Monday, August 01, 2011

Bismillah

Wahai sahabat,
kau tahu,
Allah menyayangimu
sama halnya ibumu menyayangimu
bahkan lebih besar lagi?

Sahabat,
kau tahu,
Allah tahu kau pasti mampu
Allah percaya padamu
kau pasti bisa?

Percayalah itu

Bismillah
Ucapkan itu selalu
dan berdoa
Kau pasti bisa
Kau mampu

Bismillah
Semoga kau dapatkan cahayamu kembali
Cahaya dari-Nya
untuk mencerahkanmu kembali
'tuk buatmu tersenyum lagi

Bismillah



1 Agustus 2011 - 05.51

Titik Awal

awal itu pun merangkak naik
tak ada satu pun yang tahu
titik di ujung jalan
namun tetap
kaki ini melangkah pasti
dengan percaya diri
tanpa rasa takut
biarlah semua itu mengalir
toh semua awal
mengawali awal berikutnya
mengawali langkah berikutnya
meski tak ada yang tahu
dan ada langkah ragu
namun tetap
kusambut awal itu
dengan senyuman


19 Juli 2011 - 23.25

Hancur

pilar itu menyambutku
dan mengawali semuanya

satu demi satu kutelusuri
dan berujung pada bangunan mewah
bermandikan cahaya

di sana berdiri
seorang yang tak asing
aku sangat mengenalnya

kusambutnya dengan senyum
sudah lama ya

bah!
tentu saja kata itu terhenti di ujung lidah

tangannya terulur
sebuah puzzle
hancur

aku tak butuh

dia mendengarku
"hancur itu bukan hal buruk..."
aku pun mengernyit
"...dari kehancuran, kita banyak belajar"

oh.
datar

aku tak peduli
aku tak mendengar

tersenyum
itu jawabnya

pilar itu menjauh
dan menutup
yang kuyakin
akan mengawali sekali lagi



15 Juli 2011 - 21.02

Sunday, April 03, 2011

Siapa Kau?

BABAK 36

Keesokkan harinya.
Akane tiba di sekolah lebih awal. Ternyata sudah ada yang menunggunya di gerbang sekolah.

Akane : (dalam hati) Akira? Mau apa lagi dia?

Mendengar suara langkah kaki, Akira mendongak. Sedangkan Akane segera mempercepat langkahnya.

Akira : (dingin) Kenapa kemarin kau tidak datang, sensei?

Langkah Akane terhenti. Sejurus kemudian, Akira mendekat dan berjalan mengitari Akane.

Akane : (menghela napas) Bicaralah sekarang. Waktuku tak banyak, jadi tolong langsung intinya saja.
Akira : (bersiul) Baiklah. Pertanyaannya sederhana saja, siapa kau?
Akane : (mengernyit) Pertanyaan aneh. Tentu saja aku salah satu guru di sini, ada masalah?
Akira : Hm... tergantung jawaban Anda.
Akane : Maksudmu?
Akira : Cara Anda menatap saya waktu itu. Oh, jangan bilang, Anda suka sama saya? Wah wah, bisa gawat kalau begitu.
Akane : Hmpf, hahahaha...it's ridiculous. Aku bukan tipe guru yang suka pada muridnya sendiri. Tidak mungkin. Hmpf...
Akira : (datar) Begitukah?

Sekali lagi Akira berjalan mengitari Akane. Betapa kagetnya ia mendapati bekas luka di leher bagian belakang.

Akira : (dalam hati) Luka itu...
Akane : (dalam hati) Sampai kapan aku di sini? Diancam murid sendiri, benar-benar memalukan. (menatap Akira) Indeed, he's not my brother.
Akane : Sepertinya kau sudah selesai bicara.

Akane melangkahkan kakinya. Dia semakin yakin kalau Akira memang bukan adiknya. Sedangkan Akira menatap punggung Akane penuh kerinduan. Air matanya nyaris tumpah.
Tanpa mereka ketahui, ada seseorang mengintip segala peristiwa itu.

Saturday, April 02, 2011

Nee-chan

BABAK 35

Waktu yang sama. Kamar Akira Yamada.
Akira menatap langit-langit kamar, terbayang sesuatu.

- - - - -

(flashback)
Beberapa hari yang lalu. Sore hari setelah Akane berkunjung ke rumah Ryou.
Ryou sedang membuat makan malam untuk Akira.

Akira : Tadaima.
Ryou : Okaeri. Bagaimana sekolahmu hari ini?
Akira : Haah...nothing special, paman.
Ryou : (bengong)
Akira : (terkekeh) Maaf, Paman, maksudku ya biasa saja.
Ryou : Dasar, seperti kakakmu saja, tiba-tiba bicara dengan bahasa yang tak kupahami.
. . .
Ryou : Oh ya, sebelum aku lupa, tadi aku bertemu kakakmu. Akane.

