Sunday, May 30, 2010

Kebahagiaan


kemarin
baru kemarin aku sadar
kebahagiaan bukanlah sesuatu yang abadi
dan aku memutuskannya
setiap tetes kebahagiaan
akan kunikmati dan kuresapi
sebelum aku tak dapat merasakannya lagi

Thursday, May 27, 2010

Kata-kata untuk Ayah


dulu, saat aku ditanya mau jadi apa kelak,
aku menjawab dengan lantang
aku ingin menjadi presiden
tentu saja itu sebuah impian
seorang anak kecil polos
yang belum tahu benar salah sesuatu
apakah kau mendengarnya?

 dulu, aku sering bertatap muka denganmu
mendengarmu bercerita tentang dunia
aku menyukai senyummu
karena melihat tingkah lakuku
aku sering memanggilmu
untuk meminta bantuan
aku sering mengusilimu
atau bahkan mengganggumu
apakah kau mendengarnya?

kini sudah tak mungkin lagi bagiku
untuk melakukan semua itu
aku tidak menjadi bisu
kau pun tidak melarangku memanggilmu
tidak, bukan aku yang memanggilmu
tapi Tuhan
sudah saatnya kau pergi, bukan?

kalau aku boleh egois,
aku ingin meminta pada Tuhan
agar aku bisa bertemu denganmu lagi
meski hanya dalam mimpi
aku ingin dirinya mengucapkan kata
apapun
aku ingin dirinya melihatku
dan tersenyum bangga padaku

apakah di sana dirinya tersenyum?
aku yakindia selalu tersenyum
dirinya sudah tenang di sana
dan itu membuatku bahagia

apakah dirinya merindukanku
dan ingin bertemu denganku juga?
dapatkah aku memanggilnya kembali?
hanya ingin memanggilnya
itu cukup bagiku

aku ingin tahu

The Empty Tree



i want to dedicate this empty tree
that i always draw on a paper
only to you
because this is my feeling

Wednesday, May 26, 2010

Flashback

BABAK 52

(flashback)
Tiga tahun yang lalu.
Menjelang kelulusan kelas tiga, sore hari.
Diam-diam Makoto mengikuti Nanami yang baru saja pulang sekolah.

Nanami : (berhenti) Untuk apa kau mengikutiku?

Makoto keluar dari tempat persembunyiannya.

Makoto : Ketahuan ya.
Nanami : (berbalik) Kau lagi.
Makoto : Sepertinya kau tidak suka melihat wajahku.
Nanami : (menghela napas berat) Berhentilah mengikutiku.

Tiba-tiba Makoto menyodorkan tangannya seperti orang yang ingin berkenalan.

Nanami : (bingung)
Makoto : Makoto Hayashibara. Mulai saat ini, aku menjadi penghuni baru di kelas 2. Salam kenal, Nana-chan.

. . .

(flashback)
Hari demi hari begitu cepat berlalu.
Saat itu, Nanami dan Makoto sudah menjadi murid kelas 3 dan akhirnya berteman.

Nanami : Dua minggu lagi, kita akan ujian. Aku benci ujian.
Makoto : Hei, jangan murung begitu. Ah, aku ada ide. Bagaimana kalau kita belajar bersama? Biar begini, aku termasuk murid berotak pintar lho.
Nanami : Benarkah? Aku tak percaya.
Makoto : Sial. Oke, akan kubuktikan.

Makoto mengacak-acak rambut Nanami.

. . .

(flashback)
Suatu hari, saat istirahat siang.
Insiden itu pun terjadi.
Nanami yang sedang berlari di koridor, ada yang menghadang kakinya dan membuatnya terjatuh dengan keras.

Nanami : (memegang dagu) Aww! Sssh...

Dilanjutkan saat Nanami sedang membuang sampah kelas. Tiba-tiba banyak sampah berjatuhan dari lantai atas. Seragam Nanami kotor seketika.

Nanami : Hei! Kalau berani, keluar! Lawan aku sekarang juga!!

Pertanyaan Nanami hanya dijawab dengan tertawaan saja. Tangan Nanami mengepal.

