BABAK 36
Keesokkan harinya.
Akane tiba di sekolah lebih awal. Ternyata sudah ada yang menunggunya di gerbang sekolah.
Akane : (dalam hati) Akira? Mau apa lagi dia?
Mendengar suara langkah kaki, Akira mendongak. Sedangkan Akane segera mempercepat langkahnya.
Akira : (dingin) Kenapa kemarin kau tidak datang, sensei?
Langkah Akane terhenti. Sejurus kemudian, Akira mendekat dan berjalan mengitari Akane.
Akane : (menghela napas) Bicaralah sekarang. Waktuku tak banyak, jadi tolong langsung intinya saja.
Akira : (bersiul) Baiklah. Pertanyaannya sederhana saja, siapa kau?
Akane : (mengernyit) Pertanyaan aneh. Tentu saja aku salah satu guru di sini, ada masalah?
Akira : Hm... tergantung jawaban Anda.
Akane : Maksudmu?
Akira : Cara Anda menatap saya waktu itu. Oh, jangan bilang, Anda suka sama saya? Wah wah, bisa gawat kalau begitu.
Akane : Hmpf, hahahaha...it's ridiculous. Aku bukan tipe guru yang suka pada muridnya sendiri. Tidak mungkin. Hmpf...
Akira : (datar) Begitukah?
Sekali lagi Akira berjalan mengitari Akane. Betapa kagetnya ia mendapati bekas luka di leher bagian belakang.
Akira : (dalam hati) Luka itu...
Akane : (dalam hati) Sampai kapan aku di sini? Diancam murid sendiri, benar-benar memalukan. (menatap Akira) Indeed, he's not my brother.
Akane : Sepertinya kau sudah selesai bicara.
Akane melangkahkan kakinya. Dia semakin yakin kalau Akira memang bukan adiknya. Sedangkan Akira menatap punggung Akane penuh kerinduan. Air matanya nyaris tumpah.
Tanpa mereka ketahui, ada seseorang mengintip segala peristiwa itu.
Sunday, April 03, 2011
Saturday, April 02, 2011
Nee-chan
BABAK 35
Waktu yang sama. Kamar Akira Yamada.
Akira menatap langit-langit kamar, terbayang sesuatu.
(flashback)
Beberapa hari yang lalu. Sore hari setelah Akane berkunjung ke rumah Ryou.
Ryou sedang membuat makan malam untuk Akira.
Akira : Tadaima.
Ryou : Okaeri. Bagaimana sekolahmu hari ini?
Akira : Haah...nothing special, paman.
Ryou : (bengong)
Akira : (terkekeh) Maaf, Paman, maksudku ya biasa saja.
Ryou : Dasar, seperti kakakmu saja, tiba-tiba bicara dengan bahasa yang tak kupahami.
. . .
Ryou : Oh ya, sebelum aku lupa, tadi aku bertemu kakakmu. Akane.
Akira yang sedang melepaskan sepatunya berdiri mematung.
Waktu kini.
Akira masih menatap langit-langit kamarnya dengan ekpresi datar.
(flashback)
Dua tahun yang lalu. Akira berumur 14 tahun.
Malam hari. Ruang tamu.
Akhirnya Akira bisa menanyakan perihal kakak yang disayanginya pada Ryou Miyazawa.
Akira : Nee-chan orangnya seperti apa, paman?
Ryou : Hm...seingatku dulu ia adalah anak perempuan yang cerdas. Ia selalu melakukan apapun yang disukainya. Tidak peduli orang lain mau berkata apa.
Akira : (terpana)
Ryou : Kenapa? Kau ingin bertemu dengannya?
Akira : (mengangguk) Un. Aku ingin sekali menemuinya. Paman tau di mana nee-chan sekarang?
Ryou : Seingatku dulu kakak dan ayahmu masih tinggal di rumah kalian. Entah sekarang dia di mana.
Akira : (menunduk)
Ryou menepuk punggung Akira pelan, memberinya semangat.
Ryou : Suatu saat nanti kau pasti bisa bertemu dengan kakakmu. Percayalah.
Akira : (tersenyum) Um.
Waktu kini.
