Showing posts with label Script. Show all posts
Showing posts with label Script. Show all posts

Thursday, July 01, 2010

1st Script : "Teman Pertama"


"Teman Pertama"


Sinopsis :
Nanami Uemura, seorang gadis pendiam dan cenderung tertutup, kembali bertemu dengan "teman pertama"-nya, Makoto Hayashibara. Di satu sisi, Nanami sangat senang, apalagi Nanami sudah menyadari perasaannya dengan Makoto. Namun di sisi lain, Nanami juga merasa sedih karena ada satu masalah yang mengganjal di antara mereka. Awalnya, Nanami sudah melupakan masalah itu. Semakin lama, kejadian-kejadian di masa lalu semakin membangkitkan amarah dan membuatnya berbalik memusuhi Makoto. Sampai Pururu, yang juga "teman pertama" Nanami, angkat tangan. Pururu tidak mau lagi mencampuri urusan Nanami. Bagaimanakah Nanami menghadapinya?

Tokoh-tokoh :
  1. Nanami Uemura : Gadis pendiam dan tertutup. Nanami lebih memilih sendiri daripada bergaul dengan teman-teman yang lain. "Teman pertama" baginya hanyalah Pururu dan Makoto.
  2. Pururu : Salah satu "teman pertama" Nanami. Pururu sangat mengerti keadaan Nanami. Biarpun sosoknya hanya buatan, namun ia sangat setia berada di samping Nanami.
  3. Makoto Hayashibara : "Teman pertama" Nanami yang lain. Makoto tidak terlalu serius. Pikirannya sangat sulit ditebak. Ia mempunyai masa lalu yang buruk dengan Nanami.
  4. Yume Katou : Teman dekat Makoto. Yume adalah gadis yang ceplas-ceplos dan agak ceroboh, namun jika di depan Makoto, sikapnya melembut. Yume sangat menyukai Makoto.
  5. Irumi Takahara : Pembawaannya tenang dan bijaksana. Instingnya tajam, cepat tanggap, dan mampu meredakan suasana. Irumi merupakan gadis yang sangat setia kawan.
  6. Naoko Fukuda : Naoko suka memanggil nama orang sesuka hati, tak peduli orang itu akan marah atau tidak. Pembawaannya tenang, cara berpikirnya sederhana, dan cenderung polos. Satu SMP dengan Makoto.
  7. Remi Uemura : Seorang ibu muda berumur 34 tahun. Remi bekerja sebagai pelayan di sebuah kelab malam. Remi bukanlah tipe ibu rumah tangga yang telaten mengurus rumah. Remi menemukan Nanami sekitar 5 tahun yang lalu dan mengangkatnya sebagai anak.
  8. Aoi Hayashibara : Adik Makoto yang masih duduk di kelas 3 SMP. Aoi adalah anak yang tomboi dan tegas. Sekali membuat keputusan, ia tidak akan mengubahnya.
  9. Rika Kawamura : Rika tipe gadis yang stylish dan gemar berdandan. Ia sangat tidak menyukai Nanami karena menurutnya, dulu Nanami pernah merebut pacarnya.

Tokoh Sampingan :
  1. Kanagawa-sensei : Wali kelas Makoto saat SMA kelas 2-3
  2. Inoue-sensei : Wali kelas Makoto saat SMP kelas 3-5
  3. Takeru Yuuji : Salah satu teman sekaligus anak buah Makoto.
  4. Kanae Iwasaki : Pernah satu SMP dengan Makoto.
  5. Yuki Hayashibara : Ayah Makoto. Beliau cenderung dingin dan selalu tampak tak peduli. Namun sebenarnya, Beliau sangat menyayangi kedua anaknya.
  6. Nanako Hayashibara : Ibu Makoto. Seorang ibu yang berhati lembut dan selalu tersenyum.
  7. Berandalan suruhan Makoto
  8. Nami, Sachi, dan Keiko
  9. Tetangga di rumah Nanami : Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah Nanami. Mereka sangat tidak suka dengan keberadaan Remi dan Nanami yang dianggap membawa pengaruh buruk bagi lingkungan di rumah mereka.
  10. Teman-teman Makoto : Teman dekat Makoto di SMP



Started : December 27th, 2009
Finished : July 1st, 2010

    Bisakah Kita Berteman?

    BABAK 63

    Nanami berjalan menuju pusat kota. Di tangannya terdapat secarik kertas yang merupakan tujuannya kembali.
    Tak jauh darinya, ada sebuah kursi taman yang menghadap ke toko hadiah. Nanami memutuskan untuk duduk di sana.

    Nanami : Sudah natal ya, hmm...

    Nanami meniup-tiup tangannya untuk menghangatkan. Sekali lagi ia merasa seorang diri.
    Tiba-tiba...

    Makoto : Nana!
    Nanami : (kaget) Tidak mungkin, tidak mungkin itu dia.
    Nanami : (menoleh ke samping) Mako--

    Makoto memeluk Nanami, membenamkan wajahnya di tiap helai rambut Nanami.
    Nanami berusaha melepaskan diri, namun Makoto tak mau melepaskan pelukannya.


    Makoto : Tolong, sebentar saja, biarkan aku memelukmu seperti ini.
    . . .
    Makoto : Sudah lama aku mencarimu. Aku sangat khawatir karena tak ada kabar apapun darimu.
    Nanami : . . .
    Makoto : Tolong jangan pergi lagi. Aku mohon.

    Nanami melepaskan pelukan Makoto.

    Nanami : Aku kembali bukan untuk ini. Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan, salah satunya adalah... (menunjukkan secarik kertas)
    Makoto : Apa itu?
    Nanami : (memberikan kertas itu pada Makoto)
    Makoto : Untukku?
    Nanami : (mengangguk)
    Makoto : Puisi untuk dia...

    Setelah selesai membaca...

