BABAK 11
Rumah Haruka, malam hari.
Akane baru saja datang kala Haruka sedang asyik menonton di ruang keluarga.
Akane : (ketus) Aku pulang.
Haruka : (mengernyit) Selamat datang. Ada apa denganmu?
Akane meletakkan tasnya di atas meja lalu duduk di sebelah Haruka.
Akane : (menghela napas)
Haruka : Sepertinya kau terlihat sangat lelah. Oya, bagaimana hari pertamamu menjadi guru? Menyenangkan?
Akane : Ya, amat sangat menyenangkan, Haru, sampai-sampai aku harus menahan kekesalanku.
Haruka : Kenapa begitu?
Akane : Bagaimana tidak, saat aku mengajar, tidak ada yang mendengarkan seolah-olah aku ini tukang obat yang dagangannya tidak laku. Setiap aku menyuruh salah satu dari mereka ke depan untuk menjawab soal, tak ada satu pun yang beranjak. Suasana kelas memang saaaangat tenang, terlalu tenang malah. Namun tetap saja aku seperti tak dianggap sebagai guru mereka.
Haruka : (terdiam) Sabar, Akane.
Akane : Mungkin mudah bagimu untuk berkata sabar, tapi tetap saja hal itu membuatku kesal! Bayangkan, aku harus menahan rasa kesalku sepanjang siang tadi. Oh, ralat, dari pagi hari hingga sekarang. Ya, sekarang. Bayangkan betapa kemarahanku, kekesalanku sudah menumpuk sebanyak ini.
Akane mengangkat tangan kanannya setinggi dua jengkal di atas kepalanya dan tangan kirinya yang diletakkan di atas pangkuannya.
Haruka : Aku tahu kau sedang marah sekarang. Kau kesal karena perlakuan murid-muridmu yang terkesan cuek dan tidak peduli. Tapi perlu kau ingat, inilah konsekuensi menjadi seorang guru. Masalah yang kau hadapi sekarang ini anggap saja tantangan pertama yang harus kau atasi. Kau tidak ingat alasan mengapa kau ingin menjadi guru?
Akane : (mengingat-ingat)
Haruka : Satu kata : tantangan. Itulah alasanmu menjadi guru. Apakah aku salah, Miyazawa-sensei?
Akane : (tersenyum) Kau benar. Sangat benar. Terima kasih sudah mengingatkanku dan menyadarkanku, tentu saja. Terus terang, ternyata menjadi guru itu tidaklah mudah. Padahal ini baru hari pertama.
Haruka : Kalau kau suka, kau pasti akan menikamati setiap detik yang kau lalui saat menjadi guru.
Akane : Begitukah? Hmm...
Haruka kembali menekuni film yang tadi ia tonton.
Akane : Yosh! Oke, hari ini baru pemanasan. Anggap saja aku sedang mempelajari sebuah medan yang harus kutakhlukkan luar-dalam. Lihat saja, medan yang hancur berantakan akan aku sulap menjadi taman bermain yang menyenangkan!! HAHAHAHA.....!!!
Haruka : (menggumam) Hanya bicara sih mudah saja ya...
Akane : Kita lihat saja nanti! Hohohoho....
Haruka : Tsk! Baru begitu saja sudah sombong. Tidak dapat dipercaya, perempuan yang tertawa dengan sombongnya ini adalah perempuan yang beberapa menit yang lalu putus asa seperti orang kehilangan harapan.
Akane : Hei, hei, jangan berkata jahat seperti itu dong.
Akane melihat jam tangannya.
Akane : Ya ampun, hampir jam delapan! Ini sudah lewat jam makan malamku. Bagaimana ini?!!
Haruka : Ya sudah, tidur saja sana.
Akane : Aku memang ingin tidur, tapi aku lapar sekali.
Haruka : Ya sudah, makan dulu, baru tidur.
Akane : Aha! Ide bagus!!
Haruka hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku sahabatnya itu.
Monday, July 26, 2010
Lupakan Aku
saat kau ucapkan kata itu
"lupakan aku, hapuskan aku."
dengan dingin
sedingin salju yang turun kala itu
tidak tahukah kau,
hatiku terluka?
lihatlah air mata ini
apakah aku terlihat senang
mendengar ucapmu?
di saat itulah aku sadar
penolakanmu terhadapku
adalah
sebuah ucapan selamat tinggal
mau tak mau ku harus terima
meski hati ini tak mau
meski hati ini sakit
tapi aku harus
cuap-cuap :
"puisi ini kubuat sesuai dengan komik
yang sedang kubaca : Hana to Akuma (Flower and Devil),
tepatnya di chapter 52. meskipun ceritanya agak
menyedihkan, tapi aku sangat menantikan
kelanjutan kisahnya."
Saturday, July 24, 2010
BUGH!!
BABAK 10
Hari yang sama.
Mesin ATM di sebuah department store, menjelang siang hari.
Takeru mengecek nominal yang tertera di layar.
. . .
(flashback)
Pagi di hari yang sama.
Takeru melihat mail yang baru saja masuk di ponselnya.
"Take and give, as our promise."
. . .
(waktu kini)
Takeru menatap datar layar mesin ATM tersebut.
Takeru : (mengetuk pelan layar mesin ATM) As our promise.
Setelah selesai mengecek, Takeru segera mengambil kartu ATM lalu mengecupnya.
Takeru : (tersenyum) I'll be having party tonight.
. . .
(flashback)
Dua hari yang lalu.
Jalanan yang sangat sepi dan jarang dilalui orang banyak, menjelang sore hari.
Takeru membetulkan letak kacamata hitamnya saat mendengar suara langkah kaki seseorang mendekat.
BUGH!!
KREK!
Takeru memukul seorang lelaki paruh baya di bagian pipinya. Ia yakin rahang lelaki itu bergeser disusul darah segar yang ikut mengalir dari mulut dan hidungnya.
Lelaki : (meringis) AARGGHH!!!!
BUGH!!
Sekali lagi Takeru melayangkan tinjunya. Kali ini targetnya adalah pipi kiri lelaki itu.
Lelaki : AARRRGGGHH!! Ka--kau! Apa-apaan--
BUGH!!
