Tuesday, August 24, 2010

Bisa Membantuku

BABAK 20

Miauw-miauw Park.
Haruka dan Takeru duduk berhadapan di atas rumput beratapkan pohon rindang. Angin yang menyejukkan sangat kontras dengan suasana menegangkan antara keduanya.

Haruka : (menatap tajam)
Takeru : Sudah kubilang, aku bukan mau menculik anak itu. Aku hanya ingin membantunya.
Haruka : Tapi apa yang kulihat tadi tidak seperti yang kau katakan. Aku percaya dengan apa yang kulihat. Sudahlah, mengaku saja.
Takeru : Aku tidak akan mengakui apa yang tidak kulakukan.
Haruka : Tentu saja. Kalau maling mengaku, penjara pasti penuh.
Takeru : (malas) Terserahlah--argh! Ssshhh...

Takeru menekan luka di bibirnya dengan bongkahan es.

Takeru : Kau bisa kutuntut karena hal ini, kau tahu?
Haruka : Oh ya? Jelas-jelas kau yang bersalah.
Takeru : Kau sudah mencemarkan nama baik seseorang.
Haruka : Sayangnya kenyataan berkata lain, jadi maaf saja, sepertinya kau yang akan kulaporkan lebih dulu.
Takeru : (menggumam) Dasar keras kepala.
Haruka : Apa kau bilang?!
Takeru : Bukan apa-apa.

Keduanya terdiam sejenak, menikmati hembusan angin yang sejuk. Tiba-tiba,...

Takeru : Ah!

Tangan Haruka mengepal.

Takeru : (melirik Haruka)
Haruka : Mau apa kau?
Takeru : (tersenyum) Sepertinya kau bisa membantuku.

Mau Menculik Anak Ini?!

BABAK 19

Beberapa hari kemudian, pagi hari.
Tampak Haruka sedang memotret objek yang menurutnya menarik. Sambil berjalan, badannya meliuk kanan-kiri demi mendapatkan objek yang bagus. Saat sedang sibuk memotret, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara panik seseorang.

Takeru : Hei, tunggu!!
Mayu : Huwaaaa... tolong... tolong...!!

Seorang lelaki mengejar anak kecil.

Haruka : Sepertinya orang itu penculik anak kecil. Oya, bukankah akhir-akhir ini banyak penculikan anak? Ini tidak bisa dibiarkan!

Haruka berlari menghampiri mereka dan langsung melancarkan jurus karate yang pernah dipelajarinya. Terjadilah pertarungan antara Haruka dan Takeru. Pada awalnya, Takeru masih bisa menahan serangan Haruka, namun sayangnya ia tidak bisa menahan serangan terakhir Haruka sehingga Haruka bisa mengunci gerakan tangannya ke belakang.

Haruka : Mau menculik anak ini? Hah! Langkahi dulu mayatku!!
Takeru : Kau hanya salah paham--ARRGHH!!!

Haruka memelintir tangan Takeru lebih dalam.

Haruka : Masih belum mengaku juga?!!
Takeru : Aku hanya ingin membantu anak itu. Aku serius!

Haruka beralih pada anak perempuan yang berdiri gemetaran di sampingnya.

Haruka : (tersenyum) Siapa namamu?
Mayu : Ma--Mayu. Mayu Saitou.
Haruka : Mayu-chan, kau sudah aman sekarang. Pergilah.

Mayu segera berlari sambil menangis.

Haruka : Dan kau, ikut aku!!

Monday, August 23, 2010

Bukan Adikmu

BABAK 18

Halaman depan Nakata Gakuen, saat pulang sekolah.
Akane sedang memeriksa tasnya, takut ada barangnya yang tertinggal. Tak jauh di depan, ia mendengar suara laki-laki dan perempuan sedang bercengkrama dan tertawa bersama.

Akane : (terkejut) Dia...

Anak laki-laki yang mirip dengan adiknya tampak tertawa bersama dengan 2 orang perempuan sambil merangkul keduanya mesra.

