BABAK 4
Keesokan harinya.
Nanami melihat Makoto berlatih sepak bola.
Tiba-tiba matanya tertuju pada secarik kertas di tangannya.
Pururu : Apa itu?
Nanami : (terkejut) Hah, apa? O-- Oh, ini maksudmu?
Pururu : (mencoba membaca kertas itu)
Nanami : (menarik kertas itu jauh-jauh dari Pururu) Eeeh, jangan dibaca! Malu tau!
Biarpun kertas itu sudah dijauhkan, tetap saja Pururu bisa membacanya.
Pururu : Puisi untuk dia. Dia?
Nanami : (muka memerah)
Pururu : (menunjuk Makoto) Dia?
Nanami : (panik) Ah, jangan tunjuk-tunjuk begitu! Nanti orangnya tau.
Pururu : Puisi ini untuk dia?
Nanami : Iya.
Pururu : Jadi pada akhirnya, kau mau menyatakan perasaanmu (jeda sejenak) padanya?
Nanami : Bukan seperti yang kau bayangkan. Aku hanya membuat puisi ini, tapi tidak untuk diberikan padanya.
Pururu : (pandangan kosong) Oh. Lantas?
Nanami : Yah, hanya sekedar menyalurkan hobi.
Pururu : Hmm... Tapi, kau tetap ingin dia tau kan, perasaanmu.
Nanami : (menatap Pururu) Menurutmu?
Pururu : . . .
Tiba-tiba angin berhembus, menerbangkan kertas itu ke tengah lapangan.
Bersamaan dengan itu, Makoto berlari untuk mengambil bola yang letaknya tak jauh dari kertas itu jatuh.
Makoto : (mengambil bola lalu kertas Nanami)
Makoto : (tengok kanan-kiri mencari pemilik kertas itu)
Makoto : (melihat Nanami)
Nanami : (menahan napas) Bagaimana ini?
No comments:
Post a Comment