Kali ini perut lelaki itu.
Lelaki itu sempat tumbang, namun sepertinya ia masih sanggup berdiri.
Takeru : Belum cukup juga, heh?!
Mata Takeru berkeliling, mencari benda yang kira-kira mampu melumpuhkan lelaki itu. Tampak tak jauh darinya, ia melihat sebuah batang kayu besar. Takeru mengambilnya dan...
Takeru : Rasakan ini! Rasakan ini!!
BUGH!! BUGH!! BUGH!!
. . .
(waktu kini)
Takeru mendorong pintu ATM lalu keluar.
Takeru : Semoga laki-laki itu baik-baik saja.
. . .
(flashback)
Dua hari yang lalu, setelah insiden pemukulan.
Ruang pribadi Takeru.
Gelap. Hanya ada satu penerangan yang menyoroti sebuah kanvas besar berlukiskan warna merah hampir menutupi sudut kiri atas.
Takeru : Satu lagi kubawakan oleh-oleh untukmu, kanvasku sayang.
Takeru membuka jaket lalu memegangnya di tangan kanan. Kemudian ia membuka baju lalu memegangnya di tangan kiri. Ia torehkan bercak merah yang melekat di keduanya pada sudut kanan atas kanvas besar itu.
Takeru : (tersenyum sinis) Mimpi indah untukmu, sayang.
. . .
Hari yang sama.
Mesin ATM di sebuah department store, menjelang siang hari.
Takeru mengecek nominal yang tertera di layar.
. . .
(flashback)
Pagi di hari yang sama.
Takeru melihat mail yang baru saja masuk di ponselnya.
"Take and give, as our promise."
. . .
(waktu kini)
Takeru menatap datar layar mesin ATM tersebut.
Takeru : (mengetuk pelan layar mesin ATM) As our promise.
Setelah selesai mengecek, Takeru segera mengambil kartu ATM lalu mengecupnya.
Takeru : (tersenyum) I'll be having party tonight.
. . .
(flashback)
Dua hari yang lalu.
Jalanan yang sangat sepi dan jarang dilalui orang banyak, menjelang sore hari.
Takeru membetulkan letak kacamata hitamnya saat mendengar suara langkah kaki seseorang mendekat.
BUGH!!
KREK!
Takeru memukul seorang lelaki paruh baya di bagian pipinya. Ia yakin rahang lelaki itu bergeser disusul darah segar yang ikut mengalir dari mulut dan hidungnya.
Lelaki : (meringis) AARGGHH!!!!
BUGH!!
Sekali lagi Takeru melayangkan tinjunya. Kali ini targetnya adalah pipi kiri lelaki itu.
Lelaki : AARRRGGGHH!! Ka--kau! Apa-apaan--
BUGH!!
Kali ini perut lelaki itu.
Lelaki itu sempat tumbang, namun sepertinya ia masih sanggup berdiri.
Takeru : Belum cukup juga, heh?!
Mata Takeru berkeliling, mencari benda yang kira-kira mampu melumpuhkan lelaki itu. Tampak tak jauh darinya, ia melihat sebuah batang kayu besar. Takeru mengambilnya dan...
Takeru : Rasakan ini! Rasakan ini!!
BUGH!! BUGH!! BUGH!!
. . .
(waktu kini)
Takeru mendorong pintu ATM lalu keluar.
Takeru : Semoga laki-laki itu baik-baik saja.
. . .
(flashback)
Dua hari yang lalu, setelah insiden pemukulan.
Ruang pribadi Takeru.
Gelap. Hanya ada satu penerangan yang menyoroti sebuah kanvas besar berlukiskan warna merah hampir menutupi sudut kiri atas.
Takeru : Satu lagi kubawakan oleh-oleh untukmu, kanvasku sayang.
Takeru membuka jaket lalu memegangnya di tangan kanan. Kemudian ia membuka baju lalu memegangnya di tangan kiri. Ia torehkan bercak merah yang melekat di keduanya pada sudut kanan atas kanvas besar itu.
Takeru : (tersenyum sinis) Mimpi indah untukmu, sayang.
. . .
Kelas Baru
BABAK 9
Koridor kelas 1 lantai 2.
Tampak kepala sekolah Nakata Gakuen, Hiro Asada, sedang menunjukkan ruangan-ruangan yang ada di lantai 2 sekaligus mengantar Akane ke kelas 1-B.
Hiro : Nah, ini kelasnya.
Hiro Asada masuk kelas diikuti Akane.
Hiro : Perhatian semuanya! Saya ucapkan selamat datang kepada kalian karena telah berhasil masuk Nakata Gakuen. Semoga kalian bisa belajar dengan nyaman dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah ini.
. . .
Hiro : Sekarang, saya akan memperkenalkan wali kelas sekaligus guru matematika kalian. Beliau adalah Akane Miyazawa.
Akane : (membungkuk ke arah murid)
Hiro : Karena saya harus menghadiri rapat, selanjutnya saya serahkan kepada Miyazawa-sensei.
Akane : (membungkuk pada Hiro Asada) Terima kasih banyak.
Hiro Asada keluar kelas.
Akane mengedarkan pandangan.
Akane : (dalam hati) Sepi sekali kelas ini.
. . .
Akane : Ohayou gozaimasu!* Perkenalkan, saya Akane Miyazawa. Saya sangat senang bertemu kalian semua. Berhubung saya masih baru di sini, mohon kerja samanya ya.
Murid-murid : (memandang aneh)
Seisi kelas tetap bergeming.
Akane : Oke, saya ingin kalian memperkenalkan diri masing-masing. Mulai dari sebelah kanan saya.
Seorang siswa dengan rambut berantakan berdiri.
Siswa : Daichi Ueda.
Akane : Hanya itu? Baiklah, selain nama, sebutkan nama SMP dan hobi kalian. Jangan lupa, alasan kalian memilih masuk Nakata Gakuen. Ulangi sekali lagi, Ueda-kun**.
Daichi : Daichi Ueda. SMP S. Hobi...tidur. Saya masuk ke sekolah ini karena terpaksa.
Akane : (terkejut) O--oke, Ueda-kun, terima kasih. Silakan duduk kembali. Selanjutnya...
