BABAK 5
Hari dan waktu yang sama.
Lapangan bola.
Pururu : (menghilang)
Makoto : (berjalan ke arah Nanami)
Nanami : Dia ke sini! Aduuh, bagaimana ini? (melihat ke samping namun tak mendapati Pururu di sana) Aaah, saat dibutuhkan, dia malah pergi.
Makoto : (tersenyum) Ini punyamu?
Nanami : (pikiran kosong) . . .
Makoto : (ragu-ragu) Apa kertas ini punyamu?
Nanami : A-- Ah! Iya, kucari-cari dari tadi. Untung kau menemukannya. Terima kasih banyak.
Makoto : Sama-sama. Lain kali hati-hati ya. Akhir-akhir ini angin berhembus sangat kencang.
Nanami : Ya, kau benar.
Makoto : Boleh aku duduk di sini?
Nanami : Un.
Semilir angin berhembus pelan.
Makoto : (menarik napas lalu menghembuskannya) Haaah...sejuknya!
Nanami : . . .
Makoto : Sudah lama ya kita tidak duduk-duduk seperti ini, bercengkrama sambil melihat matahari terbenam.
Nanami : Ya, sudah lamaa sekali.
Makoto : Sejak kapan ya kira-kira?
Nanami : Mmm... SMP?
Makoto : Kelas tiga.
Nanami & Makoto : (tersenyum)
. . .
Makoto : (melirik kertas Nanami) Itu untuk siapa?
Nanami : Bukan untuk siapa-siapa.
Makoto : (ragu-ragu) Boleh untukku?
Saat itu juga, Nanami merasa waktu berhenti.
Alangkah lebih baik jika waktu terus berhenti seperti ini.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka.
Makoto : Yume?
Yume : (terengah-engah) Ternyata...ada...di sini... Aku mencarimu...sejak tadi...
Yume : (melihat Nanami) Ah! Selamat siang. Aku Yume Katou.
Nanami : Selamat siang. Aku Nanami Uemura. Senang berkenalan denganmu.
Yume : Senang berkenalan denganmu. (teringat sesuatu) Ah! Hampir saja aku lupa! Kanagawa-sensei menyuruhmu datang ke kantor guru. Sekarang.
Makoto : Ada apa Kanagawa-sensei mencariku?
Yume : (menarik Makoto) Sudahlah, ayo! Maaf ya, Nana-chan.
Nanami : Ya, tidak apa-apa.
Setelah Makoto dan Yume pergi,
Nanami : Haaahh...hampir saja.
Thursday, December 31, 2009
Wednesday, December 30, 2009
Puisi Ini untuk Dia?
BABAK 4
Keesokan harinya.
Nanami melihat Makoto berlatih sepak bola.
Tiba-tiba matanya tertuju pada secarik kertas di tangannya.
Pururu : Apa itu?
Nanami : (terkejut) Hah, apa? O-- Oh, ini maksudmu?
Pururu : (mencoba membaca kertas itu)
Nanami : (menarik kertas itu jauh-jauh dari Pururu) Eeeh, jangan dibaca! Malu tau!
Biarpun kertas itu sudah dijauhkan, tetap saja Pururu bisa membacanya.
Pururu : Puisi untuk dia. Dia?
Nanami : (muka memerah)
Pururu : (menunjuk Makoto) Dia?
Nanami : (panik) Ah, jangan tunjuk-tunjuk begitu! Nanti orangnya tau.
Pururu : Puisi ini untuk dia?
Nanami : Iya.
Pururu : Jadi pada akhirnya, kau mau menyatakan perasaanmu (jeda sejenak) padanya?
Nanami : Bukan seperti yang kau bayangkan. Aku hanya membuat puisi ini, tapi tidak untuk diberikan padanya.
Pururu : (pandangan kosong) Oh. Lantas?
Nanami : Yah, hanya sekedar menyalurkan hobi.
Pururu : Hmm... Tapi, kau tetap ingin dia tau kan, perasaanmu.
Nanami : (menatap Pururu) Menurutmu?
Pururu : . . .
Tiba-tiba angin berhembus, menerbangkan kertas itu ke tengah lapangan.
Bersamaan dengan itu, Makoto berlari untuk mengambil bola yang letaknya tak jauh dari kertas itu jatuh.
Makoto : (mengambil bola lalu kertas Nanami)
Makoto : (tengok kanan-kiri mencari pemilik kertas itu)
Makoto : (melihat Nanami)
Nanami : (menahan napas) Bagaimana ini?