Akane : (menggumam) Tidak, tidak. Akane, dia bukan adikmu. BUKAN adikmu.
. . .
Akane : (menggumam) Lihat saja dia. Di telinga kanannnya ada dua tindikan, bajunya jauh dari kata rapi, rambutnya agak berantakan seperti tak terawat. Bagaimana mungkin dia itu adikmu?

Kali ini salah satu perempuan di sebelah kanan anak laki-laki itu berusaha mendekat lalu membisikkan sesuatu. Akane menepuk-nepuk kedua pipinya.

Akane : Sadarlah, Akane, dia bukan adikmu.

Akane menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia kembali melangkahkan kakinya.

. . .

Gerbang sekolah.
Sebelum membelok, Akira sempat menatap Akane lama.

Perempuan 1 : Ada apa, Akira-kun?

Perempuan yang tadi ada di sebelah kanan Akira menghampirinya dan ikut melihat arah pandang Akira.

Perempuan 1: Kau melihat apa?
Akira : Tidak, bukan apa-apa. Yuk!

Akira memeluk bahu perempuan itu lalu membawanya pergi.

Thursday, August 19, 2010

Seorang Guru

BABAK 17 

Hari yang sama.
Kelas 2-D lantai 3, menjelang pulang sekolah.
Guru sedang menjelaskan pelajaran sementara di pojok kiri belakang kelima anak cowok mengobrol dengan asyiknya : Akira Yamada, Abe Moriyama, Keigo Nagakura, Hikaru Asada, dan Minami Kagawa. 

Abe : (menyenggol lengan Akira) Goukon* kemarin bagaimana, sukses? Ada cewek yang kau taksir tidak?
Hikaru : Sukses apanya! Kemarin dia hanya duduk saja, tidak menyanyi satu lagu pun! Bukankah begitu, Keigo?
Keigo : (menerawang) Haaah... Itou-chan itu manis ya. Ayumi-chan, Nami-chan juga....
Hikaru : Lihat, Keigo saja sampai dibuat seperti itu.
Minami : (berbisik) Sepertinya memang ada masalah pada diri Akira. Apakah itu berkaitan dengan hormon? Atau dia memang kelainan?
Abe : Kelainan? Maksudmu?
Minami : (berbisik) Menyukai sesama lelaki. 

Akira memukul Minami dengan buku. 
DUK!!

Minami : Aw!! Arrgghhh!! Hei!!
Akira : Maaf, tanganku terpeleset.
Minami : (mengusap-usap kepala) Arrghh... sakit sekali. Kau memukulku pakai apa sih? 

Akira mengangkat kamus bahasa Inggris tebal.

Minami : Arrgghhh.... Ssshh....
Hikaru : Tapi kemarin itu seru sekali. Harusnya kau ikut.
Keigo : Ckckck... Abe itu harus jaga toko. Kalau tidak, Ayahnya yang akan bertindak.
Abe : Sialan.
Hikaru, Keigo, Minami : Hahahahaha.... 

Tiba-tiba Keigo menangkap sosok yang dikenalnya sedang berjalan di luar kelas. 

Minami : Kenapa, Kei?
Keigo : Itu... 

Seketika itu juga, pandangan kelimanya beralih pada sosok yang ditunjuk Keigo. Akane Miyazawa. 

Hikaru : Bukankah itu cewek yang kemarin?
Minami : Waktu itu kenapa dia lari ya? Wajahnya terlihat sangat kaget.
Abe : Mungkin dia takut melihat kita?
Keigo : Hei, lihat bajunya! 

Akane mengenakan kemeja rapi dengan membawa buku-buku di tangannya. 

Abe : Dia mengajar di sini ternyata! 

Akira terus menatap Akane sampai sosoknya menghilang.


--------------------
* Goukon : a Japanese drinking party where male and female joined to look for their partner
http://lang-8.com/10732/journals/25172 

Saturday, August 14, 2010

Aku, Kamu


aku berharap dinding di depan sana hancur
setipis apapun dinding itu,
aku menginginkannya hancur
agar aku bisa menyentuhmu
melihat wajahmu dari dekat
aku
kamu
menjadi kita
itulah yang kuharapkan
sejak lama


Monday, August 09, 2010

Mayu Saitou

BABAK 16

Keesokkan harinya.
Takeru berdiri di depan konbini dekat rumah, menunggu anak kecil yang tempo hari menyuruhnya untuk berhenti merokok. Anak kecil berkucir dua itu pun akhirnya datang.