Seorang siswi yang duduk di belakang Daichi Ueda bergeming.
Akane : Maaf, siswi yang duduk di belakang Ueda-kun, silakan perkenalkan dirimu.
Akane : (dalam hati) Siswi yang tadi...
Siswi itu tetap duduk.
Siswi : Arima Sakurai.
Akane : Dari SMP mana, hobi, dan alasan masuk sekolah ini?
Arima : (melihat keluar jendela) . . .
Akane : (dalam hati) GRRRR.... Sabar, Akane, sabarrr....
Akane : Oke, selanjutnya...
--------------------
* Ohayou gozaimasu = selamat pagi (formal)
** -kun = biasanya panggilan untuk anak laki-laki
Koridor kelas 1 lantai 2.
Tampak kepala sekolah Nakata Gakuen, Hiro Asada, sedang menunjukkan ruangan-ruangan yang ada di lantai 2 sekaligus mengantar Akane ke kelas 1-B.
Hiro : Nah, ini kelasnya.
Hiro Asada masuk kelas diikuti Akane.
Hiro : Perhatian semuanya! Saya ucapkan selamat datang kepada kalian karena telah berhasil masuk Nakata Gakuen. Semoga kalian bisa belajar dengan nyaman dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah ini.
. . .
Hiro : Sekarang, saya akan memperkenalkan wali kelas sekaligus guru matematika kalian. Beliau adalah Akane Miyazawa.
Akane : (membungkuk ke arah murid)
Hiro : Karena saya harus menghadiri rapat, selanjutnya saya serahkan kepada Miyazawa-sensei.
Akane : (membungkuk pada Hiro Asada) Terima kasih banyak.
Hiro Asada keluar kelas.
Akane mengedarkan pandangan.
Akane : (dalam hati) Sepi sekali kelas ini.
. . .
Akane : Ohayou gozaimasu!* Perkenalkan, saya Akane Miyazawa. Saya sangat senang bertemu kalian semua. Berhubung saya masih baru di sini, mohon kerja samanya ya.
Murid-murid : (memandang aneh)
Seisi kelas tetap bergeming.
Akane : Oke, saya ingin kalian memperkenalkan diri masing-masing. Mulai dari sebelah kanan saya.
Seorang siswa dengan rambut berantakan berdiri.
Siswa : Daichi Ueda.
Akane : Hanya itu? Baiklah, selain nama, sebutkan nama SMP dan hobi kalian. Jangan lupa, alasan kalian memilih masuk Nakata Gakuen. Ulangi sekali lagi, Ueda-kun**.
Daichi : Daichi Ueda. SMP S. Hobi...tidur. Saya masuk ke sekolah ini karena terpaksa.
Akane : (terkejut) O--oke, Ueda-kun, terima kasih. Silakan duduk kembali. Selanjutnya...
Seorang siswi yang duduk di belakang Daichi Ueda bergeming.
Akane : Maaf, siswi yang duduk di belakang Ueda-kun, silakan perkenalkan dirimu.
Akane : (dalam hati) Siswi yang tadi...
Siswi itu tetap duduk.
Siswi : Arima Sakurai.
Akane : Dari SMP mana, hobi, dan alasan masuk sekolah ini?
Arima : (melihat keluar jendela) . . .
Akane : (dalam hati) GRRRR.... Sabar, Akane, sabarrr....
Akane : Oke, selanjutnya...
--------------------
* Ohayou gozaimasu = selamat pagi (formal)
** -kun = biasanya panggilan untuk anak laki-laki
Friday, July 23, 2010
Ruang Kepala Sekolah
BABAK 8
Dua hari kemudian, hari Senin yang cerah.
Akane berdiri di depan sebuah bangunan cukup megah, Nakata Gakuen.
Lalu Akane melihat bangunan tersebut atas-bawah-kanan-kiri.
Akane : (tersenyum) Haaah...sekolah baru, orang-orang baru, murid-murid baru. Rasanya aku sudah tak sabar lagi.
. . .
Akane : (melihat kanan-kiri gedung) Mmm... kira-kira ruang kepala sekolah di mana ya?
Tiba-tiba ada seorang siswi berjalan mendahului Akane.
Akane : Ah! Hei, tunggu!
Siswi berambut pendek itu berhenti dan menoleh. Akane menghampirinya.
Siswi : (ketus)
Akane : (takut) Mm... maaf, ruang kepala sekolah letaknya di mana?
Siswi : (menggerutu pelan) Tsk! Menyusahkan saja.
Akane : (kaget) Maaf?
Siswi : Ada di lantai dua. Dari tangga, ke arah kanan.
Siswi itu langsung pergi.
Akane : Tidak sopan sekali. Bahkan aku belum sempat mengatakan terima kasih padanya.
. . .
Akane : (mengangkat bahu)
Akane segera melangkah masuk.
Dua hari kemudian, hari Senin yang cerah.
Akane berdiri di depan sebuah bangunan cukup megah, Nakata Gakuen.
Lalu Akane melihat bangunan tersebut atas-bawah-kanan-kiri.
Akane : (tersenyum) Haaah...sekolah baru, orang-orang baru, murid-murid baru. Rasanya aku sudah tak sabar lagi.
. . .
Akane : (melihat kanan-kiri gedung) Mmm... kira-kira ruang kepala sekolah di mana ya?
Tiba-tiba ada seorang siswi berjalan mendahului Akane.
Akane : Ah! Hei, tunggu!
Siswi berambut pendek itu berhenti dan menoleh. Akane menghampirinya.
Siswi : (ketus)
Akane : (takut) Mm... maaf, ruang kepala sekolah letaknya di mana?
Siswi : (menggerutu pelan) Tsk! Menyusahkan saja.
Akane : (kaget) Maaf?
Siswi : Ada di lantai dua. Dari tangga, ke arah kanan.
Siswi itu langsung pergi.
Akane : Tidak sopan sekali. Bahkan aku belum sempat mengatakan terima kasih padanya.
. . .
Akane : (mengangkat bahu)
Akane segera melangkah masuk.
Saturday, July 17, 2010
Both of Them
BABAK 7
Hari yang sama, pukul 2 siang.
