Friday, December 24, 2010

Orang Buta


seperti orang buta
dia berjalan dengan meraba tongkat di atas tanah
dari pagi, siang, hingga malam
apa tujuannya
apa yang ia cari

dan orang buta itu teringat
segala rasa yang pernah hinggap di kepalanya
ada yang manis, ada pula yang pahit
namun ia tak mengerti
mengapa rasa itu ada
apakah ia pernah mengecap rasa itu

ya, dia memang seperti orang buta
hanya berjalan ke segala arah
tanpa peduli apa yang menanti di sana
dan anehnya
dia sama sekali tak tersandung batu
bukankah dia buta

dia itu seperti orang buta
yang dia mau, yang dia inginkan,
yang ia dapatkan
jadi jangan kauhentikan dia
biarkan dia

kau tak bermaksud menganggu
kau tak boleh mengganggu dia
kau awasi dia
kau lihat dia
hanya itu

Saturday, October 16, 2010

Teman Haruka Onee-chan

BABAK 22

Para-para Konbini.
Haruka membawa 2 es krim dan membawanya ke tempat duduk dekat pintu masuk.
Mayu menyambutnya dengan senyuman cerah.

Haruka : Sepertinya lolipop yang kau minta habis, jadi aku menggantinya dengan es krim. Kau suka es krim stroberi?
Mayu : Aku sangat suka stroberi. Terima kasih, onee-chan. (mencicipi es krim) Mmm...enaknya~
Haruka : Baguslah kalau kau suka. Dihabiskan ya es krimnya.
Mayu : Pasti! Mmm...enak sekali. Dan dingin.
Haruka : Tentu saja dingin. Ini kan es krim. Kau ini ada-ada saja.

Keduanya sibuk melahap es krim sambil mengobrol bersama. Sesekali tampak Mayu tertawa karena candaan Haruka. Haruka hampir melupakan tujuannya bertemu Mayu.

Haruka : Jadi, Ruka-chan berbuat seperti itu karena iri padamu?
Mayu : Ya. Tapi suatu hari, aku akan balas menjambak rambutnya. Kali ini lebih kencang sampai rambutnya terlepas dan kepalanya menjadi botak!
Haruka : Hahahaha... Kau ini lucu sekali.

Mayu mengepalkan tangan kanannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

Haruka : Mayu-chan, apa kau suka hadiah?
Mayu : (mata berbinar-binar) Tentu, aku sangat suka hadiah. Nee-chan mau memberiku hadiah?
Haruka : Sayangnya bukan aku, tapi temanku. Dia sangat menyukai anak kecil yang baik dan manis sepertimu.
Mayu : Benarkah?! Dia pasti orang yang sangat baik.
Haruka : Karena dia sangat menyukai anak kecil, dia juga ingin memberi hadiah pada teman-temanmu.
Mayu : Uwaaa...teman-temanku pasti sangat senang.
Haruka : Jadi, kapan temanku itu bisa datang ke sekolahmu?
Mayu : Secepatnya! Besok juga boleh!
Haruka : Anak ini. Tidak bisa secepat itu kan. Begini saja, aku akan datang ke sekolahmu besok untuk minta izin pada gurumu. Setelah itu, baru bisa ditentukan kapan temanku itu bisa datang. Bagaimana?
Mayu : (tersenyum) Baiklah. Aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya, teman Haruka onee-chan.

Haruka tersenyum miris.

Haruka : (dalam hati) Bahkan aku baru mengenalnya kemarin. Maafkan aku, Mayu-chan.
 

Salam Kenal

BABAK 21

Keesokan harinya.
Haruka sibuk memotret objek menarik di sekitar konbini. Sebenarnya ia hanya menyibukkan diri sambil menunggu seseorang. Tak lama, orang yang ditunggunya pun datang dengan langkah riang.

Mayu : Kemarin rasa stroberi, sekarang aku mau rasa jeruk.
Haruka : Mayu Saitou?

Panggilan Haruka membuat langkah Mayu terhenti.

Mayu : (diam sejenak) Ah! Onee-chan* yang kemarin! Selamat siang.
Haruka : Selamat siang. Wah, tak kusangka bisa bertemu lagi denganmu. Sedang apa di sini?
Mayu : (menunjuk konbini) Mau beli lolipop di sana.
Haruka : Kebetulan sekali, aku juga ingin membeli sesuatu. Maukah kau mengantarku?
Mayu : (ragu)
Haruka : Oh, aku belum memperkenalkan diri, maaf ya. Halo, aku Haruka Sasaki. Salam kenal, Mayu-chan. Boleh aku memanggilmu Mayu-chan?
Mayu : (masih ragu)
Haruka : (tertawa) Tenang saja, aku bukan orang jahat seperti laki-laki kemarin. Oh ya, laki-laki itu tidak datang lagi kan? Kalau dia datang lagi dan berani menjahatimu, WATA!!

Haruka meninju udara untuk meyakinkan Mayu.

Mayu : Hahaha....
Haruka : Yuk!


--------------------
* Onee-chan = sebutan untuk kakak perempuan

Tuesday, August 24, 2010

Bisa Membantuku

BABAK 20

Miauw-miauw Park.
Haruka dan Takeru duduk berhadapan di atas rumput beratapkan pohon rindang. Angin yang menyejukkan sangat kontras dengan suasana menegangkan antara keduanya.

Haruka : (menatap tajam)
Takeru : Sudah kubilang, aku bukan mau menculik anak itu. Aku hanya ingin membantunya.
Haruka : Tapi apa yang kulihat tadi tidak seperti yang kau katakan. Aku percaya dengan apa yang kulihat. Sudahlah, mengaku saja.
Takeru : Aku tidak akan mengakui apa yang tidak kulakukan.
Haruka : Tentu saja. Kalau maling mengaku, penjara pasti penuh.
Takeru : (malas) Terserahlah--argh! Ssshhh...

Takeru menekan luka di bibirnya dengan bongkahan es.

Takeru : Kau bisa kutuntut karena hal ini, kau tahu?
Haruka : Oh ya? Jelas-jelas kau yang bersalah.
Takeru : Kau sudah mencemarkan nama baik seseorang.
Haruka : Sayangnya kenyataan berkata lain, jadi maaf saja, sepertinya kau yang akan kulaporkan lebih dulu.
Takeru : (menggumam) Dasar keras kepala.
Haruka : Apa kau bilang?!
Takeru : Bukan apa-apa.

Keduanya terdiam sejenak, menikmati hembusan angin yang sejuk. Tiba-tiba,...

Takeru : Ah!

Tangan Haruka mengepal.

Takeru : (melirik Haruka)
Haruka : Mau apa kau?
Takeru : (tersenyum) Sepertinya kau bisa membantuku.

Mau Menculik Anak Ini?!

BABAK 19

Beberapa hari kemudian, pagi hari.
Tampak Haruka sedang memotret objek yang menurutnya menarik. Sambil berjalan, badannya meliuk kanan-kiri demi mendapatkan objek yang bagus. Saat sedang sibuk memotret, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara panik seseorang.

Takeru : Hei, tunggu!!
Mayu : Huwaaaa... tolong... tolong...!!

Seorang lelaki mengejar anak kecil.

Haruka : Sepertinya orang itu penculik anak kecil. Oya, bukankah akhir-akhir ini banyak penculikan anak? Ini tidak bisa dibiarkan!

Haruka berlari menghampiri mereka dan langsung melancarkan jurus karate yang pernah dipelajarinya. Terjadilah pertarungan antara Haruka dan Takeru. Pada awalnya, Takeru masih bisa menahan serangan Haruka, namun sayangnya ia tidak bisa menahan serangan terakhir Haruka sehingga Haruka bisa mengunci gerakan tangannya ke belakang.

Haruka : Mau menculik anak ini? Hah! Langkahi dulu mayatku!!
Takeru : Kau hanya salah paham--ARRGHH!!!

Haruka memelintir tangan Takeru lebih dalam.

Haruka : Masih belum mengaku juga?!!
Takeru : Aku hanya ingin membantu anak itu. Aku serius!

Haruka beralih pada anak perempuan yang berdiri gemetaran di sampingnya.

Haruka : (tersenyum) Siapa namamu?
Mayu : Ma--Mayu. Mayu Saitou.
Haruka : Mayu-chan, kau sudah aman sekarang. Pergilah.

Mayu segera berlari sambil menangis.

Haruka : Dan kau, ikut aku!!

Monday, August 23, 2010

Bukan Adikmu

BABAK 18

Halaman depan Nakata Gakuen, saat pulang sekolah.
Akane sedang memeriksa tasnya, takut ada barangnya yang tertinggal. Tak jauh di depan, ia mendengar suara laki-laki dan perempuan sedang bercengkrama dan tertawa bersama.

Akane : (terkejut) Dia...

Anak laki-laki yang mirip dengan adiknya tampak tertawa bersama dengan 2 orang perempuan sambil merangkul keduanya mesra.

Akane : (menggumam) Tidak, tidak. Akane, dia bukan adikmu. BUKAN adikmu.
. . .
Akane : (menggumam) Lihat saja dia. Di telinga kanannnya ada dua tindikan, bajunya jauh dari kata rapi, rambutnya agak berantakan seperti tak terawat. Bagaimana mungkin dia itu adikmu?

Kali ini salah satu perempuan di sebelah kanan anak laki-laki itu berusaha mendekat lalu membisikkan sesuatu. Akane menepuk-nepuk kedua pipinya.

Akane : Sadarlah, Akane, dia bukan adikmu.

Akane menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia kembali melangkahkan kakinya.

. . .

Gerbang sekolah.
Sebelum membelok, Akira sempat menatap Akane lama.

Perempuan 1 : Ada apa, Akira-kun?

Perempuan yang tadi ada di sebelah kanan Akira menghampirinya dan ikut melihat arah pandang Akira.

Perempuan 1: Kau melihat apa?
Akira : Tidak, bukan apa-apa. Yuk!

Akira memeluk bahu perempuan itu lalu membawanya pergi.

Thursday, August 19, 2010

Seorang Guru

BABAK 17 

Hari yang sama.
Kelas 2-D lantai 3, menjelang pulang sekolah.
Guru sedang menjelaskan pelajaran sementara di pojok kiri belakang kelima anak cowok mengobrol dengan asyiknya : Akira Yamada, Abe Moriyama, Keigo Nagakura, Hikaru Asada, dan Minami Kagawa. 

Abe : (menyenggol lengan Akira) Goukon* kemarin bagaimana, sukses? Ada cewek yang kau taksir tidak?
Hikaru : Sukses apanya! Kemarin dia hanya duduk saja, tidak menyanyi satu lagu pun! Bukankah begitu, Keigo?
Keigo : (menerawang) Haaah... Itou-chan itu manis ya. Ayumi-chan, Nami-chan juga....
Hikaru : Lihat, Keigo saja sampai dibuat seperti itu.
Minami : (berbisik) Sepertinya memang ada masalah pada diri Akira. Apakah itu berkaitan dengan hormon? Atau dia memang kelainan?
Abe : Kelainan? Maksudmu?
Minami : (berbisik) Menyukai sesama lelaki. 

Akira memukul Minami dengan buku. 
DUK!!

Minami : Aw!! Arrgghhh!! Hei!!
Akira : Maaf, tanganku terpeleset.
Minami : (mengusap-usap kepala) Arrghh... sakit sekali. Kau memukulku pakai apa sih? 

Akira mengangkat kamus bahasa Inggris tebal.

Minami : Arrgghhh.... Ssshh....
Hikaru : Tapi kemarin itu seru sekali. Harusnya kau ikut.
Keigo : Ckckck... Abe itu harus jaga toko. Kalau tidak, Ayahnya yang akan bertindak.
Abe : Sialan.
Hikaru, Keigo, Minami : Hahahahaha.... 

Tiba-tiba Keigo menangkap sosok yang dikenalnya sedang berjalan di luar kelas. 

Minami : Kenapa, Kei?
Keigo : Itu... 

Seketika itu juga, pandangan kelimanya beralih pada sosok yang ditunjuk Keigo. Akane Miyazawa. 

Hikaru : Bukankah itu cewek yang kemarin?
Minami : Waktu itu kenapa dia lari ya? Wajahnya terlihat sangat kaget.
Abe : Mungkin dia takut melihat kita?
Keigo : Hei, lihat bajunya! 