Akira yang sedang melepaskan sepatunya berdiri mematung.

- - - - -

Waktu kini.
Akira masih menatap langit-langit kamarnya dengan ekpresi datar.

- - - - -

(flashback)
Dua tahun yang lalu. Akira berumur 14 tahun.
Malam hari. Ruang tamu.
Akhirnya Akira bisa menanyakan perihal kakak yang disayanginya pada Ryou Miyazawa.

Akira : Nee-chan orangnya seperti apa, paman?
Ryou : Hm...seingatku dulu ia adalah anak perempuan yang cerdas. Ia selalu melakukan apapun yang disukainya. Tidak peduli orang lain mau berkata apa.
Akira : (terpana)
Ryou : Kenapa? Kau ingin bertemu dengannya?
Akira : (mengangguk) Un. Aku ingin sekali menemuinya. Paman tau di mana nee-chan sekarang?
Ryou : Seingatku dulu kakak dan ayahmu masih tinggal di rumah kalian. Entah sekarang dia di mana.
Akira : (menunduk)

Ryou menepuk punggung Akira pelan, memberinya semangat.

Ryou : Suatu saat nanti kau pasti bisa bertemu dengan kakakmu. Percayalah.
Akira : (tersenyum) Um.

- - - - -

Waktu kini.

Akira : (dalam hati) Kalau dia kakakku, seharusnya dia mau menemuiku tadi. Tapi kenapa...?
. . .
Akira : Sepertinya aku harus melakukan sesuatu.

Akira tersenyum jahil.

Kau Menemuinya?

BABAK 34

Malam harinya. Ruang makan.
Haruka yang tampak sibuk melahap makan malamnya tiba-tiba terhenti.

Haruka : Ada apa lagi sekarang?
Akane : (tersentak)
Haruka : Masalah Akira?
Akane : (mengangguk) Hari ini dia muncul di kelas.
Haruka : Mau apa dia di kelasmu?
Akane : Dia...duduk di sana, tepat di depanku. Aku takut sekali.
Haruka : . . .
Akane : (takut) Dia menatapku. Aku menyuruhnya keluar, tapi ia bergeming. Aku bingung sekali.
Haruka : Kenapa tidak kau seret saja dia keluar?
Akane : Aku takut, Haru. Aku benar-benar berusaha keras tidak melihat wajahnya.
Haruka : Oke, oke. Lalu...?
Akane : Tiba-tiba dia mendekat dan berbisik di telingaku. Dia menyuruhku menemuinya...di tempat pertama kali aku melihatnya.

Akane tampak cemas dan begitu ketakutan. Air matanya mengalir.
Haruka segera mendekat dan mengusap punggung Akane.

Haruka : Kau menemuinya?
Akane : (menggeleng) Aku takut. Aku tidak mau menemuinya.

Tangis Akane semakin menjadi.

Haruka : Sssh... sudah, sudah. Yang penting, dia tidak mengganggumu lagi.

Akane mendongak, menatap Haruka.
 

Temui Aku

BABAK 33

Beberapa hari kemudian. Koridor kelas 1.
Tampak Akane sedang berbincang sejenak dengan Arata Sekiguchi, guru olahraga.
Tak lama, bel berbunyi. Mereka pun menyudahi perbincangan dan Akane melangkahkan kakinya menuju kelas 1B.

Kelas 1B.
Baru saja Akane meletakkan buku di atas mejanya, ia menemukan sosok asing duduk tepat di depannya.

Akira : (menatap Akane)
Akane : Kau bukan di kelas ini kan? Saya harap, kau kembali ke kelasmu.

Akira melihat ke segala arah, pura-pura tak mendengar. Akane bungkam. Ia benar-benar tak menyangka Akira akan datang ke kelasnya. Pandangan seisi kelas tertuju pada Akane dan Akira.

Akane : (dalam hati) Aku harus bisa menguasai keadaan. Jangan terpancing, Akane. Jangan terpancing.
Akane : Tolong keluar dari kelas saya, sekarang!
Akira : (bersiul)
Akane : (mulai kesal) Anak ini! Bagaimana caranya agar bisa mengeluarkannya dari sini?

Akane menatap Akira, gelisah.
Akira pun beranjak. Ia mendekati Akane dan berbisik,

Akira : Jam 4, tempat pertama kali kau melihatku.

Akira keluar kelas, membuat Akane menatapnya lama.

Akane : (kikuk) O-oke, mari kita mulai pelajarannya. Buka halaman...
 