Takeru menghirup rokok di teras kamarnya.
Di atas meja kecil tampak sisa-sisa makanan Takeru.
Takeru : Haah, panas sekali hari ini.
Sementara televisi di dalam kamarnya saat ini sedang menampilkan berita dari kalangan pemerintahan. Seorang pejabat baru saja naik pangkat, dan yang ditayangkan dalam berita tersebut adalah pesta besar-besaran untuk merayakan kenaikan pangkat tersebut.
Takeru : (tersenyum sinis) Sepertinya ada yang harus kuberi ucapan selamat.
Takeru memandang langit.
Tiba-tiba ia teringat akan tugasnya. Takeru segera menghabiskan rokoknya, mengenakan jaket, lalu beranjak ke luar kamar.
. . .
Waktu yang sama.
Rumah Haruka Sasaki, ruang tamu.
Akane duduk di dekat jendela memandangi matahari. Tak lama, Haruka datang dan duduk di sebelahnya.
Haruka : Panas, panas, panaaaaas! Aku tidak tahan...
Akane : (tersenyum) Setidaknya masih lebih panas saat musim panas.
Haruka : (mengernyit) Kenapa kau malah tersenyum? Kau senang melihatku kepanasan seperti ini?
Akane : Tidak, tidak, kau salah. Begini, aku bersyukur bisa merasakan panas. Kita tidak akan tahu bagaimana rasanya dingin sebelum merasakan panas. Sebaliknya, kita tidak akan tahu bagaimana rasanya panas sebelum merasakan dingin. Karena keduanya hidup berdampingan dan saling melengkapi.
Haruka : (bingung) Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Tunggu, kenapa tiba-tiba kau jadi seperti ini?
Akane : Seperti apa?
Haruka : Seperti manusia religious.
Akane : Am i?
Haruka : Nah, mulai lagi dia berbicara dengan bahasa yang tak kumengerti. Dasar ibu guru kita yang satu ini, tidak pernah bisa mengerti keadaan sahabatnya, huh!
Akane tertawa.
Akane : (menggumam) Dua hari lagi, aku menjadi guru.
Haruka : Ya, akhirnya tercapai juga impianmu.
Akane : Un.
Hari yang sama, pukul 2 siang.
Takeru menghirup rokok di teras kamarnya.
Di atas meja kecil tampak sisa-sisa makanan Takeru.
Takeru : Haah, panas sekali hari ini.
Sementara televisi di dalam kamarnya saat ini sedang menampilkan berita dari kalangan pemerintahan. Seorang pejabat baru saja naik pangkat, dan yang ditayangkan dalam berita tersebut adalah pesta besar-besaran untuk merayakan kenaikan pangkat tersebut.
Takeru : (tersenyum sinis) Sepertinya ada yang harus kuberi ucapan selamat.
Takeru memandang langit.
Tiba-tiba ia teringat akan tugasnya. Takeru segera menghabiskan rokoknya, mengenakan jaket, lalu beranjak ke luar kamar.
. . .
Waktu yang sama.
Rumah Haruka Sasaki, ruang tamu.
Akane duduk di dekat jendela memandangi matahari. Tak lama, Haruka datang dan duduk di sebelahnya.
Haruka : Panas, panas, panaaaaas! Aku tidak tahan...
Akane : (tersenyum) Setidaknya masih lebih panas saat musim panas.
Haruka : (mengernyit) Kenapa kau malah tersenyum? Kau senang melihatku kepanasan seperti ini?
Akane : Tidak, tidak, kau salah. Begini, aku bersyukur bisa merasakan panas. Kita tidak akan tahu bagaimana rasanya dingin sebelum merasakan panas. Sebaliknya, kita tidak akan tahu bagaimana rasanya panas sebelum merasakan dingin. Karena keduanya hidup berdampingan dan saling melengkapi.
Haruka : (bingung) Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Tunggu, kenapa tiba-tiba kau jadi seperti ini?
Akane : Seperti apa?
Haruka : Seperti manusia religious.
Akane : Am i?
Haruka : Nah, mulai lagi dia berbicara dengan bahasa yang tak kumengerti. Dasar ibu guru kita yang satu ini, tidak pernah bisa mengerti keadaan sahabatnya, huh!
Akane tertawa.
Akane : (menggumam) Dua hari lagi, aku menjadi guru.
Haruka : Ya, akhirnya tercapai juga impianmu.
Akane : Un.
Wednesday, July 14, 2010
Matematika
BABAK 6
Rumah Haruka Sasaki, kamar Haruka.
Haruka masuk kamar dengan membawa segelas susu dan air dingin.
Haruka : Tak kusangka, ternyata kau masih suka susu ya.
Akane : Begitulah. Karena tinggiku masih jaaauh dari target.
Haruka : Memangnya berapa tinggi idealmu?
Akane : Di atas 172 cm.
Haruka : Kau mau jadi model? Kupikir dulu kau ingin menjadi guru.
Akane : Tidak semua orang yang menginginkan tinggi di atas 172 cm itu bercita-cita jadi model kan?
Haruka : Lalu...?
Akane : Yaa... aku hanya ingin tinggi, untuk saat ini.
Haruka : Tinggimu yang sekarang, bagimu, masih kurang?
Akane : Tentu saja.
Haruka : Menurutku, kau yang sekarang dengan tinggi 164 cm pun terlihat lebih baik. Setidaknya itulah dirimu. Akane Miyazawa.
Akane : Ya, ya, terserah kau saja. Aku capai berdebat terus denganmu. Tak akan ada habisnya.
Akane meneguk susunya seperempat.
Haruka : Jadi, nanti kau akan mengajar apa di sekolahmu yang baru?
Akane : Sebenarnya aku ditawarkan mengajar bahasa Inggris dan matematika. Aku tidak mau memilih keduanya, hanya satu yang akan kupilih. Menurutmu bagaimana?
Haruka : Mmm... begini saja. Kau lebih suka bahasa Inggris atau matematika?
Akane : Matematika. Lebih menantang.
Haruka : (melirik Akane) Nah, kalau begitu, sudah diputuskan.
Akane balas melirik Haruka lalu tersenyum.