Akane mengenakan kemeja rapi dengan membawa buku-buku di tangannya. 

Abe : Dia mengajar di sini ternyata! 

Akira terus menatap Akane sampai sosoknya menghilang.


--------------------
* Goukon : a Japanese drinking party where male and female joined to look for their partner
http://lang-8.com/10732/journals/25172 

Saturday, August 14, 2010

Aku, Kamu


aku berharap dinding di depan sana hancur
setipis apapun dinding itu,
aku menginginkannya hancur
agar aku bisa menyentuhmu
melihat wajahmu dari dekat
aku
kamu
menjadi kita
itulah yang kuharapkan
sejak lama


Monday, August 09, 2010

Mayu Saitou

BABAK 16

Keesokkan harinya.
Takeru berdiri di depan konbini dekat rumah, menunggu anak kecil yang tempo hari menyuruhnya untuk berhenti merokok. Anak kecil berkucir dua itu pun akhirnya datang.

Takeru : (tersenyum)
Anak kecil : (melengos)
Takeru : (dalam hati) Cuek sekali dia. Apa dia tidak ingat aku?

Anak kecil yang sedang makan lolipop itu terus berjalan pelan melewati Takeru.

Takeru : Hei, anak manis yang di sana? 

Anak kecil itu menoleh lalu kembali berjalan. Terpaksa Takeru menghadangnya.

Takeru : Kau tidak dengar aku memanggilmu?
Anak kecil : Kata Ibuku, aku tidak boleh bicara pada orang tak dikenal.
Takeru : (tersenyum) Kalau begitu, perkenalkan aku Takeru. Namamu siapa?
Anak kecil : (membungkuk) Aku Mayu Saitou. Salam kenal.

. . .

Kini mereka ada di taman sedang bermain jungkat-jungkit.

Takeru : Jadi, Mayu-chan, kenapa hari ini kau tidak sekolah?
Mayu : Hari ini libur. Para sensei sedang rapat.
Takeru : Kau sudah SD atau masih TK? Umurmu berapa sih?
Mayu : Lima tahun.
Takeru : Masih TK ternyata. Pasti kau punya banyak teman di sana.
Mayu : Tentu saja. Ada Keita-kun, Momo-chan, Rin-chan, Ayame-chan, wah, pokoknya temanku banyak sekali. (tersadar) Yaah...permenku habis.
Takeru : Baiklah, kau tunggu di sini. Aku akan membelikan permen untukmu.

Takeru pergi sebentar meninggalkan Mayu. Tak lama kemudian, ia kembali ke taman dan mendapati anak itu sudah tak ada.

Takeru : Hahaha...bisa-bisanya aku dikerjai anak kecil.

Sunday, August 08, 2010

Rokok 'Sial'

BABAK 15

Malam yang sama, beranda kamar.
Takeru menatap buku tabungan sambil menghembuskan asap rokoknya.

Takeru : Satu, dua, tiga,... Wah, dia mengirim terlalu banyak. Apa kukembalikan saja ya?
. . .
Takeru : Tidak, tidak. Siapa tahu ini memang bagianku?
. . .
Takeru : Uang sebanyak ini bagaimana cara menghabiskannya ya?
. . .
Takeru : Yang jelas, aku tidak ingin menghabiskannya dengan minum sake. Mmm...
. . .

Takeru memutar-mutar puntung rokok di tangannya. Tanpa sengaja, puntung rokok itu terjatuh dan mengenai kaki kanannya.

Takeru : Argh!! Sial!!

Takeru mengusap dan meniupi kaki kanannya. Diambilnya rokok yang terjatuh lalu menatapnya. Tiba-tiba terlintas sebuah ide. Takeru mencium rokok itu.

Takeru : (tersenyum) Memang kau ini rokok 'sial'!! Hahaha...

Saturday, August 07, 2010

Berandalan

BABAK 14

Malamnya, ruang keluarga Haruka Sasaki.
Haruka baru saja masuk rumah saat melihat sahabatnya, Akane, hanya duduk menatap kosong layar televisi di depannya. Haruka ikut duduk di sebelahnya.

Haruka : Murid-muridmu mengacuhkanmu lagi, hmm?
Akane : (menggeleng) Bukan itu.
Haruka : Lantas?
Akane : Aku berhasil menemukannya, Haru.
Haruka : (terdiam sebentar) Akira-kun? Kau menemukannya?
Akane : Ya. Tanpa sengaja aku menemukannya di halaman belakang sekolah, dekat gudang penyimpanan alat-alat olahraga.
Haruka : Benar-benar berita bagus! Aku senang mendengarnya.
Akane : Ya, aku pun begitu. Tapi, kenapa ia bisa berubah menjadi seperti itu?
Haruka : Seperti itu, maksudmu?
Akane : Aku menemukannya sedang bersama teman-temannya yang merokok. Dia terlihat berantakan seperti tak terurus. Dan dia melihatku. Tatapannya itu membuatku takut.
Haruka : Bukankah itu hal wajar. Seseorang memang berubah kan?
Akane : Aku tahu, tapi aku tidak menyangka Akira akan berubah menjadi anak seperti itu.
Haruka : Aka-chan, andaikan Akira berteman dengan berandalan, bukan berarti dia menjadi berandalan juga. Kau juga tidak boleh berpikir setiap berandalan itu berperilaku buruk dan senang berbuat jahat. Dengar ya, sekarang ini bahkan orang baik pun bisa jadi orang jahat. Jadi, jangan melihat dari satu sisi saja.

Akane menatap Haruka takjub.

Akane : Haru, apa kau berniat beralih profesi?
Haruka : Hah?
Akane : Sepertinya kau lebih pantas jadi guru.
Haruka : Maaf saja, tapi aku sangat mencintai pekerjaanku sekarang. Selamanya.
Akane : (menggumam) Haru jadi guru ya....

. . .

(dalam imajinasi Akane)
Di dalam satu kelas, tampak Haruka mengajar tentang jurnalistik. Murid-murid yang diajarnya memperhatikan dengan serius. Sesekali ada murid yang bertanya dan Haruka bisa menjawabnya dengan sangat baik.

. . .

(waktu kini)

Akane : (melirik Haruka) Sepertinya tidak jelek juga, Hmpfh...
Haruka : Kenapa kau tertawa?
Akane : Nandemo nai.*
Haruka : Cepat beritahu aku, kalau tidak,...

Haruka mendekati Akane, bersiap untuk mengelitiknya.

Akane : Hei, hei, Haru-chan, kau tidak berpikir mau mengelitikku kan?
Haruka : (mendekat)
Akane : Ups! Sepertinya aku harus kabur secepatnya.
Haruka : Kau terlalu banyak memakai kata sepertinya. Pemborosan kata, kau tahu tidak?

Sejurus kemudian, Haruka sibuk mengejar Akane untuk mengelitiknya.


--------------------
* nandemo nai = bukan apa-apa

Akira Yamada

BABAK 13

Hari yang sama.
Koridor kelas 2 lantai 3 Nakata Gakuen, istirahat siang.
Akane menyusuri koridor sambil membuka agenda. Di dalamnya terdapat sebuah foto remaja lelaki berambut agak berantakan dan sedang tersenyum jenaka. Ia memasuki tiap-tiap kelas untuk mengecek keberadaan anak tersebut.

Akane : (menggumam) Di mana anak itu?

Akane memasuki salah satu kelas. Ada seorang siswi hendak masuk kelas melewatinya.

Akane : Maaf.
Siswi : Ya?
Akane : Apakah di kelas ini ada siswa bernama Akira Miyazawa?
Siswi : (berpikir sebentar) Sepertinya tidak ada.
Akane : Benarkah? Tolong diingat-ingat sekali lagi.
Siswi : Tidak ada siswa bernama Akira Miyazawa di sini.
Akane : Oh. Kalau begitu, permisi.

Akane memasuki tiap kelas. Saat bertanya pada salah satu murid, selalu jawabannya tidak ada.
Sampai ia tiba di 2 kelas terakhir. Sekali lagi ia bertanya pada murid kelas itu.

Akane : Maaf, apakah di kelas ini ada murid bernama Akira Miyazawa?
Siswa : Akira siapa?
Akane : Akira Miyazawa.
Siswa : Oh, kukira. Sepengetahuanku, hanya ada satu Akira, Akira Yamada.
Akane : Akira Yamada?
Siswa : Kau yakin bukan Akira Yamada?
Akane : Ya. Bukan Yamada, tapi Miyazawa.
Siswa : Wah, kalau begitu, tidak ada.
Akane : Begitu ya. Maaf mengganggu waktumu.

Akane meninggalkan kelas itu. Di kelas terkahir pun jawabannya tetap sama. Tidak ada Akira Miyazawa, hanya ada Akira Yamada. Dengan berat hati Akane melangkahkan kakinya menuju tempat sepi di belakang sekolah.

Akane : (menghela napas) Di mana kau, Akira?

Begitu tiba di halaman belakang, Akane melihat segerombolan siswa sedang asyik mengobrol sambil tertawa keras dengan rokok mengapit di kedua jari mereka. Akane hendak menghampiri untuk memperingati mereka karena telah melanggar peraturan sekolah, namun langkahnya terhenti seketika kala ia melihat salah satu dari kelima remaja pria tersebut. Ia menatap salah satu remaja pria itu lalu foto dalam agendanya.

Akane : (menggumam pelan) Akira? Itu...Akira?!

Akane tersentak saat melihat ternyata pemuda itu pun menatap balik ke arah Akane dengan tatapan tajam. Satu-satunya pemuda yang tidak merokok dalam gerombolan itu berbisik pada temannya yang lain. Tatapan mereka semua mengarah pada Akane. Akane melangkah mundur lalu pergi.

Akane : (hampir menangis) Tidak, itu bukan Akira. Itu bukan Akira!

Monday, August 02, 2010

Wataru & Mine Ogawa

BABAK 12

Hari berikutnya.
Taman dekat rumah, pagi hari.
Makoto mencoba bersenandung pelan sambil bermain gitar.

"Sugite kita hibi zenbu de, ima no atashi nanda yo
kantan ni ikanai kara ikite yukeru"*

. . .

(flashback)
Hari yang sama, pagi-pagi sekali.
Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi di sebuah rumah mewah.
Kedua penghuni utama terpaksa bangun untuk membuka pintu : Wataru Ogawa dan Mine Ogawa.

Wataru : Masih pukul setengah enam pagi?! Benar-benar tidak sopan.

Saat membuka pintu, mereka menemukan sebuah karangan bunga hitam dengan secarik kertas di dalamnya. Mine mengambil kertas itu.

Mine : (menutup mulut)
Wataru : Ada apa?

Wataru segera mengambil kertas yang ternyata adalah sebuah foto. Di dalam foto itu ada 4 orang : dua orang dewasa dan dua anak kecil yang sedang tersenyum hangat. Namun, yang membuat Wataru kaget adalah foto itu sudah terkoyak, nyaris hancur. Wataru membalik foto itu.

Wataru : (dalam hati) Senyum palsu. Kebaikan palsu. Aku tak butuh semua itu.
Namun akan tetap kuucapkan satu kata selamat untuk mereka
dari lubuk hatiku yang paling dalam.
Mine : (menangis)
Wataru : (memeluk bahu istrinya)

. . .

(waktu kini)
Selesai bersenandung, Takeru kembali menyulut rokoknya lalu menghembuskan asapnya membentuk lingkaran.

Takeru : Haah...kira-kira mereka senang atau tidak ya menerima "hadiah" kecil dariku.

Takeru memandang langit dan membayangkan wajah Wataru Ogawa dan Mine Ogawa. Tiba-tiba bayangan itu menghilang karena ia dikagetkan dengan suara anak kecil yang menangis.

Takeru : Kencang sekali tangisan anak itu. (melihat ke langit) Balonnya terbang ternyata...
Anak kecil : Huwaaa.....!!
Takeru : Haah...sebenarnya aku tidak ingin berurusan dengan anak kecil,...

Takeru beranjak, hendak mengahampiri anak kecil itu. Namun ada seorang ibu yang mendekat dan menyerahkan permen lolipop.

Takeru : Akhirnya diam juga anak itu. 

