorong ayunan perlahan) Sepertinya aku berhutang satu cerita padamu.
Yume : Ya. Ceritakanlah.
. . .
Makoto : Dulu aku adalah teman Nanami sekaligus orang yang paling menginginkan senyuman Nanami hilang.
Yume : (kaget)
Sambil terus mendorong ayunan, Makoto meneruskan ceritanya sampai akhir.
Makoto : (sedih) Aku...orang yang sangat jahat bukan?
Yume : (menahan tangis)
Makoto : Seperti itulah aku, dulu. Sekarang berbeda. Aku ingin melindunginya. Aku ingin membantunya.
Yume : (sesenggukan) Kau mau tahu pendapatku? Kalau dengan begitu kau pikir bisa menebus kesalahanmu dulu, aku rasa Nana-chan tidak akan mau menerima bantuan ataupun perlindungan darimu.
Makoto : Aku melakukannya bukan untuk menebus kesalahanku dulu, melainkan karena aku INGIN.
Yume : (menangis) Kalau begitu, tunggu apa lagi? Cepat bantu dia! Lindungi dia!
Makoto : Dia tidak akan mau menerimanya.
Yume : (menatap Makoto) Kenapa?
Makoto : Karena baginya, aku tetap aku yang dulu.
Yume : Dari mana kau tahu? Memangnya kau yang memutuskan apa yang ada di pikirannya?
Makoto tersenyum. Dia memegang kepala Nanami dan mengahadapkan kembali ke depan.
Makoto : Karena itulah, aku butuh bantuanmu. Tolong bantu dia menemukan tempat tinggal baru. Aku mohon...
Yume yang ingin menatap Makoto ditahan oleh Makoto.
Yume : Mako--
Makoto : Tolong jangan melihatku sekarang.
Makoto menangis.
Subscribe to:
Posts (Atom)