Rumah Haruka Sasaki, kamar Haruka.
Haruka masuk kamar dengan membawa segelas susu dan air dingin.
Haruka : Tak kusangka, ternyata kau masih suka susu ya.
Akane : Begitulah. Karena tinggiku masih jaaauh dari target.
Haruka : Memangnya berapa tinggi idealmu?
Akane : Di atas 172 cm.
Haruka : Kau mau jadi model? Kupikir dulu kau ingin menjadi guru.
Akane : Tidak semua orang yang menginginkan tinggi di atas 172 cm itu bercita-cita jadi model kan?
Haruka : Lalu...?
Akane : Yaa... aku hanya ingin tinggi, untuk saat ini.
Haruka : Tinggimu yang sekarang, bagimu, masih kurang?
Akane : Tentu saja.
Haruka : Menurutku, kau yang sekarang dengan tinggi 164 cm pun terlihat lebih baik. Setidaknya itulah dirimu. Akane Miyazawa.
Akane : Ya, ya, terserah kau saja. Aku capai berdebat terus denganmu. Tak akan ada habisnya.
Akane meneguk susunya seperempat.
Haruka : Jadi, nanti kau akan mengajar apa di sekolahmu yang baru?
Akane : Sebenarnya aku ditawarkan mengajar bahasa Inggris dan matematika. Aku tidak mau memilih keduanya, hanya satu yang akan kupilih. Menurutmu bagaimana?
Haruka : Mmm... begini saja. Kau lebih suka bahasa Inggris atau matematika?
Akane : Matematika. Lebih menantang.
Haruka : (melirik Akane) Nah, kalau begitu, sudah diputuskan.
Akane balas melirik Haruka lalu tersenyum.
Monday, July 12, 2010
Dasar Akane
BABAK 5
Hari yang sama.
Bandara Internasional Tokyo.
Seorang wanita merentangkan tangannya sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu menghembuskannya.
Akane : Tokyo, aku dataaaang....
Mata Akane berkeliling, menikmati pemandangan orang berlalu-lalang di bandara tersebut. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara seseorang memanggil.
Haruka : Akane...! Akane Miyazawa, Akane Miyazawa!
Akane : (menggumam) Haruka... Sasaki? Haruka Sasaki?! Haru-chan.....!
Haruka : (menoleh) Aka-chan! Ini benar Aka-chan?
Akane : Un. Apa kabar, Haru?
Haruka : (memeluk) Uwa... aku kangen sekali padamu!
Akane : O! Hei, hei, ternyata kau masih kuat seperti dulu ya.
Haruka : Tentu. Aku selalu berlatih setiap hari. Dan kau...tidak berubah, tetap pendek seperti dulu.
Akane : Hei, hei, hei..... begitu ya sikapmu pada teman lamamu.
Haruka : Hehehe... aku bercanda. Dasar Akane, masih sensitif juga ya soal tinggi badan. Hahahaha.....
Akane : Ya, ya, tertawa saja sesukamu sampai kau puas!
Haruka : Duuh, Akane, begitu saja kau marah. Sudah kubilang aku hanya bercanda. Ya sudah, lebih baik sekarang kita langsung ke rumahku saja.
Akane : Un.
Hari yang sama.
Bandara Internasional Tokyo.
Seorang wanita merentangkan tangannya sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu menghembuskannya.
Akane : Tokyo, aku dataaaang....
Mata Akane berkeliling, menikmati pemandangan orang berlalu-lalang di bandara tersebut. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara seseorang memanggil.
Haruka : Akane...! Akane Miyazawa, Akane Miyazawa!
Akane : (menggumam) Haruka... Sasaki? Haruka Sasaki?! Haru-chan.....!
Haruka : (menoleh) Aka-chan! Ini benar Aka-chan?
Akane : Un. Apa kabar, Haru?
Haruka : (memeluk) Uwa... aku kangen sekali padamu!
Akane : O! Hei, hei, ternyata kau masih kuat seperti dulu ya.
Haruka : Tentu. Aku selalu berlatih setiap hari. Dan kau...tidak berubah, tetap pendek seperti dulu.
Akane : Hei, hei, hei..... begitu ya sikapmu pada teman lamamu.
Haruka : Hehehe... aku bercanda. Dasar Akane, masih sensitif juga ya soal tinggi badan. Hahahaha.....
Akane : Ya, ya, tertawa saja sesukamu sampai kau puas!
Haruka : Duuh, Akane, begitu saja kau marah. Sudah kubilang aku hanya bercanda. Ya sudah, lebih baik sekarang kita langsung ke rumahku saja.
Akane : Un.
Sunday, July 11, 2010
Tidak Bisa Kau Lupakan
BABAK 4
Konbini
Begitu masuk konbini, Takeru langsung berjalan menuju tempat di mana di situ banyak mi instan. Diambilnya mi instan 10 buah.
Takeru : Mi instan sepuluh sudah. Hm... tinggal kopi dan beberapa roti saja.
Takeru mengambil beberapa bungkus kopi dan roti sobek. Kemudian ia membawanya menuju kasir. Perempuan penjaga kasir melihatnya takut-takut. Takeru menatapnya tajam lalu tersenyum.
Kasir : Semua jadi 2500 yen.
Takeru : (terpaksa) Ini.
Kasir : Terima kasih banyak. Silakan datang kembali.
Takeru berjalan keluar konbini.
Takeru : (menghela napas) Kenapa harganya begitu mahal?
DRRRT... DRRRT...
Ponsel di sakunya bergetar. Ada mail masuk.
Takeru : (tersenyum sinis)
Konbini
Begitu masuk konbini, Takeru langsung berjalan menuju tempat di mana di situ banyak mi instan. Diambilnya mi instan 10 buah.
Takeru : Mi instan sepuluh sudah. Hm... tinggal kopi dan beberapa roti saja.
Takeru mengambil beberapa bungkus kopi dan roti sobek. Kemudian ia membawanya menuju kasir. Perempuan penjaga kasir melihatnya takut-takut. Takeru menatapnya tajam lalu tersenyum.
Kasir : Semua jadi 2500 yen.
Takeru : (terpaksa) Ini.
