Sunday, February 20, 2011

Dia Orangnya

BABAK 32

Beberapa saat kemudian. Rumah Haruka.
Akane berjalan menuju dapur dan meletakkan barang belanjaannya di sana. Ia pun segera duduk dekat Haruka.

Akane : Jadi, dia orangnya?
Haruka : Un.
Akane : Dia orang yang tempo hari mengadakan pesta kecil di TK Himawari?
Haruka : Ya, dia orangnya.
Akane : (bertopang dagu) Hmm...sepertinya aku tak melihatnya waktu itu.
Haruka : Dia tidak datang.

Haruka menghela napas berat. Akane meliriknya curiga.

Akane : Kau...menyukainya?
Haruka : (gugup) Ap--apa maksudmu aku menyukainya?! Dengar ya, aku tidak suka padanya! Kau mengerti?!
Akane : Ya, ya, teruslah kau berbohong. Lihat, tertulis di wajahmu bahwa kau menyukainya. Aku tak mungkin salah.
Haruka : Dasar sok tahu.
Akane : Eh, jangan salah. Intuisi wanitaku berkata seperti itu, dan dia tak pernah salah. Kalau kau tidak menyukainya, bisa kau jelaskan mengapa wajahmu memerah seperti ini? Jangan bilang kau sakit karena aku tak akan percaya. Jelas-jelas kau sehat begini.
Haruka : (gemas) Miss Cerewet yang satu ini benar-benar deh.
Akane : Tapi benar kan? Kau menyukainya?
Haruka : (melamun) Haah...

Itu sudah merupakan jawaban bagi Akane lantas dia tak bertanya lebih jauh lagi.

Akane : Jadi, untuk apa dia mengadakan pesta kecil itu?
Haruka : (mengangkat bahu)
Akane : (bersiul) Haru-chan, selamat, calon suamimu ternyata orang kaya!
Haruka : (dahi mengernyit) Apa-apaan sih kau ini.
Akane : Kusarankan cari pria lain saja. Dia agak sombong, kurasa.
Haruka : Sombong?
Akane : Entahlah, aku tak menyukai sifatnya. Kau ingat, tadi aku tak sengaja menabraknya. Aku langsung meminta maaf padanya, tapi dia hanya diam saja dan berlalu. Setidaknya dia membalas ucapanku dengan, "Ya, tak apa.", bukannya malah pergi begitu saja.

Haruka diam-diam membenarkan pernyataan Akane. Ia sendiri pun tak menyukainya. Sementara Akane terus berceloteh, Haruka memikirkan perkataan Akane. 

Haruka : (dalam hati) Takeru, siapa kau sebenarnya?

Saturday, February 19, 2011

Ucapan Terima Kasih

BABAK 31

Depan konbini. Menjelang siang.
Takeru bersandar pada tembok di seberang konbini, menunggu seseorang. Dihisapnya rokok lalu dihembuskannya sambil membentuk bulatan asap. Tampak dari luar, Haruka sedang berbicara di telepon. Ia berdiri tak jauh dari meja kasir. Langsung saja Takeru mendekati pintu masuk.

Haruka : Waaa!!!
Takeru : (mengangkat tangan kananya) Yo!
Haruka : (kesal) Kau...lagi-lagi. Tidak bisa ya kau muncul dengan cara yang biasa?!
Takeru : Maksudmu?
Haruka : Ya, muncullah dengan cara biasa, jangan mengagetkan orang seperti ini!
Takeru : Aku sudah lama berdiri di sini, jadi apa yang aneh? Bukankah itu cara yang biasa?
Haruka : (gemas) Aah, sudahlah! Aku sedang malas berdebat. Tunggu, kau bilang kau sudah lama berdiri di sini.
Takeru : Ya, aku menunggumu. Ada yang ingin kusampaikan.
Haruka : Kau... menungguku?

Seketika itu juga wajahnya memerah.
Takeru segera memberikan undangan pameran pada Haruka.

Haruka : Apa ini?
Takeru : Aku mengundangmu ke acara itu. Bukan pameran lukisanku, tapi salah satu lukisanku ada di pameran itu.
Haruka : A--aku tak bisa janji akan datang ya. Seperti yang kau tau, aku saaangat sibuk.
Takeru : Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku karena kau sudah banyak membantuku tempo hari. Jadi, kuharap kau bisa datang.
Haruka : (menatap Takeru)
Takeru : Jaa.

Takeru berlalu meninggalkan Haruka yang tatapannya masih terpaku pada undangan itu.
Sementara itu, dari arah yang berlawanan, Akane berlari terburu-buru dengan membawa dompet. Tanpa sengaja, ia menabrak Takeru.

Akane : Maaf.
Takeru : . . .

Akane melanjutkan larinya sampai mendekati Haruka.

Akane : Haru-chan, maaf. Kau sudah menunggu lama ya?
Haruka : (menatap undangan itu lalu ke arah Takeru pergi) . . .
Akane : Kau lihat siapa? Seseorang yang kau kenal ada di sekitar sini?

Haruka menggeleng pelan dan tersenyum hambar. Dihirupnya napas sedalam mungkin lalu dihembuskan.

Haruka : KAU-LAMA-SEKALI-TAU!!
Akane : Maaf, ada sedikit urusan tadi.
Haruka : Haaah, apa boleh buat. Kau harus mentraktirku es krim.
Akane : Baik, baik. Hmm... Eh, itu apa?
Haruka : Apa? Oh, ini. Undangan pameran. Kau tidak akan suka.
Akane : Oh. Huh, membosankan.
Haruka : Ngomong-ngomong, kau bawa dompetnya kan?
Akane : (mengangkat dompet) Makanya, lain kali, jangan lupa bawa dompet. Dasar nenek-nenek.
Haruka : Apa katamu?!
Akane : Hahaha....