Takeru : (tersenyum)
Anak kecil : (melengos)
Takeru : (dalam hati) Cuek sekali dia. Apa dia tidak ingat aku?

Anak kecil yang sedang makan lolipop itu terus berjalan pelan melewati Takeru.

Takeru : Hei, anak manis yang di sana? 

Anak kecil itu menoleh lalu kembali berjalan. Terpaksa Takeru menghadangnya.

Takeru : Kau tidak dengar aku memanggilmu?
Anak kecil : Kata Ibuku, aku tidak boleh bicara pada orang tak dikenal.
Takeru : (tersenyum) Kalau begitu, perkenalkan aku Takeru. Namamu siapa?
Anak kecil : (membungkuk) Aku Mayu Saitou. Salam kenal.

. . .

Kini mereka ada di taman sedang bermain jungkat-jungkit.

Takeru : Jadi, Mayu-chan, kenapa hari ini kau tidak sekolah?
Mayu : Hari ini libur. Para sensei sedang rapat.
Takeru : Kau sudah SD atau masih TK? Umurmu berapa sih?
Mayu : Lima tahun.
Takeru : Masih TK ternyata. Pasti kau punya banyak teman di sana.
Mayu : Tentu saja. Ada Keita-kun, Momo-chan, Rin-chan, Ayame-chan, wah, pokoknya temanku banyak sekali. (tersadar) Yaah...permenku habis.
Takeru : Baiklah, kau tunggu di sini. Aku akan membelikan permen untukmu.

Takeru pergi sebentar meninggalkan Mayu. Tak lama kemudian, ia kembali ke taman dan mendapati anak itu sudah tak ada.

Takeru : Hahaha...bisa-bisanya aku dikerjai anak kecil.

Sunday, August 08, 2010

Rokok 'Sial'

BABAK 15

Malam yang sama, beranda kamar.
Takeru menatap buku tabungan sambil menghembuskan asap rokoknya.

Takeru : Satu, dua, tiga,... Wah, dia mengirim terlalu banyak. Apa kukembalikan saja ya?
. . .
Takeru : Tidak, tidak. Siapa tahu ini memang bagianku?
. . .
Takeru : Uang sebanyak ini bagaimana cara menghabiskannya ya?
. . .
Takeru : Yang jelas, aku tidak ingin menghabiskannya dengan minum sake. Mmm...
. . .

Takeru memutar-mutar puntung rokok di tangannya. Tanpa sengaja, puntung rokok itu terjatuh dan mengenai kaki kanannya.

Takeru : Argh!! Sial!!

Takeru mengusap dan meniupi kaki kanannya. Diambilnya rokok yang terjatuh lalu menatapnya. Tiba-tiba terlintas sebuah ide. Takeru mencium rokok itu.

Takeru : (tersenyum) Memang kau ini rokok 'sial'!! Hahaha...

Saturday, August 07, 2010

Berandalan

BABAK 14

Malamnya, ruang keluarga Haruka Sasaki.
Haruka baru saja masuk rumah saat melihat sahabatnya, Akane, hanya duduk menatap kosong layar televisi di depannya. Haruka ikut duduk di sebelahnya.