Nanami : (teriak) Aku tidak takut pada kalian!!

. . .

(flashback)
Semakin hari, Nanami semakin parah.
Sekujur tubuhnya dipenuhi lebam. Bibirnya pecah dan penuh luka.
Saat suatu pagi Nanami tiba di sekolah, Makoto segera menghampirinya.

Makoto : (khawatir) Kau kenapa, Nana-chan? Apa yang terjadi padamu?
Nanami : Hai. Oh, ini maksudmu? Tak apa, aku hanya terjatuh.
Makoto : Ayo, kuantar kau ke kelas.

. . .

(flashback)
Suatu sore, Nanami mendatangi kelas Makoto. Terdengar suara tertawaan dari dalam sana.

Makoto dkk : (tertawa terbahak-bahak)
Teman Makoto 1 [TM 1] : Oya, berbicara soal gadis, bagaimana dengan gadismu itu, Makoto? Apakah dia masih bertahan?
Makoto : Siapa maksudmu? Gadisku terlalu banyak, sampai aku bingung gadis mana yang kau maksud.
TM : (semua tertawa) Hahahaha...
TM 2 : Dasar kau ini. Tentu saja Nanami Uemura.

Saat itu juga, langkah Nanami terhenti di mulut pintu. Nanami bersandar di dinding dan mendengarkan semuanya.

Makoto : Nana-chan?
TM 3 : Wow! Sekarang sudah punya panggilan kesayangan untuk si dia. Hahahaha....
TM : Hahahaha.....
TM 2 : Bagaimana? Apakah tujuanmu sudah tercapai?
Makoto : Sebenarnya sudah, tapi belum cukup bagiku.
TM 1 : Memang kau ingin menyakitinya sampai kapan? Sampai lulus?

Di luar, Nanami merasa kaget luar biasa. Air matanya mulai menggenang.

Makoto : (serius) Sampai dia menangis. Sampai senyum di wajahnya hilang. Sampai hatinya sakit sesakit-sakitnya. Kalian pikir, untuk apa aku mengulang satu tahunku di sekolah ini?

Tanpa sengaja, Nanami jatuh tersandung kakinya sendiri.

Nanami : Aduh!

Nanami segera menutup mulutnya dan berlari. Makoto tersenyum sinis, tahu siapa di balik pintu itu.
  

Aku Memaafkanmu

BABAK 51

Hari yang sama.
Koi park.
Nanami dan Makoto duduk-duduk di ayunan sambil menikmati angin segar.
Setelah berdiam agak lama,

Makoto : Kau benar-benar akan pindah besok?
. . .
Nanami : (menatap Makoto) Kau tahu, sepertinya aku memang harus menghadapimu dan menyelesaikan semuanya segera.
Makoto : (menatap penuh tanya)

Nanami menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya.

Nanami : (tersenyum) Makoto Hayashibara, aku memaafkanmu.
Makoto : (terkejut) A--apa kau bilang? Kau memaafkanku?
Nanami : Sebenarnya sudah sejak lama aku memikirkan hal ini dan puncaknya kemarin malam, saat aku memutuskan untuk benar-benar melupakan segalanya. Aku tidak ingin terikat lagi dengan masa lalu. Aku ingin memulainya lagi dari nol.
Makoto : Tapi kau tidak harus pindah kan? Kau tetap bisa melanjutkan hidupmu di sini.
Nanami : (menggeleng) Ada yang harus kulakukan. Sebenarnya ini rahasia. Hanya kau yang akan kuberitahu.

Nanami menatap langit biru, membayangkan wajah Remi di sana.