Takeru melihat ibu itu mencium anaknya dengan penuh sayang. Takeru terus memandangi mereka sampai sosoknya menghilang.


--------------------
* All the days that have passed make up the me that's here now
It's because it's not simple that I can go on living
(LIFE - YUI)
http://www.sweetslyrics.com/556415.YUI%20-%20life%20%28english%29.html 
 

Monday, July 26, 2010

Alasan Menjadi Guru

BABAK 11

Rumah Haruka, malam hari.
Akane baru saja datang kala Haruka sedang asyik menonton di ruang keluarga.

Akane : (ketus) Aku pulang.
Haruka : (mengernyit) Selamat datang. Ada apa denganmu?

Akane meletakkan tasnya di atas meja lalu duduk di sebelah Haruka.

Akane : (menghela napas)
Haruka : Sepertinya kau terlihat sangat lelah. Oya, bagaimana hari pertamamu menjadi guru? Menyenangkan?
Akane : Ya, amat sangat menyenangkan, Haru, sampai-sampai aku harus menahan kekesalanku.
Haruka : Kenapa begitu?
Akane : Bagaimana tidak, saat aku mengajar, tidak ada yang mendengarkan seolah-olah aku ini tukang obat yang dagangannya tidak laku. Setiap aku menyuruh salah satu dari mereka ke depan untuk menjawab soal, tak ada satu pun yang beranjak. Suasana kelas memang saaaangat tenang, terlalu tenang malah. Namun tetap saja aku seperti tak dianggap sebagai guru mereka.
Haruka : (terdiam) Sabar, Akane.
Akane : Mungkin mudah bagimu untuk berkata sabar, tapi tetap saja hal itu membuatku kesal! Bayangkan, aku harus menahan rasa kesalku sepanjang siang tadi. Oh, ralat, dari pagi hari hingga sekarang. Ya, sekarang. Bayangkan betapa kemarahanku, kekesalanku sudah menumpuk sebanyak ini.

Akane mengangkat tangan kanannya setinggi dua jengkal di atas kepalanya dan tangan kirinya yang diletakkan di atas pangkuannya.

Haruka : Aku tahu kau sedang marah sekarang. Kau kesal karena perlakuan murid-muridmu yang terkesan cuek dan tidak peduli. Tapi perlu kau ingat, inilah konsekuensi menjadi seorang guru. Masalah yang kau hadapi sekarang ini anggap saja tantangan pertama yang harus kau atasi. Kau tidak ingat alasan mengapa kau ingin menjadi guru?
Akane : (mengingat-ingat)
Haruka : Satu kata : tantangan. Itulah alasanmu menjadi guru. Apakah aku salah, Miyazawa-sensei?
Akane : (tersenyum) Kau benar. Sangat benar. Terima kasih sudah mengingatkanku dan menyadarkanku, tentu saja. Terus terang, ternyata menjadi guru itu tidaklah mudah. Padahal ini baru hari pertama.
Haruka : Kalau kau suka, kau pasti akan menikamati setiap detik yang kau lalui saat menjadi guru.
Akane : Begitukah? Hmm...

Haruka kembali menekuni film yang tadi ia tonton.

Akane : Yosh! Oke, hari ini baru pemanasan. Anggap saja aku sedang mempelajari sebuah medan yang harus kutakhlukkan luar-dalam. Lihat saja, medan yang hancur berantakan akan aku sulap menjadi taman bermain yang menyenangkan!! HAHAHAHA.....!!!
Haruka : (menggumam) Hanya bicara sih mudah saja ya...
Akane : Kita lihat saja nanti! Hohohoho....
Haruka : Tsk! Baru begitu saja sudah sombong. Tidak dapat dipercaya, perempuan yang tertawa dengan sombongnya ini adalah perempuan yang beberapa menit yang lalu putus asa seperti orang kehilangan harapan.
Akane : Hei, hei, jangan berkata jahat seperti itu dong.

Akane melihat jam tangannya.

Akane : Ya ampun, hampir jam delapan! Ini sudah lewat jam makan malamku. Bagaimana ini?!!
Haruka : Ya sudah, tidur saja sana.
Akane : Aku memang ingin tidur, tapi aku lapar sekali.
Haruka : Ya sudah, makan dulu, baru tidur.
Akane : Aha! Ide bagus!!

Haruka hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku sahabatnya itu.
  

Lupakan Aku


saat kau ucapkan kata itu
"lupakan aku, hapuskan aku."
dengan dingin
 sedingin salju yang turun kala itu
tidak tahukah kau,
hatiku terluka?
lihatlah air mata ini
apakah aku terlihat senang
mendengar ucapmu?

di saat itulah aku sadar
penolakanmu terhadapku
adalah
sebuah ucapan selamat tinggal
mau tak mau ku harus terima
meski hati ini tak mau
meski hati ini sakit
tapi aku harus



cuap-cuap :
"puisi ini kubuat sesuai dengan komik
yang sedang kubaca : Hana to Akuma (Flower and Devil),
tepatnya di chapter 52. meskipun ceritanya agak
menyedihkan, tapi aku sangat menantikan
kelanjutan kisahnya."

Saturday, July 24, 2010

BUGH!!

BABAK 10

Hari yang sama.
Mesin ATM di sebuah department store, menjelang siang hari.
Takeru mengecek nominal yang tertera di layar.

. . .

(flashback)
Pagi di hari yang sama.
Takeru melihat mail yang baru saja masuk di ponselnya.

"Take and give, as our promise."

. . .

(waktu kini)
Takeru menatap datar layar mesin ATM tersebut.

Takeru : (mengetuk pelan layar mesin ATM) As our promise.

Setelah selesai mengecek, Takeru segera mengambil kartu ATM lalu mengecupnya.

Takeru : (tersenyum) I'll be having party tonight.

. . .

(flashback)
Dua hari yang lalu.
Jalanan yang sangat sepi dan jarang dilalui orang banyak, menjelang sore hari.
Takeru membetulkan letak kacamata hitamnya saat mendengar suara langkah kaki seseorang mendekat.

BUGH!!
KREK!

Takeru memukul seorang lelaki paruh baya di bagian pipinya. Ia yakin rahang lelaki itu bergeser disusul darah segar yang ikut mengalir dari mulut dan hidungnya.

Lelaki : (meringis) AARGGHH!!!!

BUGH!!

Sekali lagi Takeru melayangkan tinjunya. Kali ini targetnya adalah pipi kiri lelaki itu.

Lelaki : AARRRGGGHH!! Ka--kau! Apa-apaan--

BUGH!!

Kali ini perut lelaki itu. 
Lelaki itu sempat tumbang, namun sepertinya ia masih sanggup berdiri.

Takeru : Belum cukup juga, heh?!

Mata Takeru berkeliling, mencari benda yang kira-kira mampu melumpuhkan lelaki itu. Tampak tak jauh darinya, ia melihat sebuah batang kayu besar. Takeru mengambilnya dan...

Takeru : Rasakan ini! Rasakan ini!!

BUGH!! BUGH!! BUGH!!

. . .

(waktu kini)
Takeru mendorong pintu ATM lalu keluar.

Takeru : Semoga laki-laki itu baik-baik saja.

. . .

(flashback)
Dua hari yang lalu, setelah insiden pemukulan.
Ruang pribadi Takeru.
Gelap. Hanya ada satu penerangan yang menyoroti sebuah kanvas besar berlukiskan warna merah hampir menutupi sudut kiri atas.

Takeru : Satu lagi kubawakan oleh-oleh untukmu, kanvasku sayang.

Takeru membuka jaket lalu memegangnya di tangan kanan. Kemudian ia membuka baju lalu memegangnya di tangan kiri. Ia torehkan bercak merah yang melekat di keduanya pada sudut kanan atas kanvas besar itu.

Takeru : (tersenyum sinis) Mimpi indah untukmu, sayang.

. . .

Kelas Baru

BABAK 9

Koridor kelas 1 lantai 2.
Tampak kepala sekolah Nakata Gakuen, Hiro Asada, sedang menunjukkan ruangan-ruangan yang ada di lantai 2 sekaligus mengantar Akane ke kelas 1-B.

Hiro : Nah, ini kelasnya.

Hiro Asada masuk kelas diikuti Akane.

Hiro : Perhatian semuanya! Saya ucapkan selamat datang kepada kalian karena telah berhasil masuk Nakata Gakuen. Semoga kalian bisa belajar dengan nyaman dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah ini.
. . .
Hiro : Sekarang, saya akan memperkenalkan wali kelas sekaligus guru matematika kalian. Beliau adalah Akane Miyazawa.
Akane : (membungkuk ke arah murid)
Hiro : Karena saya harus menghadiri rapat, selanjutnya saya serahkan kepada Miyazawa-sensei.
Akane : (membungkuk pada Hiro Asada) Terima kasih banyak.

Hiro Asada keluar kelas.
Akane mengedarkan pandangan.

Akane : (dalam hati) Sepi sekali kelas ini.
. . .
Akane : Ohayou gozaimasu!* Perkenalkan, saya Akane Miyazawa. Saya sangat senang bertemu kalian semua. Berhubung saya masih baru di sini, mohon kerja samanya ya.
Murid-murid : (memandang aneh)

Seisi kelas tetap bergeming.

Akane : Oke, saya ingin kalian memperkenalkan diri masing-masing. Mulai dari sebelah kanan saya.

Seorang siswa dengan rambut berantakan berdiri.

Siswa : Daichi Ueda.
Akane : Hanya itu? Baiklah, selain nama, sebutkan nama SMP dan hobi kalian. Jangan lupa, alasan kalian memilih masuk Nakata Gakuen. Ulangi sekali lagi, Ueda-kun**.
Daichi : Daichi Ueda. SMP S. Hobi...tidur. Saya masuk ke sekolah ini karena terpaksa.
Akane : (terkejut) O--oke, Ueda-kun, terima kasih. Silakan duduk kembali. Selanjutnya...

Seorang siswi yang duduk di belakang Daichi Ueda bergeming.

Akane : Maaf, siswi yang duduk di belakang Ueda-kun, silakan perkenalkan dirimu.
Akane : (dalam hati) Siswi yang tadi...

Siswi itu tetap duduk.

Siswi : Arima Sakurai.
Akane : Dari SMP mana, hobi, dan alasan masuk sekolah ini?
Arima : (melihat keluar jendela) . . .
Akane : (dalam hati) GRRRR.... Sabar, Akane, sabarrr....
Akane : Oke, selanjutnya...


--------------------
* Ohayou gozaimasu = selamat pagi (formal)
** -kun = biasanya panggilan untuk anak laki-laki

Friday, July 23, 2010

Ruang Kepala Sekolah

BABAK 8

Dua hari kemudian, hari Senin yang cerah.
Akane berdiri di depan sebuah bangunan cukup megah, Nakata Gakuen.
Lalu Akane melihat bangunan tersebut atas-bawah-kanan-kiri.

Akane : (tersenyum) Haaah...sekolah baru, orang-orang baru, murid-murid baru. Rasanya aku sudah tak sabar lagi.
. . .
Akane : (melihat kanan-kiri gedung) Mmm... kira-kira ruang kepala sekolah di mana ya?

Tiba-tiba ada seorang siswi berjalan mendahului Akane.

Akane : Ah! Hei, tunggu!

Siswi berambut pendek itu berhenti dan menoleh. Akane menghampirinya.

Siswi : (ketus)
Akane : (takut) Mm... maaf, ruang kepala sekolah letaknya di mana?
Siswi : (menggerutu pelan) Tsk! Menyusahkan saja.
Akane : (kaget) Maaf?
Siswi : Ada di lantai dua. Dari tangga, ke arah kanan.

Siswi itu langsung pergi.

Akane : Tidak sopan sekali. Bahkan aku belum sempat mengatakan terima kasih padanya.
. . .
Akane : (mengangkat bahu)

Akane segera melangkah masuk.
 

Saturday, July 17, 2010

Both of Them

BABAK 7

Hari yang sama, pukul 2 siang.
Takeru menghirup rokok di teras kamarnya.
Di atas meja kecil tampak sisa-sisa makanan Takeru.

Takeru : Haah, panas sekali hari ini.

Sementara televisi di dalam kamarnya saat ini sedang menampilkan berita dari kalangan pemerintahan. Seorang pejabat baru saja naik pangkat, dan yang ditayangkan dalam berita tersebut adalah pesta besar-besaran untuk merayakan kenaikan pangkat tersebut.