Akira : (dalam hati) Kalau dia kakakku, seharusnya dia mau menemuiku tadi. Tapi kenapa...?
. . .
Akira : Sepertinya aku harus melakukan sesuatu.
Akira tersenyum jahil.
Waktu yang sama. Kamar Akira Yamada.
Akira menatap langit-langit kamar, terbayang sesuatu.
- - - - -
(flashback)
Beberapa hari yang lalu. Sore hari setelah Akane berkunjung ke rumah Ryou.
Ryou sedang membuat makan malam untuk Akira.
Akira : Tadaima.
Ryou : Okaeri. Bagaimana sekolahmu hari ini?
Akira : Haah...nothing special, paman.
Ryou : (bengong)
Akira : (terkekeh) Maaf, Paman, maksudku ya biasa saja.
Ryou : Dasar, seperti kakakmu saja, tiba-tiba bicara dengan bahasa yang tak kupahami.
. . .
Ryou : Oh ya, sebelum aku lupa, tadi aku bertemu kakakmu. Akane.
Akira yang sedang melepaskan sepatunya berdiri mematung.
- - - - -
Waktu kini.
Akira masih menatap langit-langit kamarnya dengan ekpresi datar.
- - - - -
(flashback)
Dua tahun yang lalu. Akira berumur 14 tahun.
Malam hari. Ruang tamu.
Akhirnya Akira bisa menanyakan perihal kakak yang disayanginya pada Ryou Miyazawa.
Akira : Nee-chan orangnya seperti apa, paman?
Ryou : Hm...seingatku dulu ia adalah anak perempuan yang cerdas. Ia selalu melakukan apapun yang disukainya. Tidak peduli orang lain mau berkata apa.
Akira : (terpana)
Ryou : Kenapa? Kau ingin bertemu dengannya?
Akira : (mengangguk) Un. Aku ingin sekali menemuinya. Paman tau di mana nee-chan sekarang?
Ryou : Seingatku dulu kakak dan ayahmu masih tinggal di rumah kalian. Entah sekarang dia di mana.
Akira : (menunduk)
Ryou menepuk punggung Akira pelan, memberinya semangat.
Ryou : Suatu saat nanti kau pasti bisa bertemu dengan kakakmu. Percayalah.
Akira : (tersenyum) Um.
- - - - -
Waktu kini.
Akira : (dalam hati) Kalau dia kakakku, seharusnya dia mau menemuiku tadi. Tapi kenapa...?
. . .
Akira : Sepertinya aku harus melakukan sesuatu.
Akira tersenyum jahil.
Kau Menemuinya?
BABAK 34
Malam harinya. Ruang makan.
Haruka yang tampak sibuk melahap makan malamnya tiba-tiba terhenti.
Haruka : Ada apa lagi sekarang?
Akane : (tersentak)
Haruka : Masalah Akira?
Akane : (mengangguk) Hari ini dia muncul di kelas.
Haruka : Mau apa dia di kelasmu?
Akane : Dia...duduk di sana, tepat di depanku. Aku takut sekali.
Haruka : . . .
Akane : (takut) Dia menatapku. Aku menyuruhnya keluar, tapi ia bergeming. Aku bingung sekali.
Haruka : Kenapa tidak kau seret saja dia keluar?
Akane : Aku takut, Haru. Aku benar-benar berusaha keras tidak melihat wajahnya.
Haruka : Oke, oke. Lalu...?
Akane : Tiba-tiba dia mendekat dan berbisik di telingaku. Dia menyuruhku menemuinya...di tempat pertama kali aku melihatnya.
Akane tampak cemas dan begitu ketakutan. Air matanya mengalir.
Haruka segera mendekat dan mengusap punggung Akane.
Haruka : Kau menemuinya?
Akane : (menggeleng) Aku takut. Aku tidak mau menemuinya.
Tangis Akane semakin menjadi.
Haruka : Sssh... sudah, sudah. Yang penting, dia tidak mengganggumu lagi.
Akane mendongak, menatap Haruka.
Malam harinya. Ruang makan.
Haruka yang tampak sibuk melahap makan malamnya tiba-tiba terhenti.
Haruka : Ada apa lagi sekarang?
Akane : (tersentak)
Haruka : Masalah Akira?
