Saturday, April 17, 2010

Berakhir dengan Lebam di Pipi

BABAK 35

Hari yang sama.
Yume menelusuri sepanjang jalan. Hari sudah agak gelap. Terlintas di benaknya saat ia bertemu dengan Kanae Iwasaki beberapa hari yang lalu.

. . .

Ureshii Cafe

Kanae : Kurasa sejak saat itu, ada yang aneh menimpa diri Uemura.
Yume : Sesuatu yang aneh? Maksudmu?
Kanae : Aku juga tak begitu mengerti, tapi sejak berteman dengan Hayashibara, Uemura seperti mendapatkan kemalangan beruntun. Dia sering dikerjai anak-anak lain. Uangnya pun sering diambil paksa dan biasanya berakhir dengan lebam di pipi atau tangannya. Tidak ada yang membelanya saat itu karena Uemura memang seorang penyendiri.
Yume : . . .
Kanae : Meskipun dalam keadaan seperti itu, Hayashibara tetap berada di samping Uemura. Selalu menemaninya menghadapi musibah itu.
Yume : Bagaimana dengan Makoto sendiri? Apa dia tak apa-apa selalu berada di dekat Uemura? Apakah dia juga ikut dikerjai?
Kanae : Tidak, Hayashibara baik-baik saja. Tidak ada seorangpun yang mengerjai dirinya. Ah! Ada hal aneh lain lagi yang kuingat.
Yume : Apa?
Kanae : Semakin akrab dengan Hayashibara, musibah yang dialami Uemura semakin parah. Pernah suatu hari, Uemura datang ke sekolah dengan dengan luka memar hampir di sekujur tubuhnya. Sepanjang hari itu, ia tidak bicara pada siapapun, termasuk Makoto.

. . .

Sepanjang perjalanan pulang. Langkah Yume terhenti sejenak.

Yume : (dalam hati) Apakah ini semua berhubungan dengan kedekatan Makoto terhadap Uemura? Uemura mengalami itu semua disebabkan oleh cewek-cewek yang menyukai Makoto saat itu?

Alis Yume mengerut.

Yume : (dalam hati) Atau penyebabnya lebih parah dari yang kubayangkan? Bagaimana hal itu bisa menimpa Uemura? 
. . .
Yume : (menggaruk-garuk kepala) Aah... semakin dipikirkan, semakin membuat kepalaku pusing.

Kemudian Yume kembali melangkahkan kakinya menuju rumah.

No comments:

Post a Comment