BABAK 11
Rumah Haruka, malam hari.
Akane baru saja datang kala Haruka sedang asyik menonton di ruang keluarga.
Akane : (ketus) Aku pulang.
Haruka : (mengernyit) Selamat datang. Ada apa denganmu?
Akane meletakkan tasnya di atas meja lalu duduk di sebelah Haruka.
Akane : (menghela napas)
Haruka : Sepertinya kau terlihat sangat lelah. Oya, bagaimana hari pertamamu menjadi guru? Menyenangkan?
Akane : Ya, amat sangat menyenangkan, Haru, sampai-sampai aku harus menahan kekesalanku.
Haruka : Kenapa begitu?
Akane : Bagaimana tidak, saat aku mengajar, tidak ada yang mendengarkan seolah-olah aku ini tukang obat yang dagangannya tidak laku. Setiap aku menyuruh salah satu dari mereka ke depan untuk menjawab soal, tak ada satu pun yang beranjak. Suasana kelas memang saaaangat tenang, terlalu tenang malah. Namun tetap saja aku seperti tak dianggap sebagai guru mereka.
Haruka : (terdiam) Sabar, Akane.
Akane : Mungkin mudah bagimu untuk berkata sabar, tapi tetap saja hal itu membuatku kesal! Bayangkan, aku harus menahan rasa kesalku sepanjang siang tadi. Oh, ralat, dari pagi hari hingga sekarang. Ya, sekarang. Bayangkan betapa kemarahanku, kekesalanku sudah menumpuk sebanyak ini.
Akane mengangkat tangan kanannya setinggi dua jengkal di atas kepalanya dan tangan kirinya yang diletakkan di atas pangkuannya.
Haruka : Aku tahu kau sedang marah sekarang. Kau kesal karena perlakuan murid-muridmu yang terkesan cuek dan tidak peduli. Tapi perlu kau ingat, inilah konsekuensi menjadi seorang guru. Masalah yang kau hadapi sekarang ini anggap saja tantangan pertama yang harus kau atasi. Kau tidak ingat alasan mengapa kau ingin menjadi guru?
Akane : (mengingat-ingat)
Haruka : Satu kata : tantangan. Itulah alasanmu menjadi guru. Apakah aku salah, Miyazawa-sensei?
Akane : (tersenyum) Kau benar. Sangat benar. Terima kasih sudah mengingatkanku dan menyadarkanku, tentu saja. Terus terang, ternyata menjadi guru itu tidaklah mudah. Padahal ini baru hari pertama.
Haruka : Kalau kau suka, kau pasti akan menikamati setiap detik yang kau lalui saat menjadi guru.
Akane : Begitukah? Hmm...
Haruka kembali menekuni film yang tadi ia tonton.
Akane : Yosh! Oke, hari ini baru pemanasan. Anggap saja aku sedang mempelajari sebuah medan yang harus kutakhlukkan luar-dalam. Lihat saja, medan yang hancur berantakan akan aku sulap menjadi taman bermain yang menyenangkan!! HAHAHAHA.....!!!
Haruka : (menggumam) Hanya bicara sih mudah saja ya...
Akane : Kita lihat saja nanti! Hohohoho....
Haruka : Tsk! Baru begitu saja sudah sombong. Tidak dapat dipercaya, perempuan yang tertawa dengan sombongnya ini adalah perempuan yang beberapa menit yang lalu putus asa seperti orang kehilangan harapan.
Akane : Hei, hei, jangan berkata jahat seperti itu dong.
Akane melihat jam tangannya.
Akane : Ya ampun, hampir jam delapan! Ini sudah lewat jam makan malamku. Bagaimana ini?!!
Haruka : Ya sudah, tidur saja sana.
Akane : Aku memang ingin tidur, tapi aku lapar sekali.
Haruka : Ya sudah, makan dulu, baru tidur.
Akane : Aha! Ide bagus!!
Haruka hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku sahabatnya itu.
No comments:
Post a Comment