Kasir : Terima kasih banyak. Silakan datang kembali.
Takeru berjalan keluar konbini.
Takeru : (menghela napas) Kenapa harganya begitu mahal?
DRRRT... DRRRT...
Ponsel di sakunya bergetar. Ada mail masuk.
"Hal yang tidak bisa dan tidak boleh kau lupakan seumur hidup."
Takeru : (tersenyum sinis)
Berhenti Merokok
BABAK 3
Hari yang sama, siang yang terik.
Takeru berjalan menuju konbini* sambil menyulut rokoknya lalu menghembuskan asapnya. Tiba-tiba ada yang terbatuk.
UHUK! UHUK!
Takeru : (menoleh)
Takeru melihat ada seorang anak perempuan kecil terbatuk akibat rokok yang dihembuskannya. Takeru melihat rokok di tangannya, memutar rokok itu sebentar, lalu membuang dan menginjaknya. Dihampirinya anak perempuan kecil itu.
Takeru : (tersenyum) Kau terbatuk gara-gara rokokku tadi ya. Maafkan aku.
Anak kecil : (menggeleng) Mm. Aku tak apa. Tapi, kata ibuku, rokok itu dapat mengotori paru-paru, tidak baik untuk kesehatan.
Takeru : Begitukah?
Anak kecil : Ya. Jadi, berhentilah merokok.
Takeru : Oke. Akan kucoba ya.
Setelah mengusap kepala anak kecil itu pelan, Takeru kembali melangkahkan kakinya.
Takeru : (bergumam) Berhenti merokok, katanya. (tertawa meremehkan)
Hari yang sama, siang yang terik.
Takeru berjalan menuju konbini* sambil menyulut rokoknya lalu menghembuskan asapnya. Tiba-tiba ada yang terbatuk.
UHUK! UHUK!
Takeru : (menoleh)
Takeru melihat ada seorang anak perempuan kecil terbatuk akibat rokok yang dihembuskannya. Takeru melihat rokok di tangannya, memutar rokok itu sebentar, lalu membuang dan menginjaknya. Dihampirinya anak perempuan kecil itu.
Takeru : (tersenyum) Kau terbatuk gara-gara rokokku tadi ya. Maafkan aku.
Anak kecil : (menggeleng) Mm. Aku tak apa. Tapi, kata ibuku, rokok itu dapat mengotori paru-paru, tidak baik untuk kesehatan.
Takeru : Begitukah?
Anak kecil : Ya. Jadi, berhentilah merokok.
Takeru : Oke. Akan kucoba ya.
Setelah mengusap kepala anak kecil itu pelan, Takeru kembali melangkahkan kakinya.
Takeru : (bergumam) Berhenti merokok, katanya. (tertawa meremehkan)
--------------------
* konbini = toko 24 jam
Friday, July 09, 2010
Bunga Matahari
BABAK 2
Sebuah kamar sempit, menjelang siang hari.
Sinar matahari menyelinap masuk melalui jendela kecil, membangunkan Si Pemilik kamar.
Takeru : (menggeliat) Hoaaahm...
Tangannya meraba-raba tepi kasur, mencari sesuatu. Ponsel.
Ia melihat ponselnya. Pukul 10.40. Takeru menggeliat malas.
KRUYUUK~
Takeru : (memegang perut) Hara heta~*
Takeru berjalan gontai menuju kulkas mini. Ia membukanya dan tidak mendapati apa-apa di sana.
Takeru : (mendengus) Aku lapar, namun tidak ada apa-apa di dalam sana. Bagus sekali.
Saat hendak menutup kulkas, gerakannya terhenti. Ada tempelan kulkas berbentuk bunga matahari. Sekilas ia teringat mimpinya tadi.
Takeru : Bunga matahari. Apa maksud dari mimpi tadi?
* hara heta = laparnya....
Sebuah kamar sempit, menjelang siang hari.
Sinar matahari menyelinap masuk melalui jendela kecil, membangunkan Si Pemilik kamar.
Takeru : (menggeliat) Hoaaahm...
Tangannya meraba-raba tepi kasur, mencari sesuatu. Ponsel.
Ia melihat ponselnya. Pukul 10.40. Takeru menggeliat malas.
KRUYUUK~
Takeru : (memegang perut) Hara heta~*
Takeru berjalan gontai menuju kulkas mini. Ia membukanya dan tidak mendapati apa-apa di sana.
Takeru : (mendengus) Aku lapar, namun tidak ada apa-apa di dalam sana. Bagus sekali.
Saat hendak menutup kulkas, gerakannya terhenti. Ada tempelan kulkas berbentuk bunga matahari. Sekilas ia teringat mimpinya tadi.
Takeru : Bunga matahari. Apa maksud dari mimpi tadi?
--------------------
* hara heta = laparnya....
Tuesday, July 06, 2010
Prolog
BABAK 1
Di ujung sana terdapat sebuah titik kecil berupa sinar.
Takeru : (suara) Apa itu?
Sinar itu semakin besar dan terang, membuat siapapun yang melihatnya memicingkan mata.
Sinar itu berujung pada satu gambar, disusul suara-suara yang luar biasa gaduh.
Takeru : (suara) Bunga matahari?
Di ujung sana terdapat sebuah titik kecil berupa sinar.
Takeru : (suara) Apa itu?
Sinar itu semakin besar dan terang, membuat siapapun yang melihatnya memicingkan mata.
Sinar itu berujung pada satu gambar, disusul suara-suara yang luar biasa gaduh.
Takeru : (suara) Bunga matahari?
Thursday, July 01, 2010
1st Script : "Teman Pertama"
"Teman Pertama"
Sinopsis :
Nanami Uemura, seorang gadis pendiam dan cenderung tertutup, kembali bertemu dengan "teman pertama"-nya, Makoto Hayashibara. Di satu sisi, Nanami sangat senang, apalagi Nanami sudah menyadari perasaannya dengan Makoto. Namun di sisi lain, Nanami juga merasa sedih karena ada satu masalah yang mengganjal di antara mereka. Awalnya, Nanami sudah melupakan masalah itu. Semakin lama, kejadian-kejadian di masa lalu semakin membangkitkan amarah dan membuatnya berbalik memusuhi Makoto. Sampai Pururu, yang juga "teman pertama" Nanami, angkat tangan. Pururu tidak mau lagi mencampuri urusan Nanami. Bagaimanakah Nanami menghadapinya?