Nanami : Kau sudah tahu kondisi di sini seperti apa dan aku tak ingin Remi-san mengalaminya lagi. Keberadaanku sebagai anak angkat sudah banyak membuatnya repot. Bahkan sempat membuat namanya buruk karena aku disangka anak dari hubungan gelap Remi-san dengan seorang lelaki. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Aku ingin Remi-san bahagia dan selalu tersenyum. Aku sangat menyukai senyumannya.
Makoto : . . .
Nanami : Senyum itu sempat hilang karena aku menolaknya memanggil ibu. Aku tahu, jika aku memanggilnya ibu, akan semakin memperburuk keadaan, dan aku tak menyukai hal itu.
Makoto : (menatap sedih)
Nanami : Beberapa hari ini, aku melihat senyum itu kembali. Remi-san jatuh cinta pada seseorang dan mereka berencana untuk menikah dalam waktu dekat. Aku tidak mau menganggu mereka. Yang kuinginkan hanyalah kebahagiaan mereka, sesederhana itu.
Makoto : Tidak mau mengganggu mereka?
. . .
Nanami : (menatap Makoto) Maaf, selama ini aku sudah berbuat kasar padamu. Mengacuhkanmu, memarahimu, membentakmu. Aku benar-benar minta maaf.
Makoto : Tidak, seharusnya aku yang---
Nanami : (memotong ucapan Makoto) Boleh aku bertanya beberapa hal?
Makoto : Apa?
Nanami : Waktu itu, kenapa kau begitu senang melukai dan menyiksaku?

Nanami mengingat saat-saat di mana ia dipukul, dirampok paksa, dilecehkan. Bahkan ia sendiri pun tak menyangka bahwa pelaku di balik semua itu adalah Makoto.

Makoto : Aku tidak suka melihatmu tertawa.
Nanami : (heran)
Makoto : Padahal kau selalu sendiri, namun kau tetap tersenyum seolah tak punya masalah. Aku benci melihatnya karena kau tersenyum di saat keluargaku hancur dan juga aku.
. . .
Makoto : Ayah dan Ibuku bercerai. Aku dan adikku ikut ayahku. Kami tidak boleh bertemu dengan ibuku lagi. Ibuku tidak terima, namun tetap pasrah menerimanya. Sejak saat itu, aku tidak bisa bertemu ibuku sampai suatu hari aku mendengar bahwa ibu kecelakaan dan meninggal. Aku jadi membenci ayahku dan aku benci melihat orang lain tersenyum seolah mereka menertawakan keluargaku yang hancur, menertawakanku.
Nanami : Begitu. Lalu, orang yang menempelkan foto Remi-san memasuki hotel bersama seorang lelaki, apakah itu kau?
Makoto : Dulu dan sekarang, keduanya bukan aku.
Nanami : Ya, dulu pelakunya Rika Kawamura, bukan kau. Aku tahu itu.
. . .
Nanami : (menatap Makoto dalam) Pertanyaan terakhir. Dulu, apakah kau pernah menganggapku sebagai temanmu meskipun hanya sekali saja?
Makoto : Ya.
Nanami : Bohong!
Makoto : (kaget)
Nanami : Ah, maaf. Hal itu tidak perlu kau jawab.

Nanami mulai menangis. Entah kenapa, ia merasa sangat berat meninggalkan tempat ini. Tapi ia harus.

Nanami : Mungkin kau tidak pernah menganggapku seperti itu, namun bagiku, kau akan tetap menjadi teman pertamaku. Selamanya.

Nanami beranjak dari ayunan lalu menghadap Makoto.

Nanami : (menatap mata Makoto) Terima kasih banyak dan selamat tinggal.

Nanami pergi, sedangkan Makoto sangat ingin mengejarnya, tapi tak bisa. Seolah ada yang menempelkan kakinya kuat-kuat ke tanah.

Makoto : (teriak lalu menangis) AAAAAARGGGGHHHHHHHH!!!!!!!!
 

Tuesday, May 25, 2010

Yo!

BABAK 50

Hari yang sama.
Rumah Nanami, menjelang sore hari.
Tiba-tiba rumah Nanami kedatangan tamu. Nanami segera beranjak untuk membuka pintu.

Nanami : (menatap tajam) . . .
Makoto : (tersenyum) Yo!

Dari dalam terdengar suara Remi.

Remi : Siapa yang datang, Nana-chan?
Nanami : Tak ada siapa-siapa kok. Oh ya, Remi-san, aku akan keluar sebentar membeli majalah.
Remi : Jangan terlalu lama ya. Masih banyak yang harus dirapikan untuk besok.
Nanami : Baik.
Nanami : (menatap Makoto) Ayo.