    Makoto : (menatap Nanami)
    Nanami : (mengambil napas lalu menghembuskan) Aku punya teman, pun tidak punya teman. Dialah Pururu. Karena Pururulah aku bisa bertahan dalam kesendirian. Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan kesendirian.
    . . .
    Nanami : Suatu saat, orang itu datang menawarkan pertemanan. Aku sangat senang. Dia "teman pertama" bagiku. Semua berjalan seperti yang kuharapkan, sampai satu hari aku mendengarnya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya tak dapat lagi kucerna, namun aku masih bisa menangkap maksud di balik kata-katanya itu : dia tidak menyukaiku. Dia tidak menganggapku sebagai teman.
    Makoto : (sedih) Aku-- aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf.
    Nanami : Aku sudah memaafkanmu, sungguh. Tapi semua tidak bisa kembali seperti semula.
    Makoto : Di puisi ini kau bilang--
    Nanami : Aku tau. Aku mengerti. Kuharap kau pun mengerti keputusanku.
    Makoto : (diam sejenak) Baiklah, akan kucoba.

    Nanami dan Makoto menatap salju yang berjatuhan. Udara semakin dingin.

    Makoto : Kau tinggal di mana sekarang?
    Nanami : Maaf, tidak bisa kuberitahu.
    Makoto : Meskipun pada temanmu sendiri?
    . . .
    Makoto : Oke, bagaimana kalau kita mulai dari awal. Hai, namaku Makoto Hayashibara. Bisakah kita berteman?
    Nanami : (tersenyum) Aku Nanami Uemura. Aku ini perempuan yang sedikit menyebalkan. Aku ragu apakah kau masih mau berteman denganku.
    Makoto : Jangan khawatir, aku lebih menyebalkan darimu. Jadi, kita berteman?
    Nanami : Un.
    Makoto : Karena kita sudah berteman, beritahu aku tempat tinggalmu.
    Nanami : Tidak bisa.
    Makoto : Dasar curang. Pokoknya kau harus memberitahuku. Oh ya, siapa itu Pururu?
    Nanami : Ibuku.
    Makoto : Ibumu? Bukankah Ibumu sudah meninggal?
    Nanami : Ya, dia ibuku.
    Makoto : Mmm... Kau membuatku bingung.
    Nanami : Hahaha...

    Nanami dan Makoto beranjak, mulai menelusuri jalan kembali.

    Makoto : Habis ini, kau mau ke mana?
    Nanami : Menemui ibuku.
    Makoto : (bingung) Ke makam ibumu?
    Nanami : Kau lupa, ibuku ada dua?
    Makoto : O--oh...maksudmu Remi Uemura-san... Dasar kau ini, senang membuat orang lain bingung.
    Nanami : Sudah kubilang, aku ini perempuan yang sedikit menyebalkan.
    Makoto : Bukan sedikit, tapi sangat menyebalkan.

    Makoto bersiap memukul kepala Nanami. Nanami segera berlari diikuti Makoto di belakangnya.

    Makoto : Hei, tunggu! Awas kau ya...




    - T A M A T -

    Wednesday, June 30, 2010

    Deja vu

    BABAK 62

    Musim dingin lima tahun kemudian, sore hari.
    Makoto menyusuri sepanjang jalan yang kini sudah berhiaskan pernak-pernik natal. Kemudian Makoto berhenti. Ditatapnya langit di mana serpihan salju berjatuhan. Betapa terkejutnya ia saat mendapati sosok yang ia kenal berdiri di hadapannya. Keduanya pun tersenyum.

    . . .

    Beberapa menit kemudian.
    Ureshii Cafe.

    Makoto & Yume : (tersenyum) Apa kabar?
    Yume : Ups! Kau duluan.
    Makoto : Tidak, tidak. Kau saja yang duluan.
    Yume : Baiklah. Makoto, apa kabar?
    Makoto : Sangat baik. Kau sendiri apa kabar?
    Yume : Lebih dari sekedar baik. I'm great!
    Makoto : Senang mendengarnya.

    Makoto melihat penampilan Yume yang begitu berubah, lebih stylish.

    Makoto : Kau sudah menjadi designer yang hebat. Selamat.
    Yume : Belum, tapi aku akan menjadi designer yang hebat. Suatu saat nanti, pasti. Jadi, tahan dulu ucapan selamatmu.
    Makoto : Semangat yang bagus. Aku suka.
    Yume : Kau menyukaiku? Wow!
    Makoto : (tersenyum) Tentu. Mau bukti?

    Makoto mengangkat kameranya, siap membidik.

    Yume : Tunggu, tunggu. Kalau ingin menjadikanku modelmu, kau harus membayarku dengan harga mahal. Aku tidak terima bayaran murah.

    KLIK!

    Yume : (sadar) Hei! Sudah kubilang--
    Makoto : (tertawa nakal)
    Yume : Oke, kali ini gratis. Tapi tidak ada lain kali.
    Yume : (dalam hati) Seperti deja vu.
    Makoto : Aku pasti akan memotretmu. Boleh?
    Yume : Boleh saja, tapi ingat, aku hanya menerima bayaran mahal.
    Makoto : Itu hal mudah. Jadi, setuju ya?
    Yume : (mengangguk) Deal.

    Makoto dan Yume saling berjabat tangan.
    Tiba-tiba Makoto berdiri.

    GREK!

    Yume : (kaget) Ada apa?

    Makoto kembali duduk. Yume merasa ada yang aneh dengan Makoto. Sama seperti dulu.

    Makoto : O--oh, tak apa. Tak ada apa-apa.
    Yume : (dalam hati) Bohong.

    Mata Makoto tampak masih mencari-cari di sudut yang sama.

    Yume : (tersenyum) Pergilah.
    Makoto : Apa?
    Yume : Kubilang pergilah.
    Makoto : Tapi--
    Yume : Pergilah. Aku tak apa.
    Makoto : (tersenyum) Terima kasih.

    Makoto keluar kafe, meninggalkan Yume. Yume menghapus air matanya

    Yume : Benar-benar deja vu.

    Mereka

    BABAK 61

    Keesokkan harinya.
    Rumah Nanami, pagi hari, seminggu sebelum pernikahan Remi.
    Remi menggeliat di atas tempat tidur dan beranjak ke dapur untuk membuat sarapan.
    Saat Remi hendak membuat roti, ia melihat sepucuk surat di atas meja. Dibacanya surat itu.

    Nanami : (suara Nanami membaca surat itu)
    . . .
    Remi : (menangis) Kau tau, kepergianmu bukanlah bahagiaku, melainkan kesedihan bagiku.

    Remi memeluk surat itu dan menangis.

    . . .

