BABAK 27
Sore hari, saat perjalanan pulang.
Nanami mempercepat langkahnya dengan pikiran yang campur aduk.
Nanami : (dalam hati) Kenapa? Kenapa dia menampiknya? Kenapa dia tidak mengakuinya saja? Kenapa?
Langkahnya terhenti.
Nanami : (dalam hati) Atau memang bukan dia pelakunya?
Nanami : (menggeleng) Tidak, tidak. Pasti dia. Ternyata dia masih ingin meneruskan permainannya dulu. Oke, akan kuterima tantanganmu dengan senang hati.
Nanami hendak berjalan lagi, namun ia dikejutkan oleh kehadiran tetangganya yang sedang bergosip dengan berbisik-bisik.
Tetangga 1 : Kemarin aku melihatnya pulang pagi lagi.
Tetangga 2 : Benarkah? Wah, itu sudah tidak diragukan lagi. Sudah pasti dia adalah wanita bayaran.
Tetangga 1 : Benar, benar. Lebih baik dia pergi dari sini sebelum memberikan pengaruh buruk pada lingkungan sekitar, termasuk anak-anak kita.
Tetangga 3 : Tapi, apa tidak kita tanyakan dulu pada orangnya?
Tetangga 2 : Tidak usah, semuanya sudah jelas.
Tetangga 1 : Jadi, kapan kita mau mengusir mereka?
Tetangga 2 : Secepatnya.
Saat Nanami berjalan melewati mereka, mereka terdiam dan kembali melanjutkan setelah Nanami masuk rumah.
Tetangga 3 : Dia mendengar pembicaraan kita.
Tetangga 1 : Biar saja. Biar dia sadar bahwa kita tidak menyukainya dan segera pergi dari sini.
No comments:
Post a Comment