Sunday, February 28, 2010

Tatapan Sang Putri


Tahun demi tahun berlalu

Saat itu Sang Putri tengah berdiri
menatap langit
Merasakan angin sejuk
dan keindahan alam
Terlintas di pikirnya,
taman bunga,
Sang Putri ingin pergi ke sana

Dan di sanalah Sang Putri melihatnya,
pengawal bukan pengawal,
tepat di dekat gerbang istana
Tidak, tidak semua
Dia sendiri

Pengawal bukan pengawal
melambaikan tangannya
Dahi Sang Putri mengerut
lalu mengendur,
tersenyum

Dihampirinya dia
Sang Putri menatapnya dari ujung kepala
sampai ujung kaki
lalu kembali ke ujung kepala

Tanpa menghilangkan senyumnya,
Sang Putri berkata,
"Kau kembali."

Tak peduli dengan alasan apa
Sang Putri hanya tahu bahwa
dia telah datang
dia kembali
dan ini nyata

Pengawal bukan pengawal membungkuk
"Maafkan kelancangan hamba,
Tuan Putri."

Tatapan Sang Putri melembut
Betapa Sang Putri sangat merindukan
pengawal bukan pengawalnya

"Selamat datang kembali."


(2009년2월27일)

Bukan Sebuah Fenomena


berulang kali mata itu berkata,
"Aku sedih. Aku terluka."
berulang kali mulut itu berucap,
"Aku tak dapat menahannya lagi."
berulang kali pula nada itu berbicara,
"Apa kau tak sadar...?!"

telah berulang kali
aku membuat mereka
seperti itu
terus dan terus
tak ada habisnya
seolah kutancapkan sebilah pisau
aku memang tidak merasa sakit,
tapi mereka?

kutatap langit,
berharap akan turunnya hujan
dan memang
hujan pun turun
sama halnya dengan
air mata ini


(2009년2월27일)

Bukan Apa-apa


apalah yang bisa kulakukan?
aku hanyalah bawahan
yang mengikuti perintah atasan

apalah yang dapat kuperbuat?
aku hanyalah seorang kesepian
penyendiri yang membutuhkan teman

apalah yang kurasakan?
aku hanya manusia biasa
yang menginginkan sebuah senyuman

apalah aku?
aku sama dengan negatif
yang menginginkan positif

siapa sangka
semua itu hanya ilusi
dan aku
memang bukan siapa-siapa
pun bukan apa-apa


(2009년2월26일)

Bukan Siapa-siapa


kapankah dia akan berkata-kata?
saat dia tersenyum
kapankah dia tak berkata-kata?
ketika awan mendung
kapankah dia tersenyum?
saat dia tak berkata-kata
kapankah awan mendung?
ketika ia kembali berkata-kata

semua ini salah siapa?
bukan siapa-siapa,
tapi salah dia


(2009년2월26일)

Thursday, February 25, 2010

Hanya Kebingungan Semata


aku bukan kau
kau bukan aku
dia bukan 'dia'
'dia' bukan dia

hitamku bukanlah putihku
dewasaku bukanlah mudaku
semuku bukanlah nyataku
gelapku bukanlah terangku

aku hitam putihku
kau dewasa mudamu
dia semu nyatanya
'dia' gelap terang-'nya'


(2009년2월25일)

Wednesday, February 24, 2010

Lagi-lagi


lagi-lagi
kau pakai topeng itu
apa kau tidak bosan?
apa kau suka memakainya?

aku tahu
kau memotret mereka
tersenyum,
bercanda,
marah,
kecewa,
menangis
dari balik topeng itu
kau simpan baik-baik
dalam hatimu
dan ingatanmu
lalu kau memotretnya lagi
lagi, lagi, dan lagi
kau menyukai mereka bukan?

apa?

ah, kau berbohong
lagi-lagi kau berbohong
apa kau tak bisa sekali saja
menjawabnya dengan dirimu?
coba katakan

. . .

ternyata
kau memang orang yang seperti itu
ya, aku tahu

satu pesanku,
maukah kau melepasnya?
oh, tidak
beranikah kau?

Sunday, February 21, 2010

I Just Realized It


kapankah kita akan mengakui
dan menerima
kekurangan kita dengan senyum?

kenapa dia tidak melihat
kebaikan orang lain
dari sisi positif?

memang lebih enak
menjadi manusia biasa,
tapi bukan berarti
kita tidak bisa menghasilkan
ide yang luar biasa

Friday, February 12, 2010

Siapa Sangka...


Ingin tersenyum,
tapi tak bisa
Tersenyum pun,
 senyum setengah senyum

Tertawa datar,
itulah yang kulakukan
Bicara dalam hati
dengan nada sinis,
itulah yang kulagukan

Siapa sangka
semua telah berakhir
begitu saja

Thursday, February 11, 2010

Berjanjilah

BABAK 22

Perjalanan menuju rumah, malam hari.
Makoto berjalan sambil mengingat kejadian tadi.

. . .

(flashbback)

Taman sore hari.
Nanami menatap Makoto dan berlalu.

. . .

Perjalanan menuju rumah.

Makoto : (tertawa datar) Tentu saja dia tidak mau memaafkanku. Dasar bodoh.

Tiba-tiba terdengar suara.

Irumi : Dia siapa?
Makoto : (menoleh)
Naoko : Maa-kun.
Makoto : Irumi? Naoko?
Irumi : Dia siapa? Dia, cewek itu?
Makoto : Kau melihatnya?
Irumi : Dia pacarmu?