Thursday, February 17, 2011

Masa Lalu

BABAK 30

Suatu pagi. Rumah Takeru.
Takeru menghisap rokoknya di beranda.

. . .

(flashback) 
Empat tahun yang lalu.

Sebuah rumah mewah yang tempo hari ia datangi.
Takeru berdiri berhadapan dengan Wataru Ogawa dan Mine Ogawa. Tak jauh dari situ, sang adik menatap nanar pada Takeru.

Wataru : (menunjuk televisi) Lihat! Lihat akibat perbuatanmu!!
Takeru : (mendengus)

Televisi itu menampilkan gambar Takeru sedang dibawa paksa oleh 2-3 orang polisi dengan wajah babak belur.

Wataru : Apa lagi yang kau perbuat sekarang, hah?! Apa kau masih belum puas mempermalukan Ayahmu?!!
Takeru : Hmpfh....PHUAHAHAHAHAHAHAHAHA........
Wataru : (heran)
Takeru : ........HAHAHAHAHAHAHAHA..........
Mine : (khawatir)
Wataru : Ada yang lucu, hah!
Takeru : .....HAHAHAHAHA....Ayah katamu? Siapa yang kau sebut sebagai ayah? HAHAHAHAHA.....

Wataru, Mine, dan adik Takeru hanya menatap Takeru dalam diamnya. Tak lama, Takeru menghentikan tawanya.

Takeru : (dingin) Kau bukan ayahku.

. . .

Masa kini.
Takeru menghisap rokoknya lebih dalam sampai ia terbatuk.

Takeru : (melempar rokoknya) Tsk!

Takeru meremas kepalanya.

. . .

(flashback)
Empat tahun yang lalu.

Takeru : Aku bukan anakmu, kau ingat?

Saat itu juga Mine menangis. Wataru memandang Takeru tajam. Sang adik hanya diam membisu.
Takeru melangkahkan kakinya ke luar rumah.

Wataru : Mau ke mana kau?! 
Takeru : (terus melangkah) . . .
Mine : (menangis) Jangan pergi, kumohon. Wataru, kau harus menghentikan dia! Aku tak mau dia pergi.
Wataru : Biarkan saja. Aku yakin, besok dia akan kembali lagi.

Takeru sudah ada di ambang pintu. Ia terus melangkahkan kakinya. Sang adik menatap kepergian kakaknya dalam diam.

Sang adik : (menggumam) Tidak, dia tak akan pernah kembali lagi.

. . .

Masa kini.
Takeru menatap langit. Matanya basah. Segera ia usap air matanya.

Takeru : Kau harus kuat. Harus.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar.

"Jangan merokok saja. Cek rekeningmu." 

Takeru tersenyum miris. Ia menatap langit. Kosong.
Dan di sanalah ia ada, wajah marah Haruka Sasaki. Dan suaranya.

Haruka : (suara) Mau menculik anak ini? Hah! Langkahi dulu mayatku!!
Takeru : Cewek itu. Kenapa tiba-tiba aku teringat dia? 

Takeru tampak berpikir sejenak. Sesaat kemudian, senyum pun terkembang di bibirnya.

Saturday, February 12, 2011

Persiapan Pameran

BABAK 29

Lima hari kemudian.
Haruka duduk di ruang makan, siang hari.

Haruka : (mengetuk-ketuk jari di atas meja)
. . .
Haruka : (matanya beralih pada ponsel yang tak jauh darinya)
. . .
Haruka : (mulai gelisah)
. . .
Haruka : (ditatapnya lagi ponsel tersebut, gemas)
. . .
Haruka : (menghela napas berat) Dasar tak tahu terima kasih. Meminta bantuan orang lain, lalu pergi begitu saja. Hah! Memangnya dia siapa?!
. . .
Haruka : (menatap ponsel untuk terakhir kalinya) Ini tak bisa dibiarkan. Lihat saja nanti kalau aku bertemu dengannya. Akan kubalas, YA, AKAN KUBALAS! KAU DENGAR ITU?!! AKAN KUBALAS.....!!!!!

Teriakan itu membuat gerakan Akane terhenti. Tangan kanannya menggantung di udara sambil memegang botol minuman.

Akane : (menggumam) Ada apa dengan anak itu?
. . .
Akane : (mengangakat bahu)

* * *

Waktu yang sama.
Tampak Takeru berdiri tegak di luar gerbang masuk rumah mewah. Sebuah undangan pameran terselip di tangan kanannya.

Takeru : (menatap rumah mewah itu dan beralih pada surat undangan)
. . .
Takeru : (kembali menatap rumah itu)
. . .
Takeru : (tatapannya mendingin)
. . .

Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Makoto.
Takeru menerimanya tanpa mengindahkan pandangannya dari rumah tersebut.

Makoto : Sebenarnya yang mau ikut pameran itu aku atau kau?
Takeru : Hah?
Makoto : Jangan berlagak bodoh. Cepatlah ke sini.
Takeru : . . .
Makoto : Persiapan untuk pameran. Dua minggu lagi, kau ingat?
Takeru : (jeda sejenak) Un. Aku segera ke sana.

Sebelum pergi, Takeru menatap dingin rumah mewah itu.