Sunday, February 20, 2011

Dia Orangnya

BABAK 32

Beberapa saat kemudian. Rumah Haruka.
Akane berjalan menuju dapur dan meletakkan barang belanjaannya di sana. Ia pun segera duduk dekat Haruka.

Akane : Jadi, dia orangnya?
Haruka : Un.
Akane : Dia orang yang tempo hari mengadakan pesta kecil di TK Himawari?
Haruka : Ya, dia orangnya.
Akane : (bertopang dagu) Hmm...sepertinya aku tak melihatnya waktu itu.
Haruka : Dia tidak datang.

Haruka menghela napas berat. Akane meliriknya curiga.

Akane : Kau...menyukainya?
Haruka : (gugup) Ap--apa maksudmu aku menyukainya?! Dengar ya, aku tidak suka padanya! Kau mengerti?!
Akane : Ya, ya, teruslah kau berbohong. Lihat, tertulis di wajahmu bahwa kau menyukainya. Aku tak mungkin salah.
Haruka : Dasar sok tahu.
Akane : Eh, jangan salah. Intuisi wanitaku berkata seperti itu, dan dia tak pernah salah. Kalau kau tidak menyukainya, bisa kau jelaskan mengapa wajahmu memerah seperti ini? Jangan bilang kau sakit karena aku tak akan percaya. Jelas-jelas kau sehat begini.
Haruka : (gemas) Miss Cerewet yang satu ini benar-benar deh.
Akane : Tapi benar kan? Kau menyukainya?
Haruka : (melamun) Haah...

Itu sudah merupakan jawaban bagi Akane lantas dia tak bertanya lebih jauh lagi.

Akane : Jadi, untuk apa dia mengadakan pesta kecil itu?
Haruka : (mengangkat bahu)
Akane : (bersiul) Haru-chan, selamat, calon suamimu ternyata orang kaya!
Haruka : (dahi mengernyit) Apa-apaan sih kau ini.
Akane : Kusarankan cari pria lain saja. Dia agak sombong, kurasa.
Haruka : Sombong?
Akane : Entahlah, aku tak menyukai sifatnya. Kau ingat, tadi aku tak sengaja menabraknya. Aku langsung meminta maaf padanya, tapi dia hanya diam saja dan berlalu. Setidaknya dia membalas ucapanku dengan, "Ya, tak apa.", bukannya malah pergi begitu saja.

Haruka diam-diam membenarkan pernyataan Akane. Ia sendiri pun tak menyukainya. Sementara Akane terus berceloteh, Haruka memikirkan perkataan Akane. 

Haruka : (dalam hati) Takeru, siapa kau sebenarnya?

Saturday, February 19, 2011

Ucapan Terima Kasih

BABAK 31

Depan konbini. Menjelang siang.
Takeru bersandar pada tembok di seberang konbini, menunggu seseorang. Dihisapnya rokok lalu dihembuskannya sambil membentuk bulatan asap. Tampak dari luar, Haruka sedang berbicara di telepon. Ia berdiri tak jauh dari meja kasir. Langsung saja Takeru mendekati pintu masuk.

Haruka : Waaa!!!
Takeru : (mengangkat tangan kananya) Yo!
Haruka : (kesal) Kau...lagi-lagi. Tidak bisa ya kau muncul dengan cara yang biasa?!
Takeru : Maksudmu?
Haruka : Ya, muncullah dengan cara biasa, jangan mengagetkan orang seperti ini!
Takeru : Aku sudah lama berdiri di sini, jadi apa yang aneh? Bukankah itu cara yang biasa?
Haruka : (gemas) Aah, sudahlah! Aku sedang malas berdebat. Tunggu, kau bilang kau sudah lama berdiri di sini.
Takeru : Ya, aku menunggumu. Ada yang ingin kusampaikan.
Haruka : Kau... menungguku?

Seketika itu juga wajahnya memerah.
Takeru segera memberikan undangan pameran pada Haruka.

Haruka : Apa ini?
Takeru : Aku mengundangmu ke acara itu. Bukan pameran lukisanku, tapi salah satu lukisanku ada di pameran itu.
Haruka : A--aku tak bisa janji akan datang ya. Seperti yang kau tau, aku saaangat sibuk.
Takeru : Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku karena kau sudah banyak membantuku tempo hari. Jadi, kuharap kau bisa datang.
Haruka : (menatap Takeru)
Takeru : Jaa.

Takeru berlalu meninggalkan Haruka yang tatapannya masih terpaku pada undangan itu.
Sementara itu, dari arah yang berlawanan, Akane berlari terburu-buru dengan membawa dompet. Tanpa sengaja, ia menabrak Takeru.

Akane : Maaf.
Takeru : . . .

Akane melanjutkan larinya sampai mendekati Haruka.