(hening)

Makoto : "teman". Ya, dia "teman".
Irumi : Kau tidak bisa menipu kami, Makoto.
Naoko : Benar dia temanmu?
Makoto : Seperti yang kubilang, dia "teman"-ku.
Naoko : Temanmu ya, hmm...

Tatapan Irumi menajam.

Irumi : Berjanjilah, kau tidak akan membuat Yume sedih. Berjanjilah.

Aku Hanya Ingin Meminta Maaf

BABAK 21

Taman, sore hari.
Nanami dan Makoto duduk-duduk di ayunan sambil memandang langit sore.

(hening)

Nanami : Cepat katakan!
Makoto : Apa?
Nanami : Hal yang ingin kau bicarakan, cepat katakan!
Makoto : Tidak ada.
Nanami : Tidak ada?
Makoto : Ya, tidak ada.
Nanami : Lantas...?
Makoto : . . .
Nanami : Kau membuang-buang waktuku saja.
Makoto : (ragu-ragu)
Nanami : Oh, atau kau sedang merencanakan sesuatu lagi, untukku?
Makoto : (terkejut) Maksudmu?
Nanami : Kau tau apa maksudku.

(hening)

Makoto : Dengar, aku tidak pernah punya niat untuk melakukan hal buruk padamu. Aku hanya-- Aku hanya ingin meminta maaf.
Nanami : Meminta maaf? Untuk apa?
Makoto : Kau tau untuk apa aku meminta maaf.

(hening)

Nanami : (beranjak) Aku pulang.

Tiba-tiba tangan Makoto menahan Nanami. Nanami berusaha menepisnya, namun tak bisa.

Nanami : Lepas!
Makoto : Katakan padaku...
Nanami : Aku bilang lepaskan aku!
Makoto : ...apa yang harus kulakukan agar kau mau memaafkanku?

Nanami berhenti berontak lalu menatap Makoto dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat Makoto melepaskan tangannya. Nanami pun berlalu.

Makoto : (meninju tiang ayunan)

Siapa Cewek Itu?

BABAK 20

Kelas, saat pulang sekolah.

Nanami : (merapikan buku-buku)

Setelah selesai merapikan buku, Nanami keluar kelas dan dikejutkan oleh Makoto yang sejak tadi menunggunya.

Makoto : (tersenyum) Yo!
Nanami : (tersenyum) Ada apa?
Makoto : Aku ingin mengajakmu pulang bersama. Kau mau?
Nanami : (alis berkerut) Tidak biasanya kau begini.
Makoto : Hahaha... (mengacak-acak rambut Nanami)
Nanami : Hei, hentikan itu! Tidak sopan.

Meskipun marah seperti itu, sebenarnya Nanami senang. Makoto pun terus mengacak-acak rambut Nanami.

. . .

Lantai 2, waktu yang sama.

Naoko : (melihat keluar jendela) Rumi-chan, coba lihat ke sini.
Irumi : Sudah kubilang, jangan memanggilku dengan panggilan seperti itu.
Naoko : Rumi-chan, itu tidak penting. Cepat ke sini!
Irumi : Ada apa? Lho, bukankah itu Makoto?
Naoko : Benar.
Irumi : Tapi siapa cewek itu? Pacarnya?
Naoko : (menggeleng) Entahlah. Apa kita harus memberitau Yume?

Irumi dan Naoko saling pandang.

Tuesday, February 09, 2010

Lihat Bintang Itu!


mata ini menutup
mulut ini tak berkata
kaki ini tak melangkah
tubuh ini tak bergerak

itu semua tak berarti
lihat,
jarum tetap berdetak bukan?

ah!
kau lupa sesuatu,
tanganmu

dengan tangan ini
apapun bisa kau buat
apapun bisa kau raih

lihat bintang itu!
kau menginginkannya bukan?

kejarlah!
raihlah!
petiklah!

diam
tak berarti tak bergerak
maukah kau
mengingat hal itu?


(2000년2월8일)

Wednesday, February 03, 2010

Aku yang Memilihnya


perasaan ini tercabik
sakit
bisa apa aku?
dalam situasi seperti ini,
aku hanya bisa diam
mengunci mulutku rapat-rapat

aku menangis di sini
aku menunggu di sini
akulah yang memilihnya
untuk apa menyalahkan mereka?

Tuesday, February 02, 2010

Ada Apa Ini Sebenarnya, Makoto?

BABAK 19

Waktu yang sama.
Kamar Yume, malam hari.

Yume : (bergumam sendiri) Saat itu, kenapa kepala Makoto tiba-tiba sakit? Aneh. Apakah Makoto benar-benar sakit?

Yume jadi khawatir. Diambilnya ponsel, hendak menghubungi Makoto.
Namun tangannya ragu untuk menekan nomor ponsel Makoto.

. . .

(flashback)

Pameran Takeru Yuuji, siang hari.

Makoto : Ah!
Yume : Makoto?
Makoto : Maaf, aku keluar sebentar.

Makoto berlari ke luar pameran.

. . .

Kamar Yume.

Yume : Waktu itu juga...

. . .

(flashback)

Ureshii Cafe
Tiba-tiba,...

GREK!

Makoto : (berdiri)
Yume : Makoto, ada apa?

Makoto segera keluar dari kafe.

. . .

Kamar Yume

Yume : (meremas ponsel) Ada apa ini sebenarnya, Makoto?

These Feeling Will Never Change



I've always wanted to be like you
and I've always looked up to you,
and those feelings of respect
have grown greater and greater.
I'm sure these feeling for you
will never change.


[Kimi ni Todoke - Reaching to You]