Keesokan harinya.
Nanami melihat Makoto berlatih sepak bola.
Tiba-tiba matanya tertuju pada secarik kertas di tangannya.
Pururu : Apa itu?
Nanami : (terkejut) Hah, apa? O-- Oh, ini maksudmu?
Pururu : (mencoba membaca kertas itu)
Nanami : (menarik kertas itu jauh-jauh dari Pururu) Eeeh, jangan dibaca! Malu tau!
Biarpun kertas itu sudah dijauhkan, tetap saja Pururu bisa membacanya.
Pururu : Puisi untuk dia. Dia?
Nanami : (muka memerah)
Pururu : (menunjuk Makoto) Dia?
Nanami : (panik) Ah, jangan tunjuk-tunjuk begitu! Nanti orangnya tau.
Pururu : Puisi ini untuk dia?
Nanami : Iya.
Pururu : Jadi pada akhirnya, kau mau menyatakan perasaanmu (jeda sejenak) padanya?
Nanami : Bukan seperti yang kau bayangkan. Aku hanya membuat puisi ini, tapi tidak untuk diberikan padanya.
Pururu : (pandangan kosong) Oh. Lantas?
Nanami : Yah, hanya sekedar menyalurkan hobi.
Pururu : Hmm... Tapi, kau tetap ingin dia tau kan, perasaanmu.
Nanami : (menatap Pururu) Menurutmu?
Pururu : . . .
Tiba-tiba angin berhembus, menerbangkan kertas itu ke tengah lapangan.
Bersamaan dengan itu, Makoto berlari untuk mengambil bola yang letaknya tak jauh dari kertas itu jatuh.
Makoto : (mengambil bola lalu kertas Nanami)
Makoto : (tengok kanan-kiri mencari pemilik kertas itu)
Makoto : (melihat Nanami)
Nanami : (menahan napas) Bagaimana ini?
Puisi untuk Dia
Hanya malam ini saja
aku bicara blak-blakan
Jadi tolong dengarkan aku baik-baik
dan jangan minta aku untuk mengulang
Aku memang menyukaimu
Entah sejak kapan
Padahal kita teman, bukan?
Sebisa mungkin aku menahan
untuk tidak bertemu
atau menatap matamu
Karena itu membuatku takut
jika nanti aku jadi menyukaimu
Tapi, aku memang menyukaimu
Entah mendapat keberanian dari mana
sampai aku bisa menyampaikannya
melalui kata-kata
Aku hanya ingin kau tahu
bahwa aku menyukaimu,
tidak lebih
Dan benar,
aku memang menyukaimu
Berapa kalipun akan kuucapkan
meski kau tak meminta
atau mengharapkan ucapan ini
Tapi aku hanya ingin
mengatakannya padamu
Saat ini
Detik ini
Hanya malam ini saja
"Aku menyukaimu."
Apakah kau mendengarnya?
This poem's related to Nanami and Makoto's story
This poem's related to Nanami and Makoto's story
Aku Tetap Peduli
BABAK 3
Seminggu kemudian.
Teras rumah Nanami, sore hari.
Pururu : Hei, ada apa dengan wajahmu? Bersemangatlah!
Nanami : (datar) Aku tidak bisa menghapusnya.
Pururu : Kau-- apa?
Nanami : Kubilang aku tidak bisa menghapusnya, (diam sejenak) atau menjauhinya.
Pururu : (kecewa) Mengapa tidak bisa?
Nanami : Karena aku butuh dia. Setidaknya sebagai teman, aku butuh dia.
Pururu : (memandang Nanami) Apa kau tahu mengapa aku menyuruhmu melakukan hal itu?
Nanami : . . .
Pururu : Karena aku tidak mau kau sakit hati. Aku tidak mau melihat kau terluka dan bersedih.
Nanami : Aku sedih, terluka, atau sakit hati pun itu bukan urusanmu.
Pururu : (kesal) Meskipun itu bukan urusanku, tapi aku tetap peduli. Tolong mengertilah.
Nanami : Terima kasih. Aku sangat berterima kasih. Tapi aku tak bisa karena aku MEMANG menyukainya. Apapun yang kulakukan tidak akan mengubah kenyataan itu.