Monday, May 24, 2010

Maafkan Kami

BABAK 49

Hari berikutnya.
Koridor kelas, saat istirahat siang.
Irumi Takahara dan Naoko Fukuda berlari menghampiri Yume yang sedang melamun.

Naoko : (memeluk Yume) Yuu-chan. . .
Yume : (kaget) Nao? Rumi juga? Ada apa?
Naoko : Maafkan kami ya.
Yume : (kening mengerut) Ada apa ini? Rumi?
Irumi : (memegang bahu Yume) Maaf, kami tidak memberitahumu sebelumnya. Kami hanya tak ingin membuatmu sedih, mengingat hal ini ada hubungannya dengan Makoto.
Yume : Makoto?
Naoko : Ya, sepertinya dia menyukai gadis lain, tapi kami tak tahu siapa nama gadis itu.
Yume : (tersenyum) Ooh, mengenai hal itu aku sudah tahu.
Naoko : (terkejut) Kau sudah tahu?
Irumi : Kalau sudah tahu, kenapa bisa tersenyum seperti itu?
Naoko : Kau tidak merasa sedih?
Yume : (menghela napas) Saat ini, aku sangat ingin melakukan sesuatu, namun aku sadar, aku tak bisa. Karena aku berada di luar lingkaran mereka.

Yume mulai sesenggukan. Irumi dan Naoko memeluknya, mencoba menenangkannya. Di saat itulah, tangis Yume pecah.

Wednesday, May 19, 2010

Kau Tahu, . . .


permainan kata yang tak lagi kulakoni
berakhir begitu saja di tengah jalan
seolah membuatku melupakan
cara bermain kata-kata

lalu, apa yang kaubuat selama ini?

hanya menyapa pagi
dan ikut berdendang bersama penghuni pagi?
berjalan ke sana-sini
mencari seseorang yang tak kunjung ada?
menatap arak-berarak awan di langit,
menunggu petang datang?
mencoba menentang kabut
yang tak bisa kaukalahkan?

kau tahu,
kau hanya berusaha menangkap angin,
berusaha menggenggam air,
berusaha mengais air laut

ke mana perginya kata-kata itu?
apakah kau lupa akan tugasmu?

kau tahu,
tawa sumbang menghias bibirku
kini

Monday, May 10, 2010

Aku Memang Pelakunya

BABAK 48

Hari dan waktu yang sama.
Di bawah pohon rindang, Koi Park.
Makoto tampak bersitegang dengan Yume.

Yume : Aku tidak mengerti maksudmu.
Makoto : Ya, aku memang pelakunya.
Yume : (bingung)
Makoto : Kau masih belum mengerti juga? Ckckck...dasar gadis bodoh.
Yume : (terkejut) Hei!

PLAK!

Makoto : (meraba pipi kiri) Tak apa. Aku memang pantas mendapatkan itu. 

Makoto berjalan mendekat. Ia dekatkan mulutnya ke telinga Yume.

Makoto : (berbisik) Akulah orang yang ingin melukainya. Menghancurkannya.
Yume : (gemetar) Melukai...siapa?
Makoto : Tentu saja gadis itu. Nanami.
Yume : (mata membelalak)

Tubuh Makoto menjauh. Matanya kembali teduh dan lembut.
Kemudian ia berjalan meninggalkan Yume yang menjatuhkan dirinya di atas tanah setelah kepergian Makoto.

Yume : (dalam hati) Apa maksud dari semua ini? Apa arti tatapannya tadi?

Itulah Aku

BABAK 47

Waktu yang sama.
Di bawah pohon rindang, Koi Park.
Makoto berhasil menghentikan Yume.

Makoto : Yume! Apa-apaan kau tiba-tiba pergi begitu saja!
Yume : Tolong jawab pertanyaanku.

Angin berhembus. Makoto masih memegang tangan Yume.