Akane : Haru-chan, maaf. Kau sudah menunggu lama ya?
Haruka : (menatap undangan itu lalu ke arah Takeru pergi) . . .
Akane : Kau lihat siapa? Seseorang yang kau kenal ada di sekitar sini?

Haruka menggeleng pelan dan tersenyum hambar. Dihirupnya napas sedalam mungkin lalu dihembuskan.

Haruka : KAU-LAMA-SEKALI-TAU!!
Akane : Maaf, ada sedikit urusan tadi.
Haruka : Haaah, apa boleh buat. Kau harus mentraktirku es krim.
Akane : Baik, baik. Hmm... Eh, itu apa?
Haruka : Apa? Oh, ini. Undangan pameran. Kau tidak akan suka.
Akane : Oh. Huh, membosankan.
Haruka : Ngomong-ngomong, kau bawa dompetnya kan?
Akane : (mengangkat dompet) Makanya, lain kali, jangan lupa bawa dompet. Dasar nenek-nenek.
Haruka : Apa katamu?!
Akane : Hahaha....

Thursday, February 17, 2011

Masa Lalu

BABAK 30

Suatu pagi. Rumah Takeru.
Takeru menghisap rokoknya di beranda.

. . .

(flashback) 
Empat tahun yang lalu.

Sebuah rumah mewah yang tempo hari ia datangi.
Takeru berdiri berhadapan dengan Wataru Ogawa dan Mine Ogawa. Tak jauh dari situ, sang adik menatap nanar pada Takeru.

Wataru : (menunjuk televisi) Lihat! Lihat akibat perbuatanmu!!
Takeru : (mendengus)

Televisi itu menampilkan gambar Takeru sedang dibawa paksa oleh 2-3 orang polisi dengan wajah babak belur.

Wataru : Apa lagi yang kau perbuat sekarang, hah?! Apa kau masih belum puas mempermalukan Ayahmu?!!
Takeru : Hmpfh....PHUAHAHAHAHAHAHAHAHA........
Wataru : (heran)
Takeru : ........HAHAHAHAHAHAHAHA..........
Mine : (khawatir)
Wataru : Ada yang lucu, hah!
Takeru : .....HAHAHAHAHA....Ayah katamu? Siapa yang kau sebut sebagai ayah? HAHAHAHAHA.....

Wataru, Mine, dan adik Takeru hanya menatap Takeru dalam diamnya. Tak lama, Takeru menghentikan tawanya.

Takeru : (dingin) Kau bukan ayahku.

. . .

Masa kini.
Takeru menghisap rokoknya lebih dalam sampai ia terbatuk.

Takeru : (melempar rokoknya) Tsk!

Takeru meremas kepalanya.

. . .

(flashback)
Empat tahun yang lalu.

Takeru : Aku bukan anakmu, kau ingat?

Saat itu juga Mine menangis. Wataru memandang Takeru tajam. Sang adik hanya diam membisu.
Takeru melangkahkan kakinya ke luar rumah.

Wataru : Mau ke mana kau?! 
Takeru : (terus melangkah) . . .
Mine : (menangis) Jangan pergi, kumohon. Wataru, kau harus menghentikan dia! Aku tak mau dia pergi.
Wataru : Biarkan saja. Aku yakin, besok dia akan kembali lagi.

Takeru sudah ada di ambang pintu. Ia terus melangkahkan kakinya. Sang adik menatap kepergian kakaknya dalam diam.

Sang adik : (menggumam) Tidak, dia tak akan pernah kembali lagi.

. . .

Masa kini.
Takeru menatap langit. Matanya basah. Segera ia usap air matanya.

Takeru : Kau harus kuat. Harus.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar.

"Jangan merokok saja. Cek rekeningmu." 

Takeru tersenyum miris. Ia menatap langit. Kosong.
Dan di sanalah ia ada, wajah marah Haruka Sasaki. Dan suaranya.

Haruka : (suara) Mau menculik anak ini? Hah! Langkahi dulu mayatku!!
Takeru : Cewek itu. Kenapa tiba-tiba aku teringat dia? 

Takeru tampak berpikir sejenak. Sesaat kemudian, senyum pun terkembang di bibirnya.

Saturday, February 12, 2011

Persiapan Pameran

BABAK 29

Lima hari kemudian.
Haruka duduk di ruang makan, siang hari.

Haruka : (mengetuk-ketuk jari di atas meja)
. . .
Haruka : (matanya beralih pada ponsel yang tak jauh darinya)
. . .
Haruka : (mulai gelisah)
. . .
Haruka : (ditatapnya lagi ponsel tersebut, gemas)
. . .
Haruka : (menghela napas berat) Dasar tak tahu terima kasih. Meminta bantuan orang lain, lalu pergi begitu saja. Hah! Memangnya dia siapa?!
. . .
Haruka : (menatap ponsel untuk terakhir kalinya) Ini tak bisa dibiarkan. Lihat saja nanti kalau aku bertemu dengannya. Akan kubalas, YA, AKAN KUBALAS! KAU DENGAR ITU?!! AKAN KUBALAS.....!!!!!