    Pagi yang sama.
    Yume, Irumi, dan Naoko sepakat untuk lari pagi bersama.
    Tiba-tiba Yume berhenti dan berbalik. Semua kejadian selama ini terlintas di benaknya.

    Naoko : Yume-chan, ada apa?
    Yume : (menggeleng) Tidak. Tidak apa-apa.

    Kemudian Yume kembali melangkah lagi dengan senyum.

    . . .

    Pagi yang sama.
    Makoto bangun lalu beranjak ke lantai bawah. Tanpa sengaja, ia melihat satu hal yang tidak biasa : Ayahnya membuatkan sarapan. Diam-diam ia mendekatinya.

    Makoto : Perlu bantuan?
    Yuki : (kaget) . . .

    Tanpa menunggu jawaban Sang Ayah, Makoto segera membantunya.

    . . .

    Pagi yang sama.
    Stasiun kereta api.
    Nanami menangis. Dari kejauhan terlihat kereta api mendekat.

    Nanami : (menghapus air mata) Jangan bersedih, Nanami. Petualanganmu baru saja dimulai.

    Nanami masuk ke dalam kereta.

    Nanami : (melihat keluar kereta)

    Sekali lagi air mata Nanami jatuh. Kali ini ia biarkan air matanya menderas.

    Tuesday, June 29, 2010

    Surat untuk Ibu


    ibuku seorang yang ceroboh
    ibuku tidak terlalu bisa
    mengerjakan pekerjaan rumah
    ibuku seorang yang cerewet
    tapi,
    ibuku sangat perhatian
    ibuku menyayangi anaknya
    meskipun bukan sebenarnya anaknya
    ibuku merawatnya
    ya, merawatku
    menciumiku
    bahkan menyayangiku
    ibuku selalu mengatakan,
    "selamat datang."
    meski aku tak mengatakan,
    "aku pulang."
    saat itulah aku merasa
    aku tak sendiri lagi
    dan aku sangat mensyukuri hal itu

    ibu... ibu... ibu...
    aku sangat menyayangimu
    aku memang bukan anakmu
    tapi aku amat sangat sayang padamu
    ibu... ibu... ibu...
    aku pergi bukan karena benci
    pun bukan karena aku tak menyayangimu
    aku pergi untukmu,
    untuk bahagiamu
    ibu... ibu... ibu...
    kumohon jangan menangis
    kumohon jangan mencariku
    ingatlah aku di hatimu
    suatu saat, aku pasti kembali
    jadi, jangan lupakan aku
    kumohon

    dan maaf
    aku belum bisa menjadi anak yang baik
    maafkan aku
    dan terima kasih


    (2010년6월26일)
     This poem's related to Nanami and Makoto's story

    Thursday, June 24, 2010

    Kau Sudah Tahu

    BABAK 60

    Hari yang sama.
    Beranda kamar Nanami, malam hari.
    Nanami berdiri memandangi bintang di langit.

    Nanami : (tersenyum) Indahnya... Kapan ya aku bisa melihat kalian lagi? 
    . . .
    Nanami : Pururu?

    Tiba-tiba Pururu muncul di samping Nanami.

    Pururu : Selamat siaaang!
    Nanami : (melirik) Ini sudah malam.
    Pururu : Bagiku ini siang. Aku sangat menyukai malam.
    Nanami : (tersenyum) Kau aneh.
    . . .
    Pururu : Jadi, kapan kau pergi?
    Nanami : Secepatnya. Mungkin seminggu atau tiga hari sebelum pernikahan Remi-san. Menurutmu, mana yang paling baik?
    Pururu : Kau...benar-benar harus pergi ya?
    Nanami : Ya. Baik aku ataupun Remi-san memiliki kehidupan masing-masing. Aku tidak mau mengganggu kehidupannya lagi, begitu pun sebaliknya.
    Pururu : Mungkin kau harus menggantinya dengan kata membebani. Itu kan maksudmu?
    Nanami : Yah, kau memang sangat mengenalku...okaasan.
    Pururu : (tersenyum keibuan) Kau sudah tahu...
    Nanami : Sejak lama.

    Nanami memejamkan mata, membukanya, menghirup udara sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya.

    Nanami : Ini adalah keputusanku. Aku yakin inilah yang terbaik. Bukankah begitu?
    Pururu : (mengangguk)
    . . .
    Pururu : (merentangkan tangan) Sepertinya sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal.
    Nanami : (sedih) Ya, terima kasih untuk segalanya, okaasan.
    Pururu : (menatap Nanami)
    Nanami : Kenapa menatapku seperti itu?
    Pururu : Bolehkah aku...memelukmu?

    Nanami mengangguk dan tersenyum.
     

    Wednesday, June 23, 2010

    EEH?!!

    BABAK 59

    Dua minggu kemudian.
    Rumah baru Nanami, sore hari.
    Nanami baru saja pulang belanja.

    Nanami : (masuk rumah) Aku pulang.

    Remi yang sedang menonton televisi melongok sebentar.

    Remi : (terkejut) . . .
    Nanami : Ada apa?
    Remi : (tersenyum) O--oh, tidak. Selamat datang.

    Nanami mengambil air dingin lalu meminumnya.

    Nanami : Aaah, segarnya... Okaasan, belanjaan kuletakkan di dapur beserta uang kembaliannya. Aku mau ke kamar untuk istirahat.
    Remi : Ya, selamat istira--EEH?!!

    Sekali lagi Remi dibuat terkejut sekaligus senang dengan perubahan sikap Nanami.
    Remi tersenyum.

    Tuesday, June 22, 2010

    Dia Menolaknya?!

    BABAK 58

    Hari yang sama.
    Makoto berjalan sendirian. Tanpa sadar, kakinya melangkah ke taman lalu duduk di ayunan.

    Makoto : (menghela napas) Akhirnya selesai juga. Lega rasanya.
    . . .
    Makoto : (menatap langit) Nanami Uemura. Entah sejak kapan nama itu selalu terdengar di telingaku. Ada di mana dia sekarang?
    . . .
    Makoto : Ah! Yume.

    Makoto mengambil ponselnya dari saku dan segera menelfon Yume.

