Waktu yang sama. Kamar Akira Yamada.
Akira menatap langit-langit kamar, terbayang sesuatu.
- - - - -
(flashback)
Beberapa hari yang lalu. Sore hari setelah Akane berkunjung ke rumah Ryou.
Ryou sedang membuat makan malam untuk Akira.
Akira : Tadaima.
Ryou : Okaeri. Bagaimana sekolahmu hari ini?
Akira : Haah...nothing special, paman.
Ryou : (bengong)
Akira : (terkekeh) Maaf, Paman, maksudku ya biasa saja.
Ryou : Dasar, seperti kakakmu saja, tiba-tiba bicara dengan bahasa yang tak kupahami.
. . .
Ryou : Oh ya, sebelum aku lupa, tadi aku bertemu kakakmu. Akane.
Akira yang sedang melepaskan sepatunya berdiri mematung.
- - - - -
Waktu kini.
Akira masih menatap langit-langit kamarnya dengan ekpresi datar.
- - - - -
(flashback)
Dua tahun yang lalu. Akira berumur 14 tahun.
Malam hari. Ruang tamu.
Akhirnya Akira bisa menanyakan perihal kakak yang disayanginya pada Ryou Miyazawa.
Akira : Nee-chan orangnya seperti apa, paman?
Ryou : Hm...seingatku dulu ia adalah anak perempuan yang cerdas. Ia selalu melakukan apapun yang disukainya. Tidak peduli orang lain mau berkata apa.
Akira : (terpana)
Ryou : Kenapa? Kau ingin bertemu dengannya?
Akira : (mengangguk) Un. Aku ingin sekali menemuinya. Paman tau di mana nee-chan sekarang?
Ryou : Seingatku dulu kakak dan ayahmu masih tinggal di rumah kalian. Entah sekarang dia di mana.
Akira : (menunduk)
Ryou menepuk punggung Akira pelan, memberinya semangat.
Ryou : Suatu saat nanti kau pasti bisa bertemu dengan kakakmu. Percayalah.
Akira : (tersenyum) Um.
- - - - -
Waktu kini.
Akira : (dalam hati) Kalau dia kakakku, seharusnya dia mau menemuiku tadi. Tapi kenapa...?
. . .
Akira : Sepertinya aku harus melakukan sesuatu.
Akira tersenyum jahil.
No comments:
Post a Comment