Teriakan itu membuat gerakan Akane terhenti. Tangan kanannya menggantung di udara sambil memegang botol minuman.

Akane : (menggumam) Ada apa dengan anak itu?
. . .
Akane : (mengangakat bahu)

* * *

Waktu yang sama.
Tampak Takeru berdiri tegak di luar gerbang masuk rumah mewah. Sebuah undangan pameran terselip di tangan kanannya.

Takeru : (menatap rumah mewah itu dan beralih pada surat undangan)
. . .
Takeru : (kembali menatap rumah itu)
. . .
Takeru : (tatapannya mendingin)
. . .

Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Makoto.
Takeru menerimanya tanpa mengindahkan pandangannya dari rumah tersebut.

Makoto : Sebenarnya yang mau ikut pameran itu aku atau kau?
Takeru : Hah?
Makoto : Jangan berlagak bodoh. Cepatlah ke sini.
Takeru : . . .
Makoto : Persiapan untuk pameran. Dua minggu lagi, kau ingat?
Takeru : (jeda sejenak) Un. Aku segera ke sana.

Sebelum pergi, Takeru menatap dingin rumah mewah itu.

Monday, January 24, 2011

Kegundahan Pengawal


kening itu mengerut
memang ia sedang berpikir
sangat keras
pengawal bukan pengawal itu

dan ia dikejutkan
oleh kedatangan Sang Putri
dan dinding pun tetap membisu
"ada yang kau pikirkan?"
penasaran Sang Putri bertanya
"tak ada."

mendengar jawabannya, Sang Putri tersenyum
"baiklah, aku tak akan bertanya lagi. itu hakmu."
jawaban Sang Putri membuat pengawal bukan pengawal terdiam
terlebih kala melihat wajah Sang Putri
yang menatap lurus ke depan
guratan di wajah itu memperlihatkan kekuatan
sekaligus rapuh

pengawal bukan pengawal tersenyum
ya, itu pun sudah cukup
setidaknya ia ada
di sini
di sisi Sang Putri

Sunday, January 23, 2011

Ke Mana Perginya Orang itu?

BABAK 28

Sore hari. Kelas Matahari di TK Himawari.
Kelas Matahari tampak ramai akan anak-anak yang berlarian ke sana-sini. Kelas itu dihias sedemikian rupa sehingga menyerupai hutan belantara.

Akane : (takjub) Lucunya~
Haruka : Sudah kuduga kau akan bereaksi seperti itu.
Akane : Sangat menggemaskan dan lucu. Terutama jerapah mungil itu. Lalu singa kecil itu juga, gajah itu juga lucu. Oh tidak, semuanya saaaangat lucu! Bolehkah kubawa pulang mereka semua?
Haruka : Kalau masalah itu kau tanyakan sendiri pada orangtua mereka.
Akane : (tertawa kecil) Aku ingin membawa mereka pulang. Semuanya akan kubawa pulang.
Haruka : (tersenyum)

Akane langsung membaur bersama anak-anak berkostum hewan tersebut dan bermain bersama. Sedang Haruka tampak sedang mencari seseorang.

Haruka : Ke mana perginya orang itu?

***

Waktu yang sama.
Takeru berlari mengejar seorang lelaki berumur 30-an. Lelaki itu berlari sangat cepat sampai-sampai Takeru sulit mengejarnya. Namun, akhirnya Takeru berhasil menerjang dan membuat lelaki itu jatuh terjerembab. Ia tahan ruang gerak lelaki itu lalu dipukulnya dengan membabi buta. Perlawanan yang diberikan lelaki itu tampak sia-sia belaka karena Takeru terlihat sangat cekatan dalam bertindak.
Takeru menghentikan pukulannya. Wajah lelaki itu bersimbah darah yang juga menodai bajunya. Lelaki itu pun tak sadarkan diri.

***
Kelas Matahari, TK Himawari.
Di antara hingar-bingar teriakan anak-anak yang sedang bermain, Haruka mendekati salah satu guru berambut pendek ikal, Bu Suzuki Maeda.

Haruka : Maaf, Bu, lelaki berkaus oblong yang tadi pagi membantu menghias ruangan pergi ke mana?
Suzuki : Oh, tadi sebelum Sasaki-san datang, dia pergi. Katanya ada urusan.
Haruka : Sepertinya urusan yang sangat penting. Ah, terima kasih.