Takeru : (tersenyum sinis) Sepertinya ada yang harus kuberi ucapan selamat.

Takeru memandang langit.
Tiba-tiba ia teringat akan tugasnya. Takeru segera menghabiskan rokoknya, mengenakan jaket, lalu beranjak ke luar kamar.

. . .

Waktu yang sama.
Rumah Haruka Sasaki, ruang tamu.
Akane duduk di dekat jendela memandangi matahari. Tak lama, Haruka datang dan duduk di sebelahnya.

Haruka : Panas, panas, panaaaaas! Aku tidak tahan...
Akane : (tersenyum) Setidaknya masih lebih panas saat musim panas.
Haruka : (mengernyit) Kenapa kau malah tersenyum? Kau senang melihatku kepanasan seperti ini?
Akane : Tidak, tidak, kau salah. Begini, aku bersyukur bisa merasakan panas. Kita tidak akan tahu bagaimana rasanya dingin sebelum merasakan panas. Sebaliknya, kita tidak akan tahu bagaimana rasanya panas sebelum merasakan dingin. Karena keduanya hidup berdampingan dan saling melengkapi.
Haruka : (bingung) Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Tunggu, kenapa tiba-tiba kau jadi seperti ini?
Akane : Seperti apa?
Haruka : Seperti manusia religious.
Akane : Am i?
Haruka : Nah, mulai lagi dia berbicara dengan bahasa yang tak kumengerti. Dasar ibu guru kita yang satu ini, tidak pernah bisa mengerti keadaan sahabatnya, huh!

Akane tertawa.

Akane : (menggumam) Dua hari lagi, aku menjadi guru.
Haruka : Ya, akhirnya tercapai juga impianmu.
Akane : Un.

Wednesday, July 14, 2010

Matematika

BABAK 6

Rumah Haruka Sasaki, kamar Haruka.
Haruka masuk kamar dengan membawa segelas susu dan air dingin.

Haruka : Tak kusangka, ternyata kau masih suka susu ya.
Akane : Begitulah. Karena tinggiku masih jaaauh dari target.
Haruka : Memangnya berapa tinggi idealmu?
Akane : Di atas 172 cm.
Haruka : Kau mau jadi model? Kupikir dulu kau ingin menjadi guru.
Akane : Tidak semua orang yang menginginkan tinggi di atas 172 cm itu bercita-cita jadi model kan?
Haruka : Lalu...?
Akane : Yaa... aku hanya ingin tinggi, untuk saat ini.
Haruka : Tinggimu yang sekarang, bagimu, masih kurang?
Akane : Tentu saja.
Haruka : Menurutku, kau yang sekarang dengan tinggi 164 cm pun terlihat lebih baik. Setidaknya itulah dirimu. Akane Miyazawa.
Akane : Ya, ya, terserah kau saja. Aku capai berdebat terus denganmu. Tak akan ada habisnya.

Akane meneguk susunya seperempat.

Haruka : Jadi, nanti kau akan mengajar apa di sekolahmu yang baru?
Akane : Sebenarnya aku ditawarkan mengajar bahasa Inggris dan matematika. Aku tidak mau memilih keduanya, hanya satu yang akan kupilih. Menurutmu bagaimana?
Haruka : Mmm... begini saja. Kau lebih suka bahasa Inggris atau matematika?
Akane : Matematika. Lebih menantang.
Haruka : (melirik Akane) Nah, kalau begitu, sudah diputuskan.

Akane balas melirik Haruka lalu tersenyum.
 

Monday, July 12, 2010

Dasar Akane

BABAK 5

Hari yang sama.
Bandara Internasional Tokyo.
Seorang wanita merentangkan tangannya sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu menghembuskannya.

Akane : Tokyo, aku dataaaang....

Mata Akane berkeliling, menikmati pemandangan orang berlalu-lalang di bandara tersebut. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara seseorang memanggil.

Haruka : Akane...! Akane Miyazawa, Akane Miyazawa!
Akane : (menggumam) Haruka... Sasaki? Haruka Sasaki?! Haru-chan.....!
Haruka : (menoleh) Aka-chan! Ini benar Aka-chan?
Akane : Un. Apa kabar, Haru?
Haruka : (memeluk) Uwa... aku kangen sekali padamu!
Akane : O! Hei, hei, ternyata kau masih kuat seperti dulu ya.
Haruka : Tentu. Aku selalu berlatih setiap hari. Dan kau...tidak berubah, tetap pendek seperti dulu.
Akane : Hei, hei, hei..... begitu ya sikapmu pada teman lamamu.
Haruka : Hehehe... aku bercanda. Dasar Akane, masih sensitif juga ya soal tinggi badan. Hahahaha.....
Akane : Ya, ya, tertawa saja sesukamu sampai kau puas!
Haruka : Duuh, Akane, begitu saja kau marah. Sudah kubilang aku hanya bercanda. Ya sudah, lebih baik sekarang kita langsung ke rumahku saja.
Akane : Un.

Sunday, July 11, 2010

Tidak Bisa Kau Lupakan

BABAK 4

Konbini
Begitu masuk konbini, Takeru langsung berjalan menuju tempat di mana di situ banyak mi instan. Diambilnya mi instan 10 buah.

Takeru : Mi instan sepuluh sudah. Hm... tinggal kopi dan beberapa roti saja.

Takeru mengambil beberapa bungkus kopi dan roti sobek. Kemudian ia membawanya menuju kasir. Perempuan penjaga kasir melihatnya takut-takut. Takeru menatapnya tajam lalu tersenyum.

Kasir : Semua jadi 2500 yen.
Takeru : (terpaksa) Ini.
Kasir : Terima kasih banyak. Silakan datang kembali.

Takeru berjalan keluar konbini.

Takeru : (menghela napas) Kenapa harganya begitu mahal?

DRRRT... DRRRT...

Ponsel di sakunya bergetar. Ada mail masuk.

"Hal yang tidak bisa dan tidak boleh kau lupakan seumur hidup."

Takeru : (tersenyum sinis)

Berhenti Merokok

BABAK 3

Hari yang sama, siang yang terik.
Takeru berjalan menuju konbini* sambil menyulut rokoknya lalu menghembuskan asapnya. Tiba-tiba ada yang terbatuk.

UHUK! UHUK!

Takeru : (menoleh) 

Takeru melihat ada seorang anak perempuan kecil terbatuk akibat rokok yang dihembuskannya. Takeru melihat rokok di tangannya, memutar rokok itu sebentar, lalu membuang dan menginjaknya. Dihampirinya anak perempuan kecil itu.

Takeru : (tersenyum) Kau terbatuk gara-gara rokokku tadi ya. Maafkan aku.
Anak kecil : (menggeleng) Mm. Aku tak apa. Tapi, kata ibuku, rokok itu dapat mengotori paru-paru, tidak baik untuk kesehatan.
Takeru : Begitukah?
Anak kecil : Ya. Jadi, berhentilah merokok.
Takeru : Oke. Akan kucoba ya. 

Setelah mengusap kepala anak kecil itu pelan, Takeru kembali melangkahkan kakinya.

Takeru : (bergumam) Berhenti merokok, katanya. (tertawa meremehkan)

--------------------

* konbini = toko 24 jam

Friday, July 09, 2010

Bunga Matahari

BABAK 2

Sebuah kamar sempit, menjelang siang hari.
Sinar matahari menyelinap masuk melalui jendela kecil, membangunkan Si Pemilik kamar.

Takeru : (menggeliat) Hoaaahm...

Tangannya meraba-raba tepi kasur, mencari sesuatu. Ponsel.
Ia melihat ponselnya. Pukul 10.40. Takeru menggeliat malas.

KRUYUUK~

Takeru : (memegang perut) Hara heta~*

Takeru berjalan gontai menuju kulkas mini. Ia membukanya dan tidak mendapati apa-apa di sana.

Takeru : (mendengus) Aku lapar, namun tidak ada apa-apa di dalam sana. Bagus sekali.

Saat hendak menutup kulkas, gerakannya terhenti. Ada tempelan kulkas berbentuk bunga matahari. Sekilas ia teringat mimpinya tadi.

Takeru : Bunga matahari. Apa maksud dari mimpi tadi?

--------------------

* hara heta = laparnya....

Tuesday, July 06, 2010

Prolog

BABAK 1

Di ujung sana terdapat sebuah titik kecil berupa sinar.

Takeru : (suara) Apa itu?

Sinar itu semakin besar dan terang, membuat siapapun yang melihatnya memicingkan mata.
Sinar itu berujung pada satu gambar, disusul suara-suara yang luar biasa gaduh.

Takeru : (suara) Bunga matahari?

Thursday, July 01, 2010

1st Script : "Teman Pertama"


"Teman Pertama"


Sinopsis :
Nanami Uemura, seorang gadis pendiam dan cenderung tertutup, kembali bertemu dengan "teman pertama"-nya, Makoto Hayashibara. Di satu sisi, Nanami sangat senang, apalagi Nanami sudah menyadari perasaannya dengan Makoto. Namun di sisi lain, Nanami juga merasa sedih karena ada satu masalah yang mengganjal di antara mereka. Awalnya, Nanami sudah melupakan masalah itu. Semakin lama, kejadian-kejadian di masa lalu semakin membangkitkan amarah dan membuatnya berbalik memusuhi Makoto. Sampai Pururu, yang juga "teman pertama" Nanami, angkat tangan. Pururu tidak mau lagi mencampuri urusan Nanami. Bagaimanakah Nanami menghadapinya?

Tokoh-tokoh :
  1. Nanami Uemura : Gadis pendiam dan tertutup. Nanami lebih memilih sendiri daripada bergaul dengan teman-teman yang lain. "Teman pertama" baginya hanyalah Pururu dan Makoto.
  2. Pururu : Salah satu "teman pertama" Nanami. Pururu sangat mengerti keadaan Nanami. Biarpun sosoknya hanya buatan, namun ia sangat setia berada di samping Nanami.
  3. Makoto Hayashibara : "Teman pertama" Nanami yang lain. Makoto tidak terlalu serius. Pikirannya sangat sulit ditebak. Ia mempunyai masa lalu yang buruk dengan Nanami.
  4. Yume Katou : Teman dekat Makoto. Yume adalah gadis yang ceplas-ceplos dan agak ceroboh, namun jika di depan Makoto, sikapnya melembut. Yume sangat menyukai Makoto.
  5. Irumi Takahara : Pembawaannya tenang dan bijaksana. Instingnya tajam, cepat tanggap, dan mampu meredakan suasana. Irumi merupakan gadis yang sangat setia kawan.
  6. Naoko Fukuda : Naoko suka memanggil nama orang sesuka hati, tak peduli orang itu akan marah atau tidak. Pembawaannya tenang, cara berpikirnya sederhana, dan cenderung polos. Satu SMP dengan Makoto.
  7. Remi Uemura : Seorang ibu muda berumur 34 tahun. Remi bekerja sebagai pelayan di sebuah kelab malam. Remi bukanlah tipe ibu rumah tangga yang telaten mengurus rumah. Remi menemukan Nanami sekitar 5 tahun yang lalu dan mengangkatnya sebagai anak.
  8. Aoi Hayashibara : Adik Makoto yang masih duduk di kelas 3 SMP. Aoi adalah anak yang tomboi dan tegas. Sekali membuat keputusan, ia tidak akan mengubahnya.
  9. Rika Kawamura : Rika tipe gadis yang stylish dan gemar berdandan. Ia sangat tidak menyukai Nanami karena menurutnya, dulu Nanami pernah merebut pacarnya.

Tokoh Sampingan :
  1. Kanagawa-sensei : Wali kelas Makoto saat SMA kelas 2-3
  2. Inoue-sensei : Wali kelas Makoto saat SMP kelas 3-5
  3. Takeru Yuuji : Salah satu teman sekaligus anak buah Makoto.
  4. Kanae Iwasaki : Pernah satu SMP dengan Makoto.
  5. Yuki Hayashibara : Ayah Makoto. Beliau cenderung dingin dan selalu tampak tak peduli. Namun sebenarnya, Beliau sangat menyayangi kedua anaknya.
  6. Nanako Hayashibara : Ibu Makoto. Seorang ibu yang berhati lembut dan selalu tersenyum.
  7. Berandalan suruhan Makoto
  8. Nami, Sachi, dan Keiko
  9. Tetangga di rumah Nanami : Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah Nanami. Mereka sangat tidak suka dengan keberadaan Remi dan Nanami yang dianggap membawa pengaruh buruk bagi lingkungan di rumah mereka.
  10. Teman-teman Makoto : Teman dekat Makoto di SMP



Started : December 27th, 2009
Finished : July 1st, 2010

    Bisakah Kita Berteman?