Makoto : Apa maksudmu?
Yume : Tolong jelaskan hubunganmu dengan Nanami.
Makoto : Aku---
Yume : Sekarang juga!!
Makoto : (melepaskan tangan Yume) . . .
Yume : Atau haruskah aku percaya dengan apa yang mereka katakan?
Makoto : (bingung)

. . .

(flashback)

Beberapa hari yang lalu. Ureshii Cafe.

Kanae : Kurasa sejak saat itu, ada yang aneh menimpa diri Uemura.
Yume : Sesuatu yang aneh? Maksudmu?
Kanae : Aku juga tak begitu mengerti, tapi sejak berteman dengan Hayashibara, Uemura seperti mendapatkan kemalangan beruntun. Dia sering dikerjai anak-anak lain. Uangnya pun sering diambil paksa dan biasanya berakhir dengan lebam di pipi atau tangannya. Tidak ada yang membelanya saat itu karena Uemura memang seorang penyendiri.

. . .

(flashback)

Beberapa hari yang lalu. Ureshii Cafe.

Yume : Bagaimana dengan Makoto sendiri? Apa dia tak apa-apa selalu berada di dekat Uemura? Apakah dia juga ikut dikerjai?
Kanae : Tidak, Hayashibara baik-baik saja. Tidak ada seorangpun yang mengerjai dirinya. Ah! Ada hal aneh lain lagi yang kuingat.
Yume : Apa?
Kanae : Semakin akrab dengan Hayashibara, musibah yang dialami Uemura semakin parah. Pernah suatu hari, Uemura datang ke sekolah dengan dengan luka memar hampir di sekujur tubuhnya. Sepanjang hari itu, ia tidak bicara pada siapapun, termasuk Makoto.

. . .

(flashback)

Beberapa menit yang lalu.
Ruang televisi di rumah Nanami.

Remi : Sampai saat itu tiba.
Yume : Saat itu?
Remi : (menerawang jauh) Ya, saat di mana keadaan Nanami sangat aneh. Setelah pulang sekolah, ia langsung masuk kamarnya. Ia keluar hanya 1-2 kali, itupun hanya untuk minum. Selebihnya ia terus mengurung diri di kamar. Kejadian itu berlangsung kira-kira satu minggu lebih.
. . .
Remi : Pandangan matanya kosong. Tubuhnya mengurus. Mulutnya tak lagi mengucapkan kata. Pernah sekali waktu aku bertanya, "Kau bertengkar dengan Makoto?" dan dijawabnya dengan dingin, "Jangan pernah menyebut namanya lagi di depanku."
Yume : (kaget) Apa yang terjadi?
Remi : Aku pun tak tau. Dia tidak pernah mengungkit hal itu.
Yume : Aneh.
Remi : Aku pun berpikir begitu. Jadi, aku hanya bisa menyimpulkan, alasan Nanami bersikap seperti itu pasti ada hubungannya dengan Makoto.

. . .

Koi Park.
Mendengar penuturan Yume, tatapan Makoto mendingin.

Yume : Jadi, apa penjelasanmu?
Makoto : (tertawa hambar) Ya, seperti yang kau dengar, itulah aku.

Ada Apa Dengannya?

BABAK 46

Tak lama, Nanami dan Makoto sampai di rumah.

Makoto : Tadaima. *
Remi : Okaeri. **  Lama sekali kalian pergi. Apakah tadi mampir ke suatu tempat?
Nanami : Tidak. Hanya perasaanmu saja, Remi-san.
Yume : (terperangah)

Tiba-tiba Yume beranjak, bersiap untuk pergi.

Yume : Maaf, tiba-tiba saya ada urusan penting. Saya harus pergi sekarang. Selamat siang. (membungkuk)
Makoto : Yume, kenapa tiba-tiba--- hei!

Makoto langsung mengejar Yume.

Nanami : (melirik Remi) Ada apa dengannya?
Remi : Aku tak tau.
. . .
Remi : (berpikir) Kalau tidak salah, sikapnya menjadi aneh setelah aku menjawab pertanyaannya.
Nanami : Pertanyaan apa?
Remi : Dia bertanya apakah aku mengenal Makoto. Lalu aku bercerita sedikit tentang Makoto yang dulu menjadi temanmu.
Nanami : (menatap kosong ke arah pintu)


* Kami (aku) pulang.
** Selamat datang.

