BABAK 51
Hari yang sama.
Koi park.
Nanami dan Makoto duduk-duduk di ayunan sambil menikmati angin segar.
Setelah berdiam agak lama,
Makoto : Kau benar-benar akan pindah besok?
. . .
Nanami : (menatap Makoto) Kau tahu, sepertinya aku memang harus menghadapimu dan menyelesaikan semuanya segera.
Makoto : (menatap penuh tanya)
Nanami menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
Nanami : (tersenyum) Makoto Hayashibara, aku memaafkanmu.
Makoto : (terkejut) A--apa kau bilang? Kau memaafkanku?
Nanami : Sebenarnya sudah sejak lama aku memikirkan hal ini dan puncaknya kemarin malam, saat aku memutuskan untuk benar-benar melupakan segalanya. Aku tidak ingin terikat lagi dengan masa lalu. Aku ingin memulainya lagi dari nol.
Makoto : Tapi kau tidak harus pindah kan? Kau tetap bisa melanjutkan hidupmu di sini.
Nanami : (menggeleng) Ada yang harus kulakukan. Sebenarnya ini rahasia. Hanya kau yang akan kuberitahu.
Nanami menatap langit biru, membayangkan wajah Remi di sana.
Nanami : Kau sudah tahu kondisi di sini seperti apa dan aku tak ingin Remi-
san mengalaminya lagi. Keberadaanku sebagai anak angkat sudah banyak membuatnya repot. Bahkan sempat membuat namanya buruk karena aku disangka anak dari hubungan gelap Remi-
san dengan seorang lelaki. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Aku ingin Remi-
san bahagia dan selalu tersenyum. Aku sangat menyukai senyumannya.
Makoto : . . .
Nanami : Senyum itu sempat hilang karena aku menolaknya memanggil ibu. Aku tahu, jika aku memanggilnya ibu, akan semakin memperburuk keadaan, dan aku tak menyukai hal itu.
Makoto : (menatap sedih)
Nanami : Beberapa hari ini, aku melihat senyum itu kembali. Remi-
san jatuh cinta pada seseorang dan mereka berencana untuk menikah dalam waktu dekat. Aku tidak mau menganggu mereka. Yang kuinginkan hanyalah kebahagiaan mereka, sesederhana itu.
Makoto : Tidak mau mengganggu mereka?
. . .
Nanami : (menatap Makoto) Maaf, selama ini aku sudah berbuat kasar padamu. Mengacuhkanmu, memarahimu, membentakmu. Aku benar-benar minta maaf.
Makoto : Tidak, seharusnya aku yang---
Nanami : (memotong ucapan Makoto) Boleh aku bertanya beberapa hal?
Makoto : Apa?
Nanami : Waktu itu, kenapa kau begitu senang melukai dan menyiksaku?
Nanami mengingat saat-saat di mana ia dipukul, dirampok paksa, dilecehkan. Bahkan ia sendiri pun tak menyangka bahwa pelaku di balik semua itu adalah Makoto.
Makoto :
Aku tidak suka melihatmu tertawa.
Nanami : (heran)
Makoto : Padahal kau selalu sendiri, namun kau tetap tersenyum seolah tak punya masalah. Aku benci melihatnya karena kau tersenyum di saat keluargaku hancur dan juga aku.
. . .
Makoto : Ayah dan Ibuku bercerai. Aku dan adikku ikut ayahku. Kami tidak boleh bertemu dengan ibuku lagi. Ibuku tidak terima, namun tetap pasrah menerimanya. Sejak saat itu, aku tidak bisa bertemu ibuku sampai suatu hari aku mendengar bahwa ibu kecelakaan dan meninggal. Aku jadi membenci ayahku dan aku benci melihat orang lain tersenyum seolah mereka menertawakan keluargaku yang hancur, menertawakanku.
Nanami : Begitu. Lalu, orang yang menempelkan foto Remi-
san memasuki hotel bersama seorang lelaki, apakah itu kau?
Makoto : Dulu dan sekarang, keduanya bukan aku.
Nanami : Ya, dulu pelakunya Rika Kawamura, bukan kau. Aku tahu itu.
. . .
Nanami : (menatap Makoto dalam) Pertanyaan terakhir. Dulu, apakah kau pernah menganggapku sebagai temanmu meskipun hanya sekali saja?
Makoto : Ya.
Nanami : Bohong!
Makoto : (kaget)
Nanami : Ah, maaf. Hal itu tidak perlu kau jawab.
Nanami mulai menangis. Entah kenapa, ia merasa sangat berat meninggalkan tempat ini. Tapi ia harus.
Nanami : Mungkin kau tidak pernah menganggapku seperti itu, namun bagiku, kau akan tetap menjadi teman pertamaku
. Selamanya.
Nanami beranjak dari ayunan lalu menghadap Makoto.
Nanami : (menatap mata Makoto) Terima kasih banyak dan selamat tinggal.
Nanami pergi, sedangkan Makoto sangat ingin mengejarnya, tapi tak bisa. Seolah ada yang menempelkan kakinya kuat-kuat ke tanah.
Makoto : (teriak lalu menangis) AAAAAARGGGGHHHHHHHH!!!!!!!!