    BABAK 63

    Nanami berjalan menuju pusat kota. Di tangannya terdapat secarik kertas yang merupakan tujuannya kembali.
    Tak jauh darinya, ada sebuah kursi taman yang menghadap ke toko hadiah. Nanami memutuskan untuk duduk di sana.

    Nanami : Sudah natal ya, hmm...

    Nanami meniup-tiup tangannya untuk menghangatkan. Sekali lagi ia merasa seorang diri.
    Tiba-tiba...

    Makoto : Nana!
    Nanami : (kaget) Tidak mungkin, tidak mungkin itu dia.
    Nanami : (menoleh ke samping) Mako--

    Makoto memeluk Nanami, membenamkan wajahnya di tiap helai rambut Nanami.
    Nanami berusaha melepaskan diri, namun Makoto tak mau melepaskan pelukannya.


    Makoto : Tolong, sebentar saja, biarkan aku memelukmu seperti ini.
    . . .
    Makoto : Sudah lama aku mencarimu. Aku sangat khawatir karena tak ada kabar apapun darimu.
    Nanami : . . .
    Makoto : Tolong jangan pergi lagi. Aku mohon.

    Nanami melepaskan pelukan Makoto.

    Nanami : Aku kembali bukan untuk ini. Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan, salah satunya adalah... (menunjukkan secarik kertas)
    Makoto : Apa itu?
    Nanami : (memberikan kertas itu pada Makoto)
    Makoto : Untukku?
    Nanami : (mengangguk)
    Makoto : Puisi untuk dia...

    Setelah selesai membaca...

    Makoto : (menatap Nanami)
    Nanami : (mengambil napas lalu menghembuskan) Aku punya teman, pun tidak punya teman. Dialah Pururu. Karena Pururulah aku bisa bertahan dalam kesendirian. Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan kesendirian.
    . . .
    Nanami : Suatu saat, orang itu datang menawarkan pertemanan. Aku sangat senang. Dia "teman pertama" bagiku. Semua berjalan seperti yang kuharapkan, sampai satu hari aku mendengarnya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya tak dapat lagi kucerna, namun aku masih bisa menangkap maksud di balik kata-katanya itu : dia tidak menyukaiku. Dia tidak menganggapku sebagai teman.
    Makoto : (sedih) Aku-- aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf.
    Nanami : Aku sudah memaafkanmu, sungguh. Tapi semua tidak bisa kembali seperti semula.
    Makoto : Di puisi ini kau bilang--
    Nanami : Aku tau. Aku mengerti. Kuharap kau pun mengerti keputusanku.
    Makoto : (diam sejenak) Baiklah, akan kucoba.

    Nanami dan Makoto menatap salju yang berjatuhan. Udara semakin dingin.

    Makoto : Kau tinggal di mana sekarang?
    Nanami : Maaf, tidak bisa kuberitahu.
    Makoto : Meskipun pada temanmu sendiri?
    . . .
    Makoto : Oke, bagaimana kalau kita mulai dari awal. Hai, namaku Makoto Hayashibara. Bisakah kita berteman?
    Nanami : (tersenyum) Aku Nanami Uemura. Aku ini perempuan yang sedikit menyebalkan. Aku ragu apakah kau masih mau berteman denganku.
    Makoto : Jangan khawatir, aku lebih menyebalkan darimu. Jadi, kita berteman?
    Nanami : Un.
    Makoto : Karena kita sudah berteman, beritahu aku tempat tinggalmu.
    Nanami : Tidak bisa.
    Makoto : Dasar curang. Pokoknya kau harus memberitahuku. Oh ya, siapa itu Pururu?
    Nanami : Ibuku.
    Makoto : Ibumu? Bukankah Ibumu sudah meninggal?
    Nanami : Ya, dia ibuku.
    Makoto : Mmm... Kau membuatku bingung.
    Nanami : Hahaha...

    Nanami dan Makoto beranjak, mulai menelusuri jalan kembali.

    Makoto : Habis ini, kau mau ke mana?
    Nanami : Menemui ibuku.
    Makoto : (bingung) Ke makam ibumu?
    Nanami : Kau lupa, ibuku ada dua?
    Makoto : O--oh...maksudmu Remi Uemura-san... Dasar kau ini, senang membuat orang lain bingung.
    Nanami : Sudah kubilang, aku ini perempuan yang sedikit menyebalkan.
    Makoto : Bukan sedikit, tapi sangat menyebalkan.

    Makoto bersiap memukul kepala Nanami. Nanami segera berlari diikuti Makoto di belakangnya.

    Makoto : Hei, tunggu! Awas kau ya...




    - T A M A T -

    Wednesday, June 30, 2010

    Deja vu

    BABAK 62

    Musim dingin lima tahun kemudian, sore hari.
    Makoto menyusuri sepanjang jalan yang kini sudah berhiaskan pernak-pernik natal. Kemudian Makoto berhenti. Ditatapnya langit di mana serpihan salju berjatuhan. Betapa terkejutnya ia saat mendapati sosok yang ia kenal berdiri di hadapannya. Keduanya pun tersenyum.

    . . .

    Beberapa menit kemudian.
    Ureshii Cafe.

    Makoto & Yume : (tersenyum) Apa kabar?
    Yume : Ups! Kau duluan.
    Makoto : Tidak, tidak. Kau saja yang duluan.
    Yume : Baiklah. Makoto, apa kabar?
    Makoto : Sangat baik. Kau sendiri apa kabar?
    Yume : Lebih dari sekedar baik. I'm great!
    Makoto : Senang mendengarnya.

    Makoto melihat penampilan Yume yang begitu berubah, lebih stylish.

    Makoto : Kau sudah menjadi designer yang hebat. Selamat.
    Yume : Belum, tapi aku akan menjadi designer yang hebat. Suatu saat nanti, pasti. Jadi, tahan dulu ucapan selamatmu.
    Makoto : Semangat yang bagus. Aku suka.
    Yume : Kau menyukaiku? Wow!
    Makoto : (tersenyum) Tentu. Mau bukti?

    Makoto mengangkat kameranya, siap membidik.

    Yume : Tunggu, tunggu. Kalau ingin menjadikanku modelmu, kau harus membayarku dengan harga mahal. Aku tidak terima bayaran murah.

    KLIK!

    Yume : (sadar) Hei! Sudah kubilang--
    Makoto : (tertawa nakal)
    Yume : Oke, kali ini gratis. Tapi tidak ada lain kali.
    Yume : (dalam hati) Seperti deja vu.
    Makoto : Aku pasti akan memotretmu. Boleh?
    Yume : Boleh saja, tapi ingat, aku hanya menerima bayaran mahal.
    Makoto : Itu hal mudah. Jadi, setuju ya?
    Yume : (mengangguk) Deal.

    Makoto dan Yume saling berjabat tangan.
    Tiba-tiba Makoto berdiri.

    GREK!

    Yume : (kaget) Ada apa?

    Makoto kembali duduk. Yume merasa ada yang aneh dengan Makoto. Sama seperti dulu.

    Makoto : O--oh, tak apa. Tak ada apa-apa.
    Yume : (dalam hati) Bohong.

    Mata Makoto tampak masih mencari-cari di sudut yang sama.

    Yume : (tersenyum) Pergilah.
    Makoto : Apa?
    Yume : Kubilang pergilah.
    Makoto : Tapi--
    Yume : Pergilah. Aku tak apa.
    Makoto : (tersenyum) Terima kasih.

    Makoto keluar kafe, meninggalkan Yume. Yume menghapus air matanya

    Yume : Benar-benar deja vu.

    Mereka

    BABAK 61

    Keesokkan harinya.
    Rumah Nanami, pagi hari, seminggu sebelum pernikahan Remi.
    Remi menggeliat di atas tempat tidur dan beranjak ke dapur untuk membuat sarapan.
    Saat Remi hendak membuat roti, ia melihat sepucuk surat di atas meja. Dibacanya surat itu.

    Nanami : (suara Nanami membaca surat itu)
    . . .
    Remi : (menangis) Kau tau, kepergianmu bukanlah bahagiaku, melainkan kesedihan bagiku.

    Remi memeluk surat itu dan menangis.

    . . .

    Pagi yang sama.
    Yume, Irumi, dan Naoko sepakat untuk lari pagi bersama.
    Tiba-tiba Yume berhenti dan berbalik. Semua kejadian selama ini terlintas di benaknya.

    Naoko : Yume-chan, ada apa?
    Yume : (menggeleng) Tidak. Tidak apa-apa.

    Kemudian Yume kembali melangkah lagi dengan senyum.

    . . .

    Pagi yang sama.
    Makoto bangun lalu beranjak ke lantai bawah. Tanpa sengaja, ia melihat satu hal yang tidak biasa : Ayahnya membuatkan sarapan. Diam-diam ia mendekatinya.

    Makoto : Perlu bantuan?
    Yuki : (kaget) . . .

    Tanpa menunggu jawaban Sang Ayah, Makoto segera membantunya.

    . . .

    Pagi yang sama.
    Stasiun kereta api.
    Nanami menangis. Dari kejauhan terlihat kereta api mendekat.

    Nanami : (menghapus air mata) Jangan bersedih, Nanami. Petualanganmu baru saja dimulai.

    Nanami masuk ke dalam kereta.

    Nanami : (melihat keluar kereta)

    Sekali lagi air mata Nanami jatuh. Kali ini ia biarkan air matanya menderas.

    Tuesday, June 29, 2010

    Surat untuk Ibu


    ibuku seorang yang ceroboh
    ibuku tidak terlalu bisa
    mengerjakan pekerjaan rumah
    ibuku seorang yang cerewet
    tapi,
    ibuku sangat perhatian
    ibuku menyayangi anaknya
    meskipun bukan sebenarnya anaknya
    ibuku merawatnya
    ya, merawatku
    menciumiku
    bahkan menyayangiku
    ibuku selalu mengatakan,
    "selamat datang."
    meski aku tak mengatakan,
    "aku pulang."
    saat itulah aku merasa
    aku tak sendiri lagi
    dan aku sangat mensyukuri hal itu

    ibu... ibu... ibu...
    aku sangat menyayangimu
    aku memang bukan anakmu
    tapi aku amat sangat sayang padamu
    ibu... ibu... ibu...
    aku pergi bukan karena benci
    pun bukan karena aku tak menyayangimu
    aku pergi untukmu,
    untuk bahagiamu
    ibu... ibu... ibu...
    kumohon jangan menangis
    kumohon jangan mencariku
    ingatlah aku di hatimu
    suatu saat, aku pasti kembali
    jadi, jangan lupakan aku
    kumohon

    dan maaf
    aku belum bisa menjadi anak yang baik
    maafkan aku
    dan terima kasih


    (2010년6월26일)
     This poem's related to Nanami and Makoto's story

    Thursday, June 24, 2010

    Kau Sudah Tahu

    BABAK 60

    Hari yang sama.
    Beranda kamar Nanami, malam hari.
    Nanami berdiri memandangi bintang di langit.

    Nanami : (tersenyum) Indahnya... Kapan ya aku bisa melihat kalian lagi? 
    . . .
    Nanami : Pururu?

    Tiba-tiba Pururu muncul di samping Nanami.

    Pururu : Selamat siaaang!
    Nanami : (melirik) Ini sudah malam.
    Pururu : Bagiku ini siang. Aku sangat menyukai malam.
    Nanami : (tersenyum) Kau aneh.
    . . .
    Pururu : Jadi, kapan kau pergi?
    Nanami : Secepatnya. Mungkin seminggu atau tiga hari sebelum pernikahan Remi-san. Menurutmu, mana yang paling baik?
    Pururu : Kau...benar-benar harus pergi ya?
    Nanami : Ya. Baik aku ataupun Remi-san memiliki kehidupan masing-masing. Aku tidak mau mengganggu kehidupannya lagi, begitu pun sebaliknya.
    Pururu : Mungkin kau harus menggantinya dengan kata membebani. Itu kan maksudmu?
    Nanami : Yah, kau memang sangat mengenalku...okaasan.
    Pururu : (tersenyum keibuan) Kau sudah tahu...
    Nanami : Sejak lama.