Haruka kembali membaur bersama anak-anak lain.

***

Takeru begitu berat melangkahkan kakinya. Bercak darah yang membekas di bajunya ditutupi oleh jaket. Mata Takeru kosong. Ia sempat menabrak beberapa orang dan didiamkannya. Ia tetap berjalan dalam keadaan seperti itu.

TK Himawari diliputi kemeriahan pesta yang diadakan Takeru. Akane dan Haruka sangat senang bermain dengan murid-murid Kelas Matahari. Mereka tampak bersuka cita dan tertawa bersama.

PS : scene saat Takeru berjalan dan suasana di TK Himawari ditampulkan secara bergantian masing-masing 3x. Urutannya scene Takeru, lalu scene TK Himawari. Terakhir, akan ditutup dengan scene berikut.

***

Kamar pribadi Takeru.
Gelap dan hanya ada satu lampu di sudut ruangan. Lampu itu mengarah pada sebuah kanvas besar yang dipenuhi oleh goresan warna merah di bagian sudut kiri atas.
Takeru berjalan mendekati kanvas itu. Tangan kanan dan kirinya memegang sehelai baju: bajunya sendiri dan baju korbannya. Ditorehkannya kedua baju itu di atas kanvas. Seketika itu juga bercak darah sudah berpindah di kanvas itu.

Thursday, January 06, 2011

Akira III

BABAK 27

Menjelang siang. Rumah Haruka.

Haruka : Aku pulang. Sepi sekali. Bukankah Akane ada di rumah? Akane... Akane, di mana kau?

Haruka mencari ke pelosok rumah, namun tak ada Akane di mana pun.

Haruka : (mengangkat bahu)

Haruka membuka kulkas lalu menenggak botol minumannya sampai setengah. Tiba-tiba ia mendengar suara dari kamar Akane.

Haruka : Suara itu... Akane, kau di rumah ternyata.

Haruka melangkahkan kakinya menuju lantai atas, tepatnya kamar Akane. Di sana, tampak Akane duduk memeluk lutut di atas tempat tidur dengan tatapan kosong.

Haruka : (kaget) Akane, kau kenapa?
Akane : . . .
Haruka : (mengguncang2 tubuh Akane) Akane, jawab aku, kau kenapa?!
Akane : (diam sejenak) Paman Ryou. Tadi aku bertemu dengan Paman Ryou.
Haruka : Paman...Ryou?

***

(flashback)
Beberapa jam yang lalu. Rumah Ryou Miyazawa.
Akane dan Ryou duduk berhadapan di ruang tamu.

Ryou : Kau benar-benar Akane kan? Akane Miyazawa?
Akane : Un. Paman, apa kabar?

Ryou segera duduk di sebelah Akane dan memeluknya.

Ryou : Ternyata kau benar-benar Akane. Sudah sejak lama aku ingin memelukmu seperti ini, kau tau?
Akane : (tersenyum) Aku juga tak menyangka akan bertemu paman di sini.
Ryou : Oh ya, kau sejak kapan ada di sini? Bukankah kau tinggal di Sapporo bersama ayahmu?
Akane : Kira-kira beberapa minggu yang lalu. Aku menjadi guru di sini, paman.
Ryou : Menjadi guru? Itu cita-citamu sejak dulu, bukan? Kuucapkan selamat.
Akane : Terima kasih. Ng... Paman tinggal sendiri di sini?
Ryou : Tidak. Aku di sini bersama bibimu yang cerewet itu...
Akane : (tertawa kecil)
Ryou : ...dan adikmu.

Seketika itu juga, senyuman Akane lenyap.

Akane : Ap--- maksud paman?
Ryou : Adikmu, Akira, juga tinggal di sini.
Akane : A--kira tinggal di--sini? Bagaimana bisa? Ibu...bagaimana dengan ibu? Ibu baik-baik saja kan?
Ryou : (menerawang) Banyak sekali hal yang terjadi, Akane.
Akane : Apa yang terjadi, paman? Tolong ceritakan padaku.
Ryou : (khawatir) Sepertinya kondisimu sedang tidak memungkinkan. Jadi, lebih baik kita bicarakan ini lain waktu saat kondisimu sudah membaik.
Akane : (tergugu)
***

(waktu kini)
Kamar Akane.