Tokoh-tokoh :
- Nanami Uemura : Gadis pendiam dan tertutup. Nanami lebih memilih sendiri daripada bergaul dengan teman-teman yang lain. "Teman pertama" baginya hanyalah Pururu dan Makoto.
- Pururu : Salah satu "teman pertama" Nanami. Pururu sangat mengerti keadaan Nanami. Biarpun sosoknya hanya buatan, namun ia sangat setia berada di samping Nanami.
- Makoto Hayashibara : "Teman pertama" Nanami yang lain. Makoto tidak terlalu serius. Pikirannya sangat sulit ditebak. Ia mempunyai masa lalu yang buruk dengan Nanami.
- Yume Katou : Teman dekat Makoto. Yume adalah gadis yang ceplas-ceplos dan agak ceroboh, namun jika di depan Makoto, sikapnya melembut. Yume sangat menyukai Makoto.
- Irumi Takahara : Pembawaannya tenang dan bijaksana. Instingnya tajam, cepat tanggap, dan mampu meredakan suasana. Irumi merupakan gadis yang sangat setia kawan.
- Naoko Fukuda : Naoko suka memanggil nama orang sesuka hati, tak peduli orang itu akan marah atau tidak. Pembawaannya tenang, cara berpikirnya sederhana, dan cenderung polos. Satu SMP dengan Makoto.
- Remi Uemura : Seorang ibu muda berumur 34 tahun. Remi bekerja sebagai pelayan di sebuah kelab malam. Remi bukanlah tipe ibu rumah tangga yang telaten mengurus rumah. Remi menemukan Nanami sekitar 5 tahun yang lalu dan mengangkatnya sebagai anak.
- Aoi Hayashibara : Adik Makoto yang masih duduk di kelas 3 SMP. Aoi adalah anak yang tomboi dan tegas. Sekali membuat keputusan, ia tidak akan mengubahnya.
- Rika Kawamura : Rika tipe gadis yang stylish dan gemar berdandan. Ia sangat tidak menyukai Nanami karena menurutnya, dulu Nanami pernah merebut pacarnya.
Tokoh Sampingan :
- Kanagawa-sensei : Wali kelas Makoto saat SMA kelas 2-3
- Inoue-sensei : Wali kelas Makoto saat SMP kelas 3-5
- Takeru Yuuji : Salah satu teman sekaligus anak buah Makoto.
- Kanae Iwasaki : Pernah satu SMP dengan Makoto.
- Yuki Hayashibara : Ayah Makoto. Beliau cenderung dingin dan selalu tampak tak peduli. Namun sebenarnya, Beliau sangat menyayangi kedua anaknya.
- Nanako Hayashibara : Ibu Makoto. Seorang ibu yang berhati lembut dan selalu tersenyum.
- Berandalan suruhan Makoto
- Nami, Sachi, dan Keiko
- Tetangga di rumah Nanami : Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah Nanami. Mereka sangat tidak suka dengan keberadaan Remi dan Nanami yang dianggap membawa pengaruh buruk bagi lingkungan di rumah mereka.
- Teman-teman Makoto : Teman dekat Makoto di SMP
Started : December 27th, 2009
Finished : July 1st, 2010
Bisakah Kita Berteman?
BABAK 63
Nanami berjalan menuju pusat kota. Di tangannya terdapat secarik kertas yang merupakan tujuannya kembali.
Tak jauh darinya, ada sebuah kursi taman yang menghadap ke toko hadiah. Nanami memutuskan untuk duduk di sana.
Nanami : Sudah natal ya, hmm...
Nanami meniup-tiup tangannya untuk menghangatkan. Sekali lagi ia merasa seorang diri.
Tiba-tiba...
Makoto : Nana!
Nanami : (kaget) Tidak mungkin, tidak mungkin itu dia.
Nanami : (menoleh ke samping) Mako--
Makoto memeluk Nanami, membenamkan wajahnya di tiap helai rambut Nanami.
Nanami berusaha melepaskan diri, namun Makoto tak mau melepaskan pelukannya.
Makoto : Tolong, sebentar saja, biarkan aku memelukmu seperti ini.
. . .
Makoto : Sudah lama aku mencarimu. Aku sangat khawatir karena tak ada kabar apapun darimu.
Nanami : . . .
Makoto : Tolong jangan pergi lagi. Aku mohon.
Nanami melepaskan pelukan Makoto.
Nanami : Aku kembali bukan untuk ini. Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan, salah satunya adalah... (menunjukkan secarik kertas)
Makoto : Apa itu?
Nanami : (memberikan kertas itu pada Makoto)
Makoto : Untukku?
Nanami : (mengangguk)
Makoto : Puisi untuk dia...
Setelah selesai membaca...
Makoto : (menatap Nanami)
Nanami : (mengambil napas lalu menghembuskan) Aku punya teman, pun tidak punya teman. Dialah Pururu. Karena Pururulah aku bisa bertahan dalam kesendirian. Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan kesendirian.
. . .
Nanami : Suatu saat, orang itu datang menawarkan pertemanan. Aku sangat senang. Dia "teman pertama" bagiku. Semua berjalan seperti yang kuharapkan, sampai satu hari aku mendengarnya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya tak dapat lagi kucerna, namun aku masih bisa menangkap maksud di balik kata-katanya itu : dia tidak menyukaiku. Dia tidak menganggapku sebagai teman.
Makoto : (sedih) Aku-- aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf.
Nanami : Aku sudah memaafkanmu, sungguh. Tapi semua tidak bisa kembali seperti semula.
Makoto : Di puisi ini kau bilang--
Nanami : Aku tau. Aku mengerti. Kuharap kau pun mengerti keputusanku.
Makoto : (diam sejenak) Baiklah, akan kucoba.
Nanami dan Makoto menatap salju yang berjatuhan. Udara semakin dingin.
Makoto : Kau tinggal di mana sekarang?
Nanami : Maaf, tidak bisa kuberitahu.