Akane : (mengangguk) Hari ini dia muncul di kelas.
Haruka : Mau apa dia di kelasmu?
Akane : Dia...duduk di sana, tepat di depanku. Aku takut sekali.
Haruka : . . .
Akane : (takut) Dia menatapku. Aku menyuruhnya keluar, tapi ia bergeming. Aku bingung sekali.
Haruka : Kenapa tidak kau seret saja dia keluar?
Akane : Aku takut, Haru. Aku benar-benar berusaha keras tidak melihat wajahnya.
Haruka : Oke, oke. Lalu...?
Akane : Tiba-tiba dia mendekat dan berbisik di telingaku. Dia menyuruhku menemuinya...di tempat pertama kali aku melihatnya.
Akane tampak cemas dan begitu ketakutan. Air matanya mengalir.
Haruka segera mendekat dan mengusap punggung Akane.
Haruka : Kau menemuinya?
Akane : (menggeleng) Aku takut. Aku tidak mau menemuinya.
Tangis Akane semakin menjadi.
Haruka : Sssh... sudah, sudah. Yang penting, dia tidak mengganggumu lagi.
Akane mendongak, menatap Haruka.
Temui Aku
BABAK 33
Beberapa hari kemudian. Koridor kelas 1.
Tampak Akane sedang berbincang sejenak dengan Arata Sekiguchi, guru olahraga.
Tak lama, bel berbunyi. Mereka pun menyudahi perbincangan dan Akane melangkahkan kakinya menuju kelas 1B.
Kelas 1B.
Baru saja Akane meletakkan buku di atas mejanya, ia menemukan sosok asing duduk tepat di depannya.
Akira : (menatap Akane)
Akane : Kau bukan di kelas ini kan? Saya harap, kau kembali ke kelasmu.
Akira melihat ke segala arah, pura-pura tak mendengar. Akane bungkam. Ia benar-benar tak menyangka Akira akan datang ke kelasnya. Pandangan seisi kelas tertuju pada Akane dan Akira.
Akane : (dalam hati) Aku harus bisa menguasai keadaan. Jangan terpancing, Akane. Jangan terpancing.
Akane : Tolong keluar dari kelas saya, sekarang!
Akira : (bersiul)
Akane : (mulai kesal) Anak ini! Bagaimana caranya agar bisa mengeluarkannya dari sini?
Akane menatap Akira, gelisah.
Akira pun beranjak. Ia mendekati Akane dan berbisik,
Akira : Jam 4, tempat pertama kali kau melihatku.
Akira keluar kelas, membuat Akane menatapnya lama.
Akane : (kikuk) O-oke, mari kita mulai pelajarannya. Buka halaman...
Beberapa hari kemudian. Koridor kelas 1.
Tampak Akane sedang berbincang sejenak dengan Arata Sekiguchi, guru olahraga.
Tak lama, bel berbunyi. Mereka pun menyudahi perbincangan dan Akane melangkahkan kakinya menuju kelas 1B.
Kelas 1B.
Baru saja Akane meletakkan buku di atas mejanya, ia menemukan sosok asing duduk tepat di depannya.
Akira : (menatap Akane)
Akane : Kau bukan di kelas ini kan? Saya harap, kau kembali ke kelasmu.
Akira melihat ke segala arah, pura-pura tak mendengar. Akane bungkam. Ia benar-benar tak menyangka Akira akan datang ke kelasnya. Pandangan seisi kelas tertuju pada Akane dan Akira.
Akane : (dalam hati) Aku harus bisa menguasai keadaan. Jangan terpancing, Akane. Jangan terpancing.
Akane : Tolong keluar dari kelas saya, sekarang!
Akira : (bersiul)
Akane : (mulai kesal) Anak ini! Bagaimana caranya agar bisa mengeluarkannya dari sini?
Akane menatap Akira, gelisah.
Akira pun beranjak. Ia mendekati Akane dan berbisik,
Akira : Jam 4, tempat pertama kali kau melihatku.
Akira keluar kelas, membuat Akane menatapnya lama.
Akane : (kikuk) O-oke, mari kita mulai pelajarannya. Buka halaman...
Subscribe to:
Posts (Atom)