Haruka : Murid-muridmu mengacuhkanmu lagi, hmm?
Akane : (menggeleng) Bukan itu.
Haruka : Lantas?
Akane : Aku berhasil menemukannya, Haru.
Haruka : (terdiam sebentar) Akira-kun? Kau menemukannya?
Akane : Ya. Tanpa sengaja aku menemukannya di halaman belakang sekolah, dekat gudang penyimpanan alat-alat olahraga.
Haruka : Benar-benar berita bagus! Aku senang mendengarnya.
Akane : Ya, aku pun begitu. Tapi, kenapa ia bisa berubah menjadi seperti itu?
Haruka : Seperti itu, maksudmu?
Akane : Aku menemukannya sedang bersama teman-temannya yang merokok. Dia terlihat berantakan seperti tak terurus. Dan dia melihatku. Tatapannya itu membuatku takut.
Haruka : Bukankah itu hal wajar. Seseorang memang berubah kan?
Akane : Aku tahu, tapi aku tidak menyangka Akira akan berubah menjadi anak seperti itu.
Haruka : Aka-chan, andaikan Akira berteman dengan berandalan, bukan berarti dia menjadi berandalan juga. Kau juga tidak boleh berpikir setiap berandalan itu berperilaku buruk dan senang berbuat jahat. Dengar ya, sekarang ini bahkan orang baik pun bisa jadi orang jahat. Jadi, jangan melihat dari satu sisi saja.

Akane menatap Haruka takjub.

Akane : Haru, apa kau berniat beralih profesi?
Haruka : Hah?
Akane : Sepertinya kau lebih pantas jadi guru.
Haruka : Maaf saja, tapi aku sangat mencintai pekerjaanku sekarang. Selamanya.
Akane : (menggumam) Haru jadi guru ya....

. . .

(dalam imajinasi Akane)
Di dalam satu kelas, tampak Haruka mengajar tentang jurnalistik. Murid-murid yang diajarnya memperhatikan dengan serius. Sesekali ada murid yang bertanya dan Haruka bisa menjawabnya dengan sangat baik.

. . .

(waktu kini)

Akane : (melirik Haruka) Sepertinya tidak jelek juga, Hmpfh...
Haruka : Kenapa kau tertawa?
Akane : Nandemo nai.*
Haruka : Cepat beritahu aku, kalau tidak,...

Haruka mendekati Akane, bersiap untuk mengelitiknya.

Akane : Hei, hei, Haru-chan, kau tidak berpikir mau mengelitikku kan?
Haruka : (mendekat)
Akane : Ups! Sepertinya aku harus kabur secepatnya.
Haruka : Kau terlalu banyak memakai kata sepertinya. Pemborosan kata, kau tahu tidak?

Sejurus kemudian, Haruka sibuk mengejar Akane untuk mengelitiknya.


--------------------
* nandemo nai = bukan apa-apa

Akira Yamada

BABAK 13

Hari yang sama.
Koridor kelas 2 lantai 3 Nakata Gakuen, istirahat siang.
Akane menyusuri koridor sambil membuka agenda. Di dalamnya terdapat sebuah foto remaja lelaki berambut agak berantakan dan sedang tersenyum jenaka. Ia memasuki tiap-tiap kelas untuk mengecek keberadaan anak tersebut.

Akane : (menggumam) Di mana anak itu?

Akane memasuki salah satu kelas. Ada seorang siswi hendak masuk kelas melewatinya.

Akane : Maaf.
Siswi : Ya?
Akane : Apakah di kelas ini ada siswa bernama Akira Miyazawa?
Siswi : (berpikir sebentar) Sepertinya tidak ada.
Akane : Benarkah? Tolong diingat-ingat sekali lagi.
Siswi : Tidak ada siswa bernama Akira Miyazawa di sini.
Akane : Oh. Kalau begitu, permisi.

Akane memasuki tiap kelas. Saat bertanya pada salah satu murid, selalu jawabannya tidak ada.
Sampai ia tiba di 2 kelas terakhir. Sekali lagi ia bertanya pada murid kelas itu.

Akane : Maaf, apakah di kelas ini ada murid bernama Akira Miyazawa?
Siswa : Akira siapa?
Akane : Akira Miyazawa.
Siswa : Oh, kukira. Sepengetahuanku, hanya ada satu Akira, Akira Yamada.
Akane : Akira Yamada?
Siswa : Kau yakin bukan Akira Yamada?
Akane : Ya. Bukan Yamada, tapi Miyazawa.
Siswa : Wah, kalau begitu, tidak ada.
Akane : Begitu ya. Maaf mengganggu waktumu.