    Makoto : Yume? Ah, ini aku Makoto.... Aku baik-baik saja. Kau sendiri apa kabar?.... Aku, aku ada di suatu tempat. Ya, suatu tempat.... Begini, ada satu hal yang ingin kutanyakan.... Boleh kuminta alamat Nanami?.... Apa maksudmu dengan tidak tau? Kau yang membantunya mencarikan tempat tinggal bukan?.... Dia menolaknya?!.... O--oh, kalau begitu, terima kasih ya. (menutup ponsel)
    Makoto : (khawatir) Nanami, di mana kau sekarang?

    Jangan Mengganggunya Lagi

    BABAK 57

    (flashback)

    Sembilan hari kemudian.
    Kamar Makoto, malam hari.
    Hape Makoto berbunyi. Ada mail masuk.


    Makoto : (mengecek hape)


    "Ketemu! Di tempat biasa, pukul 4. -Takeru-"

    . . .

    Keesokkan harinya.
    Sebuah bangunan tua, waktu yang dijanjikan.
    Makoto menunggu di tempat yang agak gelap. Tiba-tiba, datang seseorang dari pintu masuk.

    Takeru : Yo!
    . . .
    Takeru : Ini orang yang kau cari.

    Takeru menarik paksa seseorang untuk masuk ke dalam gedung.

    Rika : (berusaha melepaskan diri) Lepaskan! Aww, sakit! Hei, kau mendengarku tidak? Kubilang lepaskan!
    Makoto : (mendesis) Rika Kawamura.
    Rika : Hei, siapa di sana?
    Makoto : Sebaiknya kau tidak perlu melihatku sekarang.
    Takeru : Saran yang bagus.
    Rika : Siapa kau? Keluar!

    Rika melirik Takeru, meminta dilepaskan tangannya. Takeru menurut.

    Makoto : Baiklah, jika itu memang permintaanmu. Tapi kuingatkan sekali lagi, kau akan menyesal melihatku.

    Makoto berjalan menghampiri Rika. Cahaya semakin memperjelas seluruh tubuhnya.

    Rika : (kaget) Ma--Makoto?!
    Makoto : (memegang tangan Rika erat) Lebih baik kau jauhi Nanami Uemura. Jangan mengganggunya lagi!
    Rika : Apa maksudmu? aku tak mengerti.
    Makoto : Kutekankan sekali lagi, JANGAN MENGGANGGU NANAMI UEMURA. Kalau tidak, kau langsung berhadapan denganku.
    Rika : (dalam hati) Mata itu...

    Rika melihat mata Makoto sangat menakutkan. Akhirnya ia mengangguk lalu pergi.

    Takeru : Tadi itu sangat menakutkan, kau tahu?
    Makoto : (tersenyum) Begitukah?

    Monday, June 21, 2010

    Melepaskan Makoto

    BABAK 56

    Hari yang sama
    Kamar Yume, sore hari.
    Irumi dan Naoko sedang berkunjung ke rumah Yume.

    Naoko : Akhirnya... besok hari Minggu. Rumi-chan, Yume-chan, ayo, kita pergi jalan-jalan!
    Irumi : (menggumam) Kenapa dia terlihat senang sekali?
    Yume : Dasar Nao...
    Naoko : Jadi, bagaimana kalau kita pergi ke villa ayahku? Tempatnya saaangat indah. Letaknya ada di sekitar pedesaan yang dekat dengan pantai. Tapi hanya sehari pasti tidak akan puas. Ah! Kita akan menginap satu hari di sana, bagaimana?
    Yume : Hari Senin bukankah kita harus sekolah?
    Naoko : (melirik Irumi dan Yume)
    Irumi : Ya, ya, aku sangat mengerti.
    Irumi & Naoko : Bolos!

    Lalu mereka tertawa bersama.

    Naoko : Ah! Aku baru ingat. Bagaimana hubunganmu dengan Makoto?
    Irumi : (menatap tajam ke arah Naoko)
    Naoko : (ketakutan) Ma--maaf.
    Yume : Tak apa, Nao. Hmm...sepertinya, ini saatnya aku melepaskan Makoto. Eh, kalau dibilang melepaskan, kesannya Makoto sudah menjadi milikku saja. Padahal memulainya saja belum, hahaha... (tertawa hambar)
    Irumi & Naoko : (menatap sedih)
    Yume : Pada akhirnya, aku memang tidak bisa masuk di antara mereka.

    Yume menangis. Irumi dan Naoko pun memeluk Yume untuk menenangkannya.

    Friday, June 18, 2010

    Aku Ingin Kau...

    BABAK 55

    Keesokan harinya.
    Lapangan kosong, siang hari.
    Tampak Makoto berdiri bersandar pada tiang listrik. Tiba-tiba bahunya ditepuk seseorang. Takeru Yuuji.

    Takeru : Lama menunggu?
    Makoto : Tidak juga. Apa kabar, Yuuji-san?
    Takeru : (merentangkan tangannya) Seperti yang kau lihat, aku sangat baik. Ah, satu hal lagi, panggil aku Takeru. Yuuji-san sepertinya agak...
    Makoto : (memotong) ...formal dan kesannya aku tua sekali. Padahal aku baru dua puluh tiga.
    Takeru : (tersenyum) Kau sudah hafal rupanya. Baguslah.
    Makoto : Oke, langsung saja, aku ingin kau...

    Terjadi pembicaraan serius antara Makoto dan Takeru Yuuji yang menghasilkan sebuah kesepakatan.

    Takeru : Jadi, aku harus menemukan pelakunya? Orang yang menempelkan foto itu?
    Makoto : Ya, secepatnya. Kalau kau berhasil, aku akan mengabulkan satu permintaanmu.
    Takeru : (melirik) Tumben. Biasanya kau akan berkata begini, "Bayarannya akan kukirim ke rekeningmu."  Tak peduli meskipun aku menolaknya setengah mati, kau tetap mengirimkannya.
    Makoto : (tersenyum hambar) Begitu. Ternyata dulu aku orang yang seperti  itu ya.
    Takeru : Hei, hei, hei, ada apa ini, Makoto?
    Makoto : Entahlah. Aku hanya merasa aku harus berubah.
    . . .
    Takeru : (tersenyum) Glad to hear that, big boy!

    Saturday, June 05, 2010

    Pengakuan Makoto

    BABAK 54

    Kamar Makoto, malam hari.
    Tampak Makoto sedang tiduran sambil merenung.