Haruka : Akira ada di sini?
Akane : Ya, di sini, di Tokyo.
Haruka : Bukankah itu berita bagus untukmu?
Akane : Bagiku, itu mimpi buruk. Aku tak tahu lagi harus bagaimana.
Haruka : Temui dia. Itu salah satu tujuanmu ke sini kan?
Akane : Tidak bisa, Haru. Aku--belum siap. Lebih baik aku tak jadi ke Tokyo saja.
Haruka : Percuma menyesali apa yang sudah terjadi. Mungkin sekarang ini kau belum siap, tapi nanti waktu akan mempertemukan kalian.
Akane : Aku tak mau saat itu tiba.
Haruka : Ya sudah, daripada mengurung diri seperti ini, lebih baik kau ikut aku saja.
Akane : Tidak, terima kasih. Meliput berita denganmu tak ada bedanya dengan pergi seorang diri.
Haruka : Kali ini beda. Aku mau mengajakmu ke tempat yang kau sukai. Bagaimana?
Akane : . . .

Paman?

BABAK 26

Waktu yang sama.
Karena hari ini tidak mengajar, Akane menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di sekitar rumah Haruka. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya dan sebisa mungkin menikmati pemandangan di sekelilingnya.

Akane : Haah... betapa beruntungnya aku dapat melihat pemandangan indah di kota besar seperti ini.

Akane terus berjalan sampai menjauhi rumah Haruka. Begitu sadar, ia sudah berada di tempat yang tak diketahuinya.

Akane : Di mana ini?

Ia melihat sekeliling. Tempat ini benar-benar asing baginya.

Akane : Aduuh...bagaimana ini. Ah! Ponsel! Lho? Arrgh...aku lupa, ponselku masih ada di tas! Akane bodoh, bodoh! Ugh...

Akane melihat sekelilingnya, mencari seseorang. Namun, tak ada siapa pun di sana.

Akane : Siapa pun, tolonglah aku...

Tiba-tiba,
 
Suara berat : Maaf, ada yang bisa saya bantu?
Akane : (dalam hati) Akhirnya....
Akane : (berbalik ke belakang) Begini, Pak, saya mau tanya. Ini daerah ma--  Paman?
Suara berat : (kaget) Akane?

Suara berat yang terdengar di belakang Akane tak lain adalah Ryou Miyazawa.

Wednesday, January 05, 2011

Apa Tujuanmu?

BABAK 25 

TK Himawari. 08.30 pagi.
Haruka berjalan lesu menuju kelas Matahari.

Haruka : (menggumam) Sepertinya tadi aku sangat keterlaluan pada Akane.
. . .
Haruka : Saat pulang nanti, aku akan memberikan es krim cokelat kesukaannya dan meminta maaf atas sikap acuhku tadi pagi. Ya, ide yang saaangat bagus!

Haruka tiba di kelas matahari. Tak ada siapapun di sana.

Haruka : Baru aku saja yang datang? Ckckck…

Haruka memperhatikan seisi ruangan. Ada 20 meja dan kursi kecil masih tertata rapi di sana. Haruka membuka pintu kaca agar cahaya matahari pagi dapat masuk. Ia hirup udara sedalam-dalamnya lalu ia hembuskan perlahan.

Haruka : Yosh! Ayo, mulai bekerja!!

Haruka mengambil kursi2 kecil satu per satu lalu ditumpuk lima-lima dan diletakkan di pinggir ruangan. Setelah itu, ia mengumpulkan mejanya. Saat ia menumpuk dua meja terakhir, datang seseorang.

Takeru : Semua ini mau diletakkan di mana?
Haruka : (tersentak kaget) Ternyata kau. Muncul tiba-tiba seperti itu, membuatku kaget saja.
Takeru : Jadi, ini diletakkan di mana?
Haruka : Kelas sakura.

Takeru keluar membawa tumpukan kursi dan meja ke ruang kelas sakura.

Haruka : Orang macam apa dia? Bahkan ucapan selamat pagi pun tak keluar dari mulutnya.
Takeru : Ada lagi yang perlu dipindahkan?
Haruka : (kaget) Waa!! Bisa tidak sih kau muncul secara normal?!!
Takeru : . . .
Haruka : Lebih baik sekarang kita menghias kelas ini. Jadi, kau mau memakai konsep apa?
Takeru : (menatap bingung)
Haruka : Meskipun ini bukan acara formal, tetap saja butuh konsep kan? Jadi...?
Takeru : Menurutmu bagaimana bagusnya?
Haruka : (dalam hati) Kenapa malah balik bertanya?
Takeru menatap Haruka, menunggu jawaban darinya.

Haruka : (menghela napas) Tolong kau tiup balon-balon di kardus itu. Kau ikat lima-lima lalu kau tempel di tengah langit-langit atas.
Takeru : Roger.
Haruka : (menghela napas berat)
Takeru : Maaf ya, kau harus membantuku seperti ini.
Haruka : (menggumam pelan) Terpaksa.
Takeru : Apa?
Haruka : (senyum terpaksa) O--Ooh tidak. Tak apa, senang bisa membantu.