    Nanami memejamkan mata, membukanya, menghirup udara sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya.

    Nanami : Ini adalah keputusanku. Aku yakin inilah yang terbaik. Bukankah begitu?
    Pururu : (mengangguk)
    . . .
    Pururu : (merentangkan tangan) Sepertinya sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal.
    Nanami : (sedih) Ya, terima kasih untuk segalanya, okaasan.
    Pururu : (menatap Nanami)
    Nanami : Kenapa menatapku seperti itu?
    Pururu : Bolehkah aku...memelukmu?

    Nanami mengangguk dan tersenyum.
     

    Wednesday, June 23, 2010

    EEH?!!

    BABAK 59

    Dua minggu kemudian.
    Rumah baru Nanami, sore hari.
    Nanami baru saja pulang belanja.

    Nanami : (masuk rumah) Aku pulang.

    Remi yang sedang menonton televisi melongok sebentar.

    Remi : (terkejut) . . .
    Nanami : Ada apa?
    Remi : (tersenyum) O--oh, tidak. Selamat datang.

    Nanami mengambil air dingin lalu meminumnya.

    Nanami : Aaah, segarnya... Okaasan, belanjaan kuletakkan di dapur beserta uang kembaliannya. Aku mau ke kamar untuk istirahat.
    Remi : Ya, selamat istira--EEH?!!

    Sekali lagi Remi dibuat terkejut sekaligus senang dengan perubahan sikap Nanami.
    Remi tersenyum.

    Tuesday, June 22, 2010

    Dia Menolaknya?!

    BABAK 58

    Hari yang sama.
    Makoto berjalan sendirian. Tanpa sadar, kakinya melangkah ke taman lalu duduk di ayunan.

    Makoto : (menghela napas) Akhirnya selesai juga. Lega rasanya.
    . . .
    Makoto : (menatap langit) Nanami Uemura. Entah sejak kapan nama itu selalu terdengar di telingaku. Ada di mana dia sekarang?
    . . .
    Makoto : Ah! Yume.

    Makoto mengambil ponselnya dari saku dan segera menelfon Yume.

    Makoto : Yume? Ah, ini aku Makoto.... Aku baik-baik saja. Kau sendiri apa kabar?.... Aku, aku ada di suatu tempat. Ya, suatu tempat.... Begini, ada satu hal yang ingin kutanyakan.... Boleh kuminta alamat Nanami?.... Apa maksudmu dengan tidak tau? Kau yang membantunya mencarikan tempat tinggal bukan?.... Dia menolaknya?!.... O--oh, kalau begitu, terima kasih ya. (menutup ponsel)
    Makoto : (khawatir) Nanami, di mana kau sekarang?

    Jangan Mengganggunya Lagi

    BABAK 57

    (flashback)

    Sembilan hari kemudian.
    Kamar Makoto, malam hari.
    Hape Makoto berbunyi. Ada mail masuk.


    Makoto : (mengecek hape)


    "Ketemu! Di tempat biasa, pukul 4. -Takeru-"

    . . .

    Keesokkan harinya.
    Sebuah bangunan tua, waktu yang dijanjikan.
    Makoto menunggu di tempat yang agak gelap. Tiba-tiba, datang seseorang dari pintu masuk.

    Takeru : Yo!
    . . .
    Takeru : Ini orang yang kau cari.

    Takeru menarik paksa seseorang untuk masuk ke dalam gedung.

    Rika : (berusaha melepaskan diri) Lepaskan! Aww, sakit! Hei, kau mendengarku tidak? Kubilang lepaskan!
    Makoto : (mendesis) Rika Kawamura.
    Rika : Hei, siapa di sana?
    Makoto : Sebaiknya kau tidak perlu melihatku sekarang.
    Takeru : Saran yang bagus.
    Rika : Siapa kau? Keluar!

    Rika melirik Takeru, meminta dilepaskan tangannya. Takeru menurut.

    Makoto : Baiklah, jika itu memang permintaanmu. Tapi kuingatkan sekali lagi, kau akan menyesal melihatku.

    Makoto berjalan menghampiri Rika. Cahaya semakin memperjelas seluruh tubuhnya.

    Rika : (kaget) Ma--Makoto?!
    Makoto : (memegang tangan Rika erat) Lebih baik kau jauhi Nanami Uemura. Jangan mengganggunya lagi!
    Rika : Apa maksudmu? aku tak mengerti.
    Makoto : Kutekankan sekali lagi, JANGAN MENGGANGGU NANAMI UEMURA. Kalau tidak, kau langsung berhadapan denganku.
    Rika : (dalam hati) Mata itu...

    Rika melihat mata Makoto sangat menakutkan. Akhirnya ia mengangguk lalu pergi.

    Takeru : Tadi itu sangat menakutkan, kau tahu?
    Makoto : (tersenyum) Begitukah?

    Monday, June 21, 2010

    Bodoh


    tidakkah kau bodoh?
    bodoh karena tanganmu
    bodoh karena kakimu
    bodoh karena hatimu
    bodoh karena otakmu
    bodoh karena . . .

    dirimu

    Melepaskan Makoto

    BABAK 56

    Hari yang sama
    Kamar Yume, sore hari.
    Irumi dan Naoko sedang berkunjung ke rumah Yume.

    Naoko : Akhirnya... besok hari Minggu. Rumi-chan, Yume-chan, ayo, kita pergi jalan-jalan!
    Irumi : (menggumam) Kenapa dia terlihat senang sekali?
    Yume : Dasar Nao...
    Naoko : Jadi, bagaimana kalau kita pergi ke villa ayahku? Tempatnya saaangat indah. Letaknya ada di sekitar pedesaan yang dekat dengan pantai. Tapi hanya sehari pasti tidak akan puas. Ah! Kita akan menginap satu hari di sana, bagaimana?
    Yume : Hari Senin bukankah kita harus sekolah?
    Naoko : (melirik Irumi dan Yume)
    Irumi : Ya, ya, aku sangat mengerti.
    Irumi & Naoko : Bolos!

    Lalu mereka tertawa bersama.

    Naoko : Ah! Aku baru ingat. Bagaimana hubunganmu dengan Makoto?
    Irumi : (menatap tajam ke arah Naoko)
    Naoko : (ketakutan) Ma--maaf.
    Yume : Tak apa, Nao. Hmm...sepertinya, ini saatnya aku melepaskan Makoto. Eh, kalau dibilang melepaskan, kesannya Makoto sudah menjadi milikku saja. Padahal memulainya saja belum, hahaha... (tertawa hambar)
    Irumi & Naoko : (menatap sedih)
    Yume : Pada akhirnya, aku memang tidak bisa masuk di antara mereka.

    Yume menangis. Irumi dan Naoko pun memeluk Yume untuk menenangkannya.

    Friday, June 18, 2010

    Losing You


     
    Losing you
    is
    unbearably frightening

    -Hana to Akuma-

    Aku Ingin Kau...

    BABAK 55

    Keesokan harinya.
    Lapangan kosong, siang hari.
    Tampak Makoto berdiri bersandar pada tiang listrik. Tiba-tiba bahunya ditepuk seseorang. Takeru Yuuji.

    Takeru : Lama menunggu?
    Makoto : Tidak juga. Apa kabar, Yuuji-san?
    Takeru : (merentangkan tangannya) Seperti yang kau lihat, aku sangat baik. Ah, satu hal lagi, panggil aku Takeru. Yuuji-san sepertinya agak...
    Makoto : (memotong) ...formal dan kesannya aku tua sekali. Padahal aku baru dua puluh tiga.
    Takeru : (tersenyum) Kau sudah hafal rupanya. Baguslah.
    Makoto : Oke, langsung saja, aku ingin kau...

    Terjadi pembicaraan serius antara Makoto dan Takeru Yuuji yang menghasilkan sebuah kesepakatan.

    Takeru : Jadi, aku harus menemukan pelakunya? Orang yang menempelkan foto itu?
    Makoto : Ya, secepatnya. Kalau kau berhasil, aku akan mengabulkan satu permintaanmu.
    Takeru : (melirik) Tumben. Biasanya kau akan berkata begini, "Bayarannya akan kukirim ke rekeningmu."  Tak peduli meskipun aku menolaknya setengah mati, kau tetap mengirimkannya.
    Makoto : (tersenyum hambar) Begitu. Ternyata dulu aku orang yang seperti  itu ya.
    Takeru : Hei, hei, hei, ada apa ini, Makoto?
    Makoto : Entahlah. Aku hanya merasa aku harus berubah.
    . . .
    Takeru : (tersenyum) Glad to hear that, big boy!

    Monday, June 14, 2010

    Kau Tahu Kenapa?


    menyesakkan
    kau tahu kenapa?
    kehampaan ini mengurungku
    kebuntuan ini menyiksaku
    tak dapat kulakukan apapun
    yang kuingin hanya berdiam
    tak ada ucap
    tak ada kata
    tak ada suara

    dan alangkah tak wajarnya
    jika aku melulu seperti ini
    aku tak suka
    bahkan benci
    mengapa kau tak datang
    wahai yang kupinta?
    aku sangat membutuhkanmu

    ya, aku pun tahu
    ini berlebihan
    amat berlebihan
    kau tahu kenapa?
    aku membutuhkannya
    sangat
    lantas, apa yang kuperlukan lagi?

    tolong
    jangan sampai membutakan
    aku tak mau itu
    aku tak ingin itu
    tak perlu ku bersusah-payah
    lepaskan saja
    dan luapkanlah
    tanpa berpikir apapun

    sampai kau dapat membuatnya sempurna

    Saturday, June 05, 2010

    My Simple Wish





    오늘은
    좋은 날이 되기를 바랍니다.
    (Semoga hari ini menjadi hari yang baik.)

    Simple Question


    이 생활에는
    네가 원하는 게 무엇인가?
     (Apa yang kau inginkan dalam hidup ini?)


    -Novel Feel by Wulan Guritno & Adilla Dimitri-

    Pengakuan Makoto

    BABAK 54

    Kamar Makoto, malam hari.
    Tampak Makoto sedang tiduran sambil merenung.

    Makoto : Andaikan saat itu Aoi tidak mengingatkanku . . .

    . . .

    (flashback)

    Tiga tahun yang lalu, tiga hari sebelum kelulusan, malam hari.
    Aoi menghampiri Makoto yang sedang bersantai di ruang keluarga.

    Aoi : Kelulusan kedua, eh? Sungguh menggelikan.
    Makoto : (melirik tajam)
    Aoi : Katakan padaku alasannya.
    Makoto : Alasan?
    Aoi : Masih mau berpura-pura tak tahu? Makoto Hayashibara, lebih baik kau persiapkan jawaban terbaikmu karena aku akan memaksamu sekarang.
    . . .
    Makoto : Tinggalkan aku sendiri.
    Aoi : Sudah kuduga kau akan seperti ini. So, shall we begin, my dearest brother?

    Makoto bangkit, hendak tidur di kamarnya. Aoi segera menahan Makoto dan membuatnya duduk kembali.

    Aoi : Duduk! Kita belum selesai bicara.
    Makoto : Oke, oke, aku akan duduk. Jadi, apa yang ingin kau ketahui, adikku yang manis?
    Aoi : Satu tahun yang lalu, kenapa kau melakukan itu? Maksudku, kau sengaja tidak meluluskan diri. Aku ingat betapa marahnya otousan saat itu.
    Makoto : Aku akan memberitahumu, tapi tolong jangan memotong ucapanku.

    . . .

    Waktu kini, kamar Makoto.
    Sambil menutup mata dengan lengannya, Makoto menjawab.

    Makoto : Aku adalah orang yang paling ingin membuatnya sakit dan terluka. Alasannya mudah saja : aku tidak suka melihatnya bahagia. Setiap ada masalah, dia selalu tenang. Dia sendiri, tapi selalu tersenyum. Dia tak peduli keadaan sekitar, tapi terlihat bahagia. Membuatku muak dan ingin menghancurkan semua itu. Bahkan aku rela mengorbankan satu tahun SMP-ku demi menghancurkannya.