Saturday, May 08, 2010

Sampai Saat Itu Tiba

BABAK 45

Waktu yang sama.
Yume sedang membantu Remi menyiapkan makanan kecil di dapur.

Remi : (membuka kulkas) Makoto ternyata sudah sebesar itu ya. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu.
Yume : . . .
Remi : Maaf, siapa namamu?
Yume : (membungkuk) Perkenalkan, saya Yume. Yume Katou.
Remi : Manisnya... Kau pacar Makoto?
Yume : Oh, bukan, Anda salah. Saya hanya temannya.
Remi : (memegang dagu) Temannya ya, hmm... Tapi, kau menyukainya kan?
Yume : Ti--tidak. Saya tidak menyukainya.
Remi : Sudahlah, akui saja. Aku tau sinar mata perempuan yang sedang jatuh cinta.
Yume : (menunduk)
Remi : (tersenyum) Manis sekali.

Yume dan Remi kini beranjak ke ruang televisi untuk meletakkan makanan kecil tersebut.

Yume : (ragu) Maaf, bolehkah saya menanyakan sesuatu?
Remi : Hmm?
Yume : Anda kenal Makoto?
Remi : Makoto? Ya, dulu dia sering sekali datang ke rumah.
. . .
Remi : Makoto...anak yang sangat baik, perhatian, hangat, dan peduli. Dan ganteng, tentu saja. Bukankah begitu?
Yume : (mengangguk)
Remi : Tapi yang terpenting adalah dia mau berteman dengan Nana. Aku sangat bersyukur saat itu. Artinya, sudah ada yang menjaga Nana selain aku. Dan aku merasa sangat lega.
. . .
Remi : Sampai saat itu tiba.
Yume : Saat itu?

Kau Menguntitku

BABAK 44

Hari yang sama.
Di perjalanan menuju toko 24 jam.
Setelah hening agak lama, akhirnya Makoto membuka suara.

Makoto : Kau tidak bilang mau pindah lusa.
Nanami : Apakah itu penting?
Makoto : Tentu saja. Kau harus memberitahuku.
Nanami : Itu bukan urusanmu.
Makoto : Urusanmu adalah urusanku juga.
Nanami : (tertawa meremehkan) Memangnya kau ini siapa? Temanku?
Makoto : YA! AKU TEMANMU.
Nanami : Oh ya? Benarkah itu?
. . .
Makoto : Ternyata kau masih marah padaku.
Nanami : Tentu saja. Kau menguntitku. Mengganggu privasiku.
Makoto : (kaget) Kukira kita sedang membicarakan masalah tentang kita dulu.
Nanami : Dan jika aku tak salah ingat, aku sudah memaafkanmu.

Butuh waktu yang lama bagi Makoto untuk mencerna kata-kata Nanami.

Makoto : (tertawa) Kau ini benar-benar . . .
Nanami : Kenapa kau tertawa?

Makoto menjawabnya dengan mengacak-acak rambut Nanami yang segera ditepisnya. Makoto menyerah dan kembali tertawa.

Kau Makoto Kan?

BABAK 43

Hari sudah agak siang.
Rumah Nanami.
Remi sedang menonton televisi di ruang keluarga. Sedangkan Nanami baru saja selesai menjemur pakaian. Saat ia mau duduk, terdengar ada yang mengetuk pintu.

Nanami : Biar aku saja.
Nanami : (dalam hati) Lagi-lagi mereka.

Nanami segera beranjak untuk membuka pintu.
Seketika matanya membesar dan berkilat marah.

Makoto : (tersenyum) Yo.
Yume : (membungkuk) Selamat siang.
Nanami : (mata melirik tajam ke arah Makoto) Berani sekali kau menguntitku.
Makoto : Aku tidak menguntitmu. Aku mengikutimu.
Nanami : (mengepalkan tangan, geram)

Tiba-tiba Remi keluar dari dalam.