    Makoto : Andaikan saat itu Aoi tidak mengingatkanku . . .

    . . .

    (flashback)

    Tiga tahun yang lalu, tiga hari sebelum kelulusan, malam hari.
    Aoi menghampiri Makoto yang sedang bersantai di ruang keluarga.

    Aoi : Kelulusan kedua, eh? Sungguh menggelikan.
    Makoto : (melirik tajam)
    Aoi : Katakan padaku alasannya.
    Makoto : Alasan?
    Aoi : Masih mau berpura-pura tak tahu? Makoto Hayashibara, lebih baik kau persiapkan jawaban terbaikmu karena aku akan memaksamu sekarang.
    . . .
    Makoto : Tinggalkan aku sendiri.
    Aoi : Sudah kuduga kau akan seperti ini. So, shall we begin, my dearest brother?

    Makoto bangkit, hendak tidur di kamarnya. Aoi segera menahan Makoto dan membuatnya duduk kembali.

    Aoi : Duduk! Kita belum selesai bicara.
    Makoto : Oke, oke, aku akan duduk. Jadi, apa yang ingin kau ketahui, adikku yang manis?
    Aoi : Satu tahun yang lalu, kenapa kau melakukan itu? Maksudku, kau sengaja tidak meluluskan diri. Aku ingat betapa marahnya otousan saat itu.
    Makoto : Aku akan memberitahumu, tapi tolong jangan memotong ucapanku.

    . . .

    Waktu kini, kamar Makoto.
    Sambil menutup mata dengan lengannya, Makoto menjawab.

    Makoto : Aku adalah orang yang paling ingin membuatnya sakit dan terluka. Alasannya mudah saja : aku tidak suka melihatnya bahagia. Setiap ada masalah, dia selalu tenang. Dia sendiri, tapi selalu tersenyum. Dia tak peduli keadaan sekitar, tapi terlihat bahagia. Membuatku muak dan ingin menghancurkan semua itu. Bahkan aku rela mengorbankan satu tahun SMP-ku demi menghancurkannya.

    . . .

    (flashback)

    Aoi : (dahi mengerut) Dia? Dia siapa?
    Makoto : Dia... Nanami Uemura.
    Aoi : (kaget) Dia temanmu, Makoto!
    Makoto : Hei, jaga ucapanmu! Aku kakakmu!
    Aoi : Kakak? Orang seperti itu masih bisa disebut kakak?!!
    Makoto : (terkejut)
    Aoi : Aku tidak habis pikir kenapa kau bisa sebodoh itu. Melihat keadaan sekitar hanya dari sudut pandangmu saja. Pernahkah kau melihat dari sudut pandang seorang Nanami Uemura? Aku rasa tidak.
    Makoto : Semua itu kulakukan karena aku tidak suka sikapnya yang tenang dan selalu tersenyum. Dia seolah menertawakanku.
    Aoi : Bagaimana kau tahu dia menertawakanmu? Lain soal jika memang dia tahu keadaanmu yang sebenarnya. Keadaan kita.
    . . .
    Aoi : Memangnya dia tahu saat itu kita sedang tertimpa musibah? Okaasan-otousan bercerai, okaasan terpaksa pergi meninggalkan kita, okaasan kecelakaan lalu meninggal. (teriak) Apakah dia tahu semua itu?!!
    Makoto : Aku benci melihatnya tersenyum!
    Aoi : Haah...kau memang keras kepala.
    . . .
    Aoi : Ah, begini saja. Bayangkan dia itu okaasan.
    Makoto : (tertawa meledek) Kau bercanda. Dia tidak mirip sama se--
    Aoi : Tapi mereka sama-sama perempuan kan. Lalu apa bedanya?
    Makoto : (berpikir)
    Aoi : Nanami Uemura adalah okaasan. Kalau kau menyakitinya, sama saja kau menyakiti okaasan. Mudah kan?
    Makoto : Tsk! Perumpamaan yang aneh. Bahkan mereka tidak mirip satu bagian pun!

    Makoto beranjak ke kamar.

    . . .

    Waktu kini.
    Dilihatnya foto Nanako Hayashibara yang terletak di meja belajarnya lalu mendekatinya.

    Makoto : Okaasan, aku harus membantunya. Melindunginya. Bisakah aku?
    . . .
    Makoto : Aku harus melakukan sesuatu.

    Thursday, June 03, 2010

    Aku Mohon

    BABAK 53

    Hari berikutnya.
    Sebuah taman, pagi hari.
    Dari jauh terlihat Yume berlari mendekati Makoto yang berdiri di samping ayunan.

    Yume : Maaf, kau pasti sudah lama menunggu.
    Makoto : Tidak. Aku baru saja datang. Maaf, memanggilmu sepagi ini.
    Yume : (tersenyum) Tak apa. Kebetulan, aku juga bisa berolahraga kan?
    . . .
    Yume : Ah! Ada apa kau memanggilku ke sini?
    Makoto : (menepuk bangku ayunan) Duduklah.
    Yume : (bingung lalu duduk)
    Makoto : (mendorong ayunan perlahan) Sepertinya aku berhutang satu cerita padamu.
    Yume : Ya. Ceritakanlah.
    . . .
    Makoto : Dulu aku adalah teman Nanami sekaligus orang yang paling menginginkan senyuman Nanami hilang.
    Yume : (kaget)

    Sambil terus mendorong ayunan, Makoto meneruskan ceritanya sampai akhir.

    Makoto : (sedih) Aku...orang yang sangat jahat bukan?
    Yume : (menahan tangis)
    Makoto : Seperti itulah aku, dulu. Sekarang berbeda. Aku ingin melindunginya. Aku ingin membantunya.
    Yume : (sesenggukan) Kau mau tahu pendapatku? Kalau dengan begitu kau pikir bisa menebus kesalahanmu dulu, aku rasa Nana-chan tidak akan mau menerima bantuan ataupun perlindungan darimu.
    Makoto : Aku melakukannya bukan untuk menebus kesalahanku dulu, melainkan karena aku INGIN.
    Yume : (menangis) Kalau begitu, tunggu apa lagi? Cepat bantu dia! Lindungi dia!
    Makoto : Dia tidak akan mau menerimanya.
    Yume : (menatap Makoto) Kenapa?
    Makoto : Karena baginya, aku tetap aku yang dulu.
    Yume : Dari mana kau tahu? Memangnya kau yang memutuskan apa yang ada di pikirannya?

