BABAK 7
Hari yang sama, pukul 2 siang.
Takeru menghirup rokok di teras kamarnya.
Di atas meja kecil tampak sisa-sisa makanan Takeru.
Takeru : Haah, panas sekali hari ini.
Sementara televisi di dalam kamarnya saat ini sedang menampilkan berita dari kalangan pemerintahan. Seorang pejabat baru saja naik pangkat, dan yang ditayangkan dalam berita tersebut adalah pesta besar-besaran untuk merayakan kenaikan pangkat tersebut.
Takeru : (tersenyum sinis) Sepertinya ada yang harus kuberi ucapan selamat.
Takeru memandang langit.
Tiba-tiba ia teringat akan tugasnya. Takeru segera menghabiskan rokoknya, mengenakan jaket, lalu beranjak ke luar kamar.
. . .
Waktu yang sama.
Rumah Haruka Sasaki, ruang tamu.
Akane duduk di dekat jendela memandangi matahari. Tak lama, Haruka datang dan duduk di sebelahnya.
Haruka : Panas, panas, panaaaaas! Aku tidak tahan...
Akane : (tersenyum) Setidaknya masih lebih panas saat musim panas.
Haruka : (mengernyit) Kenapa kau malah tersenyum? Kau senang melihatku kepanasan seperti ini?
Akane : Tidak, tidak, kau salah. Begini, aku bersyukur bisa merasakan panas. Kita tidak akan tahu bagaimana rasanya dingin sebelum merasakan panas. Sebaliknya, kita tidak akan tahu bagaimana rasanya panas sebelum merasakan dingin. Karena keduanya hidup berdampingan dan saling melengkapi.
Haruka : (bingung) Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Tunggu, kenapa tiba-tiba kau jadi seperti ini?
Akane : Seperti apa?
Haruka : Seperti manusia religious.
Akane : Am i?
Haruka : Nah, mulai lagi dia berbicara dengan bahasa yang tak kumengerti. Dasar ibu guru kita yang satu ini, tidak pernah bisa mengerti keadaan sahabatnya, huh!
Akane tertawa.
Akane : (menggumam) Dua hari lagi, aku menjadi guru.
Haruka : Ya, akhirnya tercapai juga impianmu.
Akane : Un.
No comments:
Post a Comment