Pururu : (merengut) 바보.*
Nanami : (melirik Pururu) Aku tahu. Kau mengataiku bodoh kan. Jangan kau pikir aku akan diam saja setelah kau mengataiku bodoh. Aku akan membalasnya suatu hari...
Pururu : (kaget)
Nanami : ...baka.
Pururu : . . .
Nanami : Hmphf... hahahaha....
Pururu : (tersenyum) Hahahaha....
Mereka tertawa bersama sepanjang sore itu.
*) babo [what a fool]
*) babo [what a fool]
Sudah Biasa
Aku sudah biasa
Jadi, jangan kau suruh aku
melarikan diri
atau menyerah
Cukup kepalkan tanganmu
dan katakan, "Semangat!!"
Maka aku akan berjuang
semampu yang aku bisa
Karena aku sudah biasa
Jadi kumohon,
biarkan aku berjuang
"SEMANGAT!!!"
Titah Sang Putri
Di sebuah kerajaan
tinggallah seorang pangeran
Ya, di luar dia memang seorang pangeran
tapi di dalam dia adalah seorang putri
Sang Putri tidak bisa bermain seenaknya di luar istana
Dipilihlah beberapa pengawal
untuk melindungi sang putri
Mereka selalu bermain bersama
Sang Putri pun tak lagi menganggap mereka sebagai pengawal
Mereka memang pengawal,
pengawal bukan pengawal
Suatu hari
Sang Putri mengeluarkan titahnya
"Aku tidak menginginkan mereka sebagai pengawalku.
Mulai sekarang, mereka bukan lagi pengawalku,
bukan pengawalku."
Para pengawal entah harus merasa senang atau tidak
Namun, sepanjang Sang Putri senang,
mereka pun ikut merasa senang
Pengawal bukan pengawal,
itulah sebutan mereka sekarang
Setelah itu, mereka terus berada di sisi Sang Putri
Bertahun-tahun mereka menemani Sang Putri
Bercanda tawa, bersenda gurau,
bertamasya, bernyanyi
Mereka selalu bersama
Semua hidup damai dan tentram
Sampai pada satu hari,
saat Sang Putri kembali mengeluarkan titahnya
"Aku termasuk orang yang kejam
jika terus menahan dan mengurung kalian di istana ini.
Kalian kubebaskan. Pergilah ke manapun kalian suka."
Para pengawal bukan pengawal pun bertanya-tanya,
"Ada apa gerangan dengan Sang Putri?"
Saat itu juga, para pengawal bukan pengawal dibebaskan
Sang Putri mengantar kepergian mereka dengan senyuman tulus
Mereka pun pergi meski masih dipenuhi tanda tanya
Sang Putri kembali sendiri
"Tidak apa-apa. Aku tidak akan apa-apa.
Aku kuat. Benar begitu bukan, Ayah, Ibu?"
Ditatapnya foto kedua orangtuanya
Sang Putri pun menangis
Ia berjanji akan memendamnya sendiri
selamanya
"Selamat jalan, pengawal bukan pengawalku.
Selamat tinggal."
Monday, December 28, 2009
Pernah Dengar Sebuah Pepatah?
BABAK 2
Hari berikutnya.
Koi Park, pagi hari.
Nanami : (menepuk bahu seseorang)
Pururu : (terkejut lalu tersenyum) Ada apa?
Nanami : Kurasa kau benar.
Pururu : Tentang?
Nanami : Melupakannya. Tapi kurasa akan sulit. Pernah dengar sebuah pepatah? Semakin ingin melupakan, akan semakin mengingatnya.
Pururu : (tersenyum) Kau pun pernah mendengar sebuah pepatah? Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kau pasti bisa. Aku yakin.
Nanami : (menatap ragu) Kau yakin?
Pururu : (mengangguk) Sangat yakin.
Nanami : Aku akan mencoba (diam lalu dengan nada sedih melanjutkan) melupakannya.
Pururu : Jangan memasang wajah seperti itu. (mengepalkan tangan) Ayolah, tunjukkan semangatmu!
Nanami : (tersenyum) Arigatou.
Pururu : Ari-- apa?
Nanami : (tersenyum sambil lalu)
Hari berikutnya.
Koi Park, pagi hari.
Nanami : (menepuk bahu seseorang)
Pururu : (terkejut lalu tersenyum) Ada apa?
Nanami : Kurasa kau benar.
Pururu : Tentang?