    Makoto tersenyum. Dia memegang kepala Nanami dan mengahadapkan kembali ke depan.

    Makoto : Karena itulah, aku butuh bantuanmu. Tolong bantu dia menemukan tempat tinggal baru. Aku mohon...

    Yume yang ingin menatap Makoto ditahan oleh Makoto.

    Yume : Mako--
    Makoto : Tolong jangan melihatku sekarang.

    Makoto menangis.
     

    Wednesday, May 26, 2010

    Flashback

    BABAK 52

    (flashback)
    Tiga tahun yang lalu.
    Menjelang kelulusan kelas tiga, sore hari.
    Diam-diam Makoto mengikuti Nanami yang baru saja pulang sekolah.

    Nanami : (berhenti) Untuk apa kau mengikutiku?

    Makoto keluar dari tempat persembunyiannya.

    Makoto : Ketahuan ya.
    Nanami : (berbalik) Kau lagi.
    Makoto : Sepertinya kau tidak suka melihat wajahku.
    Nanami : (menghela napas berat) Berhentilah mengikutiku.

    Tiba-tiba Makoto menyodorkan tangannya seperti orang yang ingin berkenalan.

    Nanami : (bingung)
    Makoto : Makoto Hayashibara. Mulai saat ini, aku menjadi penghuni baru di kelas 2. Salam kenal, Nana-chan.

    . . .

    (flashback)
    Hari demi hari begitu cepat berlalu.
    Saat itu, Nanami dan Makoto sudah menjadi murid kelas 3 dan akhirnya berteman.

    Nanami : Dua minggu lagi, kita akan ujian. Aku benci ujian.
    Makoto : Hei, jangan murung begitu. Ah, aku ada ide. Bagaimana kalau kita belajar bersama? Biar begini, aku termasuk murid berotak pintar lho.
    Nanami : Benarkah? Aku tak percaya.
    Makoto : Sial. Oke, akan kubuktikan.

    Makoto mengacak-acak rambut Nanami.

    . . .

    (flashback)
    Suatu hari, saat istirahat siang.
    Insiden itu pun terjadi.
    Nanami yang sedang berlari di koridor, ada yang menghadang kakinya dan membuatnya terjatuh dengan keras.

    Nanami : (memegang dagu) Aww! Sssh...

    Dilanjutkan saat Nanami sedang membuang sampah kelas. Tiba-tiba banyak sampah berjatuhan dari lantai atas. Seragam Nanami kotor seketika.

    Nanami : Hei! Kalau berani, keluar! Lawan aku sekarang juga!!

    Pertanyaan Nanami hanya dijawab dengan tertawaan saja. Tangan Nanami mengepal.

    Nanami : (teriak) Aku tidak takut pada kalian!!

    . . .

    (flashback)
    Semakin hari, Nanami semakin parah.
    Sekujur tubuhnya dipenuhi lebam. Bibirnya pecah dan penuh luka.
    Saat suatu pagi Nanami tiba di sekolah, Makoto segera menghampirinya.

    Makoto : (khawatir) Kau kenapa, Nana-chan? Apa yang terjadi padamu?
    Nanami : Hai. Oh, ini maksudmu? Tak apa, aku hanya terjatuh.
    Makoto : Ayo, kuantar kau ke kelas.

    . . .

    (flashback)
    Suatu sore, Nanami mendatangi kelas Makoto. Terdengar suara tertawaan dari dalam sana.

    Makoto dkk : (tertawa terbahak-bahak)
    Teman Makoto 1 [TM 1] : Oya, berbicara soal gadis, bagaimana dengan gadismu itu, Makoto? Apakah dia masih bertahan?
    Makoto : Siapa maksudmu? Gadisku terlalu banyak, sampai aku bingung gadis mana yang kau maksud.
    TM : (semua tertawa) Hahahaha...
    TM 2 : Dasar kau ini. Tentu saja Nanami Uemura.

    Saat itu juga, langkah Nanami terhenti di mulut pintu. Nanami bersandar di dinding dan mendengarkan semuanya.

    Makoto : Nana-chan?
    TM 3 : Wow! Sekarang sudah punya panggilan kesayangan untuk si dia. Hahahaha....
    TM : Hahahaha.....
    TM 2 : Bagaimana? Apakah tujuanmu sudah tercapai?
    Makoto : Sebenarnya sudah, tapi belum cukup bagiku.
    TM 1 : Memang kau ingin menyakitinya sampai kapan? Sampai lulus?

    Di luar, Nanami merasa kaget luar biasa. Air matanya mulai menggenang.

    Makoto : (serius) Sampai dia menangis. Sampai senyum di wajahnya hilang. Sampai hatinya sakit sesakit-sakitnya. Kalian pikir, untuk apa aku mengulang satu tahunku di sekolah ini?

    Tanpa sengaja, Nanami jatuh tersandung kakinya sendiri.

    Nanami : Aduh!

    Nanami segera menutup mulutnya dan berlari. Makoto tersenyum sinis, tahu siapa di balik pintu itu.
      

    Aku Memaafkanmu

    BABAK 51

    Hari yang sama.
    Koi park.
    Nanami dan Makoto duduk-duduk di ayunan sambil menikmati angin segar.
    Setelah berdiam agak lama,

    Makoto : Kau benar-benar akan pindah besok?
    . . .
    Nanami : (menatap Makoto) Kau tahu, sepertinya aku memang harus menghadapimu dan menyelesaikan semuanya segera.
    Makoto : (menatap penuh tanya)

    Nanami menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya.

    Nanami : (tersenyum) Makoto Hayashibara, aku memaafkanmu.
    Makoto : (terkejut) A--apa kau bilang? Kau memaafkanku?
    Nanami : Sebenarnya sudah sejak lama aku memikirkan hal ini dan puncaknya kemarin malam, saat aku memutuskan untuk benar-benar melupakan segalanya. Aku tidak ingin terikat lagi dengan masa lalu. Aku ingin memulainya lagi dari nol.
    Makoto : Tapi kau tidak harus pindah kan? Kau tetap bisa melanjutkan hidupmu di sini.
    Nanami : (menggeleng) Ada yang harus kulakukan. Sebenarnya ini rahasia. Hanya kau yang akan kuberitahu.