Makoto : Meskipun pada temanmu sendiri?
. . .
Makoto : Oke, bagaimana kalau kita mulai dari awal. Hai, namaku Makoto Hayashibara. Bisakah kita berteman?
Nanami : (tersenyum) Aku Nanami Uemura. Aku ini perempuan yang sedikit menyebalkan. Aku ragu apakah kau masih mau berteman denganku.
Makoto : Jangan khawatir, aku lebih menyebalkan darimu. Jadi, kita berteman?
Nanami : Un.
Makoto : Karena kita sudah berteman, beritahu aku tempat tinggalmu.
Nanami : Tidak bisa.
Makoto : Dasar curang. Pokoknya kau harus memberitahuku. Oh ya, siapa itu Pururu?
Nanami : Ibuku.
Makoto : Ibumu? Bukankah Ibumu sudah meninggal?
Nanami : Ya, dia ibuku.
Makoto : Mmm... Kau membuatku bingung.
Nanami : Hahaha...
Nanami dan Makoto beranjak, mulai menelusuri jalan kembali.
Makoto : Habis ini, kau mau ke mana?
Nanami : Menemui ibuku.
Makoto : (bingung) Ke makam ibumu?
Nanami : Kau lupa, ibuku ada dua?
Makoto : O--oh...maksudmu Remi Uemura-san... Dasar kau ini, senang membuat orang lain bingung.
Nanami : Sudah kubilang, aku ini perempuan yang sedikit menyebalkan.
Makoto : Bukan sedikit, tapi sangat menyebalkan.
Makoto bersiap memukul kepala Nanami. Nanami segera berlari diikuti Makoto di belakangnya.
Makoto : Hei, tunggu! Awas kau ya...
Nanami berjalan menuju pusat kota. Di tangannya terdapat secarik kertas yang merupakan tujuannya kembali.
Tak jauh darinya, ada sebuah kursi taman yang menghadap ke toko hadiah. Nanami memutuskan untuk duduk di sana.
Nanami : Sudah natal ya, hmm...
Nanami meniup-tiup tangannya untuk menghangatkan. Sekali lagi ia merasa seorang diri.
Tiba-tiba...
Makoto : Nana!
Nanami : (kaget) Tidak mungkin, tidak mungkin itu dia.
Nanami : (menoleh ke samping) Mako--
Makoto memeluk Nanami, membenamkan wajahnya di tiap helai rambut Nanami.
Nanami berusaha melepaskan diri, namun Makoto tak mau melepaskan pelukannya.
Makoto : Tolong, sebentar saja, biarkan aku memelukmu seperti ini.
. . .
Makoto : Sudah lama aku mencarimu. Aku sangat khawatir karena tak ada kabar apapun darimu.
Nanami : . . .
Makoto : Tolong jangan pergi lagi. Aku mohon.
Nanami melepaskan pelukan Makoto.
Nanami : Aku kembali bukan untuk ini. Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan, salah satunya adalah... (menunjukkan secarik kertas)
Makoto : Apa itu?
Nanami : (memberikan kertas itu pada Makoto)
Makoto : Untukku?
Nanami : (mengangguk)
Makoto : Puisi untuk dia...
Setelah selesai membaca...
Makoto : (menatap Nanami)
Nanami : (mengambil napas lalu menghembuskan) Aku punya teman, pun tidak punya teman. Dialah Pururu. Karena Pururulah aku bisa bertahan dalam kesendirian. Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan kesendirian.
. . .
Nanami : Suatu saat, orang itu datang menawarkan pertemanan. Aku sangat senang. Dia "teman pertama" bagiku. Semua berjalan seperti yang kuharapkan, sampai satu hari aku mendengarnya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya tak dapat lagi kucerna, namun aku masih bisa menangkap maksud di balik kata-katanya itu : dia tidak menyukaiku. Dia tidak menganggapku sebagai teman.
Makoto : (sedih) Aku-- aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf.
Nanami : Aku sudah memaafkanmu, sungguh. Tapi semua tidak bisa kembali seperti semula.
Makoto : Di puisi ini kau bilang--
Nanami : Aku tau. Aku mengerti. Kuharap kau pun mengerti keputusanku.
Makoto : (diam sejenak) Baiklah, akan kucoba.
Nanami dan Makoto menatap salju yang berjatuhan. Udara semakin dingin.
Makoto : Kau tinggal di mana sekarang?
Nanami : Maaf, tidak bisa kuberitahu.
Makoto : Meskipun pada temanmu sendiri?
. . .
Makoto : Oke, bagaimana kalau kita mulai dari awal. Hai, namaku Makoto Hayashibara. Bisakah kita berteman?
Nanami : (tersenyum) Aku Nanami Uemura. Aku ini perempuan yang sedikit menyebalkan. Aku ragu apakah kau masih mau berteman denganku.
Makoto : Jangan khawatir, aku lebih menyebalkan darimu. Jadi, kita berteman?
Nanami : Un.
Makoto : Karena kita sudah berteman, beritahu aku tempat tinggalmu.
Nanami : Tidak bisa.
Makoto : Dasar curang. Pokoknya kau harus memberitahuku. Oh ya, siapa itu Pururu?
Nanami : Ibuku.
Makoto : Ibumu? Bukankah Ibumu sudah meninggal?
Nanami : Ya, dia ibuku.
Makoto : Mmm... Kau membuatku bingung.
Nanami : Hahaha...
Nanami dan Makoto beranjak, mulai menelusuri jalan kembali.
Makoto : Habis ini, kau mau ke mana?
Nanami : Menemui ibuku.
Makoto : (bingung) Ke makam ibumu?
Nanami : Kau lupa, ibuku ada dua?
Makoto : O--oh...maksudmu Remi Uemura-san... Dasar kau ini, senang membuat orang lain bingung.
Nanami : Sudah kubilang, aku ini perempuan yang sedikit menyebalkan.
Makoto : Bukan sedikit, tapi sangat menyebalkan.
Makoto bersiap memukul kepala Nanami. Nanami segera berlari diikuti Makoto di belakangnya.
Makoto : Hei, tunggu! Awas kau ya...
- T A M A T -
Subscribe to:
Posts (Atom)