Mereka mengerjakan masing-masing pekerjaannya dalam diam. Sampai Haruka menanyakan hal yang membuatnya penasaran sejak lama.

Haruka : Apa tujuanmu mengadakan pesta kecil ini?
Takeru : . . .
Haruka : (wajah serius) Apa tujuanmu?
. . .
Takeru : Hmpf! Hahaha....
Haruka : Kenapa kau malah tertawa, heh?
Takeru : Wajahmu itu, coba kau lihat wajahmu. Sangat lucu. Hahahaha...

Haruka hanya menatap Takeru datar.

Haruka : Kau laki-laki teraneh yang pernah kutemui.
Takeru : Kuanggap itu sebagai pujian.

Keduanya kembali melanjutkan kegiatan masing-masing.
  

Akira II

BABAK 24 

Minggu pagi. Ruang makan di rumah Haruka.
Akane baru saja keluar kamar dan mendapati Haruka sedang mekahap setangkup roti.

Akane : Pagi.
Haruka : Selamat pagi, tuan puteri.
Akane : (meringis)

Akane menghirup susu coklat panas yang sudah tersedia.

Akane : (mengangkat mug) Thanks.
Haruka : Your welcome.
Akane : Ngomong2, Haru-chan, kau masih ingat dengan Akira Yamada yang pernah kuceritakan? Sepertinya dia sudah tahu kalau selama ini aku terus menatapnya dan dia menatapku balik. Jangankan sehari-dua hari, tapi ini hampir setiap hari! Aku takut, jangan2 dia mengira aku ini stalker. Atau dia mengira aku ini guru genit yang menyukai muridnya sendiri? Aaarrgh… kalau dia berani berpikiran seperti itu, akan kumarahi langsung di depan mukanya! Huh!

Haruka tampak sibuk mengecek ulang barang bawaannya. Ia sudah selesai sarapan dan siap berangkat.

Akane : Aku baru sadar, tumben kau sudah rapi. Mau ke mana?
Haruka : Ada sedikit urusan. Biasalah.
Akane : Memotret dan mencari berita. Ya, ya, harusnya tak perlu kutanya lagi. Urusanmu kan tak jauh-jauh dari dunia jurnalistik.
Haruka : (tersenyum) Mungkin nanti aku agak terlambat pulangnya.
Akane : Ya, aku mengerti. Ki o tsukete ne*.


* Hati-hati di jalan ya

Akira

BABAK 23 

Beberapa hari kemudian.
Koridor kelas 2. Pagi hari.
Akane berjalan menyusuri koridor kelas 2. Tiba-tiba matanya menangkap sosok seseorang di depannya.

Akane : (dalam hati) Akira.

Akane terus menatapnya. Seketika itu juga, sebuah kerinduan muncul. Ia sangat ingin memeluk sosok yang berjalan di depannya ini.

Akane : (menggumam pelan) Akira.

Sadar dirinya dipanggil, Akira menatap balik perempuan di depannya. Keduanya saling melihat. Lama. Mata mereka berbicara antara kerinduan dan perasaan asing.
Pertahanan Akane hancur. Ia membuang muka dan kembali meneruskan langkahnya. Sedangkan Akira berbalik menatap punggung Akane sampai tak  terlihat lagi.

* * *

Hari berikutnya.
Saat pulang sekolah. Sore hari.
Akane setengah berlari menuju pintu gerbang. Saking terburu-burunya, ia sampai tak melihat orang yang berjalan di depannya.

BRUK!

Akane : (membungkuk) Ah! Maafkan aku. Maaf–
Akane : (dalam hati) Akira.
Akira : Oh, tak apa.

Akira menatap Akane seolah ingin menanyakan sesuatu. Akane mengalihkan pandangannya lalu pergi.

***

Hal itu berlaku sampai beberapa hari ke depan, bahkan sampai hari ini. Akane berjalan menuju perpustakaan dengan diiringi tatapan Akira. Akane terpaksa berpura-pura menutup matanya dengan buku seolah melindungi mata dari sinar matahari. Ia pun mempercepat langkahnya.

Sunday, January 02, 2011

어쩔 수가 없다

seandainya aku bisa berkata
aku ada di sini
apakah kau akan melihatku
bahkan aku tak sampai hati mengucapnya
aku takut merusaknya
dan aku takut bayangkannya
tapi aku ada di sini
dan kau tak mengindahkannya
hal itu membuatku sakit
kau tahu itu

aku tak memberimu tanda
dan kau semakin terlalu
tolong berhentilah
aku ingin kau melihatku
aku ingin kau mengindahkanku
kau mengerti itu

tak mengerti pun tak apa
aku tak mau memaksamu
tak sadar pun aku mengerti
jadi ku hanya bisa berkata ini
apa boleh buat