Akane meninggalkan kelas itu. Di kelas terkahir pun jawabannya tetap sama. Tidak ada Akira Miyazawa, hanya ada Akira Yamada. Dengan berat hati Akane melangkahkan kakinya menuju tempat sepi di belakang sekolah.

Akane : (menghela napas) Di mana kau, Akira?

Begitu tiba di halaman belakang, Akane melihat segerombolan siswa sedang asyik mengobrol sambil tertawa keras dengan rokok mengapit di kedua jari mereka. Akane hendak menghampiri untuk memperingati mereka karena telah melanggar peraturan sekolah, namun langkahnya terhenti seketika kala ia melihat salah satu dari kelima remaja pria tersebut. Ia menatap salah satu remaja pria itu lalu foto dalam agendanya.

Akane : (menggumam pelan) Akira? Itu...Akira?!

Akane tersentak saat melihat ternyata pemuda itu pun menatap balik ke arah Akane dengan tatapan tajam. Satu-satunya pemuda yang tidak merokok dalam gerombolan itu berbisik pada temannya yang lain. Tatapan mereka semua mengarah pada Akane. Akane melangkah mundur lalu pergi.

Akane : (hampir menangis) Tidak, itu bukan Akira. Itu bukan Akira!

Monday, August 02, 2010

Wataru & Mine Ogawa

BABAK 12

Hari berikutnya.
Taman dekat rumah, pagi hari.
Makoto mencoba bersenandung pelan sambil bermain gitar.

"Sugite kita hibi zenbu de, ima no atashi nanda yo
kantan ni ikanai kara ikite yukeru"*

. . .

(flashback)
Hari yang sama, pagi-pagi sekali.
Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi di sebuah rumah mewah.
Kedua penghuni utama terpaksa bangun untuk membuka pintu : Wataru Ogawa dan Mine Ogawa.

Wataru : Masih pukul setengah enam pagi?! Benar-benar tidak sopan.

Saat membuka pintu, mereka menemukan sebuah karangan bunga hitam dengan secarik kertas di dalamnya. Mine mengambil kertas itu.

Mine : (menutup mulut)
Wataru : Ada apa?

Wataru segera mengambil kertas yang ternyata adalah sebuah foto. Di dalam foto itu ada 4 orang : dua orang dewasa dan dua anak kecil yang sedang tersenyum hangat. Namun, yang membuat Wataru kaget adalah foto itu sudah terkoyak, nyaris hancur. Wataru membalik foto itu.

Wataru : (dalam hati) Senyum palsu. Kebaikan palsu. Aku tak butuh semua itu.
Namun akan tetap kuucapkan satu kata selamat untuk mereka
dari lubuk hatiku yang paling dalam.
Mine : (menangis)
Wataru : (memeluk bahu istrinya)

. . .

(waktu kini)
Selesai bersenandung, Takeru kembali menyulut rokoknya lalu menghembuskan asapnya membentuk lingkaran.

Takeru : Haah...kira-kira mereka senang atau tidak ya menerima "hadiah" kecil dariku.

Takeru memandang langit dan membayangkan wajah Wataru Ogawa dan Mine Ogawa. Tiba-tiba bayangan itu menghilang karena ia dikagetkan dengan suara anak kecil yang menangis.

Takeru : Kencang sekali tangisan anak itu. (melihat ke langit) Balonnya terbang ternyata...
Anak kecil : Huwaaa.....!!
Takeru : Haah...sebenarnya aku tidak ingin berurusan dengan anak kecil,...

Takeru beranjak, hendak mengahampiri anak kecil itu. Namun ada seorang ibu yang mendekat dan menyerahkan permen lolipop.

Takeru : Akhirnya diam juga anak itu. 

Takeru melihat ibu itu mencium anaknya dengan penuh sayang. Takeru terus memandangi mereka sampai sosoknya menghilang.


--------------------
* All the days that have passed make up the me that's here now
It's because it's not simple that I can go on living
(LIFE - YUI)
http://www.sweetslyrics.com/556415.YUI%20-%20life%20%28english%29.html