BABAK 18
Kamar Makoto, malam hari.
Sejak pulang dari pameran, Makoto terus duduk melamun.
Makoto : (mengacak-acak rambut) Aarrgh...! Kenapa dia selalu ada?! Dan kenapa aku selalu mengejarnya?! Kenapa?!!
. . .
Makoto : Apa begitu besar kesalahanku sampai dia terus menghantui ke mana pun aku pergi? Oh, atau mungkin dia jadi dendam padaku, masih marah dengan apa yang sudah kulakukan padanya? Ya, pasti begitu.
. . .
(flashback)
Dua tahun yang lalu.
Satu minggu sebelum ujian kelulusan.
Suasana kelas sudah sepi, senja hari.
Makoto : (bergumam) Dia pasti sudah tau. Yah, aku tau akan berakhir seperti ini.
Tak lama kemudian, Nanami datang.
Ia berjalan perlahan lalu berhenti cukup jauh dari Makoto.
Nanami : (menatap Makoto datar)
Makoto : (tersenyum) Ada apa kau memanggilku ke sini?
Makoto berjalan mendekat sementara Nanami melangkah mundur,
membuat langkah Makoto terhenti.
Makoto : (mengangkat kedua tangan) Ok, aku tidak akan mendekat. Sekarang bicaralah.
Nanami : . . .
Nanami tetap menatap Makoto tajam, lalu melunak dan berakhir dengan senyuman.
Nanami : (menangis) Terima kasih. Terima kasih banyak. (membungkuk dalam)
Makoto : (kaget)
Nanami : (berdiri tegak) Terima kasih banyak.
Nanami berlalu meninggalkan Makoto.
. . .
Kamar Makoto.
Makoto : Kenapa waktu itu kau berkata terima kasih?
No comments:
Post a Comment