    . . .

    (flashback)

    Aoi : (dahi mengerut) Dia? Dia siapa?
    Makoto : Dia... Nanami Uemura.
    Aoi : (kaget) Dia temanmu, Makoto!
    Makoto : Hei, jaga ucapanmu! Aku kakakmu!
    Aoi : Kakak? Orang seperti itu masih bisa disebut kakak?!!
    Makoto : (terkejut)
    Aoi : Aku tidak habis pikir kenapa kau bisa sebodoh itu. Melihat keadaan sekitar hanya dari sudut pandangmu saja. Pernahkah kau melihat dari sudut pandang seorang Nanami Uemura? Aku rasa tidak.
    Makoto : Semua itu kulakukan karena aku tidak suka sikapnya yang tenang dan selalu tersenyum. Dia seolah menertawakanku.
    Aoi : Bagaimana kau tahu dia menertawakanmu? Lain soal jika memang dia tahu keadaanmu yang sebenarnya. Keadaan kita.
    . . .
    Aoi : Memangnya dia tahu saat itu kita sedang tertimpa musibah? Okaasan-otousan bercerai, okaasan terpaksa pergi meninggalkan kita, okaasan kecelakaan lalu meninggal. (teriak) Apakah dia tahu semua itu?!!
    Makoto : Aku benci melihatnya tersenyum!
    Aoi : Haah...kau memang keras kepala.
    . . .
    Aoi : Ah, begini saja. Bayangkan dia itu okaasan.
    Makoto : (tertawa meledek) Kau bercanda. Dia tidak mirip sama se--
    Aoi : Tapi mereka sama-sama perempuan kan. Lalu apa bedanya?
    Makoto : (berpikir)
    Aoi : Nanami Uemura adalah okaasan. Kalau kau menyakitinya, sama saja kau menyakiti okaasan. Mudah kan?
    Makoto : Tsk! Perumpamaan yang aneh. Bahkan mereka tidak mirip satu bagian pun!

    Makoto beranjak ke kamar.

    . . .

    Waktu kini.
    Dilihatnya foto Nanako Hayashibara yang terletak di meja belajarnya lalu mendekatinya.

    Makoto : Okaasan, aku harus membantunya. Melindunginya. Bisakah aku?
    . . .
    Makoto : Aku harus melakukan sesuatu.

    Thursday, June 03, 2010

    Aku Mohon

    BABAK 53

    Hari berikutnya.
    Sebuah taman, pagi hari.
    Dari jauh terlihat Yume berlari mendekati Makoto yang berdiri di samping ayunan.

    Yume : Maaf, kau pasti sudah lama menunggu.
    Makoto : Tidak. Aku baru saja datang. Maaf, memanggilmu sepagi ini.
    Yume : (tersenyum) Tak apa. Kebetulan, aku juga bisa berolahraga kan?
    . . .
    Yume : Ah! Ada apa kau memanggilku ke sini?
    Makoto : (menepuk bangku ayunan) Duduklah.
    Yume : (bingung lalu duduk)
    Makoto : (mendorong ayunan perlahan) Sepertinya aku berhutang satu cerita padamu.
    Yume : Ya. Ceritakanlah.
    . . .
    Makoto : Dulu aku adalah teman Nanami sekaligus orang yang paling menginginkan senyuman Nanami hilang.
    Yume : (kaget)

    Sambil terus mendorong ayunan, Makoto meneruskan ceritanya sampai akhir.

    Makoto : (sedih) Aku...orang yang sangat jahat bukan?
    Yume : (menahan tangis)
    Makoto : Seperti itulah aku, dulu. Sekarang berbeda. Aku ingin melindunginya. Aku ingin membantunya.
    Yume : (sesenggukan) Kau mau tahu pendapatku? Kalau dengan begitu kau pikir bisa menebus kesalahanmu dulu, aku rasa Nana-chan tidak akan mau menerima bantuan ataupun perlindungan darimu.
    Makoto : Aku melakukannya bukan untuk menebus kesalahanku dulu, melainkan karena aku INGIN.
    Yume : (menangis) Kalau begitu, tunggu apa lagi? Cepat bantu dia! Lindungi dia!
    Makoto : Dia tidak akan mau menerimanya.
    Yume : (menatap Makoto) Kenapa?
    Makoto : Karena baginya, aku tetap aku yang dulu.
    Yume : Dari mana kau tahu? Memangnya kau yang memutuskan apa yang ada di pikirannya?

    Makoto tersenyum. Dia memegang kepala Nanami dan mengahadapkan kembali ke depan.

    Makoto : Karena itulah, aku butuh bantuanmu. Tolong bantu dia menemukan tempat tinggal baru. Aku mohon...

    Yume yang ingin menatap Makoto ditahan oleh Makoto.

    Yume : Mako--
    Makoto : Tolong jangan melihatku sekarang.

    Makoto menangis.
     

    Sunday, May 30, 2010

    Kebahagiaan


    kemarin
    baru kemarin aku sadar
    kebahagiaan bukanlah sesuatu yang abadi
    dan aku memutuskannya
    setiap tetes kebahagiaan
    akan kunikmati dan kuresapi
    sebelum aku tak dapat merasakannya lagi

    Thursday, May 27, 2010

    Kata-kata untuk Ayah


    dulu, saat aku ditanya mau jadi apa kelak,
    aku menjawab dengan lantang
    aku ingin menjadi presiden
    tentu saja itu sebuah impian
    seorang anak kecil polos
    yang belum tahu benar salah sesuatu
    apakah kau mendengarnya?

     dulu, aku sering bertatap muka denganmu
    mendengarmu bercerita tentang dunia
    aku menyukai senyummu
    karena melihat tingkah lakuku
    aku sering memanggilmu
    untuk meminta bantuan
    aku sering mengusilimu
    atau bahkan mengganggumu
    apakah kau mendengarnya?

    kini sudah tak mungkin lagi bagiku
    untuk melakukan semua itu
    aku tidak menjadi bisu
    kau pun tidak melarangku memanggilmu
    tidak, bukan aku yang memanggilmu
    tapi Tuhan
    sudah saatnya kau pergi, bukan?

    kalau aku boleh egois,
    aku ingin meminta pada Tuhan
    agar aku bisa bertemu denganmu lagi
    meski hanya dalam mimpi
    aku ingin dirinya mengucapkan kata
    apapun
    aku ingin dirinya melihatku
    dan tersenyum bangga padaku

    apakah di sana dirinya tersenyum?
    aku yakindia selalu tersenyum
    dirinya sudah tenang di sana
    dan itu membuatku bahagia

    apakah dirinya merindukanku
    dan ingin bertemu denganku juga?
    dapatkah aku memanggilnya kembali?
    hanya ingin memanggilnya
    itu cukup bagiku

    aku ingin tahu

    The Empty Tree



    i want to dedicate this empty tree
    that i always draw on a paper
    only to you
    because this is my feeling

    Wednesday, May 26, 2010

    Flashback

    BABAK 52

    (flashback)
    Tiga tahun yang lalu.
    Menjelang kelulusan kelas tiga, sore hari.
    Diam-diam Makoto mengikuti Nanami yang baru saja pulang sekolah.

    Nanami : (berhenti) Untuk apa kau mengikutiku?

    Makoto keluar dari tempat persembunyiannya.

    Makoto : Ketahuan ya.
    Nanami : (berbalik) Kau lagi.
    Makoto : Sepertinya kau tidak suka melihat wajahku.
    Nanami : (menghela napas berat) Berhentilah mengikutiku.

    Tiba-tiba Makoto menyodorkan tangannya seperti orang yang ingin berkenalan.

    Nanami : (bingung)
    Makoto : Makoto Hayashibara. Mulai saat ini, aku menjadi penghuni baru di kelas 2. Salam kenal, Nana-chan.

    . . .

    (flashback)
    Hari demi hari begitu cepat berlalu.
    Saat itu, Nanami dan Makoto sudah menjadi murid kelas 3 dan akhirnya berteman.

    Nanami : Dua minggu lagi, kita akan ujian. Aku benci ujian.
    Makoto : Hei, jangan murung begitu. Ah, aku ada ide. Bagaimana kalau kita belajar bersama? Biar begini, aku termasuk murid berotak pintar lho.
    Nanami : Benarkah? Aku tak percaya.
    Makoto : Sial. Oke, akan kubuktikan.

    Makoto mengacak-acak rambut Nanami.

    . . .

    (flashback)
    Suatu hari, saat istirahat siang.
    Insiden itu pun terjadi.
    Nanami yang sedang berlari di koridor, ada yang menghadang kakinya dan membuatnya terjatuh dengan keras.

    Nanami : (memegang dagu) Aww! Sssh...

    Dilanjutkan saat Nanami sedang membuang sampah kelas. Tiba-tiba banyak sampah berjatuhan dari lantai atas. Seragam Nanami kotor seketika.

    Nanami : Hei! Kalau berani, keluar! Lawan aku sekarang juga!!

    Pertanyaan Nanami hanya dijawab dengan tertawaan saja. Tangan Nanami mengepal.

    Nanami : (teriak) Aku tidak takut pada kalian!!

    . . .

    (flashback)
    Semakin hari, Nanami semakin parah.
    Sekujur tubuhnya dipenuhi lebam. Bibirnya pecah dan penuh luka.
    Saat suatu pagi Nanami tiba di sekolah, Makoto segera menghampirinya.

    Makoto : (khawatir) Kau kenapa, Nana-chan? Apa yang terjadi padamu?
    Nanami : Hai. Oh, ini maksudmu? Tak apa, aku hanya terjatuh.
    Makoto : Ayo, kuantar kau ke kelas.

    . . .

    (flashback)
    Suatu sore, Nanami mendatangi kelas Makoto. Terdengar suara tertawaan dari dalam sana.

    Makoto dkk : (tertawa terbahak-bahak)
    Teman Makoto 1 [TM 1] : Oya, berbicara soal gadis, bagaimana dengan gadismu itu, Makoto? Apakah dia masih bertahan?
    Makoto : Siapa maksudmu? Gadisku terlalu banyak, sampai aku bingung gadis mana yang kau maksud.
    TM : (semua tertawa) Hahahaha...
    TM 2 : Dasar kau ini. Tentu saja Nanami Uemura.

    Saat itu juga, langkah Nanami terhenti di mulut pintu. Nanami bersandar di dinding dan mendengarkan semuanya.

    Makoto : Nana-chan?
    TM 3 : Wow! Sekarang sudah punya panggilan kesayangan untuk si dia. Hahahaha....
    TM : Hahahaha.....
    TM 2 : Bagaimana? Apakah tujuanmu sudah tercapai?
    Makoto : Sebenarnya sudah, tapi belum cukup bagiku.
    TM 1 : Memang kau ingin menyakitinya sampai kapan? Sampai lulus?

    Di luar, Nanami merasa kaget luar biasa. Air matanya mulai menggenang.

    Makoto : (serius) Sampai dia menangis. Sampai senyum di wajahnya hilang. Sampai hatinya sakit sesakit-sakitnya. Kalian pikir, untuk apa aku mengulang satu tahunku di sekolah ini?

    Tanpa sengaja, Nanami jatuh tersandung kakinya sendiri.

    Nanami : Aduh!

    Nanami segera menutup mulutnya dan berlari. Makoto tersenyum sinis, tahu siapa di balik pintu itu.
      

    Aku Memaafkanmu

    BABAK 51

    Hari yang sama.
    Koi park.
    Nanami dan Makoto duduk-duduk di ayunan sambil menikmati angin segar.
    Setelah berdiam agak lama,

    Makoto : Kau benar-benar akan pindah besok?
    . . .
    Nanami : (menatap Makoto) Kau tahu, sepertinya aku memang harus menghadapimu dan menyelesaikan semuanya segera.
    Makoto : (menatap penuh tanya)

    Nanami menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya.