Remi : Siapa yang datang, Nana-chan? Ah, kalian pasti teman-teman Nana. Ayo, silakan masuk. Bagaimana kau ini? Teman-temanmu malah dibiarkan berdiri di sini. Ayo, silakan.
Yume : Maaf mengganggu.
Remi : Tidak apa-apa. Masuklah. Anggap saja rumah sendiri. Maaf ya, rumahnya berantakan.

Makoto berjalan masuk dan kaget melihat banyak tumpukan kardus di setiap sudut ruangan.

Makoto : Maaf, bibi mau pindahan ya?
Remi : Ya, rencananya kami mau pindah besok lusa. Ada beberapa masalah di sini.
Remi : (menelisik Makoto) Sepertinya aku pernah melihatmu. Kalau tidak salah, kau Makoto kan?
Makoto : (tersenyum) Ternyata bibi masih mengingat saya. Bibi apa kabar?
Yume : (terperangah)
Remi : (tertawa hambar) Kabarnya ya seperti ini. Nana-chan, kenapa kau hanya berdiri saja? Ayo, masuk.
Nanami : Aku... pergi membeli minuman dulu.
Makoto : Aku ikut.

Seketika suasana menjadi hening. Dengan enggan, Nanami melangkah keluar diikuti Makoto.
Yume hanya menatap kepergian mereka.

Thursday, May 06, 2010

Tentang Kau dan Nanami Uemura

BABAK 42

Hari yang sama.
Kamar Makoto.
Makoto meletakkan nampan berisi minuman dan kue kecil.

Makoto : Silakan.
Yume : Terima kasih. Maaf ya aku merepotkanmu pagi-pagi begini.
Makoto : Tak apa. Tapi, apa yang membawamu ke sini? Sepertinya serius sekali.
Yume : (ragu)
Makoto : Ceritakan saja apa yang mau kau ceritakan.
Yume : Sebenarnya aku hanya ingin bertanya.
Makoto : Tanya apa?
Yume : Aku ingin tau tentang kau dan Nanami Uemura.

Makoto terdiam. Lama ia terdiam sampai akhirnya ia menjawab.

Makoto : Aku pun tidak tau bagaimana hubunganku dengannya. Aku hanya bisa bilang, dia "teman"-ku.
Yume : (kening mengerut) Caramu menyebutnya sebagai teman terdengar aneh.
Makoto : (tersenyum kecut) Karena memang begitulah kenyataannya.
Yume : . . .
Makoto : Suatu saat, aku pasti akan memberitahumu. Tapi sebelum itu, aku butuh bantuanmu.
Yume : Butuh...bantuanku?

"Lukisan"-ku


merah
warna pertama yang kugoreskan
di atas kanvas putih ini
dengan gemulai kupenuhi tiap sudutnya
garis yang semakin memanjang
tanpa henti, kubiarkan kuasku menari
sebebas ia ingin menari

biru
kupilh warna kedua
warna hatiku, perasaanku,
warna diriku
kugoreskan di samping merahku
kombinasi warna yang kontras
merah adalah kuat
biru adalah lembut

hitam
warna terakhir
puncak dari segala warna
kuikuti langkahnya memenuhi kanvas
mengaburkan mereka,
memudarkan, lalu menghilangkan
meniadakan mereka

tanganku terhenti
mataku terbuka

inilah "lukisan"-ku

Apakah Kau Yakin?

BABAK 41

Waktu yang sama.
Ruang keluarga, rumah Nanami.
Tumpukan kardus meninggi di setiap sudut ruangan yang kini kosong dan lengang.

Nanami : Kau yakin dengan semua ini?
Remi : (melirik Nanami) Harusnya itu pertanyaanku. Apakah kau yakin?
Nanami : . . . Ya, sangat yakin.

(hening)

Remi : Baiklah. Kalau begitu, sudah diputuskan.

Remi menatap Nanami sebentar lalu beranjak ke dapur. Sementara Nanami menatap jam dinding, menunggu saatnya tiba.