Monday, January 18, 2010

Aku Tidak Melihat Namanya...

BABAK 14

Hari Sabtu.
Rumah Yume, siang hari.
Irumi Takahara dan Naoko Fukuda sedang belajar bersama di sana.

Irumi : Sudah selesai belum?
Naoko : Belum, sebentar lagi. How do you... How do you think... ng...
Irumi : ...about that movie?
Naoko : Oh, how do you think about that movie? Selanjutnya, it sounds great,... it sounds-- Argh!
Irumi : It sounds great, let's watch it then!
Naoko : It sounds... great, let's w--watch it th--then. Aku benar kan?
Irumi : (mengangguk) Ayo, kita mulai! Yume.
Yume : I have 3 tickets for the next saturday. Would you like to come with me?
Irumi : That's a good idea! Count me in.
Yume : How about you, Nao?
Naoko : W--what kind of... What kind of ticket...
Irumi : (gerak bibir) ...anyway.
Naoko : Ah. What kind of ticket any--way?
Yume : (datar) Movie ticket, and you know what? It's Sherlock Holmes movie.
Irumi & Naoko : (menatap Yume)
Yume : Apa? Ada yang salah?
Irumi : Tidak ada yang salah. Ayo, lanjutkan.
Naoko : How do you...think, ng... How do you...
Irumi : Cukup. Latihan kita berhenti sampai di sini.
Naoko : Hah?
Irumi : Ya, seperti yang kubilang, latihan cukup sampai di sini. Kalian kurang konsentrasi. Kalau kalian begitu terus, latihan drama kita tidak akan selesai.
Yume : Maaf, Rumi. Kita ulangi sekali lagi ya.
Naoko : (mengagguk)
Irumi : Tidak. Aku tidak tau entah kalian sedang ada masalah atau apa. Sekarang lebih baik kalian mengistirahatkan pikiran supaya bisa lebih konsentrasi di latihan berikutnya.
Naoko : (menggenggam tangan Irumi) Rumi, kau memang teman yang pengertian. Aku suka padamu!
Irumi : Iya, aku tau itu kok. Tapi maaf ya, Nao, aku ini masih cewek normal.
Naoko : Hehehe...
. . .
Irumi : Jadi, ada masalah apa, Yume?
Naoko : Iya, ada masalah apa? Sepertinya tadi kau kurang fokus dan sering melamun. Kalau aku sih memang dasarnya lemah dalam menghafal. (mengetuk kepalanya pelan)
Yume : Makoto.
Irumi : Sudah kuduga. Ada apa dengan pacarmu itu?
Yume : Rumi, dia bukan pacar--
Naoko : (menyela) Calon pacar.
Irumi : Perumpamaan yang bagus. Aku suka.
Yume : (merengut)
Irumi & Naoko : Jadi?
Yume : Akhir-akhir ini, aku merasa dia sangat aneh. Sikapnya jadi beda. Entahlah, aku merasa dia semakin jauh.
Naoko : Itu hanya perasaanmu saja.
Yume : Tidak, ini benar. Makoto seperti... menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh diketahui siapapun.
Irumi : Termasuk kau?
Yume : (mengangguk)
Naoko : Mengapa tidak kau tanyakan langsung padanya? Biar jelas.
Irumi : (memukul kepala Naoko) Dasar bodoh! Kalau nanti Makoto berpikir Yume adalah cewek yang mau tau urusan orang, bagaimana?
Naoko : Oh iya, benar juga kau, Rumi. Lalu apa yang harus kita lakukan? Diam saja dan terus menebak-nebak alasan sikap Makoto yang aneh itu?
Yume : Aku juga bingung.
Naoko : Haah... Bagiku, sikap Makoto memang aneh, dari dulu sampai sekarang. Bukan, dulu bahkan lebih aneh. Dia memang tipe anak berandalan, tapi bukan termasuk murid yang bodoh juga. Suatu hari, saat aku ingin melihat kelulusan kakakku, aku tidak melihat namanya di pengumuman kelulusan...
Yume : Tunggu, tunggu. Sepertinya ada yang aneh. Makoto. Dia bukan satu angkatan denganmu?
Naoko : Ya, dia satu tahun di atasku. Kakak kelasku.
Yume & Irumi : (kaget)
Irumi : Kau yakin dia kakak kelasmu?
Naoko : Tentu saja. Makoto adalah satu-satunya murid yang selalu membuat masalah. Tapi meskipun begitu, cewek-cewek sangat menyukainya.
Yume & Irumi : . . .
Naoko : Peristiwa itu sempat membuat semua murid heran sekaligus kaget. Beberapa hari setelah itu, beredar gosip. (mendekatkan diri ke arah Yume dan Irumi) Makoto sengaja tidak meluluskan diri.
Irumi : Maksudmu?
Naoko : Ya, dia memang sengaja tidak mau lulus. Dia tidak mengikuti ujian kelulusan. Karena bolos atau sakit, aku tidak tau.
Yume : (terlihat kaget) Aku baru tau hal itu.
Irumi : Mengapa dia berbuat seperti itu?
Naoko : (mengangkat bahu, cuek)
Yume : (menatap langit dengan tatapan kosong)

No comments:

Post a Comment