    Nanami : (tersenyum) Makoto Hayashibara, aku memaafkanmu.
    Makoto : (terkejut) A--apa kau bilang? Kau memaafkanku?
    Nanami : Sebenarnya sudah sejak lama aku memikirkan hal ini dan puncaknya kemarin malam, saat aku memutuskan untuk benar-benar melupakan segalanya. Aku tidak ingin terikat lagi dengan masa lalu. Aku ingin memulainya lagi dari nol.
    Makoto : Tapi kau tidak harus pindah kan? Kau tetap bisa melanjutkan hidupmu di sini.
    Nanami : (menggeleng) Ada yang harus kulakukan. Sebenarnya ini rahasia. Hanya kau yang akan kuberitahu.

    Nanami menatap langit biru, membayangkan wajah Remi di sana.

    Nanami : Kau sudah tahu kondisi di sini seperti apa dan aku tak ingin Remi-san mengalaminya lagi. Keberadaanku sebagai anak angkat sudah banyak membuatnya repot. Bahkan sempat membuat namanya buruk karena aku disangka anak dari hubungan gelap Remi-san dengan seorang lelaki. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Aku ingin Remi-san bahagia dan selalu tersenyum. Aku sangat menyukai senyumannya.
    Makoto : . . .
    Nanami : Senyum itu sempat hilang karena aku menolaknya memanggil ibu. Aku tahu, jika aku memanggilnya ibu, akan semakin memperburuk keadaan, dan aku tak menyukai hal itu.
    Makoto : (menatap sedih)
    Nanami : Beberapa hari ini, aku melihat senyum itu kembali. Remi-san jatuh cinta pada seseorang dan mereka berencana untuk menikah dalam waktu dekat. Aku tidak mau menganggu mereka. Yang kuinginkan hanyalah kebahagiaan mereka, sesederhana itu.
    Makoto : Tidak mau mengganggu mereka?
    . . .
    Nanami : (menatap Makoto) Maaf, selama ini aku sudah berbuat kasar padamu. Mengacuhkanmu, memarahimu, membentakmu. Aku benar-benar minta maaf.
    Makoto : Tidak, seharusnya aku yang---
    Nanami : (memotong ucapan Makoto) Boleh aku bertanya beberapa hal?
    Makoto : Apa?
    Nanami : Waktu itu, kenapa kau begitu senang melukai dan menyiksaku?

    Nanami mengingat saat-saat di mana ia dipukul, dirampok paksa, dilecehkan. Bahkan ia sendiri pun tak menyangka bahwa pelaku di balik semua itu adalah Makoto.

    Makoto : Aku tidak suka melihatmu tertawa.
    Nanami : (heran)
    Makoto : Padahal kau selalu sendiri, namun kau tetap tersenyum seolah tak punya masalah. Aku benci melihatnya karena kau tersenyum di saat keluargaku hancur dan juga aku.
    . . .
    Makoto : Ayah dan Ibuku bercerai. Aku dan adikku ikut ayahku. Kami tidak boleh bertemu dengan ibuku lagi. Ibuku tidak terima, namun tetap pasrah menerimanya. Sejak saat itu, aku tidak bisa bertemu ibuku sampai suatu hari aku mendengar bahwa ibu kecelakaan dan meninggal. Aku jadi membenci ayahku dan aku benci melihat orang lain tersenyum seolah mereka menertawakan keluargaku yang hancur, menertawakanku.
    Nanami : Begitu. Lalu, orang yang menempelkan foto Remi-san memasuki hotel bersama seorang lelaki, apakah itu kau?
    Makoto : Dulu dan sekarang, keduanya bukan aku.
    Nanami : Ya, dulu pelakunya Rika Kawamura, bukan kau. Aku tahu itu.
    . . .
    Nanami : (menatap Makoto dalam) Pertanyaan terakhir. Dulu, apakah kau pernah menganggapku sebagai temanmu meskipun hanya sekali saja?
    Makoto : Ya.
    Nanami : Bohong!
    Makoto : (kaget)
    Nanami : Ah, maaf. Hal itu tidak perlu kau jawab.

    Nanami mulai menangis. Entah kenapa, ia merasa sangat berat meninggalkan tempat ini. Tapi ia harus.

    Nanami : Mungkin kau tidak pernah menganggapku seperti itu, namun bagiku, kau akan tetap menjadi teman pertamaku. Selamanya.

    Nanami beranjak dari ayunan lalu menghadap Makoto.

    Nanami : (menatap mata Makoto) Terima kasih banyak dan selamat tinggal.

    Nanami pergi, sedangkan Makoto sangat ingin mengejarnya, tapi tak bisa. Seolah ada yang menempelkan kakinya kuat-kuat ke tanah.

    Makoto : (teriak lalu menangis) AAAAAARGGGGHHHHHHHH!!!!!!!!
     

    Tuesday, May 25, 2010

    Yo!

    BABAK 50

    Hari yang sama.
    Rumah Nanami, menjelang sore hari.
    Tiba-tiba rumah Nanami kedatangan tamu. Nanami segera beranjak untuk membuka pintu.

    Nanami : (menatap tajam) . . .
    Makoto : (tersenyum) Yo!

    Dari dalam terdengar suara Remi.

    Remi : Siapa yang datang, Nana-chan?
    Nanami : Tak ada siapa-siapa kok. Oh ya, Remi-san, aku akan keluar sebentar membeli majalah.
    Remi : Jangan terlalu lama ya. Masih banyak yang harus dirapikan untuk besok.
    Nanami : Baik.
    Nanami : (menatap Makoto) Ayo.

    Monday, May 24, 2010

    Maafkan Kami

    BABAK 49

    Hari berikutnya.
    Koridor kelas, saat istirahat siang.
    Irumi Takahara dan Naoko Fukuda berlari menghampiri Yume yang sedang melamun.

    Naoko : (memeluk Yume) Yuu-chan. . .
    Yume : (kaget) Nao? Rumi juga? Ada apa?
    Naoko : Maafkan kami ya.
    Yume : (kening mengerut) Ada apa ini? Rumi?
    Irumi : (memegang bahu Yume) Maaf, kami tidak memberitahumu sebelumnya. Kami hanya tak ingin membuatmu sedih, mengingat hal ini ada hubungannya dengan Makoto.
    Yume : Makoto?
    Naoko : Ya, sepertinya dia menyukai gadis lain, tapi kami tak tahu siapa nama gadis itu.
    Yume : (tersenyum) Ooh, mengenai hal itu aku sudah tahu.
    Naoko : (terkejut) Kau sudah tahu?
    Irumi : Kalau sudah tahu, kenapa bisa tersenyum seperti itu?
    Naoko : Kau tidak merasa sedih?
    Yume : (menghela napas) Saat ini, aku sangat ingin melakukan sesuatu, namun aku sadar, aku tak bisa. Karena aku berada di luar lingkaran mereka.

    Yume mulai sesenggukan. Irumi dan Naoko memeluknya, mencoba menenangkannya. Di saat itulah, tangis Yume pecah.

    Wednesday, May 19, 2010

    Kau Tahu, . . .


    permainan kata yang tak lagi kulakoni
    berakhir begitu saja di tengah jalan
    seolah membuatku melupakan
    cara bermain kata-kata

    lalu, apa yang kaubuat selama ini?

    hanya menyapa pagi
    dan ikut berdendang bersama penghuni pagi?
    berjalan ke sana-sini
    mencari seseorang yang tak kunjung ada?
    menatap arak-berarak awan di langit,
    menunggu petang datang?
    mencoba menentang kabut
    yang tak bisa kaukalahkan?

    kau tahu,
    kau hanya berusaha menangkap angin,
    berusaha menggenggam air,
    berusaha mengais air laut

    ke mana perginya kata-kata itu?
    apakah kau lupa akan tugasmu?

    kau tahu,
    tawa sumbang menghias bibirku
    kini

    Monday, May 10, 2010

    Aku Memang Pelakunya

    BABAK 48

    Hari dan waktu yang sama.
    Di bawah pohon rindang, Koi Park.
    Makoto tampak bersitegang dengan Yume.

    Yume : Aku tidak mengerti maksudmu.
    Makoto : Ya, aku memang pelakunya.
    Yume : (bingung)
    Makoto : Kau masih belum mengerti juga? Ckckck...dasar gadis bodoh.
    Yume : (terkejut) Hei!

    PLAK!

    Makoto : (meraba pipi kiri) Tak apa. Aku memang pantas mendapatkan itu. 

    Makoto berjalan mendekat. Ia dekatkan mulutnya ke telinga Yume.

    Makoto : (berbisik) Akulah orang yang ingin melukainya. Menghancurkannya.
    Yume : (gemetar) Melukai...siapa?
    Makoto : Tentu saja gadis itu. Nanami.
    Yume : (mata membelalak)

    Tubuh Makoto menjauh. Matanya kembali teduh dan lembut.
    Kemudian ia berjalan meninggalkan Yume yang menjatuhkan dirinya di atas tanah setelah kepergian Makoto.

    Yume : (dalam hati) Apa maksud dari semua ini? Apa arti tatapannya tadi?

    Itulah Aku

    BABAK 47

    Waktu yang sama.
    Di bawah pohon rindang, Koi Park.
    Makoto berhasil menghentikan Yume.

    Makoto : Yume! Apa-apaan kau tiba-tiba pergi begitu saja!
    Yume : Tolong jawab pertanyaanku.

    Angin berhembus. Makoto masih memegang tangan Yume.

    Makoto : Apa maksudmu?
    Yume : Tolong jelaskan hubunganmu dengan Nanami.
    Makoto : Aku---
    Yume : Sekarang juga!!
    Makoto : (melepaskan tangan Yume) . . .
    Yume : Atau haruskah aku percaya dengan apa yang mereka katakan?
    Makoto : (bingung)

    . . .

    (flashback)

    Beberapa hari yang lalu. Ureshii Cafe.

    Kanae : Kurasa sejak saat itu, ada yang aneh menimpa diri Uemura.
    Yume : Sesuatu yang aneh? Maksudmu?
    Kanae : Aku juga tak begitu mengerti, tapi sejak berteman dengan Hayashibara, Uemura seperti mendapatkan kemalangan beruntun. Dia sering dikerjai anak-anak lain. Uangnya pun sering diambil paksa dan biasanya berakhir dengan lebam di pipi atau tangannya. Tidak ada yang membelanya saat itu karena Uemura memang seorang penyendiri.

    . . .

    (flashback)

    Beberapa hari yang lalu. Ureshii Cafe.

    Yume : Bagaimana dengan Makoto sendiri? Apa dia tak apa-apa selalu berada di dekat Uemura? Apakah dia juga ikut dikerjai?
    Kanae : Tidak, Hayashibara baik-baik saja. Tidak ada seorangpun yang mengerjai dirinya. Ah! Ada hal aneh lain lagi yang kuingat.
    Yume : Apa?
    Kanae : Semakin akrab dengan Hayashibara, musibah yang dialami Uemura semakin parah. Pernah suatu hari, Uemura datang ke sekolah dengan dengan luka memar hampir di sekujur tubuhnya. Sepanjang hari itu, ia tidak bicara pada siapapun, termasuk Makoto.

    . . .

    (flashback)

    Beberapa menit yang lalu.
    Ruang televisi di rumah Nanami.

    Remi : Sampai saat itu tiba.
    Yume : Saat itu?
    Remi : (menerawang jauh) Ya, saat di mana keadaan Nanami sangat aneh. Setelah pulang sekolah, ia langsung masuk kamarnya. Ia keluar hanya 1-2 kali, itupun hanya untuk minum. Selebihnya ia terus mengurung diri di kamar. Kejadian itu berlangsung kira-kira satu minggu lebih.
    . . .
    Remi : Pandangan matanya kosong. Tubuhnya mengurus. Mulutnya tak lagi mengucapkan kata. Pernah sekali waktu aku bertanya, "Kau bertengkar dengan Makoto?" dan dijawabnya dengan dingin, "Jangan pernah menyebut namanya lagi di depanku."
    Yume : (kaget) Apa yang terjadi?
    Remi : Aku pun tak tau. Dia tidak pernah mengungkit hal itu.
    Yume : Aneh.
    Remi : Aku pun berpikir begitu. Jadi, aku hanya bisa menyimpulkan, alasan Nanami bersikap seperti itu pasti ada hubungannya dengan Makoto.

    . . .

    Koi Park.
    Mendengar penuturan Yume, tatapan Makoto mendingin.

    Yume : Jadi, apa penjelasanmu?
    Makoto : (tertawa hambar) Ya, seperti yang kau dengar, itulah aku.