    Nanami menatap langit biru, membayangkan wajah Remi di sana.

    Nanami : Kau sudah tahu kondisi di sini seperti apa dan aku tak ingin Remi-san mengalaminya lagi. Keberadaanku sebagai anak angkat sudah banyak membuatnya repot. Bahkan sempat membuat namanya buruk karena aku disangka anak dari hubungan gelap Remi-san dengan seorang lelaki. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Aku ingin Remi-san bahagia dan selalu tersenyum. Aku sangat menyukai senyumannya.
    Makoto : . . .
    Nanami : Senyum itu sempat hilang karena aku menolaknya memanggil ibu. Aku tahu, jika aku memanggilnya ibu, akan semakin memperburuk keadaan, dan aku tak menyukai hal itu.
    Makoto : (menatap sedih)
    Nanami : Beberapa hari ini, aku melihat senyum itu kembali. Remi-san jatuh cinta pada seseorang dan mereka berencana untuk menikah dalam waktu dekat. Aku tidak mau menganggu mereka. Yang kuinginkan hanyalah kebahagiaan mereka, sesederhana itu.
    Makoto : Tidak mau mengganggu mereka?
    . . .
    Nanami : (menatap Makoto) Maaf, selama ini aku sudah berbuat kasar padamu. Mengacuhkanmu, memarahimu, membentakmu. Aku benar-benar minta maaf.
    Makoto : Tidak, seharusnya aku yang---
    Nanami : (memotong ucapan Makoto) Boleh aku bertanya beberapa hal?
    Makoto : Apa?
    Nanami : Waktu itu, kenapa kau begitu senang melukai dan menyiksaku?

    Nanami mengingat saat-saat di mana ia dipukul, dirampok paksa, dilecehkan. Bahkan ia sendiri pun tak menyangka bahwa pelaku di balik semua itu adalah Makoto.

    Makoto : Aku tidak suka melihatmu tertawa.
    Nanami : (heran)
    Makoto : Padahal kau selalu sendiri, namun kau tetap tersenyum seolah tak punya masalah. Aku benci melihatnya karena kau tersenyum di saat keluargaku hancur dan juga aku.
    . . .
    Makoto : Ayah dan Ibuku bercerai. Aku dan adikku ikut ayahku. Kami tidak boleh bertemu dengan ibuku lagi. Ibuku tidak terima, namun tetap pasrah menerimanya. Sejak saat itu, aku tidak bisa bertemu ibuku sampai suatu hari aku mendengar bahwa ibu kecelakaan dan meninggal. Aku jadi membenci ayahku dan aku benci melihat orang lain tersenyum seolah mereka menertawakan keluargaku yang hancur, menertawakanku.
    Nanami : Begitu. Lalu, orang yang menempelkan foto Remi-san memasuki hotel bersama seorang lelaki, apakah itu kau?
    Makoto : Dulu dan sekarang, keduanya bukan aku.
    Nanami : Ya, dulu pelakunya Rika Kawamura, bukan kau. Aku tahu itu.
    . . .
    Nanami : (menatap Makoto dalam) Pertanyaan terakhir. Dulu, apakah kau pernah menganggapku sebagai temanmu meskipun hanya sekali saja?
    Makoto : Ya.
    Nanami : Bohong!
    Makoto : (kaget)
    Nanami : Ah, maaf. Hal itu tidak perlu kau jawab.

    Nanami mulai menangis. Entah kenapa, ia merasa sangat berat meninggalkan tempat ini. Tapi ia harus.

    Nanami : Mungkin kau tidak pernah menganggapku seperti itu, namun bagiku, kau akan tetap menjadi teman pertamaku. Selamanya.

    Nanami beranjak dari ayunan lalu menghadap Makoto.

    Nanami : (menatap mata Makoto) Terima kasih banyak dan selamat tinggal.

    Nanami pergi, sedangkan Makoto sangat ingin mengejarnya, tapi tak bisa. Seolah ada yang menempelkan kakinya kuat-kuat ke tanah.

    Makoto : (teriak lalu menangis) AAAAAARGGGGHHHHHHHH!!!!!!!!
     

    Tuesday, May 25, 2010

    Yo!

    BABAK 50

    Hari yang sama.
    Rumah Nanami, menjelang sore hari.
    Tiba-tiba rumah Nanami kedatangan tamu. Nanami segera beranjak untuk membuka pintu.

    Nanami : (menatap tajam) . . .
    Makoto : (tersenyum) Yo!

    Dari dalam terdengar suara Remi.

    Remi : Siapa yang datang, Nana-chan?
    Nanami : Tak ada siapa-siapa kok. Oh ya, Remi-san, aku akan keluar sebentar membeli majalah.
    Remi : Jangan terlalu lama ya. Masih banyak yang harus dirapikan untuk besok.
    Nanami : Baik.
    Nanami : (menatap Makoto) Ayo.

    Monday, May 24, 2010

    Maafkan Kami

    BABAK 49

    Hari berikutnya.
    Koridor kelas, saat istirahat siang.
    Irumi Takahara dan Naoko Fukuda berlari menghampiri Yume yang sedang melamun.

    Naoko : (memeluk Yume) Yuu-chan. . .
    Yume : (kaget) Nao? Rumi juga? Ada apa?
    Naoko : Maafkan kami ya.
    Yume : (kening mengerut) Ada apa ini? Rumi?
    Irumi : (memegang bahu Yume) Maaf, kami tidak memberitahumu sebelumnya. Kami hanya tak ingin membuatmu sedih, mengingat hal ini ada hubungannya dengan Makoto.
    Yume : Makoto?
    Naoko : Ya, sepertinya dia menyukai gadis lain, tapi kami tak tahu siapa nama gadis itu.
    Yume : (tersenyum) Ooh, mengenai hal itu aku sudah tahu.
    Naoko : (terkejut) Kau sudah tahu?
    Irumi : Kalau sudah tahu, kenapa bisa tersenyum seperti itu?
    Naoko : Kau tidak merasa sedih?
    Yume : (menghela napas) Saat ini, aku sangat ingin melakukan sesuatu, namun aku sadar, aku tak bisa. Karena aku berada di luar lingkaran mereka.

