Minggu pagi. Ruang makan di rumah Haruka.
Akane baru saja keluar kamar dan mendapati Haruka sedang mekahap setangkup roti.
Akane : Pagi.
Haruka : Selamat pagi, tuan puteri.
Akane : (meringis)
Akane menghirup susu coklat panas yang sudah tersedia.
Akane : (mengangkat mug) Thanks.
Haruka : Your welcome.
Akane : Ngomong2, Haru-chan, kau masih ingat dengan Akira Yamada yang pernah kuceritakan? Sepertinya dia sudah tahu kalau selama ini aku terus menatapnya dan dia menatapku balik. Jangankan sehari-dua hari, tapi ini hampir setiap hari! Aku takut, jangan2 dia mengira aku ini stalker. Atau dia mengira aku ini guru genit yang menyukai muridnya sendiri? Aaarrgh… kalau dia berani berpikiran seperti itu, akan kumarahi langsung di depan mukanya! Huh!
Haruka tampak sibuk mengecek ulang barang bawaannya. Ia sudah selesai sarapan dan siap berangkat.
Akane : Aku baru sadar, tumben kau sudah rapi. Mau ke mana?
Haruka : Ada sedikit urusan. Biasalah.
Akane : Memotret dan mencari berita. Ya, ya, harusnya tak perlu kutanya lagi. Urusanmu kan tak jauh-jauh dari dunia jurnalistik.
Haruka : (tersenyum) Mungkin nanti aku agak terlambat pulangnya.
Akane : Ya, aku mengerti. Ki o tsukete ne*.
No comments:
Post a Comment