Nanami : Melupakannya. Tapi kurasa akan sulit. Pernah dengar sebuah pepatah? Semakin ingin melupakan, akan semakin mengingatnya.
Pururu : (tersenyum) Kau pun pernah mendengar sebuah pepatah? Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kau pasti bisa. Aku yakin.
Nanami : (menatap ragu) Kau yakin?
Pururu : (mengangguk) Sangat yakin.
Nanami : Aku akan mencoba (diam lalu dengan nada sedih melanjutkan) melupakannya.
Pururu : Jangan memasang wajah seperti itu. (mengepalkan tangan) Ayolah, tunjukkan semangatmu!
Nanami : (tersenyum) Arigatou.
Pururu : Ari-- apa?
Nanami : (tersenyum sambil lalu)
Sunday, December 27, 2009
It's Over, Madam
BABAK 1
Lapangan sepak bola, sore hari.
Pururu : Hei, biar kutebak!
Lapangan sepak bola, sore hari.
Pururu : Hei, biar kutebak!
Nanami : Apa?
Pururu : Kau menyukainya?
Nanami : Maaf?
Pururu : Apakah kau menyukainya?
Nanami : . . .
Pururu : (tersenyum) Ternyata kau memang menyukainya.
Nanami : Bagaimana kau bisa tahu?
Pururu : Terlihat di wajahmu. Tertulis di sana, "Aku suka dia", apakah aku salah?
Nanami : Tidak, kau benar, aku memang menyukainya.
Pururu : Ternyata aku benar. (ragu-ragu) Boleh kuberi saran?
Nanami : (menatap penuh tanya, lalu mengangguk)
Pururu : Kau menyukainya?
Nanami : Maaf?
Pururu : Apakah kau menyukainya?
Nanami : . . .
Pururu : (tersenyum) Ternyata kau memang menyukainya.
Nanami : Bagaimana kau bisa tahu?
Pururu : Terlihat di wajahmu. Tertulis di sana, "Aku suka dia", apakah aku salah?
Nanami : Tidak, kau benar, aku memang menyukainya.
Pururu : Ternyata aku benar. (ragu-ragu) Boleh kuberi saran?
Nanami : (menatap penuh tanya, lalu mengangguk)
Pururu : Jauhi dia dan hapuslah perasaan itu.
Nanami : (kaget) Mengapa?
Pururu : Karena kau harus.
Nanami : Mengapa?
Pururu : (menggumam) 친구라서 사랑하면 안 돼요.*
Nanami : Maaf, aku tak mengerti bahasa--
Pururu : (menghilang)
Nanami : --mu. (terheran-heran)
Suara Pururu : It's over, Madam. Just erase it, immediately.
*) chinguraseo saranghamyeon an dwaeyo [if it's friend, you don't have to love to]
*) chinguraseo saranghamyeon an dwaeyo [if it's friend, you don't have to love to]
Unfinished poem
Menunggu seperti ini
aku tak bisa berkata apa-apa
Yang kulakukan hanya
duduk termangu
sambil membayangkan
akan menjadi hari seperti apakah nanti
Aku sangsi
Perasaanku tidak enak
Tapi tetap aku tak bisa mengucap kata
Lebih baik diam bukan?
Tiba-tiba
. . .
. . .
Friday, December 25, 2009
Yume
Saat dia bicara,
aku tak mengindahkan
Dia pun menatapku
Tatapan yang aneh
Lalu melanjutkan bercerita
Lega
Saat aku bicara,
dia menganggapku tak ada
Dipalingkan wajahnya,
mengacuhkanku
Apa peduliku?
Ya, apa peduliku?
Thursday, December 24, 2009
Kumohon
Aku ingin mendengarnya
lagi
lagi
lagi
Kumohon,
buatlah ia tertawa
Hentikan tangisnya,
kumohon
Lagi
Kuingin mendengarnya
kumohon
Bukan Definisi "Hidup"
Hidup itu unik
Meminta apa, diberikan apa
Berharap apa, dikabulkan apa
Terlalu banyak, kurasa
Tidakkah merasa cukup
dengan apa yang dipunya?
Tidakkah merasa puas
atas apa yang telah diberi?
Terus meminta dan memohon
Sudahkah berterima kasih?
Tunggu,
bukankah itu definisi manusia?
Ini Bukanlah Akhir
Aku benar-benar tak mengerti
jalan pikiran mereka
Saling menyakiti satu sama lain,
apa untungnya?