    Yume mulai sesenggukan. Irumi dan Naoko memeluknya, mencoba menenangkannya. Di saat itulah, tangis Yume pecah.

    Monday, May 10, 2010

    Aku Memang Pelakunya

    BABAK 48

    Hari dan waktu yang sama.
    Di bawah pohon rindang, Koi Park.
    Makoto tampak bersitegang dengan Yume.

    Yume : Aku tidak mengerti maksudmu.
    Makoto : Ya, aku memang pelakunya.
    Yume : (bingung)
    Makoto : Kau masih belum mengerti juga? Ckckck...dasar gadis bodoh.
    Yume : (terkejut) Hei!

    PLAK!

    Makoto : (meraba pipi kiri) Tak apa. Aku memang pantas mendapatkan itu. 

    Makoto berjalan mendekat. Ia dekatkan mulutnya ke telinga Yume.

    Makoto : (berbisik) Akulah orang yang ingin melukainya. Menghancurkannya.
    Yume : (gemetar) Melukai...siapa?
    Makoto : Tentu saja gadis itu. Nanami.
    Yume : (mata membelalak)

    Tubuh Makoto menjauh. Matanya kembali teduh dan lembut.
    Kemudian ia berjalan meninggalkan Yume yang menjatuhkan dirinya di atas tanah setelah kepergian Makoto.

    Yume : (dalam hati) Apa maksud dari semua ini? Apa arti tatapannya tadi?

    Itulah Aku

    BABAK 47

    Waktu yang sama.
    Di bawah pohon rindang, Koi Park.
    Makoto berhasil menghentikan Yume.

    Makoto : Yume! Apa-apaan kau tiba-tiba pergi begitu saja!
    Yume : Tolong jawab pertanyaanku.

    Angin berhembus. Makoto masih memegang tangan Yume.

    Makoto : Apa maksudmu?
    Yume : Tolong jelaskan hubunganmu dengan Nanami.
    Makoto : Aku---
    Yume : Sekarang juga!!
    Makoto : (melepaskan tangan Yume) . . .
    Yume : Atau haruskah aku percaya dengan apa yang mereka katakan?
    Makoto : (bingung)

    . . .

    (flashback)

    Beberapa hari yang lalu. Ureshii Cafe.

    Kanae : Kurasa sejak saat itu, ada yang aneh menimpa diri Uemura.
    Yume : Sesuatu yang aneh? Maksudmu?
    Kanae : Aku juga tak begitu mengerti, tapi sejak berteman dengan Hayashibara, Uemura seperti mendapatkan kemalangan beruntun. Dia sering dikerjai anak-anak lain. Uangnya pun sering diambil paksa dan biasanya berakhir dengan lebam di pipi atau tangannya. Tidak ada yang membelanya saat itu karena Uemura memang seorang penyendiri.

    . . .

    (flashback)

    Beberapa hari yang lalu. Ureshii Cafe.

    Yume : Bagaimana dengan Makoto sendiri? Apa dia tak apa-apa selalu berada di dekat Uemura? Apakah dia juga ikut dikerjai?
    Kanae : Tidak, Hayashibara baik-baik saja. Tidak ada seorangpun yang mengerjai dirinya. Ah! Ada hal aneh lain lagi yang kuingat.
    Yume : Apa?
    Kanae : Semakin akrab dengan Hayashibara, musibah yang dialami Uemura semakin parah. Pernah suatu hari, Uemura datang ke sekolah dengan dengan luka memar hampir di sekujur tubuhnya. Sepanjang hari itu, ia tidak bicara pada siapapun, termasuk Makoto.

    . . .

    (flashback)

    Beberapa menit yang lalu.
    Ruang televisi di rumah Nanami.

    Remi : Sampai saat itu tiba.
    Yume : Saat itu?
    Remi : (menerawang jauh) Ya, saat di mana keadaan Nanami sangat aneh. Setelah pulang sekolah, ia langsung masuk kamarnya. Ia keluar hanya 1-2 kali, itupun hanya untuk minum. Selebihnya ia terus mengurung diri di kamar. Kejadian itu berlangsung kira-kira satu minggu lebih.
    . . .
    Remi : Pandangan matanya kosong. Tubuhnya mengurus. Mulutnya tak lagi mengucapkan kata. Pernah sekali waktu aku bertanya, "Kau bertengkar dengan Makoto?" dan dijawabnya dengan dingin, "Jangan pernah menyebut namanya lagi di depanku."
    Yume : (kaget) Apa yang terjadi?
    Remi : Aku pun tak tau. Dia tidak pernah mengungkit hal itu.
    Yume : Aneh.
    Remi : Aku pun berpikir begitu. Jadi, aku hanya bisa menyimpulkan, alasan Nanami bersikap seperti itu pasti ada hubungannya dengan Makoto.

    . . .

    Koi Park.
    Mendengar penuturan Yume, tatapan Makoto mendingin.

    Yume : Jadi, apa penjelasanmu?
    Makoto : (tertawa hambar) Ya, seperti yang kau dengar, itulah aku.

    Ada Apa Dengannya?

    BABAK 46

    Tak lama, Nanami dan Makoto sampai di rumah.

    Makoto : Tadaima. *
    Remi : Okaeri. **  Lama sekali kalian pergi. Apakah tadi mampir ke suatu tempat?
    Nanami : Tidak. Hanya perasaanmu saja, Remi-san.
    Yume : (terperangah)

    Tiba-tiba Yume beranjak, bersiap untuk pergi.

    Yume : Maaf, tiba-tiba saya ada urusan penting. Saya harus pergi sekarang. Selamat siang. (membungkuk)
    Makoto : Yume, kenapa tiba-tiba--- hei!

    Makoto langsung mengejar Yume.

    Nanami : (melirik Remi) Ada apa dengannya?
    Remi : Aku tak tau.
    . . .
    Remi : (berpikir) Kalau tidak salah, sikapnya menjadi aneh setelah aku menjawab pertanyaannya.
    Nanami : Pertanyaan apa?
    Remi : Dia bertanya apakah aku mengenal Makoto. Lalu aku bercerita sedikit tentang Makoto yang dulu menjadi temanmu.
    Nanami : (menatap kosong ke arah pintu)


    * Kami (aku) pulang.
    ** Selamat datang.