Nanami berjalan menuju pusat kota. Di tangannya terdapat secarik kertas yang merupakan tujuannya kembali.
Tak jauh darinya, ada sebuah kursi taman yang menghadap ke toko hadiah. Nanami memutuskan untuk duduk di sana.
Nanami : Sudah natal ya, hmm...
Nanami meniup-tiup tangannya untuk menghangatkan. Sekali lagi ia merasa seorang diri.
Tiba-tiba...
Makoto : Nana!
Nanami : (kaget) Tidak mungkin, tidak mungkin itu dia.
Nanami : (menoleh ke samping) Mako--
Makoto memeluk Nanami, membenamkan wajahnya di tiap helai rambut Nanami.
Nanami berusaha melepaskan diri, namun Makoto tak mau melepaskan pelukannya.
Makoto : Tolong, sebentar saja, biarkan aku memelukmu seperti ini.
. . .
Makoto : Sudah lama aku mencarimu. Aku sangat khawatir karena tak ada kabar apapun darimu.
Nanami : . . .
Makoto : Tolong jangan pergi lagi. Aku mohon.
Nanami melepaskan pelukan Makoto.
Nanami : Aku kembali bukan untuk ini. Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan, salah satunya adalah... (menunjukkan secarik kertas)
Makoto : Apa itu?
Nanami : (memberikan kertas itu pada Makoto)
Makoto : Untukku?
Nanami : (mengangguk)
Makoto : Puisi untuk dia...
Setelah selesai membaca...
Makoto : (menatap Nanami)
Nanami : (mengambil napas lalu menghembuskan) Aku punya teman, pun tidak punya teman. Dialah Pururu. Karena Pururulah aku bisa bertahan dalam kesendirian. Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan kesendirian.
. . .
Nanami : Suatu saat, orang itu datang menawarkan pertemanan. Aku sangat senang. Dia "teman pertama" bagiku. Semua berjalan seperti yang kuharapkan, sampai satu hari aku mendengarnya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya tak dapat lagi kucerna, namun aku masih bisa menangkap maksud di balik kata-katanya itu : dia tidak menyukaiku. Dia tidak menganggapku sebagai teman.
Makoto : (sedih) Aku-- aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf.
Nanami : Aku sudah memaafkanmu, sungguh. Tapi semua tidak bisa kembali seperti semula.
Makoto : Di puisi ini kau bilang--
Nanami : Aku tau. Aku mengerti. Kuharap kau pun mengerti keputusanku.
Makoto : (diam sejenak) Baiklah, akan kucoba.
Nanami dan Makoto menatap salju yang berjatuhan. Udara semakin dingin.
Makoto : Kau tinggal di mana sekarang?
Nanami : Maaf, tidak bisa kuberitahu.
Makoto : Meskipun pada temanmu sendiri?
. . .
Makoto : Oke, bagaimana kalau kita mulai dari awal. Hai, namaku Makoto Hayashibara. Bisakah kita berteman?
Nanami : (tersenyum) Aku Nanami Uemura. Aku ini perempuan yang sedikit menyebalkan. Aku ragu apakah kau masih mau berteman denganku.
Makoto : Jangan khawatir, aku lebih menyebalkan darimu. Jadi, kita berteman?
Nanami : Un.
Makoto : Karena kita sudah berteman, beritahu aku tempat tinggalmu.
Nanami : Tidak bisa.
Makoto : Dasar curang. Pokoknya kau harus memberitahuku. Oh ya, siapa itu Pururu?
Nanami : Ibuku.
Makoto : Ibumu? Bukankah Ibumu sudah meninggal?
Nanami : Ya, dia ibuku.
Makoto : Mmm... Kau membuatku bingung.
Nanami : Hahaha...
Nanami dan Makoto beranjak, mulai menelusuri jalan kembali.
Makoto : Habis ini, kau mau ke mana?
Nanami : Menemui ibuku.
Makoto : (bingung) Ke makam ibumu?
Nanami : Kau lupa, ibuku ada dua?
Makoto : O--oh...maksudmu Remi Uemura-san... Dasar kau ini, senang membuat orang lain bingung.
Nanami : Sudah kubilang, aku ini perempuan yang sedikit menyebalkan.
Makoto : Bukan sedikit, tapi sangat menyebalkan.
Makoto bersiap memukul kepala Nanami. Nanami segera berlari diikuti Makoto di belakangnya.
Makoto : Hei, tunggu! Awas kau ya...
- T A M A T -
No comments:
Post a Comment