BABAK 13
Hari yang sama.
Koridor kelas 2 lantai 3 Nakata Gakuen, istirahat siang.
Akane menyusuri koridor sambil membuka agenda. Di dalamnya terdapat sebuah foto remaja lelaki berambut agak berantakan dan sedang tersenyum jenaka. Ia memasuki tiap-tiap kelas untuk mengecek keberadaan anak tersebut.
Akane : (menggumam) Di mana anak itu?
Akane memasuki salah satu kelas. Ada seorang siswi hendak masuk kelas melewatinya.
Akane : Maaf.
Siswi : Ya?
Akane : Apakah di kelas ini ada siswa bernama Akira Miyazawa?
Siswi : (berpikir sebentar) Sepertinya tidak ada.
Akane : Benarkah? Tolong diingat-ingat sekali lagi.
Siswi : Tidak ada siswa bernama Akira Miyazawa di sini.
Akane : Oh. Kalau begitu, permisi.
Akane memasuki tiap kelas. Saat bertanya pada salah satu murid, selalu jawabannya tidak ada.
Sampai ia tiba di 2 kelas terakhir. Sekali lagi ia bertanya pada murid kelas itu.
Akane : Maaf, apakah di kelas ini ada murid bernama Akira Miyazawa?
Siswa : Akira siapa?
Akane : Akira Miyazawa.
Siswa : Oh, kukira. Sepengetahuanku, hanya ada satu Akira, Akira Yamada.
Akane : Akira Yamada?
Siswa : Kau yakin bukan Akira Yamada?
Akane : Ya. Bukan Yamada, tapi Miyazawa.
Siswa : Wah, kalau begitu, tidak ada.
Akane : Begitu ya. Maaf mengganggu waktumu.
Akane meninggalkan kelas itu. Di kelas terkahir pun jawabannya tetap sama. Tidak ada Akira Miyazawa, hanya ada Akira Yamada. Dengan berat hati Akane melangkahkan kakinya menuju tempat sepi di belakang sekolah.
Akane : (menghela napas) Di mana kau, Akira?
Begitu tiba di halaman belakang, Akane melihat segerombolan siswa sedang asyik mengobrol sambil tertawa keras dengan rokok mengapit di kedua jari mereka. Akane hendak menghampiri untuk memperingati mereka karena telah melanggar peraturan sekolah, namun langkahnya terhenti seketika kala ia melihat salah satu dari kelima remaja pria tersebut. Ia menatap salah satu remaja pria itu lalu foto dalam agendanya.
Akane : (menggumam pelan) Akira? Itu...Akira?!
Akane tersentak saat melihat ternyata pemuda itu pun menatap balik ke arah Akane dengan tatapan tajam. Satu-satunya pemuda yang tidak merokok dalam gerombolan itu berbisik pada temannya yang lain. Tatapan mereka semua mengarah pada Akane. Akane melangkah mundur lalu pergi.
Akane : (hampir menangis) Tidak, itu bukan Akira. Itu bukan Akira!
No comments:
Post a Comment