Ingin rasanya aku mendengar
sebuah tawa tulus
Perasaan senang dan bahagia
pun ikut di dalamnya
Kenyataannya?
Apakah ini sebuah akhir?
Sesuatu yang Biasa Bagiku
Benda itu sangat bagus
berkilauan
tak ada duanya
Semua orang ingin memilikinya
memujinya tanpa henti
dan ingin menyentuhnya
Aku pun menyeringai
Pujian itu
membuatku ingin muntah
Cara mereka mengelu-elukan
membuatku muak
Tak bisakah mereka bersikap biasa saja?
Andaikan benda itu kuhancurkan
dan kuinjak-injak,
akankah kalian
berhenti memujinya?
(2009년12월22일)
Inilah Hobiku
Jari-jari ini
tak mau berhenti bergerak,
terus menggoreskan kata-kata
di atas secarik kertas
Menuangkan isi otak :
keegoisan
penyesalan
kegelapan
Apapun digoreskannya
sampai nanti
kala jari-jari ini
tak dapat digerakkan lagi
Itulah akhir sesungguhnya
(2009년12월22일)
What A Sad Deja Vu
Teriakan itu
lebih keras
lebih tajam
dan lebih menyakitkan
Teriakan itu
membuatku berpikir
seperti diingatkan
kejadian yang sama
Deja vu yang menyedihkan
(2009년12월22일)
(2009년12월22일)
Monday, December 21, 2009
Kind of Feeling
sometimes
when i see the clouds,
it is same as when i'm looking at you
comfortable
relieved
blank
like i have nothing to do
like i have my own world
can you believe it?
this kind of feeling
can you feel it?
me?
of course, i do
how about you?
Teriakku
apa yang kulihat
tidak benar
apa yang kudengar
pun tidak benar
semua
sama sekali tidak benar
lalu
kenapa kamu percaya?
anggap saja angin lalu
biarkan itu lalui pendengaranmu
lalui pemikiranmu
lalui perasaanmu
jangan percaya hal itu!
itulah teriakku
Sunday, December 20, 2009
Inilah Jawabku
kemarahan itu
pertengkaran itu
kesedihan itu
rasa sakit itu
apa yang bisa kulihat?
mataku tertutup
hatiku terkunci
ragaku bersembunyi
apakah itu memang takdir?
atau
karena aku
yang berpura-pura buta?
Tuesday, December 15, 2009
The End
structure
composition
meaning
oh my God,
understand it!
remember it!
make it quick
the deadline is tomorrow
oh my God . . .
you will make it,
won't you?
yup, i promise myself
if i won't,
. . . .
Monday, December 14, 2009
Just Playing Around Here
what should i do?
i knew it
i can paint that wall in front me
i will paint it all
there's nothing to be left
i will choose the colorful one
it will be the great wall
they have ever seen
i can write some poem's
i will say all i want to say on it
don't care about critical
nor praise
i just want to make it,
just want to share my thought
i can scream as loud as i can
until my last breath if i want
scream out loud
"AAARRRGGHHH...!!"
or "YAHOOOO...!!"
then i will continue it
"CAN YOU HEAR ME?"
although there's no one answer me,
i don't care
i can sing my favorite song
with my discordant voice
all of my favorite song
while i'm singing,
i'm also dancing
happily
as if there's no more problem
to be thought
and this poem
it's just my imagination,
my fool thoughts,
and my playing
there's no finish line
because someday
i will repeat it once again
or rewrite it better than before
there's no finish line,
is it?
Thursday, December 10, 2009
Before
Dia bukan dia
Mereka bukan mereka
Temanku bukan temanku
MEREKA beda!
Ini salahku
atau salah mereka?
Mungkin ini salahku
Semua salahku
Tuesday, December 08, 2009
Mereka-aku Gila?
Di mana aku?
Kulihat kanan,
tembok
Kulihat kiri,
tembok
Depan belakangku,
tembok
Tembok-tembok itu menjulang tinggi
Tak ada celah untukku melihat
Rapat
Ketat
"Tunggu!"
Kututup mataku
Tak kudengar kata, "Aduh!"
atau "Argh!"
Mereka menembusnya,
tembok itu
Tidak hanya mereka,
yang lain pun . . .
Tidak mengerti
Aku-tidak-mengerti,
sama sekali
Tidak sadarkah MEREKA?
Atau AKU yang sudah GILA?
Subscribe to:
Posts (Atom)