BABAK 54
Kamar Makoto, malam hari.
Tampak Makoto sedang tiduran sambil merenung.
Makoto : Andaikan saat itu Aoi tidak mengingatkanku . . .
. . .
(flashback)
Tiga tahun yang lalu, tiga hari sebelum kelulusan, malam hari.
Aoi menghampiri Makoto yang sedang bersantai di ruang keluarga.
Aoi : Kelulusan kedua, eh? Sungguh menggelikan.
Makoto : (melirik tajam)
Aoi : Katakan padaku alasannya.
Makoto : Alasan?
Aoi : Masih mau berpura-pura tak tahu? Makoto Hayashibara, lebih baik kau persiapkan jawaban terbaikmu karena aku akan memaksamu sekarang.
. . .
Makoto : Tinggalkan aku sendiri.
Aoi : Sudah kuduga kau akan seperti ini. So, shall we begin, my dearest brother?
Makoto bangkit, hendak tidur di kamarnya. Aoi segera menahan Makoto dan membuatnya duduk kembali.
Aoi : Duduk! Kita belum selesai bicara.
Makoto : Oke, oke, aku akan duduk. Jadi, apa yang ingin kau ketahui, adikku yang manis?
Aoi : Satu tahun yang lalu, kenapa kau melakukan itu? Maksudku, kau sengaja tidak meluluskan diri. Aku ingat betapa marahnya otousan saat itu.
Makoto : Aku akan memberitahumu, tapi tolong jangan memotong ucapanku.
. . .
Waktu kini, kamar Makoto.
Sambil menutup mata dengan lengannya, Makoto menjawab.
Makoto : Aku adalah orang yang paling ingin membuatnya sakit dan terluka. Alasannya mudah saja : aku tidak suka melihatnya bahagia. Setiap ada masalah, dia selalu tenang. Dia sendiri, tapi selalu tersenyum. Dia tak peduli keadaan sekitar, tapi terlihat bahagia. Membuatku muak dan ingin menghancurkan semua itu. Bahkan aku rela mengorbankan satu tahun SMP-ku demi menghancurkannya.
. . .
(flashback)
Aoi : (dahi mengerut) Dia? Dia siapa?
Makoto : Dia... Nanami Uemura.
Aoi : (kaget) Dia temanmu, Makoto!
Makoto : Hei, jaga ucapanmu! Aku kakakmu!
Aoi : Kakak? Orang seperti itu masih bisa disebut kakak?!!
Makoto : (terkejut)
Aoi : Aku tidak habis pikir kenapa kau bisa sebodoh itu. Melihat keadaan sekitar hanya dari sudut pandangmu saja. Pernahkah kau melihat dari sudut pandang seorang Nanami Uemura? Aku rasa tidak.
Makoto : Semua itu kulakukan karena aku tidak suka sikapnya yang tenang dan selalu tersenyum. Dia seolah menertawakanku.
Aoi : Bagaimana kau tahu dia menertawakanmu? Lain soal jika memang dia tahu keadaanmu yang sebenarnya. Keadaan kita.
. . .
Aoi : Memangnya dia tahu saat itu kita sedang tertimpa musibah? Okaasan-otousan bercerai, okaasan terpaksa pergi meninggalkan kita, okaasan kecelakaan lalu meninggal. (teriak) Apakah dia tahu semua itu?!!
Makoto : Aku benci melihatnya tersenyum!
Aoi : Haah...kau memang keras kepala.
. . .
Aoi : Ah, begini saja. Bayangkan dia itu okaasan.
Makoto : (tertawa meledek) Kau bercanda. Dia tidak mirip sama se--
Aoi : Tapi mereka sama-sama perempuan kan. Lalu apa bedanya?
Makoto : (berpikir)
Aoi : Nanami Uemura adalah okaasan. Kalau kau menyakitinya, sama saja kau menyakiti okaasan. Mudah kan?
Makoto : Tsk! Perumpamaan yang aneh. Bahkan mereka tidak mirip satu bagian pun!
Makoto beranjak ke kamar.
. . .
Waktu kini.
Dilihatnya foto Nanako Hayashibara yang terletak di meja belajarnya lalu mendekatinya.
Makoto : Okaasan, aku harus membantunya. Melindunginya. Bisakah aku?
. . .
Makoto : Aku harus melakukan sesuatu.
No comments:
Post a Comment