BABAK 3
Seminggu kemudian.
Teras rumah Nanami, sore hari.
Pururu : Hei, ada apa dengan wajahmu? Bersemangatlah!
Nanami : (datar) Aku tidak bisa menghapusnya.
Pururu : Kau-- apa?
Nanami : Kubilang aku tidak bisa menghapusnya, (diam sejenak) atau menjauhinya.
Pururu : (kecewa) Mengapa tidak bisa?
Nanami : Karena aku butuh dia. Setidaknya sebagai teman, aku butuh dia.
Pururu : (memandang Nanami) Apa kau tahu mengapa aku menyuruhmu melakukan hal itu?
Nanami : . . .
Pururu : Karena aku tidak mau kau sakit hati. Aku tidak mau melihat kau terluka dan bersedih.
Nanami : Aku sedih, terluka, atau sakit hati pun itu bukan urusanmu.
Pururu : (kesal) Meskipun itu bukan urusanku, tapi aku tetap peduli. Tolong mengertilah.
Nanami : Terima kasih. Aku sangat berterima kasih. Tapi aku tak bisa karena aku MEMANG menyukainya. Apapun yang kulakukan tidak akan mengubah kenyataan itu.
Pururu : (merengut) 바보.*
Nanami : (melirik Pururu) Aku tahu. Kau mengataiku bodoh kan. Jangan kau pikir aku akan diam saja setelah kau mengataiku bodoh. Aku akan membalasnya suatu hari...
Pururu : (kaget)
Nanami : ...baka.
Pururu : . . .
Nanami : Hmphf... hahahaha....
Pururu : (tersenyum) Hahahaha....
Mereka tertawa bersama sepanjang sore itu.
*) babo [what a fool]
*) babo [what a fool]
No comments:
Post a Comment