Lima hari kemudian.
Haruka duduk di ruang makan, siang hari.
Haruka : (mengetuk-ketuk jari di atas meja)
. . .
Haruka : (matanya beralih pada ponsel yang tak jauh darinya)
. . .
Haruka : (mulai gelisah)
. . .
Haruka : (ditatapnya lagi ponsel tersebut, gemas)
. . .
Haruka : (menghela napas berat) Dasar tak tahu terima kasih. Meminta bantuan orang lain, lalu pergi begitu saja. Hah! Memangnya dia siapa?!
. . .
Haruka : (menatap ponsel untuk terakhir kalinya) Ini tak bisa dibiarkan. Lihat saja nanti kalau aku bertemu dengannya. Akan kubalas, YA, AKAN KUBALAS! KAU DENGAR ITU?!! AKAN KUBALAS.....!!!!!
Teriakan itu membuat gerakan Akane terhenti. Tangan kanannya menggantung di udara sambil memegang botol minuman.
Akane : (menggumam) Ada apa dengan anak itu?
. . .
Akane : (mengangakat bahu)
* * *
Waktu yang sama.
Tampak Takeru berdiri tegak di luar gerbang masuk rumah mewah. Sebuah undangan pameran terselip di tangan kanannya.
Takeru : (menatap rumah mewah itu dan beralih pada surat undangan)
. . .
Takeru : (kembali menatap rumah itu)
. . .
Takeru : (tatapannya mendingin)
. . .
Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Makoto.
Takeru menerimanya tanpa mengindahkan pandangannya dari rumah tersebut.
Makoto : Sebenarnya yang mau ikut pameran itu aku atau kau?
Takeru : Hah?
Makoto : Jangan berlagak bodoh. Cepatlah ke sini.
Takeru : . . .
Makoto : Persiapan untuk pameran. Dua minggu lagi, kau ingat?
Takeru : (jeda sejenak) Un. Aku segera ke sana.
Sebelum pergi, Takeru menatap dingin rumah mewah itu.
No comments:
Post a Comment